Share

93

Penulis: Naomiliana
last update Tanggal publikasi: 2026-05-16 08:59:19

Saat Lien Hua dan Mayleen sedang membersihkan taman istana, mulai muncul kapalan pada kulit mereka. Segera mereka berteriak karena tubuh mereka tampak sangat mengerikan. Segera pengawal membawa mereka ke paviliun masing-masing.

Kabar ini segera menyebar dengan cepat, Kaisar Li segera menghampiri mereka satu per satu bersama Tabib Luo. Tabib Luo mengetahui penawarnya namun bahannya sangat langka.

“Maaf Yang Mulia, hamba tidak bisa menyembuhkan kulit putri karena bahan yang digunakan sangat l
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   108

    “Maaf Lian'er.“Satu kata maaf yang tidak terdengar oleh Lian Wei, keluar dari mulut ayah dan kakaknya.Di paviliun Lian Wei begitu ramai, mereka terkejut dengan fakta yang baru saja terungkap hari ini. Mereka merasa kasihan pada junjungan mereka, diasingkan oleh keluarganya sendiri bahkan di rendahkan oleh pelayan. Ia juga selalu dijahati oleh para selir dan adik tirinya. Kabar tentang apa yang terjadi di aula menyebar dengan cepat. Seluruh istana tahu akan hal itu. Selir Zhu yang akan dihukum mati beserta keluarganya dan Selir Cui yang diasingkan ke istana dingin dengan keluarga yang dihukum mati. “Ada apa dengan kalian? Kenapa berkumpul disini?”“Putri kami sudah dengar berita yang terjadi hari ini.”“Aku tidak perlu dikasihani,” ucapnya saat melihat wajah kasihan pada mereka, ia berlalu dari sana dan duduk di gazebo miliknya. Wang Xuemin, Li Jianying dan Liu Changhai juga ikut duduk di gazebo. Mingmei segera menyiapkan teh dan camilan. Setelah itu segera dibawa ke gazebo. “Adi

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   107

    “Hukumannya adalah cambuk seratus kali dan diasingkan ke istana dingin,” jawab Jianying. “Oh benarkah? Bisakah aku mencambuknya sendiri kak?”“Apa maksudmu Putri Pertama?! Aku tidak melakukan apapun!”“Benarkah?” ucap Lian Wei dengan raut muka yang dibuat bingung, “Bawa masuk saksinya,” lanjutnya memberi perintah.Segera Anming membawa pelayan pribadi Selir Cui, Jiao An ke hadapan semua orang dengan kondisi yang sudah babak belur. Anming menyeretnya dan melemparkan tubuhnya bersujud ke hadapan kaisar. “Katakan kebenarannya!” perintah Anming. “Mohon ampun Yang Mulia, saya sudah mencoba mengingatkan Selir Cui, namun nyonya menolaknya. Selir Cui meminta seseorang untuk membawa serbuk bubuk yang saya juga tidak tahu namanya. Ia mencampurkan bubuk itu pada adonan kue yang akan diberikan pada Putri Pertama. Saya tidak tahu apa yang dimasukkan oleh Selir Cui.”“Racun Empedu Cacing Api, ini adalah buktinya bahwa Selir Cui meminta pembunuh bayaran dari Perguruan Deng. Waktu itu seingat ku b

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   106

    “Dasar jalang! Seharusnya kau mati bersama ibumu!” ucapnya yang ingin menyerang Lian Wei, namun di halangi oleh Wei Heng. Sementara Xiu Juan mengawasi Tabib Xu. “Selir Zhu!” bentak Xiuhuan. “Ayah izinkan aku menghukum Selir Zhu atas perbuatannya,” pinta Xiuhuan. “Tidak! Aku yang akan menghukum Selir Zhu. Karena dia aku kehilangan ibuku, dia juga meminta pembunuh bayaran untuk membunuhku, bahkan dia meracuniku. Jadi aku sendiri yang akan menghukumnya.”Lian Wei ingin menyerang namun ditahan oleh Xiuhuan. “Aku juga kakakmu, dia juga ibuku Lian’er. Biarkan kakak yang menghukumnya, jangan sampai menodaimu.”Air mata Lian Wei tidak dapat ditahan lagi, ia menangis di pelukan kakaknya. Kaisar mengepalkan tangannya kuat.“Ibu, kau tidak mungkin membunuh ibu permaisuri bukan? Dia begitu menyayangiku, dia memberikan aku mainan dan pakaian yang dibuatnya sendiri.”“Dasar anak bodoh! Itu bukan buatmu, bahkan dia tidak tahu kau akan lahir!”“A-apa maksud ibu?”“Semua itu milik sampah itu!” tun

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   105

    “Bao Yu menghadap Yang Mulia Kaisar,” ucapnya memberi hormat pada Kaisar.“Nona Bao, silakan berdiri,” Kaisar mempersilakan.“Terimakasih Yang Mulia.”“Nona Bao kenapa anda hanya datang sendiri? Apakah Nona Xinxin tidak datang bersama?” tanya Kaisar, karena ia tidak melihat sosok Xinxin.“Maaf Yang Mulia, tadinya nona ingin datang namun kekaisaran menyinggung nona kami.”“Lancang!” pekik pejabat disana, namun dihiraukan.“Barang yang kami kirimkan kembali adalah barang palsu. Entah apa maksud kekaisaran mengirimkan barang ini? Apakah kekaisaran ingin menuduh kami melakukan pemalsuan dan penggelapan dana?”Setelah mengatakan itu Tentara Xiao Xinxin berjejer rapi di depan aula.“Palsu?”Wei Heng masuk kedalam aula dengan membawa barang bukti. Setelah memberikan barang bukti, Wei Heng kembali ke barisan.“Silakan anda periksa Yang Mulia.” Bao Yu menyerahkan kantong uang pada Kaisar Li.“Tidak mungkin ini palsu,” beo Kaisar.“Jianying selidiki hal ini!”“Baik ayah.”Jianying mengambil ko

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   104

    “Pangeran kau…? Tadi kau pergi untuk membeli lentera ini?”“Iya, ayo kesana,” ajaknya.Setelah sampai di tempat berkumpulnya orang melepas lampion, Wang Xuemin memberikan kuas pada Lian Wei.“Buat permintaanmu, aku akan membuat disisi yang lain. Lalu kita akan menerbangkannya bersama.”Lian Wei mengambil kuasnya, ia memandang pada Wang Xuemin yang sudah mulai menulis.‘Apa yang harus kutulis?’ pikirnya.“Apa kau sudah selesai menulis?” tanya Wang Xuemin yang sudah selesai menulis.“Belum.”Lian Wei mulai menulis, setelah selesai ia membuang kuasnya.“Sudah.”Lalu mereka memegang lentera itu dan menerbangkannya bersama. Lentera itu terbang ke langit malam bersatu dengan lentera yang lain.“Apa yang kau tulis?” Wang Xuemin penasaran.“Rahasia.”“Kau tidak ingin bertanya, apa tulisanku?”“Tidak perlu,” ucap Lian Wei acuh lalu pergi dari sana meninggalkan Wang Xuemin sendiri.Wang Xuemin menatap pada lentera mereka dengan tersenyum.Di sisi kanan lentera tertulis permintaan Lian Wei.‘Hid

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   103

    Pagi itu, kelopak sakura berjatuhan perlahan di halaman Paviliun Bunga yang sengaja di siapkan Wang Xuemin sejak lama, seperti hujan berwarna merah muda. “Ini?”“Hadiah pertunangan untukmu.”Lian Wei tidak bisa berkata-kata lagi, ia memandang takjub pada pemandangan di depannya.Udara musim semi masih dingin, membawa aroma bunga yang lembut bersama semilir angin pagi. Di antara pepohonan sakura yang bermekaran, suara air kolam terdengar tenang, sesekali diiringi kicau burung kecil yang hinggap di gazebo kayu.Ia berjalan perlahan menyusuri jalan batu taman, ujung hanfu merahnya menyapu kelopak bunga yang jatuh. Cahaya matahari pagi menembus sela-sela ranting, menciptakan bayangan lembut di wajahnya.Wang Xuemin dengan jubah merah yang kontras dengan lautan bunga yang lembut berdiri di bawah pohon sakura. Tangan kanannya menggenggam ranting sakura yang baru saja jatuh, sementara tatapannya diam-diam mengikuti langkah gadis itu sejak tadi.“Pangeran ini indah sekali, namun sayangnya me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status