LOGIN“Yang Mulia... Putri Wang telah meninggal.” Suasana berubah kacau. Tangisan para pelayan pecah. Beberapa pejabat yang menunggu di luar tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sementara Xu Kai hanya terduduk mematung. Meskipun ia mengetahui rencana ini sejak awal, mendengar kalimat itu tetap membuat dadanya terasa sesak. Sedangkan Wang Xuemin ia tetap berdiri disisi Lian Wei. Diam. Tangannya perlahan menggenggam jemari perempuan itu yang sudah dingin. Tak seorangpun melihat jemarinya yang sedikit gemetar. ‘Ini hanya sandiwara, namun rasa takut dan sedih ini begitu nyata,’ ucapnya dalam hati. Tes… Air matanya jatuh. “Gawat, tiga kekaisaran akan berperang karena kematian sang putri.” Semua orang meninggalkan kediaman Lian Wei dan mulai mempersiapkan acara pemakaman untuk Lian Wei. Mingmei memandikan dan mendandani ‘jasad’ Lian Wei. “Kau berbohong padaku putri.” Mingmei kembali menangis saat selesai mempersiapkan Lian Wei. Tabib Luo masuk kedalam. “Nona Mingmei, putri
“Bawa aku ke Kekaisaran Wu.” “Dengan senang hati permaisuriku,” ucap Wang Xuemin. “Kalau begitu aku antar kau kembali, sekalian akan kuberikan pilnya.” “Baiklah.” “Xu Kai, jangan sampai satu helai rambutnya rontok,” ancam Wang Xuemin. “Kau tenang saja.” Setelahnya mereka kembali, di perjalanan kembali mereka mampir ke rumah tabib pribadi Xu Kai. “Ini, ingat jangan terlalu banyak dimakan.” “Baiklah aku mengerti.” “Lian Wei…” panggilnya ragu. “Hmm?” “Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu?” “Ya aku sudah yakin.” “Kudengar ketiga kakakmu sedang dalam perjalanan kesini.” “Benar.” “Kau tidak ingin bertemu dengan mereka?” “Ada hal yang lebih penting dan harus dilakukan demi mencapai satu tujuan dibandingkan dengan bertemu tapi hanya terjebak dimasa lalu.” “Aku mengerti, ayo kuantar kembali.” Mereka berjalan dengan keheningan, hujan sudah reda. Menyisakan udara dingin yang menusuk tulang. Xu Kai melepas jubahnya dan memakaikannya pada Lian Wei. Lian Wei menoleh pada Xu Kai
“Orang yang anda cari sebenarnya adalah Putri dari mendiang Permaisuri Liu.” Tak… Cangkir teh diletakan dengan kencang, orang itu berdiri dan menghampiri anak buahnya. “Apa Yang barusan kau katakan?” “Putri Li adalah anak kandung Mendiang Permaisuri.” “Nona… akhirnya aku menemukan anakmu.” “Tidak heran dia mengenakan kalung liontin milikmu,” ucap pria itu lalu mengeluarkan liontin yang sama dengan yang di pakai oleh Lian Wei. “Cepat segera beritahu semua orang tahu semua orang untuk berkumpul.” “Baik tuan!” Xu Kai pergi ke kediaman Lian Wei untuk mencari Wang Xuemin. Ia menerima laporan Wang Xuemin tidak ada di kediamannya sejak pagi buta. “Wang Xuemin, aku perlu bicara denganmu,” ucap Xu Kai tiba-tiba masuk. Terlihat Wang Xuemin sedang merawat Lian Wei dengan hati-hati. “Apa yang terjadi padanya?” Belum sempat Wang Xuemin menjawab, hidung tajam Xu Kai mencium aroma obat. “Embun Fajar.” Deg… “Kalian baru saja mengobatinya? Bagaimana hasilnya? Kenapa tidak ada memberita
“Lian Wei!”Wang Xuemin segera berlari masuk, Tabib Luo dan Mingmei menyingkir dari sana, memberi ruang untuk Wang Xuemin.Wang Xuemin segera memeluk erat tubuh Lian Wei. Sementara Lian Wei yang lemas hanya bisa memegangi tenggorokannya.“Kenapa tidak ada yang memberitahu aku, jika pengobatan Racun Air Mata Kaisar dilakukan hari ini?!”Wang Xuemin terlihat sangat marah, terdengar dari suaranya yang meninggi. Semua orang yang berada di ruangan segera berlutut dan menunduk takut.Lian Wei mencoba meraih wajah Wang Xuemin, hal ini di sadari oleh Wang Xuemin. Segera ia menggenggam tangan Lian Wei erat,“Jangan takut Lian’er, aku disini.”Lian Wei menatap sorot mata Wang Xuemin yang memancarkan ketakutan dan kekhawatiran.“Lian’er kenapa badanmu sangat panas?”“Tabib Luo!”Dengan panik Tabib Luo segera memeriksa nadinya, Mingmei segera menyiapkan air dingin untuk mengompres badan Lian Wei.Waktu sudah berlalu tiga puluh menit sejak Lian Wei meminum penawarnya. Tiba-tiba Lian Wei muntah dar
Lian Wei yang baru beberapa langkah berjalan langsung menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Perlahan ia menoleh ke belakang. Wang Xuemin masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya tenang, tidak terlihat seperti seseorang yang sedang bercanda. “Apa yang kau katakan?” “Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.” Udara di sekitar mereka seolah membeku. Tangan Lian Wei tanpa sadar mengepal di balik lengan bajunya. “Kalau begitu katakan,” ujarnya dingin, “Siapa aku?” Wang Xuemin tersenyum tipis. “Xinxin.” Mata Lian Wei membelalak. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresinya benar-benar runtuh. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.” “Kau bisa terus menyangkalnya.” Wang Xuemin melangkah mendekat. “Namun tidak peduli kau adalah Putri Li Lian Wei atau Xinxin... aku tetap mengenalmu sebagai orang yang sama.” Tatapan Lian Wei berubah tajam. “Sejak kapan kau tahu?” “Sejak lama.” “Lalu kenapa kau diam?” “Karena aku menunggumu mengatakannya sendir
Setelah pembicaraan itu mereka bertiga keluar dari aula, hanya keheningan yang mengisi perjalanan di lorong itu. Lian Wei diapit oleh kedua pria bertubuh besar ini, ia sadar saat ini mereka berada dalam posisi yang canggung. “Pangeran Xu, apakah kau masih memikirkan kejadian itu?” Pertanyaan itu membuat langkah Xu Kai terhenti. Pergerakannya yang tiba-tiba membuat Lian Wei dan Wang Xuemin juga ikut berhenti. Xu Kai menatap mata Lian Wei lekat, ada kata yang tidak mampu terucap. “Kalian itu tamu disini, tapi kalian malah celaka disini.” “Pangeran Xu, bukankah kita sepakat untuk berteman?” Xu Kai terdiam. “Teman tidak harus merasa bersalah bukan?” “Xu Kai, kau juga temanku. Kau bisa berbagi beban denganku, akan ku pastikan akan menemukan dalang dibalik kejadian ini.” “Kau memang teman terbaikku,” ucap Xu Kai menepuk pundak Wang Xuemin. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali. “Hei Wang Xuemin, tidak bisakah kalian tidak pamer kemesraan di depanku?” ucap Xu Kai yang mel







