تسجيل الدخولBrak.... Dengan nafas terengah-engah kedua kakaknya menghampiri adik mereka yang terbaring lemah. Baik Jianying dan Xiuhuan langsung terduduk lemas melihat penampilan adik mereka yang menyeramkan, sudah seperti mayat hidup. “Lian'er,” ucap mereka bersamaan. “Apa yang terjadi ayah?” tanya Xiuhuan. “Racun Embun Merah. Lalu barusan dia muntah darah.”“A-apa?!” ujar mereka terkejut. Pasalnya selama ini tidak ada yang selamat dari racun tersebut. Selain tidak ada penawarnya, penyebaran juga terbilang cukup cepat. “Apa yang harus kita lakukan ayah?” tanya Jianying. “Tabib Luo menyarankan untuk membawanya pergi ke Kekaisaran Xu.”“Apa? Tidak bisa ayah! Lian'er sakit bagaimana jika terjadi hal yang tidak baik padanya nanti?” histeris Jianying. “Itu yang ayah khawatirkan, tapi jika menunggu Tabib Luo pergi lalu kembali lagi, ayah takut itu tidak sempat Jianying.”“Tangannya sangat dingin seperti es.”Kaisar Li terus mengusapnya lembut tangannya, seolah memberikan kehangatan ada Lian We
“Li Mayleen, adik kecil yang juga ganas. Kau salah membangunkan singa tidur,” ucap Lian Wei pelan.“Tabib Luo, katakan pada Kaisar bahwa aku mengonsumsi ini dan tunjukkan bukti ini pada Kaisar. Ingat hanya kalian berdua saja yang ada dalam obrolan itu.”“Kau harus menyampaikan ini langsung, katakan padanya akan sulit untuk mencari penawarnya.”“Lalu saya akan pergi membawa anda serta untuk mencari penawarnya?” tanya Tabib Luo yang mengetahui arah pikiran Lian Wei. “Cerdasss!”“Dengan kau membawaku keluar, aku akan pergi ke Kekaisaran Xu dengan mudah. Ini hadiah untukmu,” ucapnya memberikan resep ramuan yang baru dibuatnya, yaitu ramuan yang dapat menghilangkan aroma racun tidak berbau sehingga dapat membuat sifat asli racunnya keluar. Segera Tabib Luo berbinar melihat resep itu, “Putri memang tahu apa yang paling saya butuhkan.”Saat menerima resep itu raut wajah Tabib Luo berubah.“Bagaimana jika itu menipu Kaisar?”“Kau tenang saja, kita memang pergi ke
“Putri! Anda dimana?! Apa anda baik-baik saja?!” teriak Tabib Luo setelah tiba di ruang makan. Lian Wei menghampiri Tabib Luo, dengan membawa sampel racun dan resep racun tersebut. “Tabib Luo tenanglah.” Lian Wei berjalan dengan anggun, gerakan mata Lian Wei dapat di pahami oleh Mingmei, segera Mingmei menutup pintunya agar tidak banyak orang yang lihat. Kemudian menghampiri Lian Wei yang duduk di mejanya. “Tabib Luo aku memanggilmu kesini karena hal ini,” ujarnya seraya menyerahkan sampel tersebut. Tabib Luo menerima dan membacanya, seketika matanya membulat, tubuhnya bergetar, keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Tangannya bergetar, itu terlihat dari kertas yang dipegangnya juga ikut bergetar hebat. “Pu-putri ini kan—” Ternyata sedari tadi Lian Wei mencatat semua racun di piringnya, sambil menunggu Tabib Luo datang dan hasil penyelidikannya. Keheningan meliput seluruh ruangan, hingga kedatangan Kaisar memecahkan keheningan tersebut. Kaisar kembali duduk di kursi
Semua orang terkejut, segera Kasim Chen mengambil jarum perak itu untuk ditunjukkan pada Kaisar. Lian Wei sudah berdiri dan berjalan keluar, saat akan mencapai pintu keluar dia berbalik. “Oh ya, tolong Yang Mulia selidiki hal ini. Aku akan mengusut masalah ini sampai tuntas. Karena seseorang berani mencoba membunuh putri sah ini, kalian semua yang ada disini akan diperiksa,” ucapnya terjeda, ia melihat raut tidak suka pada kedua adik perempuannya dan wajah khawatir pada kedua kakaknya juga ayah dan ibu selir. “Jika kalian menolak, aku akan kirim pesan pada Keluarga Liu dan Pangeran Wang,” ucapnya tegas menunjuk pada kedua adiknya yang hendak protes. Tatapan semua orang mengarah pada kedua orang yang sudah berdiri itu. “Ada apa dengan kalian?” tanya Kaisar Li. ”Tidak ada ayah,” ucap Lien Hua dan Mayleen bersamaan, lalu mereka duduk kembali di tempatnya. Beberapa prajurit dari Liu Changhai yang memang ditugaskan untuk menjaga Lian Wei, segera berbaris rapi di luar ruang maka
“Mingmei ayo!” seru Lian Wei di kejauhan. Segera Mingmei mengejar Lian Wei. Mereka berjalan dengan santainya hingga tidak sadar sudah sampai di depan pintu ruang makan. Kasim yang berjaga segera membukakan pintu agar Lian Wei bisa masuk. Mereka masuk tanpa ada pemberitahuan dari kasim karena diperintahkan oleh Lian Wei. “Ayah kenapa ayah mengundang kakak?” “Apa maksudmu Lien Hua?” “Ah... maksudku, kenapa ayah baru mengundang kakak? Kenapa tidak dari dulu saja?” “Itu karena—” “Bukankah itu kursi milikku?” ucap Lian Wei saat tiba di depan kursinya. “Ahh kakak kau sudah datang? Aku akan pindah sekarang, aku hanya ingin mengobrol dengan ayah saja.” “Tidak perlu adik, kau duduk disitu saja aku akan cari tempat lain,” ucapnya dengan lembut dan tenang. ‘Dasar rubah,’ batin Lian Wei. Lian Wei duduk di kursi kosong yang berada di ujung meja. Kaisar merasa sedih melihat putrinya duduk sangat jauh, begitu juga dengan Xiuhuan. “Lian'er duduk saja di sampingku,” ujar Xiu
Sementara itu di Paviliun Kenanga atau Paviliun Mayleen. Ia sedang berpesta sendiri, ia tidak bersedih akan kepergian ibunya. Memang ia merasakan kekosongan namun ia juga merasakan kelegaan di saat yang bersamaan. “Sudah tidak ada lagi yang menghalangi jalanku. Aku akan membalaskan semua dendam ibu meskipun dia sangat buruk padaku. Lalu untuk membunuh Keluarga Zhu? Tidak akan aku biarkan,” batinnya matanya mengobarkan kebencian yang teramat dalam pada Lian Wei. “Tunggu pembalasanku Lian Wei,” ucapnya pelan seraya memutar anggur di cangkir yang dipegangnya. Xiuhuan tidak pergi, ia masuk kedalam dan melihat ruangan yang gelap. Ia menyalakan lilin dan melihat Lian Wei yang tergeletak di lantai. Segera ia membawanya ke kasurnya, ia juga memanggil Tabib Luo untuk memeriksa keadaannya. Tabib Luo datang tidak lama kemudian, ia mulai memeriksa keadaannya. Setelah memberikan obat ia pergi dari sana. Xiuhuan merawat Lian Wei sebentar sebelum kembali ke paviliunnya. Angin berhembus de







