LOGIN“Kemana mereka?” gumam Yitan.“Ada jejak kaki... masih baru,” ucap Zei Xen berlutut memeriksa lantai.“Ke belakang!” serunya.Mereka berlari mengikuti jejak itu hingga tiba di sebuah ruang kerja.Di sana, sebuah rak buku tergeser, memperlihatkan lorong rahasia yang masih terbuka.Lian Wei menyentuh dinding batu yang masih hangat.“Mereka baru saja lewat. Aku tidak menyangka Perguruan Deng sangat ahli membuat mekanisme seperti ini,” ucap Lian Wei.Wang Xuemin menatap Lian Wei lalu ia mengumpat pelan.“Kita terlambat.”Tak lama Wei Heng datang setelah mengantar Anming dan Bao Yu ke kereta kuda. Wei Heng masuk beberapa langkah ke dalam lorong, tetapi lorong itu berakhir pada sebuah pintu batu yang telah terkunci dari sisi lain. Ia mencoba mendorongnya sekuat tenaga.Tapi tak bergeming.“Mereka sudah kabur,” ucap Lian Wei mengepalkan tangannya.“Siapa?”Yelu menemukan selembar kain hitam yang tersangkut pada celah batu.“Ini milik tangan kanan Dan Rui.”Wang Xuemin mengangguk pelan, “Bera
“Ya, kenapa kau takut? Sudah terlambat untuk mundur.”Zei Xen berdiri dengan gagah, namun orang dari Perguruan Deng malah tertawa lepas.“Takut? Hahaha.”Mereka tertawa puas.“Bukankah selama ini kalian tidak bisa menangkap kami?”“Kau—” Zei Xen sangat geram namun ia ditahan oleh Lian Wei.“Bebaskan orangku dan aku akan melepaskan kalian,” ucap Lian Wei.“Tuan tidak ada ruang untuk bernegosiasi,” balas pria berjubah hitam itu dingin. Ia melirik rekan-rekannya dan mengangkat tangannya.“Serang mereka! Jangan sisakan satupun!”Lian Wei dan yang lainnya segera bersiap dengan mengeluarkan pedang.Puluhan murid Perguruan Deng serentak menghunus pedang.“Maju!”Suara benturan baja langsung memecah kesunyian malam.Clang!Lian Wei menangkis tebasan pertama, lalu memutar tubuhnya dan menghantam gagang pedangnya ke ulu hati lawan. Pria itu terpental beberapa langkah sebelum roboh.Di sisi lain, Wang Xuemin bertarung dengan dua pedang pendek di kedua tangannya. Gerakannya cepat dan sulit diteba
“Ini kau yang membuatnya?” tanya Lian Wei terpaku dengan hidangan di depannya. “Ya duduk lah,” ucap Wang Xuemin menarik kursi untuk Lian Wei. Lian Wei duduk dengan tatapan mata yang masih tidak percaya. Wang Xuemin melepaskan celemek itu dan duduk bersama Lian Wei. Di hadapan mereka tersedia beberapa menu seperti, ikan kukus dengan jahe dan daun bawang, bebek panggang berbumbu madu, daging sapi tumis, pakcoy tumis bawang putih, sup iga dengan lobak putih, buah dan juga anggur buah. Wang Xuemin mengambil ikan dan di letakan di atas nasi Lian Wei, ia juga mengambilkan beberapa lauk lain. “Ayo makan ini tidak beracun,” ucapnya lalu memakan bebek. Lian Wei juga ikut memakannya, satu suapan pertama ia mengambil ikan itu. Sekejap mata Lian Wei langsung berbinar. “Hmm…” gumamnya lalu memakan lauk lain, ia langsung menganggukan kepalanya. “Enak?” “Kau memang berbakat memasak,” pujinya lalu mengambil lauk lain sendiri. Wang Xuemin tersenyum melihatnya, lalu ia menuangkan anggur buah d
“Topeng Perak?” tanya Yelu. “Belum tentu dia berada di sana,” ucap Lian Wei. Lian Wei mengambil giok yang diambil Yelu. “Tapi jika dia memang berada di markas Perguruan Deng, kita tidak boleh membiarkannya melarikan diri.” “Dan jika dia tidak ada di sana?” tanya Wang Xuemin sambil memandang giok itu. Lian Wei menggenggam benda tersebut. “Maka kita akan mencari bukti lain,” jawab Lian Wei. Lian Wei menatap lambang dari Kekaisaran Song yang terukir pada giok itu. “Giok ini sudah menghubungkan Topeng Perak dengan Kekaisaran Song,” ucap Lian Wei, tatapannya berubah dingin. “Sekarang kita hanya perlu menemukan siapa sebenarnya yang memberikannya. Jika tidak bisa menemukannya aku akan masuk ke Kekaisaran Song,” ucap Lian Wei. Di luar ruangan, angin malam mulai bertiup. Lian Wei menatap peta yang terbentang di atas meja. “Besok malam kita bergerak.” “Kita akan mengepung markas Perguruan Deng dari dua sisi,” ucap Wang Xuemin mengangguk. “Pastikan semua orang selamat, jangan kurang
“Bagaimana cara kita masuk?” tanya Li Lixin.Lian Wei menatap benda itu cukup lama. Giok pengenal yang berhasil diambil dari Topeng Perak kini tergeletak di atas meja.“Jadi, kita memiliki hubungan antara Topeng Perak dan Kekaisaran Song, lalu dua jalur berbeda yang menghubungkan markas mereka,” ucapnya pelan. “Namun saat ini, Anming dan Bao Yu masih berada di tangan Perguruan Deng. Selain itu kita tidak tahu dimana letak mereka ditahan,” sambung Wang Xuemin.“Kita masuk dengan menyamar,” saran Yelu.“Tidak, mereka memiliki kata sandi tersembunyi. Tao Mo pernah hampir gagal karena itu,” ucap Lian Wei.Lian Wei terdiam, ia beberapa kali mengetuk jarinya di meja. Lalu tatapan matanya menatap mata Wang Xuemin. Wang Xuemin memahami maksud Lian Wei. Kemudian mereka mengangguk bersamaan.“Kita menyerang dari dua sisi,” ucap Lian Wei dan Wang Xuemin bersamaan.“Rumah bordil adalah titik yang sudah kita ketahui. Mereka kemungkinan besar akan mengira kita akan kembali menggunakan lorong itu.”
“Bagaimana kekuatannya?” tanya Lian Wei.Yelu mengepalkan tangannya, seolah masih mengingat setiap benturan pedang itu.“Ilmu pedangnya sangat aneh. Gerakannya bersih, cepat dan hampir tanpa celah. Saya bahkan tidak sempat menyentuh ujung pakaiannya.”Wang Xuemin mengernyit, “Berarti dia benar-benar ahli?”Yelu mengangguk.“Kalau bukan karena saya memanfaatkan keramaian pasar, mungkin saya sudah mati.”Ia merogoh ke dalam bajunya yang robek di samping kasur, lalu mengeluarkan sebuah benda yang sejak tadi disembunyikan.Sebuah giok kecil berbentuk persegi.“Saya memang kalah… tapi saat kami bertarung, saya mengambil benda ini dari pinggangnya.”Lian Wei menerima giok itu.Permukaannya halus, diukir dengan pola awan yang rumit. Di bagian belakangnya terdapat satu lambang yang membuat Wang Xuemin langsung membelalakkan mata.“Tunggu…” Wang Xuemin mengambil giok itu dari tangan Lian Wei.“Lambang ini…”Lian Wei ikut menatapnya lalu terkejut melihatnya.“Di paviliun!”Semua orang memandang
"Apa yang terjadi disini?" suara berat menginterupsi."Kakak?" Lien Hua menoleh ke arah sumber suara."Adik? Apa yang terjadi padamu?" Xiuhuan membantu Lien Hua untuk bangun."Kak, aku ingin mengunjungi kakak pertama. Kudengar dia terluka dan belum makan, tapi mereka melarangku.""Ini sudah perinta
Qianfan segera datang berlutut yang entah datang dari mana."Berikan obat pada kakakku yang menyamar itu.""Baik nona."Setelah kepergian Wang Xuemin, Lian Wei meminta Mingmei untuk memanggil Tabib Luo untuk datang. Tak lama kemudian Mingmei dan Tabib Luo datang ke ruang tamu. "Salam putri, anda m
"Kakak!" suara bariton khas Jianying menggema. "Sudah ku bilang kau jangan terlalu bodoh dan jangan ganggu adikku lagi. Tapi kenapa kau masih mengganggunya kak?" "Apa?" ucapnya sambil bangun dari posisinya yang memalukan. "Lian Wei jatuh karena didorong Lien Hua, lalu luka dalamnya itu karena
"Aku tidak tahu, aku hanya mengajakmu keluar untuk melihat kereta ini.""Apa?!" ucapnya terkejut. "Kau tahu aku sibukkan? Kenapa kau mengajakku tanpa tahu tujuan begini? Buang waktu tahu saja?!" ucapnya kesal. Wang Xuemin hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Menyebalkan," gerutu Lian Wei. "Hen







