MasukTroy menunduk. Begitu membaca nama Cedric, alisnya terangkat. Namun, ketika pandangannya bergeser ke nama kedua, ekspresinya berubah serius. “Marquis Cleremont?” “Ya.” Troy memeriksa catatan itu lebih dekat, lalu menunjuk tanggal yang tertera di samping nama Cedric. “Kapan tepatnya dia membeli kain ini?” Alize mengikuti arah jarinya. “Beberapa waktu sebelum serangkaian teror terjadi di Kastil de Mably.” Troy segera mencari tanggal pembelian atas nama Marquis Cleremont. Hasilnya tidak jauh berbeda. Transaksi tersebut juga tercatat sebelum kekacauan di kastil dimulai. Mereka bertukar pandang. “Jadi, keduanya sudah membeli kain ini sebelum kejadian-kejadian itu berlangsung,” gumam Troy. “Benar. Artinya, kita belum bisa menyimpulkan bahwa pembelian ini berkaitan langsung dengan teror di kastil. Namun, setidaknya kita memiliki petunjuk yang bisa ditelusuri.” Davos mengangguk mendengar penjelasan itu. “Saya berharap informasi ini bisa membantu penyelidikan Anda, Yang Mulia. Jika
Alize mengangkat alis, memperhatikan penampilannya. “Dari mana saja kau? Bukankah kau seharusnya memeriksa batas tanah di sebelah barat?” “Sudah selesai.” Troy mengusap tengkuknya, lalu menarik napas panjang. “Dan sebelum kau bertanya, ya, aku memang langsung datang kemari setelah turun dari kuda. Aku bahkan belum sempat minum.” Alize menutup buku di hadapannya. “Kalau begitu, kau sebaiknya minum dulu sebelum pingsan di atas karpet. Apa yang begitu penting sampai kau harus mencariku dengan tergesa-gesa?” Troy tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia menyeringai lebar, seolah-olah baru saja berhasil menyelesaikan sebuah persoalan yang cukup rumit. “Aku membawa temanku yang mungkin akan membuatmu senang.” Alize menatapnya dengan curiga. “Temanmu?” “Ya.” “Siapa?” “Davos Beemer.” Alize mencoba mengingat nama itu, tetapi tidak segera menemukan kaitannya. Troy kemudian melangkah masuk dan menjelaskan, “Dia putra seorang importir kaya raya. Keluarganya memang bukan bangsawan, tet
Alize sudah menghabiskan hampir seluruh sore di ruang arsip bawah tanah. Buku bersampul cokelat tua yang ditemukannya kemarin kini terbuka di atas meja, dikelilingi beberapa lembar kertas berisi hasil pemecahan sandi. Setelah memeriksa halaman demi halaman, ia akhirnya menemukan nama pemilik buku tersebut pada sebuah catatan kecil yang tersembunyi di balik sampul belakang. Lord Bernardy Henry Deschanel. Salah seorang putra Marquis Deschanel terdahulu. Alize mengusap dagunya sambil kembali menatap tulisan itu. Ia belum pernah mendengar nama tersebut disebut dalam percakapan keluarga, tetapi hal itu tidak terlalu mengejutkan. Catatan keluarga mereka cukup panjang, dan tidak semua anggota keluarga dari generasi terdahulu dikenal oleh keturunan mereka sekarang. Yang membuatnya penasaran justru isi buku tersebut. Buku itu rupanya semacam catatan harian, meskipun isinya tidak tersusun secara teratur. Di satu halaman, Bernardy mencatat pengeluaran untuk membeli beberapa gulung ka
Cedric mengatupkan rahang. Untuk beberapa saat, ia tidak menjawab. Lord Deschanel mengangkat satu tangan, menghentikan percakapan yang mulai memanas. “Cukup. Aku tidak datang ke sini untuk memperdebatkan setiap tindakanmu. Ada hal yang lebih penting yang ingin kutanyakan.” Cedric segera mengalihkan perhatian kepadanya. “Apa pun itu, saya akan menjawabnya.” “Benarkah?” Pertanyaan sederhana itu membuat Cedric terdiam sesaat. Lord Deschanel menatapnya lekat-lekat. “Siapa yang menyebabkan kekacauan di Kastil de Mably?” Cedric menggeleng. “Saya tidak tahu.” “Siapa yang membunuh para pelayan dan pengawal kastil?” “Saya juga tidak tahu.” “Lalu, siapa yang membawa pergi Mirelle?” Kali ini, Cedric tidak langsung menjawab. Hanya sesaat, tetapi Corentine melihatnya dengan jelas. Jemari pria itu mencengkeram jeruji lebih erat, sementara tatapannya bergerak ke arah lantai sebelum kembali kepada Lord Deschanel. “Saya tidak tahu siapa yang membawanya pergi.” Lord Deschanel tidak men
Corentine sedang memeriksa laporan dari Tyron ketika kepala pelayan mengetuk pintu ruang kerjanya. “Yang Mulia, Marquis Deschanel telah tiba.” Corentine mengangkat wajah dari dokumen di tangannya. “Antar beliau kemari.” “Baik, Yang Mulia.” Ia menutup laporan tersebut, lalu berdiri. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan ayah Alize memasuki ruangan tanpa ragu. Corentine menyambutnya dengan anggukan. “Lord Deschanel,” sapanya. “Saya senang dengan kunjungan Anda.” Meskipun sejak awal interaksinya dengan mertuanya agak kaku, tetapi Corentine selalu berusaha menunjukkan sikap hormat kepada ayah istrinya. “Terima kasih, Duke.” Lord Deschanel membalas salamnya. “Maaf karena aku datang mendadak.” “Tidak masalah. Anda selalu diterima di sini.” Corentine mempersilakannya duduk. Seorang pelayan segera datang membawakan teh, tetapi sebelum mereka sempat memulai percakapan lebih jauh, Lord Deschanel mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Bagaimana keadaan kastil?” “Sejauh ini te
“Tentu. Bukankah kau belum selesai memeriksa dokumen-dokumen itu?”“Belum. Aku ingin memeriksanya sekali lagi.”Lord Deschanel mengangguk. “Pergilah. Hanya saja, jangan sampai kau menghabiskan seluruh waktumu di sana dan lupa beristirahat.”Alize tersenyum tipis.“Aku akan berhati-hati.”Ia meninggalkan ruang makan dengan membawa buku catatan kecil dan pena. Troy sudah berangkat lebih dahulu untuk memeriksa batas tanah, sehingga kali ini ia harus bekerja sendirian.Sebenarnya, ia tidak keberatan.Ada kalanya ia justru lebih mudah berkonsentrasi ketika tidak perlu berdiskusi dengan orang lain. Ia bisa memeriksa setiap dokumen dengan teliti, mengikuti pola sandi yang ditemukan, dan berhenti selama yang diperlukan tanpa merasa harus segera menjelaskan pemikirannya kepada siapa pun.Setidaknya, itulah yang ia harapkan.Sebab semakin lama ia memikirkan hubungan antara perselisihan kedua keluarga, pemberontakan, dan hilangnya Mirelle, semakin kuat keyakinannya bahwa semua itu mungkin bukan
Musik berganti. Nada-nada yang lebih pelan, lebih halus, mengalun di seluruh ballroom. Langkah para penari ikut melambat, berputar dalam ritme yang lebih terkontrol. Lord Alastor Cleremont menghentikan langkahnya. “Senang bisa berdansa dengan Anda, Duchess,” ujarnya sambil membungkuk sopan. A
“Mirelle hilang.” Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik. Corentine tidak langsung menjawab. Tatapannya yang tadinya santai berubah. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah masuk. “Sejak kapan?” tanyanya singkat. “Aku tidak tahu pasti.” Alize menggeleng. “Setelah makan sia
Hanya namanya. Diucapkan Corentine dengan segenap perasaan. Lalu bibir mereka bertemu. Perlahan. Tidak terburu-buru. Sentuhan bibir Corentine pada bibirnya tidak menuntut, tidak juga mendominasi. Sentuhan itu lembut dan menahan diri. Ada jeda sesaat. Ia seharusnya mundur. Namun alih-alih ber
“Phillipa.” Duke Pelton menyapa gadis itu. “Kau bersembunyi di mana barusan?” “Bersembunyi?” Gadis itu mengangkat alis. “Aku sedang mencari senjata yang bisa kugunakan. Koki menyarankan pisau daging. Tentu saja aku tidak mau. Aku mencari pedang Rupert. Rupanya semuanya dia bawa ke ibukota. Pelit s







