Masuk“Skandal yang memalukan. Aku benar-benar kecewa.”
Suara Raja Aldred, penguasa Montveraine, menggema di ruang audiensi. Tegas dan tajam. Di balik kumis dan janggut peraknya, wajahnya memerah, menahan marah. Putra Mahkota―Pangeran Godwyn berdiri di sebelah singgasananya dengan wajah kaku. “Deschanel dan de Mably membuat keributan di jamuan makan malam resmi, sementara dua anak mudanya sibuk bermesraan! Apa jadinya kalau terdengar sampai kerajaan tetangga? Aku akan ditertawakan!” Lady Alize berdiri kaku di sisi ayahnya, Marquis Augustus. Gaun pagi yang dikenakannya sederhana, disiapkan terburu-buru ketika perintah menghadap Raja dikirimkan sebelum sarapan. Ia menunduk. Para anggota dewan bangsawan yang ikut hadir sedang menatapnya sembari membisikkan gosip yang menyebar begitu cepat seperti api. “Lady Alize Deschanel dan Duke de Mably tertangkap basah bermesraan di ruang duduk Putra Mahkota. Begitu persisnya laporan yang kuterima. Berani sekali mereka melakukannya di bawah atap istana.” Itu semua omong kosong! Alize mendesah jengkel. Jelas sekali siapa yang menyebarkan berita itu. Ia masih ingat mata kelabu Lady Gwen, yang menatapnya dengan penuh kemarahan. Perempuan itu berderap pergi tanpa menunggu dirinya dan Duke de Mably meluruskan kesalahpahaman itu. Di sisi lain ruangan, Duke Corentine de Mably berdiri tegak. Wajahnya tanpa ekspresi, bibirnya terkatup erat seperti garis. Alize tidak tahu apakah sang duke menyesali kejadian ini. Marquis Augustus melangkah maju lebih dulu . “Yang Mulia, nama keluarga kami telah dicemarkan. Putri saya tidak mungkin―” “Jangan pura-pura suci!” potong Lord George. “Bagaimana pun juga putrimu tertangkap basah dengan Duke de Mably. Sudah pasti dia yang menggoda Duke lebih dulu. Keluarga Deschanel memang tidak beres.” “Itu namanya memfitnah, Lord George!” bentak Marquis Deschanel. “Putriku perempuan baik-baik. Dia perempuan terpelajar dan terhormat. Sebaliknya, aku mempertanyakan moral Duke de Mably yang kudengar punya banyak penggemar perempuan. Bagiku sudah jelas. Dia yang merayu Alize.” “Benar, Yang Mulia.” Salah seorang paman Alice ikut bicara. “Keponakanku pasti telah diperdaya oleh Duke de Mably. Keluarga mereka sejak dulu selalu berusaha menjatuhkan kami.” “Sepupuku Alize bukan perempuan murahan, Yang Mulia!” Troy, sepupu Alize ikut bersuara. “Cukup!” Satu kata yang menggelegar dari Raja membuat ruangan itu hening seketika. Raja Aldred menatap mereka satu per satu. Ia tampak sekuat tenaga mengendalikan kegusarannya. “Setiap kali keluarga Deschanel dan de Mably berada dalam satu ruangan, selalu saja bertengkar. Aku benar-benar lelah dengan kalian.” Alize menelan ludah. Ia juga lelah. Ia tidak menyukai keluarga de Mably, tapi ia berharap pertengkaran antar keluarga mereka berhenti. “Yang Mulia,” Duke de Mably angkat bicara. Suaranya rendah terkendali. “Izinkan saya menjelaskan. Apa pun yang terjadi semalam bukan seperti yang dibicarakan orang. Tidak ada―” “Tidak ada apa?” sela Raja. “Tidak ada pelukan? Tidak ada posisi memalukan di ruang duduk Putra Mahkota? Bahkan kudengar kalian… saling tindih.” Beberapa bangsawan tertawa tertahan. Alize mendengus pelan. Memang sial benar kejadian itu. Insiden tidak sengaja yang seharusnya bisa dilupakan saja, malah menjadi sangat tidak menguntungkan ketika Lady Gwen muncul. Ia melirik Duke de Mably dengan sebal. Ini gara-gara kau. “Apa pun bantahan kalian, skandal ini nyata,” ujar Raja. “Aku tidak akan membiarkannya merusak martabat kerajaan. Terlebih kau…” dia menatap Duke de Mably dengan tajam, “adalah keponakanku.” “Dan kau―” Ia menoleh kepada Alize. “Sebagai seorang gadis bangsawan, kau tahu konsekuensinya, Lady Alize.” Alize mengangkat kepala. “Saya tidak bersalah, Yang Mulia.” “Bersalah atau tidak,” sahut Raja dingin, “nama keluargamu sudah tercemar.” Tangan Alize terkepal di sisi tubuhnya, emosinya nyaris meledak. Dia pasti sudah mengamuk sejak tadi jika yang dihadapinya bukan Raja. “Yang Mulia, seharusnya Anda―” Ayahnya meraih lengan Alize, mencegahnya maju. ”Alize, jangan―” “Ayah, aku punya hak membela diri. Aku memang tidak bersalah!” tukasnya kesal. “Aku sudah memutuskan,” potong Raja, mengabaikan protesnya. Ruangan hening kembali hening. “Ada dua pilihan.” Raja mengangkat dua jarinya. “Pertama, Lady Alize Marie Deschanel akan dikucilkan. Dikirim ke kerajaan lain. Tanpa gelar. Tanpa perlindungan keluarga. Sampai gosip ini dilupakan orang.” “A―apa?” Alize terhuyung kecil. Ayahnya menahan tubuhnya. “Atau kalian mengakhiri gosip ini dengan cara paling sederhana.” Raja sengaja mengambil jeda. Alize kembali menoleh ke arah Duke de Mably. Lelaki itu sedang menatap lurus ke singgasana Raja, rahangnya mengeras seolah menunggu pukulan. “Kalian berdua harus menikah,” ujar Raja. Kalimat itu jatuh seperti ketukan palu. Alize tersentak. “Saya menolak!” Alize melangkah maju tanpa sadar. Suaranya bergetar, tapi nadanya tegas. “Saya tidak akan menikah dengan Duke de Mably, Yang Mulia.” Bisik-bisik kembali pecah. Raja mengerutkan kening. “Lady Alize, berani sekali kau membantah raja.” “Saya tidak bermaksud membantah Yang Mulia. Tapi saya tidak mungkin menikahi musuh keluarga.” Alize menggigit bibir. Ia menoleh ke arah Corentine yang tampak sekaget dirinya. Ini tidak boleh terjadi! Alize mengerutkan dahi, mengerjapkan mata. Corentine harus sependapat dengannya. Harus menolak pernikahan. Ucapkan sesuatu! Corentine balas menatapnya. Sekilas ada penyesalan di matanya. “Yang Mulia,” kata Corentine de Mably cepat, “izinkan saya bicara―” “Kau sudah cukup bicara dengan kelakuanmu,” tukas Raja. “Atau kau lupa posisimu?” Raja berdiri. Aura kemarahannya membuat beberapa bangsawan mundur selangkah. “Jika kau menolak,” ujar Raja kepada Alize, “aku akan melaksanakan pilihan pertama hari ini juga.” Marquis Augustus jatuh berlutut. “Yang Mulia―tolong pertimbangkan lagi. Dia satu-satunya anak perempuan saya.” Alize menatap ayahnya dengan pedih. Sang marquis tampak sangat terpukul, wajahnya pucat dan gemetar. Mata Alize berkaca-kaca. Ia tidak pernah bermaksud membuat posisi ayahnya jadi seperti ini. “Alize,” bisik ayahnya lirih. “Jangan hancurkan keluarga kita dengan skandal memalukan seperti ini.” Alize memejamkan mata. Ia tidak ingin membuat ayahnya sedih dan keluarganya malu. Namun, di dalam hatinya ada nama lain yang sudah lama tersimpan. Nama yang tidak pernah ia ucapkan keras-keras. Nama yang menjadi alasan ia tidak pernah membayangkan pernikahan dengan orang lain. “Saya” suaranya pecah. “Saya tidak bisa.” Raja beralih ke Duke de Mably. “Dan kau, Duke de Mably?” Corentine menarik napas panjang. “Saya tidak ingin memaksa Lady Alize.” “Jawaban yang salah.” Raja menatap dingin. “Jika pernikahan ini tidak terjadi, aku akan mencabut gelarmu. Estate de Mably akan kuambil. Aku akan mengangkat sepupu jauhmu di kerajaan Gavya sebagai duke yang baru.” Ruangan menjadi sedikit riuh. Corentine terdiam. Sepupunya di Gavya adalah seorang pecundang. Warisan ayahnya, nama keluarganya, dan semua yang ia jaga dengan sekuat tenaga akan diberikan kepada orang seperti itu. Ia menoleh kepada Alize. Matanya memohon pengertian. Alize balas menatapnya dengan dingin. “Alize, kenapa kau tidak mau?” Troy menggamit lengannya. “Semua perempuan di kerajaan ini menjadi penggemarnya. Bahkan aku sendiri harus mengakui ketampanannya yang menyebalkan itu.” Alize mendengus. “Kau lupa? Keluarganya adalah musuh bebuyutan keluarga kita.” “Kau lebih memilih dikucilkan ke kerajaan asing dan membuat ayahmu cepat mati karena mengkhawatirkanmu?” Pamannya mencondongkan tubuh ke arahnya. “Sebaiknya kau menerimanya, nak. Pikirkan wilayah Baltian di utara yang mereka rebut puluhan tahun lalu. Kau bisa mengambilnya kembali untuk kita setelah menjadi istrinya,” bisiknya. Alize menatap pamannya dengan jengkel. Lord George berdehem. “Bukannya aku tidak keberatan. Tapi, pernikahan adalah pilihan yang lebih bijak, sekalipun dengan anggota keluarga Deschanel. Corentine adalah pewaris sah, gelarnya tidak boleh dicabut.” “Kami berjanji akan memperlakukan istrinya dengan baik,” ujar seorang de Mably lain. “Yah, meskipun terpaksa.” “Lady Alize,” seorang bibi Corentine ikut bicara. “Kau tidak akan rugi jika menikah dengan Duke de Mably. Kau akan menjadi seorang duchess. Status sosialmu akan naik. Pikirkan itu.” “Alize, sebaiknya kau bilang ‘iya’.” Troy mendesak. Alize memutar mata. Enak saja. Mereka bilang begitu karena tidak ingin kehilangan harta dan status sosial mereka. Bukan karena peduli pada perasaannya. Alisnya terangkat ketika Corentine tiba-tiba berjalan mendekat. “Ada apa? Kau juga mau membujukku supaya mau menikah denganmu?” tanyanya ketus. “Maafkan aku,” ujar Corentine pelan. Suaranya hanya terdengar oleh mereka berdua. “Aku tidak bisa membiarkan sepupuku yang bodoh mengambil alih apa yang ayahku bangun.” Alize menahan napas. “Duke de Mably, kau tidak bisa memaksaku.” “Aku tidak memaksa.” Corentine menoleh kepada Marquis Augustus yang berdiri goyah, lalu kembali menatap Alize. “Kau yang harus memikirkannya, Alize. Kau tidak bisa melihat ayahmu dihancurkan.” Air mata yang sejak tadi ditahan mengaburkan pandangan Alize. Corentine benar. Ia sangat menyayangi ayahnya. Marquis Deschanel menderita karena kehilangan istrinya. Ia telah bekerja keras untuk mempertahankan estate mereka. Keluarga mereka saat ini sedang menghadapi saat-saat berat. Konflik dengan keluarga de Mably memperparah reputasi dan kepercayaan istana. Alize sangat keterlaluan jika bersikap egois. Beberapa menit kemudian, akhirnya ia mengangguk. Baiklah. Ia kalah. Corentine menghela napas dan menegakkan tubuh. “Kami menerima, Yang Mulia,” ujarnya dengan suara berat. Raja mengangguk puas. “Bagus. Pernikahan akan dilangsungkan hari ini.” ***“Lady Gwen Cleremont?” Suara Alize nyaris tercekik. ”Pendampingku adalah kau?” Ini sebuah permainan, pikir Alize. Lady Julia mengujinya karena ia berada di sarang mereka―musuh keluarganya. Namun, mengangkat si biang gosip ini sebagai pendampingnya boleh dibilang keterlaluan.Ia tidak boleh terlihat lemah dan sudah berjanji untuk belajar lebih sabar demi menjaga martabat dan reputasi yang kini disandangnya. Namun, tetap saja kemarahannya menyelinap sedikit ke permukaan.“Aku tidak percaya,” ia bergumam. Tubuhnya berdiri kaku di tengah ruang makan. Tatapannya berpindah dari Lady Gwen ke Lady Julia, lalu ke wajah Corentine. Lady Gwen tersenyum lembut, tetapi di mata Alize senyum itu sangat palsu. “Jika kehadiranku mengejutkanmu, Yang Mulia, aku mohon maaf,” katanya. Lady Julia menghela napas tipis. “Kau seharusnya merasa beruntung, Duchess.” “Beruntung?” ulang Alize pelan. Dari semua perempuan bangsawan yang tersedia di kerajaan ini, kenapa harus memilih orang yang menyebabkan dua mu
“Corentine!” pekik Alize sedetik kemudian. “Apa yang kau lakukan?”Corentine tidak merasa terganggu dengan reaksi itu, apalagi merasa bersalah. Dengan santai ia berbaring di sisi tempat tidur yang kosong, satu tangan terlipat di bawah kepala, seolah-olah mereka sudah sejak lama tidur sekamar, bukannya baru saja.“Aku mau tidur,” jawabnya tenang. “Banyak yang harus kukerjakan besok.” Matanya memejam. “Apakah aku sudah memberitahumu bahwa beberapa hari lagi aku akan berangkat? Raja memintaku mendampinginya ke benteng timur.”“Tidak. Kau belum memberitahuku. Tapi bukan itu masalahnya sekarang―” Mata Alize terbelalak jengkel. Ia tak percaya Corentine malah mengoceh. “Kau tidur dengan—dengan keadaan seperti itu?” Aliran hangat menjalari wajahnya. Ia menahan diri untuk tidak menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah tidak melihat langsung ke arah otot dada Corentine yang begitu kekar.Corentine membuka matanya dan melirik ke bawah tubuhnya sendiri, lalu ke
“Kau suka pesta perkenalanmu, Duchess?” Pertanyaan itu ditanyakan Corentine begitu Alize tiba di ruang makan. Nada Corentine terdengar santai. Terlalu santai untuk seorang pria yang semalam berpura-pura mengklaim telah tidur sekamar dengan istrinya. Alize membiarkan pelayan menarik kursi untuknya, sementara Corentine berdiri sejenak sampai Alize menempatkan diri di seberangnya. “Ya, aku suka,” Alize mengangguk sopan. “Terima kasih atas perhatianmu.” “Kau sudah melakukannya dengan baik,” Corentine tersenyum tipis, “untuk seseorang yang mengaku jarang menyelenggarakan pesta di rumahnya―” “Aku mendapat banyak bantuan,” ujar Alize, “dan kau― mengirim beberapa staf istana. Sungguh tidak bisa dipercaya.” “Oh, kau harus percaya.” Corentine mengedikkan bahu. “Aku berada di garis suksesi. Beberapa nomor di belakang Pangeran Godwyn dan adik-adik Raja. Aku mendapat―” Corentine tersenyum miring, terlihat agak malu. “Sedikit keistimewaan.” “Itukah sebabnya kau begitu mudah berbohong?
“Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.” Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengukur lagi pinggang Anda. Tolong tahan sebentar." Pengepasan gaun itu telah berlangsung sejak dua jam yang lalu. Ia tidak pernah harus begitu lama mengepas sebuah gaun baru. Penjahit pribadinya sudah sangat mengenal ukurannya. Namun, Corentine tidak mengizinkan penjahit lain selain penjahit istana “Jangan terlalu ketat di bagian pinggang,” ujar Alize datar. "Aku tidak mau jadi susah bernapas." "Akan kuusahakan, Yang Mulia." Penjahit itu tersenyum kaku. "Tapi pinggang yang lebar tidak pantas untuk seorang perempuan bangsawan. Duchess de Mably harus terlihat anggun dan memikat. “Untuk siapa?” gumam Alize. “Untuk seluruh kerajaan, tentu saja,” sahut si penjahit. “Anda tentu tidak m
Upacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa. Alize masih ingat ketika Corentine dengan canggung menyematkan cincin di jarinya yang dingin. Tangan Corentine juga dingin. “Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri,” ujar pendeta istana. “Duke, kau boleh mencium pengantinmu.” Corentine pura-pura tidak mendengar ucapan pendeta. Mereka bahkan tidak saling tatap. Di belakang punggung mereka, Alize mendengar desahan ayahnya, juga gumaman Lord George. Pernikahan yang harusnya penuh kebahagiaan malah begitu muram. Lima hari telah berlalu sejak itu. Ia tinggal di Kastil de Mably sekarang. Merasa kesal dan sedih karena kebebasannya hilang dan terjebak di sarang ‘musuh’. Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya, membuyarkan benaknya. “Masuk,” ujar Alize tanpa
“Skandal yang memalukan. Aku benar-benar kecewa.” Suara Raja Aldred, penguasa Montveraine, menggema di ruang audiensi. Tegas dan tajam. Di balik kumis dan janggut peraknya, wajahnya memerah, menahan marah. Putra Mahkota―Pangeran Godwyn berdiri di sebelah singgasananya dengan wajah kaku. “Deschanel dan de Mably membuat keributan di jamuan makan malam resmi, sementara dua anak mudanya sibuk bermesraan! Apa jadinya kalau terdengar sampai kerajaan tetangga? Aku akan ditertawakan!” Lady Alize berdiri kaku di sisi ayahnya, Marquis Augustus. Gaun pagi yang dikenakannya sederhana, disiapkan terburu-buru ketika perintah menghadap Raja dikirimkan sebelum sarapan. Ia menunduk. Para anggota dewan bangsawan yang ikut hadir sedang menatapnya sembari membisikkan gosip yang menyebar begitu cepat seperti api. “Lady Alize Deschanel dan Duke de Mably tertangkap basah bermesraan di ruang duduk Putra Mahkota. Begitu persisnya laporan yang kuterima. Berani sekali mereka melakukannya di bawah at







