LOGINUpacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa.
Alize masih ingat ketika Corentine dengan canggung menyematkan cincin di jarinya yang dingin. Tangan Corentine juga dingin. “Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri,” ujar pendeta istana. “Duke, kau boleh mencium pengantinmu.” Corentine pura-pura tidak mendengar ucapan pendeta. Mereka bahkan tidak saling tatap. Di belakang punggung mereka, Alize mendengar desahan ayahnya, juga gumaman Lord George. Pernikahan yang harusnya penuh kebahagiaan malah begitu muram. Lima hari telah berlalu sejak itu. Ia tinggal di Kastil de Mably sekarang. Merasa kesal dan sedih karena kebebasannya hilang dan terjebak di sarang ‘musuh’. Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya, membuyarkan benaknya. “Masuk,” ujar Alize tanpa menoleh. Pintu terbuka sedikit. “Yang Mulia Duchess,” bisik Mirelle, pelayan pribadinya yang ia bawa dari kediaman ayahnya. Dengan wajah tegang, Mirelle menutup pintu cepat-cepat di belakangnya. “Ada apa?” Alize menurunkan buku di tangannya. Mirelle mendekat, menunduk hormat, lalu menyelipkan sesuatu ke telapak tangan Alize. “Ini… diserahkan diam-diam. Lewat gerbang belakang.” Alize membeku. Amplop krem tanpa segel resmi. Ada namanya dengan tulisan tangan yang ia kenal. Jarinya gemetar. Oh, Tuhan. Akhirnya― “Tak ada yang melihat?” tanya Alize lirih. Mirelle menggeleng. “Saya rasa tidak ada, Yang Mulia.” Alize mengangguk cepat. “Terima kasih. Kau boleh pergi, Mirelle.” Mirelle ragu sesaat. “Yang Mulia… harap berhati-hati.” Pelayannya pergi dan Alize duduk di tepi ranjang, memandangi amplop itu seakan benda terlarang. Ia memejamkan matanya sejenak, meredakan jantungnya yang berdebar-debar. Tangannya yang gemetar membukanya. Alize, Selamat atas pernikahanmu. Aku berharap kau bahagia. ― C Hanya itu. Tidak ada keluhan atau protes atas pernikahannya. Tidak ada pengakuan atas perasaan apa pun yang pernah ada. Tidak mengungkit kenangan masa kecil mereka di vila pedesaan ayahnya, atau janji-janji bodoh yang mereka ucapkan saat masih remaja. Dadanya nyeri. “Pengecut,” bisiknya, entah pada lelaki itu atau dirinya sendiri. Ia melipat kembali surat itu dan menyelipkannya di laci terdalam. Tak tahan berada di kamar lebih lama, Alize berjalan keluar menuju taman di belakang kastil, berharap udara bebas bisa meredakan sesak di dadanya. Langkahnya terhenti begitu ia memasuki koridor panjang menuju taman. Di sana, Corentine tampak berdiri, seolah sudah menunggunya lama. “Berjalan sendirian, Alize?” tanyanya. Alize menegakkan bahu. “Aku tidak tahu harus meminta izin untuk menghirup udara.” “Tidak perlu.” Bibirnya melengkung tipis. “Hanya saja gerbang belakang hari ini cukup ramai.” Jantung Alize berdetak lebih cepat. “Apa maksudmu?” Corentine bersandar dengan santai pada pilar batu. “Kurir dari kerajaan selatan datang dengan tergesa. Jarang-jarang ada tamu yang memilih jalur itu.” Alize menahan napas. Sial. Apakah ia tahu? “Apakah itu melanggar aturan kastilmu?” tanyanya, berusaha bersikap tenang. “Tidak,” jawab Corentine cepat. “Kalau begitu kenapa kau harus mempersoalkannya?” “Karena kepala pelayanku selalu melapor tentang segalanya. Bisa dibilang, sebuah kebiasaan lama.” Alize menggenggam ujung lipatan gaunnya. Jadi benar… Corentine mengetahui surat itu. “Apa kau ingin tahu isi surat itu?” tanya Alize tiba-tiba. Sorot matanya menantang. Corentine menatapnya. Tatapan yang terlalu tenang untuk seorang suami yang baru saja diberi tahu istrinya menerima surat rahasia. “Tidak perlu.” Alize mengerutkan dahi. “Tidak perlu?” “Selama tidak ada yang mengancam keselamatan Duchess de Mably,” katanya ringan, “aku tidak tertarik mencampuri urusan orang lain.” Ketenangan itu meresahkannya. “Aku tidak menyembunyikan apa pun,” ujar Alize defensif. “Seandainya kau perlu diyakinkan.” “Dan aku tidak sedang menuduhmu.” Corentine mengangkat bahu. “Kau bebas melakukan surat menyurat dengan siapa pun, Alize. Pernikahan kita tidak akan membatasimu.” Alize mendongak, mencoba membaca wajah Corentine. Mencari emosi apa pun yang disembunyikannya. Nihil. Wajah Corentine tak terbaca. “Aku menunggumu di sini untuk memberitahu, aku harus mendampingi Raja ke wilayah perbatasan.” Corentine beranjak. Ia tersenyum sekilas kepada Alize. “Aku baru pulang besok malam.” Alize menatap punggung Corentine yang menjauh. ________ Mirelle masuk dengan hati-hati setelah mengetuk pintu kamar. “Yang Mulia Duchess Alize diminta turun untuk makan malam bersama Duke de Mably.” Alis Alize terangkat. Sehari telah berlalu lagi. Rupanya Corentine sudah pulang. “Aku belum lapar. Biasanya kami makan sendiri-sendiri.” “Ini permintaan langsung Duke, Yang Mulia.” “Sekarang?” “Ya.” Alize mendesah. Sudah hampir seminggu ia menjadi nyonya rumah di Kastil de Mably. Di rumah ayahnya, ia cukup mandiri. Namun, di sini tak ada hal-hal kecil yang harus dikerjakan. Jumlah pelayan Corentine jauh lebih banyak dari pelayan di Manor Deschanel. Yang dilakukannya setiap hari hanya membaca buku―perpustakaannya sangat besar. Sesekali, ia pergi ke dapur untuk mengintip menu. Namun, hal itu malah membuat koki dan para pelayan dapur gugup dan mengacaukan masakan mereka. Sejujurnya, ia merasa sangat bosan. Tiba-tiba ia teringat percakapannya dengan Corentine di taman. “Mirelle, apakah Duke de Mably kelihatan baik-baik saja?” “Tampaknya suasana hatinya sedang bagus,” ujar Mirelle, seraya membereskan tempat tidur. “Tolong jangan mengajaknya bertengkar.” Alize mendengus. “Kenapa kau bilang begitu?” Mirelle, yang sudah mengenalnya sejak kecil, tersenyum. “Karena Duchess Alize saat ini sedang bosan.” Alize memelototi pelayan pribadinya. “Baiklah.” Ia melempar bukunya ke meja. “Aku akan pura-pura menjadi istri yang bahagia. Cepat, bantu aku berganti pakaian.” Ruang makan Kastil de Mably ini terlalu luas untuk dua orang, pikir Alize saat melangkah melewati ambang pintu. Corentine sudah duduk di sana, menoleh ketika Alize masuk. “Kau sudah pulang,” ujar Alize datar dan sopan. Suaminya mengangguk, berdiri sebentar dengan formal dan kesopanan yang sama, lalu duduk kembali. Hidangan pembuka disiapkan di meja. Corentine menatap Alize dengan hati-hati. “Apakah kau baik-baik saja sejak pindah ke sini?” Ah, topik baru. Alize lega. Tadinya dia khawatir Corentine akan membahas soal surat lagi. “Ya. Terima kasih.” Alize mulai mengambil makanan. “Tidak ada keluhan?” “Tidak. Semua pelayan memperlakukanku dengan hormat. Kau mempekerjakan orang-orang baik.” Corentine mengangguk. “Syukurlah. Kau tidak perlu ragu memberitahuku kalau ada yang mengganggumu.” “Aku terpaksa menikah denganmu atas perintah Raja, menurutmu apa lagi yang bisa lebih menggangguku?” Alize melihat wajah Corentine berubah. “Jangan khawatir,” Alize buru-buru melambaikan tangan. “Aku ini Deschanel yang tidak suka keributan, Duke de Mably.” “Corentine.” “Apa?” “Panggil aku Corentine,” ujar Duke de Mably. “Jangan bersikap formal pada suamimu.” “Baiklah, Corentine.” Alize memasukkan makanan ke mulutnya dan mengunyah pelan. Setelah menelan, ia kembali menatap Corentine. “Apakah kau juga baik-baik saja sejak aku ada di sini?” “Tentu saja,” sahut Corentine. Ia mulai mengambil makanan seperti Alize. Mereka mulai makan tanpa bicara. Sesekali Alize melirik Corentine, merasa tak habis pikir dengan ketenangan dan kesopanannya. Ia tampak terhormat, pikirnya. Bahkan di antara semua anggota keluarganya, ia justru yang paling berhati-hati untuk tidak bersinggungan dengan keluarga Deschanel. Bagaimana mungkin lelaki seperti ini begitu sembrono berduaan dengan Lady Gwen di salah satu ruangan istana? “Aku tidak tahu kau suka anggur putih atau merah,” ujar Corentine tiba-tiba. Piring mereka telah kosong. Alize nyaris terpergok tengah menatapnya. “Putih,” jawab Alize singkat. Ia mengangguk pada pelayan. “Anggur putih.” Dan sunyi lagi. Alize tidak nyaman dengan kecanggungan itu. “Aku tidak terbiasa… makan malam seperti ini,” ujar Alize akhirnya. “Kau biasa makan sendirian?” tanya Corentine. “Maksudku… aku tidak biasa makan dengan orang asing.” Corentine menatapnya. “Aku juga.” Alize mendengus pelan. Hampir tertawa dengan kesamaan mereka yang ironis. Atas isyarat Corentine, para pelayan mengangkat hidangan utama dari meja. Alih-alih beranjak dari meja makan, ia menyandarkan punggungnya. “Alize.” Nada suaranya membuat Alize tegang. “Ya?” “Kau tidak perlu khawatir.” Perasaan waswas Alize muncul kembali. Apakah dia akan membicarakan surat lagi? “Aku tidak akan menyentuhmu,” lanjut Corentine lugas. Alize tertegun. “Pernikahan kita hanya demi kepentingan politik. Perdamaian dua keluarga. Tidak lebih.” Alize mengerjap. “Kenapa kau membicarakan hal ini sekarang?” “Karena aku tidak ingin kau merasa terjebak.” Corentine menatapnya lurus. “Aku mengerti kemarahanmu saat menolak hukuman Raja. Aku pun sama. Tapi aku―kita tidak bisa berbuat apa-apa. Aku minta maaf karena tidak sengaja mengakibatkan kejadian itu.” “Tentu saja ini semua gara-gara kau. Kau mengejar-ngejar aku―” Corentine menghela napas. “Setelah beberapa waktu, kau boleh memintaku bercerai.” Alize tercekat. “Apa?” “Sebagai kompensasi, aku akan memberimu estate di Baltian.” Suaranya tenang dan terukur. “Wilayah yang selama ini diinginkan ayahmu.” Wilayah Baltian. Mata Alize melebar. Di sana ada sebuah kastil dan benteng pertahanan. Wilayah strategis itu telah mereka perebutkan selama setengah abad. “Tapi,” lanjut Corentine, memotong pikirannya, “sekarang aku membutuhkanmu.” “Aku? Memangnya apa yang kau butuhkan dariku?” Alize terperangah. Corentine tersenyum tipis. Senyum yang membuat hati Alize merasa tak nyaman. “Nanti kau akan tahu.” ***“Lady Gwen Cleremont?” Suara Alize nyaris tercekik. ”Pendampingku adalah kau?” Ini sebuah permainan, pikir Alize. Lady Julia mengujinya karena ia berada di sarang mereka―musuh keluarganya. Namun, mengangkat si biang gosip ini sebagai pendampingnya boleh dibilang keterlaluan.Ia tidak boleh terlihat lemah dan sudah berjanji untuk belajar lebih sabar demi menjaga martabat dan reputasi yang kini disandangnya. Namun, tetap saja kemarahannya menyelinap sedikit ke permukaan.“Aku tidak percaya,” ia bergumam. Tubuhnya berdiri kaku di tengah ruang makan. Tatapannya berpindah dari Lady Gwen ke Lady Julia, lalu ke wajah Corentine. Lady Gwen tersenyum lembut, tetapi di mata Alize senyum itu sangat palsu. “Jika kehadiranku mengejutkanmu, Yang Mulia, aku mohon maaf,” katanya. Lady Julia menghela napas tipis. “Kau seharusnya merasa beruntung, Duchess.” “Beruntung?” ulang Alize pelan. Dari semua perempuan bangsawan yang tersedia di kerajaan ini, kenapa harus memilih orang yang menyebabkan dua mu
“Corentine!” pekik Alize sedetik kemudian. “Apa yang kau lakukan?”Corentine tidak merasa terganggu dengan reaksi itu, apalagi merasa bersalah. Dengan santai ia berbaring di sisi tempat tidur yang kosong, satu tangan terlipat di bawah kepala, seolah-olah mereka sudah sejak lama tidur sekamar, bukannya baru saja.“Aku mau tidur,” jawabnya tenang. “Banyak yang harus kukerjakan besok.” Matanya memejam. “Apakah aku sudah memberitahumu bahwa beberapa hari lagi aku akan berangkat? Raja memintaku mendampinginya ke benteng timur.”“Tidak. Kau belum memberitahuku. Tapi bukan itu masalahnya sekarang―” Mata Alize terbelalak jengkel. Ia tak percaya Corentine malah mengoceh. “Kau tidur dengan—dengan keadaan seperti itu?” Aliran hangat menjalari wajahnya. Ia menahan diri untuk tidak menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah tidak melihat langsung ke arah otot dada Corentine yang begitu kekar.Corentine membuka matanya dan melirik ke bawah tubuhnya sendiri, lalu ke
“Kau suka pesta perkenalanmu, Duchess?” Pertanyaan itu ditanyakan Corentine begitu Alize tiba di ruang makan. Nada Corentine terdengar santai. Terlalu santai untuk seorang pria yang semalam berpura-pura mengklaim telah tidur sekamar dengan istrinya. Alize membiarkan pelayan menarik kursi untuknya, sementara Corentine berdiri sejenak sampai Alize menempatkan diri di seberangnya. “Ya, aku suka,” Alize mengangguk sopan. “Terima kasih atas perhatianmu.” “Kau sudah melakukannya dengan baik,” Corentine tersenyum tipis, “untuk seseorang yang mengaku jarang menyelenggarakan pesta di rumahnya―” “Aku mendapat banyak bantuan,” ujar Alize, “dan kau― mengirim beberapa staf istana. Sungguh tidak bisa dipercaya.” “Oh, kau harus percaya.” Corentine mengedikkan bahu. “Aku berada di garis suksesi. Beberapa nomor di belakang Pangeran Godwyn dan adik-adik Raja. Aku mendapat―” Corentine tersenyum miring, terlihat agak malu. “Sedikit keistimewaan.” “Itukah sebabnya kau begitu mudah berbohong?
“Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.” Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengukur lagi pinggang Anda. Tolong tahan sebentar." Pengepasan gaun itu telah berlangsung sejak dua jam yang lalu. Ia tidak pernah harus begitu lama mengepas sebuah gaun baru. Penjahit pribadinya sudah sangat mengenal ukurannya. Namun, Corentine tidak mengizinkan penjahit lain selain penjahit istana “Jangan terlalu ketat di bagian pinggang,” ujar Alize datar. "Aku tidak mau jadi susah bernapas." "Akan kuusahakan, Yang Mulia." Penjahit itu tersenyum kaku. "Tapi pinggang yang lebar tidak pantas untuk seorang perempuan bangsawan. Duchess de Mably harus terlihat anggun dan memikat. “Untuk siapa?” gumam Alize. “Untuk seluruh kerajaan, tentu saja,” sahut si penjahit. “Anda tentu tidak m
Upacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa. Alize masih ingat ketika Corentine dengan canggung menyematkan cincin di jarinya yang dingin. Tangan Corentine juga dingin. “Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri,” ujar pendeta istana. “Duke, kau boleh mencium pengantinmu.” Corentine pura-pura tidak mendengar ucapan pendeta. Mereka bahkan tidak saling tatap. Di belakang punggung mereka, Alize mendengar desahan ayahnya, juga gumaman Lord George. Pernikahan yang harusnya penuh kebahagiaan malah begitu muram. Lima hari telah berlalu sejak itu. Ia tinggal di Kastil de Mably sekarang. Merasa kesal dan sedih karena kebebasannya hilang dan terjebak di sarang ‘musuh’. Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya, membuyarkan benaknya. “Masuk,” ujar Alize tanpa
“Skandal yang memalukan. Aku benar-benar kecewa.” Suara Raja Aldred, penguasa Montveraine, menggema di ruang audiensi. Tegas dan tajam. Di balik kumis dan janggut peraknya, wajahnya memerah, menahan marah. Putra Mahkota―Pangeran Godwyn berdiri di sebelah singgasananya dengan wajah kaku. “Deschanel dan de Mably membuat keributan di jamuan makan malam resmi, sementara dua anak mudanya sibuk bermesraan! Apa jadinya kalau terdengar sampai kerajaan tetangga? Aku akan ditertawakan!” Lady Alize berdiri kaku di sisi ayahnya, Marquis Augustus. Gaun pagi yang dikenakannya sederhana, disiapkan terburu-buru ketika perintah menghadap Raja dikirimkan sebelum sarapan. Ia menunduk. Para anggota dewan bangsawan yang ikut hadir sedang menatapnya sembari membisikkan gosip yang menyebar begitu cepat seperti api. “Lady Alize Deschanel dan Duke de Mably tertangkap basah bermesraan di ruang duduk Putra Mahkota. Begitu persisnya laporan yang kuterima. Berani sekali mereka melakukannya di bawah at







