LOGIN“Kau suka pesta perkenalanmu, Duchess?”
Pertanyaan itu ditanyakan Corentine begitu Alize tiba di ruang makan. Nada Corentine terdengar santai. Terlalu santai untuk seorang pria yang semalam berpura-pura mengklaim telah tidur sekamar dengan istrinya. Alize membiarkan pelayan menarik kursi untuknya, sementara Corentine berdiri sejenak sampai Alize menempatkan diri di seberangnya. “Ya, aku suka,” Alize mengangguk sopan. “Terima kasih atas perhatianmu.” “Kau sudah melakukannya dengan baik,” Corentine tersenyum tipis, “untuk seseorang yang mengaku jarang menyelenggarakan pesta di rumahnya―” “Aku mendapat banyak bantuan,” ujar Alize, “dan kau― mengirim beberapa staf istana. Sungguh tidak bisa dipercaya.” “Oh, kau harus percaya.” Corentine mengedikkan bahu. “Aku berada di garis suksesi. Beberapa nomor di belakang Pangeran Godwyn dan adik-adik Raja. Aku mendapat―” Corentine tersenyum miring, terlihat agak malu. “Sedikit keistimewaan.” “Itukah sebabnya kau begitu mudah berbohong? Karena semua orang pasti percaya padamu?” Corentine mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?” Alize menghela napas. “Pengumumanmu di depan orang-orang.” “Tentang tidur sekamar?” Corentine mengangkat bahu, seolah itu perkara sepele. “Itu untuk menghentikan Lady Gwen.” “Aku tidak suka berbohong. Apalagi di depan umum." “Tapi kau dan aku sudah berbohong sejak berdampingan menuruni tangga sambil tersenyum seolah-olah saling mencintai,” Corentine membantah. “Aku tidak tersenyum seperti itu,” tukas Alize. “Pokoknya kau tersenyum,” tukas Corentine. “Dan aku harus menghentikan Lady Gwen sebelum kau menampar mukanya.” Alize berjengit ngeri. “Menurutmu aku akan melakukannya?” “Mungkin.” “Aku tidak pernah sekasar itu. Ayahku pasti akan―” Wajahnya memucat. “Kurasa… aku harus melatih lagi kesabaranku.” “Ya, aku setuju.” Sudut bibirnya berkedut. Alize menatapnya kesal. Apakah Corentine diam-diam menertawakannya? Ia ingin bertanya apa yang begitu lucu untuk ditertawakan, tetapi Corentine telah memberi isyarat pada kepala pelayannya bahwa mereka sudah siap sarapan. Pelayan mengantarkan hidangan, dan mereka mulai makan tanpa bicara. Alize makan dengan agak tergesa-gesa, dan hal itu tidak luput dari perhatian Corentine. “Apa kau memang selapar itu?” tanyanya. “Aku sedang terburu-buru.” Garpu Alize berhenti di udara. “Aku harus segera pergi ke taman dan menyuruh tukang kebun mencari bibit bunga-bunga impor.” Alis Corentine terangkat. “Kau suka berkebun?” “Tidak,” Alize mendengus. “Tapi seharusnya kau mendengar apa yang diucapkan Lady Philipa Dawsey di pesta semalam. Dia bilang, taman kita gersang.” Alize mungkin salah lihat, tapi sudut bibir Corentine berkedut lagi. Hal itu membuatnya kesal. “Ini bukan hal yang lucu, Corentine. Sebenarnya aku mendapat beberapa kritik semalam,” ujarnya masam. Corentine mendongak cepat. “Kenapa kau tidak―” Sebuah suara yang cukup nyaring memotong ucapannya. “Biarkan aku masuk! Aku ingin memastikan pernikahan ini tidak menjadi bahan tertawaan kerajaan.” Suara perempuan itu terdengar bahkan sebelum pintu penghubung dibuka sepenuhnya. Lady Julia de Mably berderap masuk. Gaunnya hitam elegan. Rambut coklat gelapnya yang diselingi uban perak di sana sini digelung rapi tak bercela. Di belakang Lady Julia, kepala pelayan berdiri dengan serba salah. Dia tadi berusaha mencegahnya mengganggu sarapan Duke dan Duchess. “Bibi Julia.” Corentine segera berdiri. Alize ikut berdiri. “Lady Julia.” “Duchess,” balas perempuan itu singkat. Ia menatap Alize dari atas ke bawah tanpa menyembunyikan penilaian. “Hmm.” “Hm?” ulang Alize pelan. Hatinya langsung gelisah. Dia tahu Lady Julia de Mably adalah perempuan yang tidak bisa dianggap sepele. “Posturmu kurang tegak. Seorang duchess tidak boleh kelihatan ragu." Lady Julia mengatakannya tanpa basa basi. “Bibi.” Corentine menghela napas. “Kalau kau datang hanya untuk mengkritik istriku―” “Jangan menatapku seperti itu, Corentine,” sahut Lady Julia. “Kerajaan disibukkan lagi dengan kabar burung tentang kalian setelah menikah.” “Tentang kami tidak tidur sekamar?” Corentine tersenyum tenang. “Itu tidak benar, Bibi Julia. Itu hanya gosip.” “Gosip muncul karena ada celah,” balas Lady Julia cepat. “Dan aku tidak suka celah.” Alize mendesah, pasrah. “Jadi apa yang Anda inginkan, Lady Julia?” “Aku ingin memastikan kalian benar-benar suami istri. Bukan sandiwara. Juga bukan perkawinan terpaksa karena hukuman Raja.” “Kami tidak bersandiwara,” bantah Corentine. “Bagus.” Lady Julia tersenyum tipis. “Kalau begitu malam ini kalian tidur di kamar yang sama.” Alize menoleh cepat ke arah Corentine. Matanya memberi isyarat: katakan sesuatu! Corentine balas menatapnya dan menghela napas pelan. “Bibi, apa tidak sebaiknya ...” “Tidak ada bantahan, Corentine,” potong Lady Julia. “Seluruh istana sudah membicarakan kalian yang tidur di kamar terpisah. Aku tidak akan membiarkan keluarga ini terus menerus dipermalukan gosip murahan.” Tatapan Lady Julia kini mengarah kepada Alize. “Sebagai duchess, tugasmu bukan hanya mengenakan gaun indah, Alize. Kau harus menjaga martabat keluarga suamimu dengan semua tindak tandukmu.” Alize mengangkat dagu. “Saya tidak pernah berniat mempermalukan siapa pun,” tukasnya. “Kau sudah melakukannya,” jawab Lady Julia datar. “Aku mendengar banyak penilaian dari tamu-tamu yang hadir di pesta penyambutanmu.” “Apakah penilaian mereka seburuk itu?” Alize tercengang. Ia sudah berusaha. Bukan salahnya kalau para bangsawan pendukung keluarga suaminya itu ikut-ikutan memusuhinya. “Aku tidak akan datang ke sini kalau penilaiannya bagus, Duchess Alize,” sahut Lady Julia tajam sebelum berbalik meninggalkan ruang makan. Lady Julia rupanya benar-benar memutuskan untuk mengawasi mereka. Malam itu, ia menyuruh Alize pindah ke kamar utama. Pelayannya, Mirelle, telah memindahkan barang-barangnya ke sana. Alize tak bisa lagi membantah. Kamar utama terasa terlalu besar, dengan tempat tidur besar berkanopi tipis warna gading yang tampak seperti ancaman diam-diam. Alize berdiri memperhatikannya dengan wajah muram. “Ini berlebihan,” gumamnya kepada diri sendiri. Di belakangnya, pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang pelan. Alize berbalik dengan canggung dan melihat Corentine baru saja masuk. “Bibi Julia jarang melakukan sesuatu tanpa tujuan,” ujar Corentine. “Sekarang dia menempatkan dua pelayan di lorong untuk memastikan kita tidak keluar masuk dan kembali ke kamar masing-masing.” “Dia ingin memastikan semua orang percaya bahwa kita adalah pasangan suami istri sungguhan.” Corentine melepas sarung tangannya satu per satu. “Bukankah kita memang pasangan suami istri?” “Kita adalah pasangan yang menikah, Corentine,” tukas Alize cepat. “Itu berbeda.” Senyum tipis melintas di wajah Corentine, hanya sedetik. Dan entah kenapa, bagi Alize itu lebih mengganggu daripada jika ia tertawa. “Aku tidak menyadari ada perbedaan yang besar.” Alize mendengus. “Tentu saja ada.” Ia berjalan ke meja rias, mulai membuka antingnya dengan gerakan yang sedikit terlalu tegas untuk menyembunyikan jemarinya yang gemetar. Dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan kegugupannya karena berada di kamar yang sama dengan Corentine. Seharusnya, ia tidak terpengaruh. Corentine adalah bagian dari musuh keluarga dan ini semua hanya sementara. “Kita sepakat bahwa pernikahan ini berbatas waktu,” ujar Alize. “Kau tidak lupa, kan?” “Kesepakatan itu masih berlaku.” Corentine mengangguk. “Tapi tidak ada syarat untuk tidur sekamar,” ujar Alize lagi. “Kau bahkan berjanji tidak akan menyentuhku.” Lelaki itu berjalan ke arah perapian, menuangkan sedikit anggur ke gelas kristal dan menyesapnya pelanl. Tanpa beban, seolah-olah mereka sedang bercakap-cakap tentang cuaca. Lalu, ia menoleh dan melambai ke arah tempat tidur. “Tempat tidur itu cukup besar. Kita tidak mungkin saling bersentuhan jika tidur di masing-masing sisinya.” Alize menatapnya tajam melalui pantulan cermin. “Bukan itu maksudku.” Corentine menghabiskan isi gelasnya. “Kalau begitu apa?" Alize tidak suka menjelaskan sesuatu yang harusnya sudah jelas. “Aku tidak ingin dipaksa menjadi istri sungguhan, karena kita hanya berpura-pura.” Corentine menoleh sepenuhnya. Matanya menyipit, memperhatikan. “Menurutmu aku memaksamu?” Pertanyaan itu menyentak Alize sedikit. Ia tidak pernah benar-benar menganggap Corentine tipe lelaki yang akan memaksa. Justru itulah masalahnya. Ia terlalu tenang. Terlalu terhormat. Itu membuatnya sulit dibenci, bahkan sejak dulu sebelum pernikahan ini terjadi. “Kau ikut andil,” gumam Alize akhirnya. “Seharusnya kau bisa mendebat bibimu. Kau seorang duke, Corentine.” “Sebagai seorang Deschanel seharusnya kau mempelajari musuhmu," ujar Corentine. "Termasuk cara melawan Lady Julia de Mably." Corentine berjalan mendekat dan berhenti pada jarak yang sopan. Dia begitu tinggi, begitu tampan, dan serius. Tanpa sadar napas Alize tersengal karena pesona lelaki itu. “Melawan Bibi Julia secara langsung hanya akan membuat keluargaku semakin tidak menyukaimu,” ujar Corentine pelan. “Meskipun keluarga kita bermusuhan, aku tidak mau kau dibenci, Alize. Aku ingin pernikahan ini berhasil. Bukan karena Bibi, bukan karena gosip. Tapi karena kita sudah terlanjur berada di dalamnya.” Itu kalimat yang sederhana. Namun, entah mengapa terasa lebih intim dari sentuhan. Alize meneguk ludah. Bukan berarti ia ingin disentuh. Kendalikan dirimu, bodoh! “Berhasil... bagaimana?” tanyanya sesaat kemudian. “Artinya kita tidak perlu berdiri di sisi yang berseberangan, seolah satu sama lain adalah lawan.” Alize memalingkan wajah, berpura-pura memeriksa tirai. Lawan. Musuh bebuyutan. Corentine bisa saja melakukan sesuatu yang buruk kepada keluarga Deschanel, mengingat dirinya adalah keponakan Raja. Namun Corentine tidak pernah ikut bertikai. Ia hanya menjauhkan diri. "Kenapa kau berpikir begitu?" “Karena kadang-kadang sikapmu begitu kaku dan memendam emosi. Seolah kau siap mengobarkan perang.” Api di perapian berderak pelan. Alize tidak bisa membantah karena itu benar. Berada di dekat Corentin membangkitkan kewaspadaan, tapi juga kelengahan. “Baiklah." Ia tak ingin berdebat lagi. "Kalau memang harus sekamar, silakan kau tidur di sofa.” Alize menunjuk benda itu yang berada di sudut. Sementara ia menghampiri tempat tidur dan membaringkan diri di salah satu sisinya dengan sikap yang seolah tak peduli. Corentine menoleh pada sofa itu dan merengut. “Terlalu pendek. Bisa-bisa besok pagi aku bangun dengan badan yang bungkuk seperti udang.” “Jangan terlalu dramatis," gumam Alize. “Hei, aku realistis.” Untuk sesaat, sudut bibir Alize nyaris terangkat. Jika percakapan ini berubah menjadi pertengkaran besar, itu akan jauh lebih mudah. Kemarahan lebih sederhana daripada ketegangan yang perlahan menghangat seperti ini. Corentine sekarang menatapnya, seolah-olah sedang menyelami isi hatinya. Sepasang mata karamel pekatnya memantulkan nyala perapian yang menari-nari. Alize nyaris tersesat di kedalamannya yang tak bertepi. Sial, pikir Alize resah. Mengapa musuhku harus setampan dewa Yunani? “Kau takut,” ujar Corentine. Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Alize merasa jantungnya berdetak lebih cepat, dan itu membuatnya kesal. “Aku tidak takut.” Alis Corentine terangkat. “Tidak?” “Tidak.” Alize menggeleng di atas bantalnya. “Baiklah.” Tanpa tergesa, dengan ketenangan yang hampir menyebalkan, Corentine mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, sampai terbuka seluruhnya dan melepaskannya dengan ringan. Lalu, dengan tubuh setengah telanjang ia naik ke atas tempat tidur. “Corentine!” pekik Alize. " Apa yang kau lakukan?" ***“Lady Gwen Cleremont?” Suara Alize nyaris tercekik. ”Pendampingku adalah kau?” Ini sebuah permainan, pikir Alize. Lady Julia mengujinya karena ia berada di sarang mereka―musuh keluarganya. Namun, mengangkat si biang gosip ini sebagai pendampingnya boleh dibilang keterlaluan.Ia tidak boleh terlihat lemah dan sudah berjanji untuk belajar lebih sabar demi menjaga martabat dan reputasi yang kini disandangnya. Namun, tetap saja kemarahannya menyelinap sedikit ke permukaan.“Aku tidak percaya,” ia bergumam. Tubuhnya berdiri kaku di tengah ruang makan. Tatapannya berpindah dari Lady Gwen ke Lady Julia, lalu ke wajah Corentine. Lady Gwen tersenyum lembut, tetapi di mata Alize senyum itu sangat palsu. “Jika kehadiranku mengejutkanmu, Yang Mulia, aku mohon maaf,” katanya. Lady Julia menghela napas tipis. “Kau seharusnya merasa beruntung, Duchess.” “Beruntung?” ulang Alize pelan. Dari semua perempuan bangsawan yang tersedia di kerajaan ini, kenapa harus memilih orang yang menyebabkan dua mu
“Corentine!” pekik Alize sedetik kemudian. “Apa yang kau lakukan?”Corentine tidak merasa terganggu dengan reaksi itu, apalagi merasa bersalah. Dengan santai ia berbaring di sisi tempat tidur yang kosong, satu tangan terlipat di bawah kepala, seolah-olah mereka sudah sejak lama tidur sekamar, bukannya baru saja.“Aku mau tidur,” jawabnya tenang. “Banyak yang harus kukerjakan besok.” Matanya memejam. “Apakah aku sudah memberitahumu bahwa beberapa hari lagi aku akan berangkat? Raja memintaku mendampinginya ke benteng timur.”“Tidak. Kau belum memberitahuku. Tapi bukan itu masalahnya sekarang―” Mata Alize terbelalak jengkel. Ia tak percaya Corentine malah mengoceh. “Kau tidur dengan—dengan keadaan seperti itu?” Aliran hangat menjalari wajahnya. Ia menahan diri untuk tidak menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah tidak melihat langsung ke arah otot dada Corentine yang begitu kekar.Corentine membuka matanya dan melirik ke bawah tubuhnya sendiri, lalu ke
“Kau suka pesta perkenalanmu, Duchess?” Pertanyaan itu ditanyakan Corentine begitu Alize tiba di ruang makan. Nada Corentine terdengar santai. Terlalu santai untuk seorang pria yang semalam berpura-pura mengklaim telah tidur sekamar dengan istrinya. Alize membiarkan pelayan menarik kursi untuknya, sementara Corentine berdiri sejenak sampai Alize menempatkan diri di seberangnya. “Ya, aku suka,” Alize mengangguk sopan. “Terima kasih atas perhatianmu.” “Kau sudah melakukannya dengan baik,” Corentine tersenyum tipis, “untuk seseorang yang mengaku jarang menyelenggarakan pesta di rumahnya―” “Aku mendapat banyak bantuan,” ujar Alize, “dan kau― mengirim beberapa staf istana. Sungguh tidak bisa dipercaya.” “Oh, kau harus percaya.” Corentine mengedikkan bahu. “Aku berada di garis suksesi. Beberapa nomor di belakang Pangeran Godwyn dan adik-adik Raja. Aku mendapat―” Corentine tersenyum miring, terlihat agak malu. “Sedikit keistimewaan.” “Itukah sebabnya kau begitu mudah berbohong?
“Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.” Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengukur lagi pinggang Anda. Tolong tahan sebentar." Pengepasan gaun itu telah berlangsung sejak dua jam yang lalu. Ia tidak pernah harus begitu lama mengepas sebuah gaun baru. Penjahit pribadinya sudah sangat mengenal ukurannya. Namun, Corentine tidak mengizinkan penjahit lain selain penjahit istana “Jangan terlalu ketat di bagian pinggang,” ujar Alize datar. "Aku tidak mau jadi susah bernapas." "Akan kuusahakan, Yang Mulia." Penjahit itu tersenyum kaku. "Tapi pinggang yang lebar tidak pantas untuk seorang perempuan bangsawan. Duchess de Mably harus terlihat anggun dan memikat. “Untuk siapa?” gumam Alize. “Untuk seluruh kerajaan, tentu saja,” sahut si penjahit. “Anda tentu tidak m
Upacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa. Alize masih ingat ketika Corentine dengan canggung menyematkan cincin di jarinya yang dingin. Tangan Corentine juga dingin. “Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri,” ujar pendeta istana. “Duke, kau boleh mencium pengantinmu.” Corentine pura-pura tidak mendengar ucapan pendeta. Mereka bahkan tidak saling tatap. Di belakang punggung mereka, Alize mendengar desahan ayahnya, juga gumaman Lord George. Pernikahan yang harusnya penuh kebahagiaan malah begitu muram. Lima hari telah berlalu sejak itu. Ia tinggal di Kastil de Mably sekarang. Merasa kesal dan sedih karena kebebasannya hilang dan terjebak di sarang ‘musuh’. Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya, membuyarkan benaknya. “Masuk,” ujar Alize tanpa
“Skandal yang memalukan. Aku benar-benar kecewa.” Suara Raja Aldred, penguasa Montveraine, menggema di ruang audiensi. Tegas dan tajam. Di balik kumis dan janggut peraknya, wajahnya memerah, menahan marah. Putra Mahkota―Pangeran Godwyn berdiri di sebelah singgasananya dengan wajah kaku. “Deschanel dan de Mably membuat keributan di jamuan makan malam resmi, sementara dua anak mudanya sibuk bermesraan! Apa jadinya kalau terdengar sampai kerajaan tetangga? Aku akan ditertawakan!” Lady Alize berdiri kaku di sisi ayahnya, Marquis Augustus. Gaun pagi yang dikenakannya sederhana, disiapkan terburu-buru ketika perintah menghadap Raja dikirimkan sebelum sarapan. Ia menunduk. Para anggota dewan bangsawan yang ikut hadir sedang menatapnya sembari membisikkan gosip yang menyebar begitu cepat seperti api. “Lady Alize Deschanel dan Duke de Mably tertangkap basah bermesraan di ruang duduk Putra Mahkota. Begitu persisnya laporan yang kuterima. Berani sekali mereka melakukannya di bawah at







