Masuk“Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.”
Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengukur lagi pinggang Anda. Tolong tahan sebentar." Pengepasan gaun itu telah berlangsung sejak dua jam yang lalu. Ia tidak pernah harus begitu lama mengepas sebuah gaun baru. Penjahit pribadinya sudah sangat mengenal ukurannya. Namun, Corentine tidak mengizinkan penjahit lain selain penjahit istana “Jangan terlalu ketat di bagian pinggang,” ujar Alize datar. "Aku tidak mau jadi susah bernapas." "Akan kuusahakan, Yang Mulia." Penjahit itu tersenyum kaku. "Tapi pinggang yang lebar tidak pantas untuk seorang perempuan bangsawan. Duchess de Mably harus terlihat anggun dan memikat. “Untuk siapa?” gumam Alize. “Untuk seluruh kerajaan, tentu saja,” sahut si penjahit. “Anda tentu tidak mau ditertawakan orang, Yang Mulia?” Pintu terbuka tiba-tiba. Corentine melangkah masuk tanpa basa-basi. Si penjahit dan pelayannya segera membungkuk hormat. “Yang Mulia Duke.” Corentine menatap Alize dari ujung kepala hingga kaki. Gaun sutra biru tua itu belum selesai, tapi sudah cukup membuatnya seanggun perempuan dalam lukisan mahal. Alize tidak berharap diberi pujian, tapi di mata Corentine ada kekaguman yang melintas sedetik. “Cukup,” katanya singkat kepada si penjahit. “Pastikan kalian menyelesaikannya sebelum malam.” “Baik, Yang Mulia.” Pelayan membawa Alize ke ruangan kecil untuk memakai kembali gaun siangnya. Gaun biru itu kemudian dibawa pergi si penjahit dan pelayannya. Kini hanya mereka berdua di ruangan itu. Corentine melangkah menyeberangi ruangan dan duduk di sofa yang biasa dipakai Alize untuk membaca. "Kau suka gaun tadi?" tanya Corentine. "Masih ada waktu kalau kau..." "Aku suka," jawab Alize cepat-cepat. "Terima kasih kau sudah peduli. Maksudku, dengan kain semewah itu, penjahit terbaik istana, dan―” "Aku hanya mau memastikan istriku mendapatkan yang terbaik," potong Corentine. “Aku tidak ingin kau merasa kecewa setelah menikahiku dengan terpaksa.” "Aku bukan perempuan yang rewel, Corentine." Bibir Corentine melengkung naik. "Bisa kulihat itu." "Masalahnya, aku tidak terbiasa jadi pusat perhatian," ujar Alize. "Ayahku tidak sering mengadakan pesta." "Kenapa?" tanya Corentine. "Tak ada nyonya rumah di manor kami. Ibuku sudah meninggal dan ayahku belum menemukan penggantinya. Aku sendiri juga tidak suka pesta." "Mulai sekarang, sebagai Duchess de Mably, kau harus membiasakan diri untuk mengadakan pesta atau menghadirinya." "Bagaimana kalau aku tidak mau?" tukas Alize. "Kau harus. Menyelenggarakan pesta adalah bagian dari mempertahankan reputasi bangsawan kelas atas. Sebagai istriku, kau wajib menjaga reputasiku.” "Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya." Alize berdecak. “Apa pesta ini perlu?” tanyanya. “Sangat perlu,” jawab Corentine. “Mereka harus melihat bahwa Duchess de Malby tidak terpuruk karena gosip murahan.” “Bagaimana kalau aku memang terpuruk?” Corentine terdiam sejenak. Matanya menatap Alize dengan sorot menilai. “Kau tidak terlihat seperti perempuan yang gampang runtuh dan terpuruk." Alize angkat bahu. “Kau kan, tidak mengenalku.” “Karena itu aku mengadakan pesta ini,” jawab Corentine. “Supaya aku mulai mengenal istriku.” _____ Malam itu, aula Kastil de Mably terang benderang oleh cahaya lampu-lampu kristal mewah. Duke de Mably mengundang semua bangsawan kerajaan Montveraine tanpa terkecuali. Semua orang dengan antusias hadir. Mereka penasaran terhadap skandal kedua anggota keluarga yang bermusuhan itu. Para tamu undangan berbisik-bisik saat melihat Alize. “Lihat itu. Alize Deschanel, duchess baru―” “Wah! Ternyata dia secantik itu.” “Bukankah keluarga mereka sudah lama bermusuhan?” “Mereka menikah karena―” “Shhh!” Alize menegakkan bahu. Senyum tipis terpasang sempurna di bibirnya. Gaun biru tuanya berkilau dan memukau, serasi dengan matanya yang sebiru laut dan rambut pirangnya yang keemasan. Corentine berdiri di sebelahnya―dengan jas resmi warna gelap, sikapnya formal dan serius. “Tenang saja,” bisiknya pelan tanpa menoleh. “Mereka hanya lapar gosip.” “Aku tenang, Corentine, kau tak perlu khawatir,” balas Alize. “Kau menggenggam kipasmu terlalu erat, Alize. Apa kau kira aku tak menyadarinya?” "Oh." Alize langsung melonggarkan genggamannya sedikit. Musik mulai dimainkan. Para tamu bangsawan yang diundang mulai membuat kelompok-kelompok kecil dan bercakap-cakap. Makanan dan anggur melimpah di meja. Semua ini baru baginya. Alize belum pernah menyelenggarakan pesta sebesar itu di Manor Deschanel. Alize berjalan menjelajahi ruangan, menerima sapaan ramah dan pujian untuk gaunnya dan kemewahan pestanya. Ia menjawab sopan dan tersenyum sampai pipinya pegal. Di salah satu sudut ruangan, beberapa nyonya bangsawan mencegatnya. "Duchess Alize, dekorasinya sangat indah. Kau punya selera yang bagus. Tapi cahaya lampunya terlalu pucat." Yang bicara adalah seorang duchess dari keluarga Orlean, mereka sahabat keluarga de Mably. “Ini acara yang sangat mendadak, Duchess Odette. Tapi terima kasih atas saranmu, lain kali kami akan lebih memperhatikan lampunya,” ujar Alize tenang. "Yang Mulia Duchess, kulihat tamanmu agak gersang... bukankah sudah waktunya menanam bunga musim semi?" Alize menoleh kepada perempuan bergaun hijau norak yang menatapnya dengan penuh kedengkian. Ia juga mengenalinya sebagai pendukung keluarga de Mably. Suaminya hanya seorang baronete―bangsawan dari kelas rendah. “Wah, matamu sangat tajam ya, Lady Philipa Dawsey. Saya sedang berdiskusi dengan tukang kebun kami untuk menanam bunga-bunga impor.” Senyum Alize merekah. “Aku akan mengundangmu untuk pesta kebun kami saat bunga-bunganya mekar.” Seorang perempuan muda mendekat. "Di mana kau membeli sepatumu, Yang Mulia? Sepertinya tidak terlalu nyaman. Aku akan mengirimkan pembuat sepatu terbaik di kerajaan kalau kau mau." Alize berpaling untuk memberinya senyum ramah. Seorang nyonya bangsawan―oh, bukan. Nona bangsawan tepatnya. Lady Flora Vexley. Ayahnya―Earl Vexley adalah sahabat karib George de Mably. “Sepatu ini hadiah dari Duke,” sahut Alize dengan manis. “Jangan khawatir, Lady Flora. Ini sangat nyaman. Suamiku selalu memberikan yang terbaik untukku.” Ketika wajah Lady Flora memerah, Alize langsung tahu. Lady Flora pastilah salah satu penggemar Corentine yang pernah berharap lebih. Alizen terus berusaha menghadapi para tamunya dengan baik dan sabar demi keberhasilan pesta pertamanya. Ia dengan lega mengira pesta itu akan berjalan lancar. Namun, harapannya meleset. Di tengah lantunan musik dan dengung obrolan para tamu, terdengar suara nyaring yang ceria. “Wah, pesta ini benar-benar meriah, bukan?!” Lady Gwen Cleremont muncul dengan gaun merah menyala. Senyumnya terlalu manis ketika tatapannya hinggap di wajah Alize. “Duchess de Mably,” ujar Gwen, mendekati Alize. “Atau haruskah aku memanggilmu Lady Alize yang beruntung?” Alize tersenyum tipis. ”Lady Gwen Cleremont. Senang kau bisa hadir.” “Tentu saja aku hadir,” jawab Gwen. “Bagaimana aku harus mengatakannya, ya? Aku sangat peduli pada Duke de Mably. Nah, karena itu aku memaksakan diriku berdandan dan memakai gaun baruku untuk datang ke sini.” Alize menahan diri untuk tidak mencibir. Gaun itu terlalu berlebihan, demikian juga sikap Lady Gwen. Dia masih ingat bagaimana tangan Lady Gwen bergelayut manja pada lengan Corentine di perpustakaan Putra Mahkota. Sampai sekarang dia tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan saat itu. “Oh, gaunmu bagus, Duchess Alize!” Lady Gwen mengusap lembut permukaan gaun birunya. “Kain yang sangat mahal, bukan?” “Ya. Terima kasih, Lady Gwen.” “Kau tidak perlu sungkan padaku, Yang Mulia.” “Tentu saja.” Lady Gwen tertawa kecil. Beberapa tamu mulai saling melirik. Alize mendapat firasat bahwa akan ada kekacauan dengan kemunculan Lady Gwen. Ia mengedarkan pandangan, mencari-cari Corentine. Di seberang ruangan, ia melihat suaminya sedang sibuk mengobrol dengan seorang menteri. Gwen kini mencondongkan badannya sedikit ke arah Alize. “Duchess Alize, aku dengar kau langsung pindah ke kastil ini,” katanya pelan. “Bagaimana rasanya?” “Nyaman tentu saja," jawab Alize. “Benarkah?” Gwen memiringkan kepala. “Karena aku mendengar kabar yang berbeda.” Alize menatapnya, berusaha mempertahankan ketenangannya. “Oh, ya?” Gwen tersenyum kecil. “Ada kabar burung yang beredar. Bahwa Duchess tidak berbagi ranjang dengan Duke.” Beberapa tamu yang berdiri cukup dekat mulai pura-pura sibuk, tapi memasang telinga. Alize tidak berkedip. Nyaris menahan napas karena menahan kegusarannya. “Gosip selalu terdengar lebih menarik daripada kebenaran,” jawabnya halus. “Ah, jadi itu tidak benar?” Gwen mendekat lagi. Matanya berkilat-kilat dengan sorot ingin tahu. “Atau memang Duke kita terlalu… sopan?” Tawa kecil terdengar dari salah satu tamu. Gwen melanjutkan, sengaja mengeraskan suara. “Lucu sekali, bukan? Menikah terburu-buru karena skandal, tapi ternyata tidak ada yang terjadi setelahnya. Jadi apa gunanya menikah? Apakah ini cuma akal bulus untuk menghapus reputasi buruk permusuhan keluarga?” Genggaman Alize di kipasnya mengencang. “Lady Gwen,” tukas Alize dingin, “kau tampaknya sangat tertarik dengan urusan kamar orang lain.” “Bukankah semua orang tertarik?” Gwen tersenyum. “Apalagi jika itu menyangkut seorang duke yang begitu―” Kalimatnya terputus oleh kehadiran orang lain di antara mereka. Satu tangan terulur menggenggam tangan Alize, terasa hangat dan melindungi. Ruangan seketika hening. “Siapa bilang aku tidak sekamar dengan istriku?” Suara itu tidak keras, tetapi seluruh aula mendengarnya. Alize mendongak. Corentine berdiri di sampingnya dengan ekspresinya tenang seperti biasa. Sosoknya yang tinggi memancarkan aura tegas dan berwibawa. Gwen membeku ketika Corentine menatap langsung tepat ke matanya. “Lady Gwen,” ujar Corentine santai. “Aku tidak ingat pernah mengundangmu untuk mengawasi kehidupan pernikahanku.” Beberapa bangsawan tertawa kecil. Wajah Gwen memerah. “Aku hanya… khawatir.” “Kekhawatiranmu tidak diperlukan,” tukas Corentine. “Istriku sangat… memuaskan.” Alize nyaris tersedak. Gwen terdiam total. Corentine mengangkat tangan Alize ke bibirnya. Tidak menyentuh, hanya mendekat secukupnya untuk membuat orang mengira ia mencium sungguhan. “Bukan begitu, Duchess?” Corentine menatapnya lekat-lekat. Kilatan di matanya adalah isyarat. Permainan ini berbahaya, pikir Alize. Corentine mengajaknya mengelabui semua orang. Namun, dia tidak ingin Gwen menang. Karena itu, Alize memberi Corentine senyum lembut. “Tentu saja, Yang Mulia. Sudah tugasku untuk melayanimu.” ***“Lady Gwen Cleremont?” Suara Alize nyaris tercekik. ”Pendampingku adalah kau?” Ini sebuah permainan, pikir Alize. Lady Julia mengujinya karena ia berada di sarang mereka―musuh keluarganya. Namun, mengangkat si biang gosip ini sebagai pendampingnya boleh dibilang keterlaluan.Ia tidak boleh terlihat lemah dan sudah berjanji untuk belajar lebih sabar demi menjaga martabat dan reputasi yang kini disandangnya. Namun, tetap saja kemarahannya menyelinap sedikit ke permukaan.“Aku tidak percaya,” ia bergumam. Tubuhnya berdiri kaku di tengah ruang makan. Tatapannya berpindah dari Lady Gwen ke Lady Julia, lalu ke wajah Corentine. Lady Gwen tersenyum lembut, tetapi di mata Alize senyum itu sangat palsu. “Jika kehadiranku mengejutkanmu, Yang Mulia, aku mohon maaf,” katanya. Lady Julia menghela napas tipis. “Kau seharusnya merasa beruntung, Duchess.” “Beruntung?” ulang Alize pelan. Dari semua perempuan bangsawan yang tersedia di kerajaan ini, kenapa harus memilih orang yang menyebabkan dua mu
“Corentine!” pekik Alize sedetik kemudian. “Apa yang kau lakukan?”Corentine tidak merasa terganggu dengan reaksi itu, apalagi merasa bersalah. Dengan santai ia berbaring di sisi tempat tidur yang kosong, satu tangan terlipat di bawah kepala, seolah-olah mereka sudah sejak lama tidur sekamar, bukannya baru saja.“Aku mau tidur,” jawabnya tenang. “Banyak yang harus kukerjakan besok.” Matanya memejam. “Apakah aku sudah memberitahumu bahwa beberapa hari lagi aku akan berangkat? Raja memintaku mendampinginya ke benteng timur.”“Tidak. Kau belum memberitahuku. Tapi bukan itu masalahnya sekarang―” Mata Alize terbelalak jengkel. Ia tak percaya Corentine malah mengoceh. “Kau tidur dengan—dengan keadaan seperti itu?” Aliran hangat menjalari wajahnya. Ia menahan diri untuk tidak menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah tidak melihat langsung ke arah otot dada Corentine yang begitu kekar.Corentine membuka matanya dan melirik ke bawah tubuhnya sendiri, lalu ke
“Kau suka pesta perkenalanmu, Duchess?” Pertanyaan itu ditanyakan Corentine begitu Alize tiba di ruang makan. Nada Corentine terdengar santai. Terlalu santai untuk seorang pria yang semalam berpura-pura mengklaim telah tidur sekamar dengan istrinya. Alize membiarkan pelayan menarik kursi untuknya, sementara Corentine berdiri sejenak sampai Alize menempatkan diri di seberangnya. “Ya, aku suka,” Alize mengangguk sopan. “Terima kasih atas perhatianmu.” “Kau sudah melakukannya dengan baik,” Corentine tersenyum tipis, “untuk seseorang yang mengaku jarang menyelenggarakan pesta di rumahnya―” “Aku mendapat banyak bantuan,” ujar Alize, “dan kau― mengirim beberapa staf istana. Sungguh tidak bisa dipercaya.” “Oh, kau harus percaya.” Corentine mengedikkan bahu. “Aku berada di garis suksesi. Beberapa nomor di belakang Pangeran Godwyn dan adik-adik Raja. Aku mendapat―” Corentine tersenyum miring, terlihat agak malu. “Sedikit keistimewaan.” “Itukah sebabnya kau begitu mudah berbohong?
“Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.” Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengukur lagi pinggang Anda. Tolong tahan sebentar." Pengepasan gaun itu telah berlangsung sejak dua jam yang lalu. Ia tidak pernah harus begitu lama mengepas sebuah gaun baru. Penjahit pribadinya sudah sangat mengenal ukurannya. Namun, Corentine tidak mengizinkan penjahit lain selain penjahit istana “Jangan terlalu ketat di bagian pinggang,” ujar Alize datar. "Aku tidak mau jadi susah bernapas." "Akan kuusahakan, Yang Mulia." Penjahit itu tersenyum kaku. "Tapi pinggang yang lebar tidak pantas untuk seorang perempuan bangsawan. Duchess de Mably harus terlihat anggun dan memikat. “Untuk siapa?” gumam Alize. “Untuk seluruh kerajaan, tentu saja,” sahut si penjahit. “Anda tentu tidak m
Upacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa. Alize masih ingat ketika Corentine dengan canggung menyematkan cincin di jarinya yang dingin. Tangan Corentine juga dingin. “Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri,” ujar pendeta istana. “Duke, kau boleh mencium pengantinmu.” Corentine pura-pura tidak mendengar ucapan pendeta. Mereka bahkan tidak saling tatap. Di belakang punggung mereka, Alize mendengar desahan ayahnya, juga gumaman Lord George. Pernikahan yang harusnya penuh kebahagiaan malah begitu muram. Lima hari telah berlalu sejak itu. Ia tinggal di Kastil de Mably sekarang. Merasa kesal dan sedih karena kebebasannya hilang dan terjebak di sarang ‘musuh’. Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya, membuyarkan benaknya. “Masuk,” ujar Alize tanpa
“Skandal yang memalukan. Aku benar-benar kecewa.” Suara Raja Aldred, penguasa Montveraine, menggema di ruang audiensi. Tegas dan tajam. Di balik kumis dan janggut peraknya, wajahnya memerah, menahan marah. Putra Mahkota―Pangeran Godwyn berdiri di sebelah singgasananya dengan wajah kaku. “Deschanel dan de Mably membuat keributan di jamuan makan malam resmi, sementara dua anak mudanya sibuk bermesraan! Apa jadinya kalau terdengar sampai kerajaan tetangga? Aku akan ditertawakan!” Lady Alize berdiri kaku di sisi ayahnya, Marquis Augustus. Gaun pagi yang dikenakannya sederhana, disiapkan terburu-buru ketika perintah menghadap Raja dikirimkan sebelum sarapan. Ia menunduk. Para anggota dewan bangsawan yang ikut hadir sedang menatapnya sembari membisikkan gosip yang menyebar begitu cepat seperti api. “Lady Alize Deschanel dan Duke de Mably tertangkap basah bermesraan di ruang duduk Putra Mahkota. Begitu persisnya laporan yang kuterima. Berani sekali mereka melakukannya di bawah at







