Mag-log inUntuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara. Alize juga ingin tahu apa yang diketahui Cedric sampai dia kabur tengah malam dan dengan gelap mata menyekap Alize di lemari. Dalam keadaan normal, Cedric tidak akan melakukan hal seperti itu. Kepadanya, maupun kepada orang lain. Ia mengenal pria itu sejak kecil. Pernah mencintainya selama bertahun-tahun. Sesuatu telah mengubah Cedric menjadi orang yang tidak dikenalnya lagi, tetapi sebaliknya malah dikenal banyak orang. Cedric Courcy seperti benang yang menghubungkan banyak orang yang bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. “Yang Mulia.” Suara Alize memecah keheningan ruangan. Semua mata langsung beralih kepadanya. “Ada sesuatu yang mungkin perlu diketahui Dewan.” Raja mengangguk pelan. “Bicaralah, Duchess.” Alize menarik napas pendek. “Beberapa waktu lalu Putra Mahkota menangkap beberapa anggota kelompok pemberontak, salah satunya bernama Zeke.” Louis mengangguk,
Pintu besar itu menutup pelan di belakang mereka. Untuk sesaat Alize hanya mendengar suara kayu berat yang kembali terkunci dan gema langkah kaki mereka di atas lantai marmer. Ruangan itu terasa terlalu besar... dan terlalu sunyi Di depan singgasana, Corentine membungkuk hormat lebih dulu. Alize segera mengikutinya. “Salam hormat, Yang Mulia Raja Montveraine.” Raja Aldred mengangguk singkat. “Aku senang kalian datang,” ujarnya. “Duduklah.” Tidak ada sapaan hangat seperti biasanya. Tidak ada basa-basi keluarga kerajaan yang kadang masih muncul ketika mereka bertemu dalam jamuan makan malam atau acara berburu. Malam ini suasananya berbeda. Lebih dingin dan terasa resmi. Corentine menarikkan kursi untuk Alize sebelum mengambil tempat duduk di sampingnya. Duduk di sebelah ayahnya, Putra Mahkota Louis tampak jauh lebih serius daripada biasanya. Tidak ada senyum Lord Ogilvy yang konyol. Yang ada hanyalah Putra Mahkota Montveraine. Dan Alize mendadak menyadar
Corentine mengangguk. Alize yakin pria itu juga memikirkan bibinya. “Ya,” ujar Corentine. “Nanti akan kukirim orang untuk menanyakan kabarnya.” Alize merasa lega. Setelah itu mereka lebih banyak diam. Alize menatap keluar jendela. Gelap mulai menyelimuti jalan-jalan kerajaan. Di suatu tempat di luar sana, ayahnya mungkin sedang mempersiapkan pertahanan wilayah Deschanel. Troy mungkin sedang memeriksa pengawal dan persediaan senjata. Dan di belakang mereka, Kastil de Mably mungkin juga sedang bersiap menghadapi sesuatu yang bahkan belum terlihat. Ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Malam telah benar-benar turun ketika kereta mereka akhirnya memasuki gerbang istana. Cahaya obor memenuhi halaman luas di depan bangunan utama. Pengawal kerajaan berdiri berjajar di sepanjang jalan masuk. Kereta berhenti perlahan. Corentine turun lebih dulu sebelum mengulurkan tangannya. Alize menerima bantuan itu. Namun begitu kedua kakinya menyentuh tanah, tubuhnya sed
Dom tidak segera menjawab pertanyaan Lady Julia. Kepala pelayan tua itu hanya membungkuk hormat sebelum berkata, “Yang Mulia Duke juga meminta agar Greta menyiapkan pakaian Yang Mulia Duchess untuk tiga hari.” Alize berkedip. “Tiga hari?” Ia menoleh kepada Greta, lalu kembali kepada Dom. Ia dan Corentine hampir tidak pernah menginap selama itu di istana. Bukan karena dirinya. Tetapi karena Corentine. Suaminya tidak pernah menyukai keramaian istana. Ia akan menghadiri pertemuan yang diwajibkan, memenuhi kewajiban keluarga, lalu kembali ke Kastil de Mably secepat mungkin. Memang ada keuntungan tinggal tidak terlalu jauh dari ibu kota. Corentine selalu punya alasan untuk pulang. Namun sekarang mereka diminta membawa pakaian untuk tiga hari. Artinya sesuatu memang benar-benar tidak beres. “Terima kasih, Dom,” ujar Alize akhirnya. Greta langsung bergerak. “Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu, Yang Mulia. Mari saya bantu Anda berganti pakaian.” Ruangan segera
Ia bahkan tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. “Perjalanan ke Dunholm memakan waktu berjam-jam, Alize.” Alize mengangguk lemah. “Aku tahu itu,” ujarnya. “Delapan jam menurut beberapa informasi.” Dan itu membuat Corentine menjadi semakin tegas. “Kau baru saja disekap semalam,” ujar Corentine. “Bahkan rasa cemasku belum reda sampai detik ini.” Alize bergerak gelisah di kursinya. “Aku baik-baik saja.” Corentine nyaris menatapnya dengan tajam. “Kau tidak baik-baik saja.” Nada suara Corentine mulai berubah lebih tegang. “Dan kita baru saja menemukan peti senjata milik pemberontak.” Alize mengerutkan kening. “Justru karena itu kita harus bergerak cepat.” Corentine bertambah muram. “Justru karena itu kau tidak akan pergi. Beberapa orang pemberontak berada di luar sana. Sudah berada di dalam tembok ibu kota. Mereka akan menyasar siapa pun yang menurut mereka berharga untuk dipertukarkan dengan waktu Raja.” Corentine berhenti. “Dan kau sudah tahu aku tidak a
Lady Julia membeku sesaat. Matanya menatap Alize seolah melihat sesuatu yang asing. “Aku berharap telingaku salah dengar, Duchess,” ujarnya. “Kau tidak mungkin sedang mengajakku pergi ke Biara Dunholm.” Alize mengangguk tenang. “Aku memang sedang mengajak Anda , Lady Julia.” “Tapi untuk apa?” Lady Julia sekarang menaruh rajutannya di meja kecil di sebelah kursinya. “Hanya karena kertas kecil itu...” Alize menghela napas. “Saya punya firasat bahwa itu bukan sekedar kertas kecil,” ujarnya. “Untuk apa Lord Courcy membakarnya kalau itu tidak berarti?” “Aku tidak punya jawaban untuk itu,” sahut Lady Julia datar. “Bukan aku yang suka mengejar petunjuk kesana kemari.” Dengan muram ia menggeleng. “Begitu banyak petunjuk ditemukan, tetapi semuanya tidak mengarah kemana-mana. Pelayanmu tetap hilang, kastil ini masih penuh keributan.” Alize bergerak. Rajutannya juga disisihkan. “Karena kita tidak akan tahu yang mana yang akan membawa kita pada kebenaran, Lady Julia. Kita
“Aku akan membawanya ke kamar.” Suara Corentine tenang seperti biasa, seolah baru saja tak ada pertengkaran yang bisa memecah perdamaian dua keluarga.“Silakan melanjutkan makan malamnya.”Troy bangkit dari kursinya. “Alize, seharusnya kau bilang kalau tidak enak badan.” Sepupunya menatapnya deng
“Kau suka pesta perkenalanmu, Duchess?” Pertanyaan itu ditanyakan Corentine begitu Alize tiba di ruang makan. Nada Corentine terdengar santai. Terlalu santai untuk seorang pria yang semalam berpura-pura mengklaim telah tidur sekamar dengan istrinya. Alize membiarkan pelayan menarik kursi untuk
“Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.” Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengu
Upacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa. Alize masih ingat ketika Corentine dengan cangg







