تسجيل الدخولSurat itu tidak panjang.Hanya dua lembar, ditulis dengan tangan yang rapi dan berhati-hati—tangan seseorang yang terbiasa memilih kata dengan presisi. Stempel Lord Chancellor di sudut atasnya masih terlihat jelas meski pinggiran kertasnya sudah menguning dan rapuh di beberapa lipatan.Corentine mengambilnya dari tangan Alize tanpa berkata apa-apa dan mulai membaca.Alize mengamati wajahnya. Tidak ada yang berubah di sana—alis yang tidak terangkat, rahang yang tidak mengeras—tapi matanya bergerak lebih lambat dari biasanya di baris-baris terakhir. Tanda bahwa ia membaca ulang.“Ini dari Lord Chancellor Harwick,” katanya akhirnya. “Ditulis kepada Raja Gyrdon.”“Bahasa Montveraine lama, bukan? Aku bisa membacanya sendiri.” Alize menahan diri untuk tidak terdengar tajam. Tidak berhasil sepenuhnya. “Tapi jelaskan saja isinya.”“Tentu, aku yakin kau mempelajari bahasa lama.” Corentine meletakkan surat itu di antara mereka di meja. “Tapi intinya Harwick melaporkan kecurigaan adanya pengkhia
Alize mendengar suara Corentine menguap. Lalu suara paraunya, khas orang yang baru saja bangun tidur.“Selamat pagi, Duchess.”Pagi di Istana Musim Dingin datang dengan cahaya yang berbeda.Bukan hangat seperti di ibukota—lebih putih, lebih tajam, menerobos masuk melalui celah tirai dan jatuh di lantai marmer dalam garis-garis yang dingin. Alize sudah terbangun lebih dulu dari Corentine, duduk di tepi jendela dengan secangkir teh yang disiapkan pelayan, menatap halaman istana yang masih diselimuti kabut tipis.Pagi pertama yang benar-benar tenang sejak pernikahan itu.Tidak ada Lady Julia. Tidak ada Lady Gwen. Tidak ada Cedric.Hanya istana ini, kabut di luar jendela, dan suara napas Corentine yang teratur dari arah tempat tidur ketika suaminya itu masih tidur satu jam yang lalu.Alize menyesap tehnya dan memutuskan ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan kejadian tersesat di koridor tadi malam.“Aku tidak pernah melihat kau serajin ini.” “Kau duke pemalas,” ujar Alize santai. “A
“Corentine?” panggilnya.Tak ada jawaban.Alize tidak berniat keluar dari kamar.Rencananya sederhana: berbaring, memejamkan mata, dan membiarkan kelelahan dua hari perjalanan menariknya ke dalam tidur yang dalam. Istana Musim Dingin bisa menunggu sampai pagi. Dokumen itu bisa menunggu. Semuanya bisa menunggu.Namun tempat tidur yang kosong di sebelahnya tidak bisa.“Corentine?”Di kamar yang gelap itu tak ada pergerakan selain dirinya sendiri.Ia berbaring menatap langit-langit selama beberapa menit, mendengarkan suara angin yang sesekali menderu di luar jendela. Bara perapian sudah meredup menjadi warna merah tua yang tenang.Ia membalikkan tubuhnya ke kanan. Lalu ke kiri.Akhirnya ia bangkit, meraih mantel rumah di sandaran kursi dan mengenakannya di atas gaun tidurnya. Aku hanya ingin tahu ke mana Corentine pergi, pikirnya. Diambilnya lilin dari meja lalu membuka pintu kamar dengan pelan.Koridor di luar kamar utama sunyi dan panjang.Alize berjalan ke kiri—arah yang menurutnya
“Silakan, Yang Mulia. Ini kamar Anda berdua.” Kepala pelayan istana membawa mereka ke depan sebuah kamar yang tak terbayangkan oleh Alize sebelumnya. Kamar utama Istana Musim Dingin itu sangat luas. Perapian batu di sisi barat sudah menyala ketika mereka masuk, memancarkan kehangatan yang dipantulkan dinding-dinding batu sekelilingnya. Tirai beludru berwarna merah tua dan emas menutupi jendela-jendela tinggi. Di atas meja rias, lilin-lilin sudah dinyalakan dalam barisan yang rapi. Semuanya sudah disiapkan. Semuanya terlihat sempurna. Dan di tengah semua itu, satu tempat tidur besar dengan tiang-tiang kayu gelap berdiri seperti sebuah pernyataan yang tidak bisa diabaikan. Alize meletakkan mantelnya di atas kursi dan berpura-pura sangat tertarik pada ukiran di atas perapian. “Kamarnya bagus,” katanya. “Aku senang kau menyukainya.” “Aku tidak bilang aku menyukainya. Aku bilang bagus.” Corentine berdiri di tengah kamar, melepas sarung tangannya dengan gerakan yang santai. “Kalau
Hari kedua perjalanan dimulai dengan langit yang lebih cerah dari sebelumnya.Jalan menuju wilayah timur semakin menyempit setelah melewati kota kecil Verrault. Di kanan kiri, hutan pinus mulai menggantikan padang rumput terbuka, dan suhu udara turun beberapa derajat setiap jam. Alize yang kedinginan menarik selimut perjalanannya lebih tinggi.Di seberangnya, Corentine sudah menyimpan dokumennya. Dia kini membaca sebuah buku bersampul kulit yang dari judulnya sepertinya tentang pertarungan pedang. “Masih berapa lama lagi perjalanan kita?” tanya Alize.“Empat jam lagi jika jalannya baik.” Corentine membalik halaman tanpa mengangkat mata. “Tiga setengah jika cuaca tidak berubah.”Alize menoleh ke jendela. Pepohonan bergerak lambat di luar, bayangan panjang memotong jalan berbatu. Sesekali terdengar suara kuda pengawal yang mengapit kereta di kanan kiri.Delapan pengawal Vosley. Ditambah enam pengawal de Mably yang sudah lebih dulu bersama rombongan.Pemberontak yang tidak selalu mengi
Halaman Kastil de Mably masih diselimuti kabut tipis ketika para pelayan mulai memuat peti-peti terakhir ke atas kereta.Alize berdiri di tangga utama, menyaksikan kesibukan itu sambil merapatkan mantel perjalanannya. Di belakangnya, suara langkah ringan mendekat."Yang Mulia, semua barang sudah dimuat."Mirelle berdiri dua langkah darinya, sudah siap dengan tas perjalanan yang terbuat dari kulit di tangannya. Isinya barang-barang kecil dan ringan yang biasa dibutuhkan Duchess dalam perjalanan."Bagus." Alize mengangguk. "Naiklah ke kereta kedua bersama pelayan yang lain.""Baik, Yang Mulia."Namun sebelum Mirelle sempat beranjak, suara lain terdengar dari arah pintu kastil."Bukankah hukumannya belum selesai?"Alize berbalik. Corentine berdiri di ambang pintu, baru saja memakai sarung tangan perjalanannya, matanya tertuju pada Mirelle."Aku yang mempersingkat hukumannya," jawab Alize tenang."Aku tidak ingat mendiskusikan itu.""Tidak perlu didiskusikan." Alize menatapnya langsung. "







