LOGINMirelle mengangkat wajah perlahan. “Jika aku meninggalkan Corentine dan menikah dengannya, aku akan membawa mahar yang cukup besar. Itulah yang sebenarnya dia inginkan.” Mirelle tidak mampu berkata-kata. Ia sama sekali tidak pernah mengetahui fakta tersebut. Selama ini, ia mengira Cedric benar-benar ingin mendapatkan Alize kembali karena masih mencintainya. Ia bahkan bersedia mempertaruhkan hubungannya dengan Alize demi membantu pria itu mewujudkan keinginannya. Ternyata, Cedric tidak hanya memanfaatkan perasaannya. Pria itu juga berbohong mengenai alasan di balik semua tindakannya. Mirelle menunduk lagi. Dadanya terasa sakit ketika menyadari betapa bodohnya dirinya selama ini. Untuk apa ia melakukan semua hal berbahaya itu? Untuk apa ia mengkhianati perempuan yang menyayanginya, jika pada akhirnya Cedric hanya menganggapnya sebagai alat yang bisa dibuang kapan saja? Kedua wanita itu sama-sama terisak. Alize membiarkan Mirelle menangis tanpa mendesaknya untuk segera menenangka
Mirelle melihat wajah Duchess de Mably berubah. Nyonyanya begitu tercengang sampai sejenak tak mampu berkata-kata. “Apa saja yang sebenarnya sudah kau lakukan?” tanya Alize beberapa menit kemudian. “Mirelle, ceritakan padaku semuanya.” Pertanyaan itu membuat Mirelle menunduk. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan, sementara kepalanya terasa berat oleh potongan-potongan ingatan yang mulai bermunculan. “Belum semua ingatan itu kembali, Yang Mulia,” jawabnya lemah. “Hanya beberapa, tetapi saya ingat dampaknya.” Mirelle memejamkan mata. Ada begitu banyak hal yang ingin diingatnya, tetapi semakin keras ia berusaha, semakin kabur semuanya. Wajah-wajah muncul sesaat, disusul percakapan yang terputus dan kejadian-kejadian yang tak lagi mampu ia susun dengan baik. Namun, ada satu kenangan yang terasa jauh lebih jelas daripada yang lain. Malam ketika Cedric datang menemuinya. Saat itu, Mirelle sedang berada di kamarnya ketika seseorang mengetuk pintu. Ia tidak menyangka akan menemuka
Untuk beberapa saat, Alize tidak mampu berkata-kata.Nama itu.Nama yang telah begitu lama ia cari. Nama yang terus menghantuinya sejak Mirelle menghilang tanpa meninggalkan jejak. Nama yang selama berbulan-bulan hanya bisa ia sebut dengan harapan bahwa suatu hari pelayannya akan kembali.Kini, perempuan yang berdiri di hadapannya akhirnya mengucapkannya sendiri.Mirelle Aubergine.Alize merasakan matanya mulai panas. Ia hampir melangkah maju untuk memeluk pelayannya, tetapi segera menahan diri ketika melihat betapa terguncangnya perempuan itu.Ia tidak ingin membuat Mirelle semakin tertekan.“Mirelle …” bisiknya.Perempuan itu terisak semakin keras ketika mendengar namanya disebut.“Maafkan saya, Yang Mulia. Maafkan saya!”Alize menggeleng cepat.“Jangan meminta maaf dulu. Kau tidak perlu melakukan itu. Aku senang kau masih hidup.”Ia melangkah mendekat dan menyentuh kedua lengan Mirelle dengan hati-hati.“Aku sudah mencarimu begitu lama. Aku ingin tahu apa yang terjadi padamu, menga
Cedric tidak menjawab pertanyaan Alize. Pria itu menatapnya selama beberapa saat, lalu mengalihkan pandangan. Rahangnya mengeras seolah ia sedang berjuang menahan sesuatu yang nyaris terlepas dari mulutnya. “Lysander Cleremont,” ulang Corentine. “Apa yang diinginkannya darimu?” Cedric tetap bungkam. “Cedric,” panggil Lord Deschanel, kali ini dengan nada lebih lunak. “Kau tahu aku tidak ingin melihatmu berakhir seperti ini. Jika seseorang memanfaatkanmu, katakan siapa orangnya. Kami bisa mencari jalan keluar.” Namun, Cedric justru berjalan menjauh. Ia duduk di sudut sel, membelakangi mereka, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding batu. “Aku tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan.” Lord Deschanel menatap punggung pria itu dengan kekecewaan yang sulit disembunyikan. “Kau benar-benar keras kepala.” Cedric tidak menyahut. Corentine memberi isyarat kepada kedua penjaga agar tetap mengawasi tahanan tersebut. Setelah itu, ia mengajak Alize dan Lord Deschanel meninggalkan sel.
Lord Deschanel meletakkan dokumennya. “Dan aku pernah mendengar tentang perjodohan Anda dengan Lady Gwen.” Corentine mengangguk singkat, kemudian kembali menatap catatan transaksi di tangannya. “Namun, perjodohan itu tidak pernah terlaksana. Raja tidak memberikan restunya, dan pada akhirnya aku menikahi Alize.” Ia berhenti sejenak. “Aku tidak melihat alasan mengapa Marquis Cleremont harus menyimpan dendam terhadap keluarga kita hanya karena hal itu.” Alize tidak langsung menjawab. Ia memahami keterkejutan suaminya. Bagi Corentine, Cleremont bukan keluarga asing yang tiba-tiba muncul dalam penyelidikan mereka. Ada sejarah panjang yang membuat nama itu sulit dikaitkan dengan pengkhianatan. Namun, justru itulah yang membuat Alize khawatir. “Bagaimana jika perjodohan itu memang tidak pernah sekadar urusan pernikahan?” tanyanya hati-hati. Corentine menatapnya. “Maksudmu?” “Aku belum bisa memastikan apa pun. Namun, aku menemukan sebuah catatan lama di arsip keluarga Deschanel. Cat
Alize mengangguk. “Sebagian. Ada pula petunjuk mengenai keluarga Cleremont.”Corentine terdiam sejenak. Ia tampaknya ingin segera meminta penjelasan, tetapi kemudian mengamati wajah istrinya yang masih menunjukkan sisa kelelahan akibat perjalanan panjang.“Baiklah,” katanya akhirnya. “Kita akan membicarakannya setelah makan malam. Nanti kau bisa sekalian meminta ayahmu untuk menunda kepulangannya.”Alize hendak menyampaikan keberatannya karena harus menunggu lebih lama, tetapi Corentine sudah melangkah mendekat dan menyentuh lembut lengannya.“Sekarang, istirahatlah terlebih dahulu,” bujuknya lembut. “Kau baru saja menempuh perjalanan berjam-jam. Kita bisa membahas dokumen-dokumen itu setelah kau makan dan memulihkan tenaga.”Alize menatapnya. Ia tahu Corentine tidak sedang meremehkan penemuannya. Justru, suaminya ingin memastikan mereka bisa membahasnya dengan kepala jernih.“Baiklah,” jawabnya, meski nada suaranya mengandung sedikit keengganan. “Tapi jangan salahkan aku kalau aku t
“Kurasa mereka tidak akan berani.” Suara Corentine tenang sekali. Seolah apa pun yang baru saja terjadi di luar sana hanyalah gangguan kecil yang tidak layak mengusik ketenangan malam. Alize masih duduk di tepi tempat tidur, menatapnya. Ia menganggap Corentine terlalu menyepelekan keadaan.
Perjalanan pulang dari istana berlangsung tenang. Kereta kuda bergerak menyusuri jalan utama ibukota yang mulai lengang, lampu-lampu jalan berpendar redup di antara bayangan bangunan batu. Suara roda yang berderak terasa lebih pelan dari biasanya—atau mungkin itu hanya perasaan Alize saja. An
Musik berganti. Nada-nada yang lebih pelan, lebih halus, mengalun di seluruh ballroom. Langkah para penari ikut melambat, berputar dalam ritme yang lebih terkontrol. Lord Alastor Cleremont menghentikan langkahnya. “Senang bisa berdansa dengan Anda, Duchess,” ujarnya sambil membungkuk sopan. A
“Mirelle hilang.” Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik. Corentine tidak langsung menjawab. Tatapannya yang tadinya santai berubah. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah masuk. “Sejak kapan?” tanyanya singkat. “Aku tidak tahu pasti.” Alize menggeleng. “Setelah makan sia







