ログインAlize menelan ludah. Pertanyaan Corentine masih menggantung di antara mereka, jauh lebih berat daripada yang seharusnya. Lelaki itu menatapnya dengan tenang, tetapi Alize sudah cukup mengenalnya untuk menyadari bahwa ketenangan tersebut tidak sepenuhnya nyata. Ada ketegangan tipis di sekitar matanya. Seolah-olah Corentine benar-benar menunggu jawabannya. Alize menurunkan pandangan pada cangkir teh di tangannya. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya, tetapi minuman itu sudah tidak lagi menarik perhatiannya. “Aku masih punya waktu sampai besok untuk memberikan jawaban,” ujarnya akhirnya. Keheningan segera memenuhi ruangan. Wajah Corentine yang semula tampak penuh harap perlahan menjadi sedikit lesu. Perubahannya begitu kecil hingga orang lain mungkin tidak akan menyadarinya. Namun Alize melihatnya. Dan entah kenapa, hal itu membuat hatinya merasa bersalah. Corentine mengalihkan pandangan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Baiklah.” Suaranya terdengar tena
Corentine menoleh kepadanya. Dari wajahnya ia tampak sudah memikirkan hal itu. “Kemungkinan besar dia sudah meninggalkan ibu kota.” Anehnya, Tyron tampak kecewa, seolah ia berharap bisa membekuk sendiri pentolan pemberontak itu. “Apakah kita akan mengejarnya, Yang Mulia?” Corentine menggeleng. “Pasukan Putra Mahkota akan melakukannya.” Corentine mengambil sebuah dokumen dari atas meja. Alize menduga itu adalah dokumen perjanjian Duke de Mably dengan Putra Mahkota. “Untuk saat ini, kewenangan penangkapan berada di tangan Putra Mahkota. Reagan melakukan kekacauan di ibu kota, wilayah yang berada di bawah tanggung jawabnya.” Dengan agak tidak puas, Tyron bertanya. “Tetapi jika dia kembali ke wilayah Montveraine...“ “Jika mereka mengacau lagi di perbatasan, pasukan kita akan bergerak,” sahut Corentine cepat. Corentine meletakkan dokumen itu kembali. “Reagan tidak akan mudah ditangkap. Dia tahu kapan harus mundur.” Alize memandangi meja kerja di hadapannya. Reag
Di persimpangan jalan utama, kereta kuda Duke de Mably akhirnya berpisah jalan dengan rombongan pasukan Putra Mahkota. Enam pemberontak yang berhasil ditangkap dibawa menuju kediaman Putra Mahkota untuk diinterogasi. Karena mereka tertangkap setelah melakukan kekacauan di wilayah ibu kota, kewenangan penanganan sementara berada di tangan sang Putra Mahkota. Seharusnya Corentine ikut mengiringi rombongan itu. Ia adalah saksi langsung atas kejadian tersebut. Laporannya akan membantu menjelaskan bagaimana Reagan berhasil menyusup ke ibu kota, mengapa keenam anak buahnya mencegat kereta Alize, dan bagaimana pemimpin pemberontak itu bisa melarikan diri. Namun Corentine hanya berdiri di samping kereta, memandangi rombongan yang semakin menjauh. “Aku akan mengantarmu pulang lebih dahulu,” katanya kepada Alize. Alize yang berada di dalam kereta menoleh. “Bagaimana dengan laporanmu?” “Kapten pengawalnya bisa menyampaikannya untuk sementara.” Corentine mengangkat pandangan k
“Jauhi kereta itu, Reagan!” Suara Corentine menggema di sepanjang jalan. Alize menahan napas. Di luar, suasana yang semula riuh mendadak berubah tegang. Reagan tidak menjawab selama beberapa detik. Kemudian terdengar tawanya. “Yang Mulia Duke.” Nada suaranya tetap ringan. “Anda datang sendirian?” Perlahan Alize bergerak ke dekat ke jendela dan mengintip. Ia melihat suaminya, dengan Tyron di belakangnya. Seperti dugaannya, ekspresi Corentine terlihat tenang. Namun dari cara suara derap kuda berhenti tepat di depan kereta, Alize tahu Corentine memang tidak datang untuk berbicara. “Jangan banyak bicara, Reagan.” Reagan terkekeh. “Jangan sok berani, Duke.” Alize mengeratkan jemarinya. “Anda bisa melihat sendiri jumlah kami.” Salah seorang anak buah Reagan ikut tertawa. “Enam orang melawan dua orang. Bahkan seorang Duke tidak sebodoh itu.” Alize langsung menyadari sesuatu.Corentine memang sendirian. Ia datang terlalu cepat. Mungkin bahkan tanpa sempa
Alize menatap Countess Rouchet dengan saksama. “Di mana tepatnya Sir Reagan bersembunyi?” Countess Rouchet menurunkan pandangannya pada cangkir teh di tangannya. Jemarinya kembali bergerak gelisah di sepanjang gagang porselen. “Di suatu tempat, ” jawabnya pelan. “Masih di dalam wilayah kerajaan.” Alize tidak langsung bereaksi. Ada sesuatu yang mengganjal dari pengakuan wanita itu. “Kalau Anda mengetahui keberadaannya sejak awal, mengapa Anda tidak melaporkannya?” Countess Rouchet mengangkat wajah. “Karena saya takut.” “Takut kepada Reagan?” Wanita itu menggeleng. “Takut kepada semua orang.” Alize terdiam. Countess Rouchet meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. “Jika saya melaporkan keberadaannya, keluarga saya mungkin akan dianggap berkhianat oleh pihaknya. Tetapi jika saya terus diam, saya bisa dituduh membantu pemberontak oleh kerajaan.” Ia menarik napas panjang. “Saya sudah menyadari bahwa cepat atau lambat, nama saya akan terseret.” Alize memaham
Corentine baru saja kembali menjelang sore. Sejak pagi ia berada di wilayah pertanian keluarga de Mably, memeriksa pagar-pagar yang membatasi lahan mereka dengan perkebunan milik bangsawan tetangga. Hujan beberapa hari terakhir membuat sebagian tanah menjadi lunak, dan di beberapa titik pagar kayu mulai miring karena tergerus air. Seharusnya setelah perjalanan sepanjang hari, ia langsung beristirahat. Namun begitu turun dari kudanya, Corentine hanya menyerahkan sarung tangan berkudanya kepada seorang pelayan dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ada beberapa laporan yang harus ia periksa. Baru saja ia membuka pintu, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor. “Yang Mulia!” Corentine menoleh. Tyron muncul dengan napas sedikit terengah. Wajahnya jauh lebih serius daripada biasanya. Corentine langsung berhenti. “Apa yang terjadi?” Tyron segera mendekat. “Informan kita mengirim kabar.” Nada suaranya membuat Corentine meletakkan laporan yang baru s
“Aku ingin mengundurkan diri sebagai pendampingmu, Duchess,” ujar Lady Gwen pelan. Untuk beberapa detik, Alize hanya menatap Lady Gwen. Ia mengira dirinya salah dengar. “Apa?” Alize mengerutkan kening. “Kau bercanda terlalu pagi, Lady Gwen.” Lady Gwen tersenyum kecil. “Saya tahu ini mendada
Lord Hasting tampak berpikir cukup lama setelah mendengar pertanyaan Alize. “Victor Hale...” ulangnya perlahan. Raut wajahnya terlihat hati-hati. Kemudian ia menggeleng. “Maaf, Yang Mulia. Nama itu tidak terdengar familiar.” Alize menyembunyikan kekecewaannya dengan baik. Ia memang tidak
Alize tidak langsung menjawab ucapan Lady Julia. Karena menolak terlalu cepat justru akan terlihat aneh. Dan sekarang— Ia mulai belajar bahwa di kastil de Mably, terlalu banyak penolakan bisa memancing pertanyaan. “Aku rasa…” Alize meletakkan sendoknya perlahan, “…itu bukan ide buruk.”
Tubuh Hector segera dipindahkan dari barak pengawal. Dua orang pengawal membawa tandu sederhana yang ditutupi kain gelap, sementara dokter kastil dipanggil tergesa dari tempat tinggalnya di sayap belakang. Udara malam terasa semakin dingin. Dan suasana di sekitar barak berubah begitu sunyi hi







