INICIAR SESIÓNAlize mengangkat alis.“Karena kau terlalu sibuk memikirkan cara membuat Lord Courcy bicara?”“Bisa jadi.” Corentine mengakui itu dengan senyum tipis. “Aku terus berusaha mencari tahu apa yang dia sembunyikan, sampai lupa bertanya siapa yang mungkin berada di belakangnya.”Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari Alize yang terletak di atas sofa.“Kau sangat pintar.”Pujian itu disampaikan begitu lugas hingga Alize sempat terdiam. Kemudian, sudut bibirnya terangkat.“Jangan terlalu memujiku. Aku baru mengajukan sebuah dugaan.”“Dugaan yang layak kita selidiki.”Corentine mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Tatapannya masih menyimpan kekaguman, tetapi kini ada keseriusan baru di baliknya.“Kalau arsip keluargamu menyimpan sesuatu tentang perselisihan lama atau transaksi yang mencurigakan, kita mungkin bisa menemukan petunjuk di sana.”“Itulah yang kupikirkan.” Alize membalas genggamannya. “Ayah menyimpan banyak dokumen keluarga. Tetapi yang terutama adalah niat kita semula. M
Corentine mengangkat alis. “Apa maksud Bibi?”“Aku curiga Lord Courcy berkomplot dengan seseorang.” Lady Julia melirik Corentine, seolah-olah heran mengapa hal itu belum menjadi perhatian utamanya. “Dan sekarang, orang itu pasti sudah mengetahui bahwa Courcy tertangkap. Kau pikir dia akan duduk diam dan membiarkan Courcy membocorkan semua rahasianya?”Corentine tidak langsung menjawab.Ia meletakkan pisaunya dan menyandarkan punggung ke kursi. Alize menatap Lady Julia. Ucapan wanita itu bukan tanpa dasar. Jika Cedric memang memiliki kaki tangan, penangkapannya bisa memaksa orang itu mengambil tindakan sebelum penyelidikan mereka berkembang lebih jauh.Namun, mereka belum mengetahui siapa orang tersebut, apalagi apa yang sebenarnya ingin disembunyikannya.“Bisa jadi,” jawab Corentine akhirnya. “Karena itulah aku sudah memerintahkan penjaga untuk memperketat pengawasan di sekitar selnya.”Alize yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu akhirnya mengangkat wajah.“Aku juga memikirkan
Ruang kerja Corentine terasa muram ketika mereka kembali ke lantai atas. Beberapa dokumen masih tergeletak di atas meja, belum sempat diperiksa sejak pagi. Di dekat jendela, tirai bergerak pelan tertiup angin. Corentine melepas sarung tangannya, lalu meletakkannya di samping tumpukan surat sebelum mempersilakan Alize duduk. Namun, Alize tidak segera mengambil tempat. Ia berjalan menuju jendela, kemudian berhenti di dekatnya. “Menurutmu, apa maksud Cedric ketika mengatakan seseorang menyimpan dendam sangat besar terhadap keluarga de Mably?” Corentine berdiri di belakang mejanya. “Aku tidak tahu.” Jawaban itu membuat Alize menoleh. “Kau benar-benar tidak punya dugaan?” “Dugaan ada banyak. Bukti yang mendukungnya, belum tentu.” Corentine menarik kursinya, tetapi belum duduk. “Keluarga de Mably telah berdiri selama ratusan tahun. Dalam waktu selama itu, ada banyak orang yang pernah bekerja sama dengan keluargaku, berbisnis, bersaing, berselisih, bahkan bermusuhan.” Ia mengambi
Alize memperhatikan wajah Cedric yang mendadak pucat. Pria itu masih berdiri di dekat ranjang, tetapi kedua tangannya kini mencengkeram sisi kemejanya. Matanya terpaku pada Alize, seolah-olah ia sedang berusaha memastikan bahwa perempuan yang berdiri di balik jeruji itu tidak sedang mempermainkannya. “Kau bilang... Mirelle sudah kembali?” Alize mengangkat alis. “Bukankah tadi kau mengatakan tidak tahu di mana dia berada?” Cedric membuka mulut, tetapi tidak segera menjawab. Pandangannya bergerak dari Alize kepada Corentine, lalu kembali kepada Alize. “Kapan kau menemukannya?” tanyanya akhirnya. “Di mana?” Alize tidak langsung menjawab. Ia justru mengamati wajah pria itu, mencoba membedakan keterkejutan yang sungguh-sungguh dari kepanikan seseorang yang rahasianya hampir terbongkar. “Bukankah seharusnya kau sudah tahu jawabannya?” “Tidak!” Cedric menyahut terlalu cepat. “Aku bersumpah, Alize. Aku tidak tahu di mana dia berada.” “Benarkah?” “Aku memang tidak tahu!” Ia menggel
Nada bicaranya tetap datar, tetapi ia menggeser piring roti lebih dekat kepada Alize. Istrinya melirik piring itu, kemudian menatapnya dengan ekspresi yang seolah-olah ingin memprotes. Pada akhirnya, Alize mengambil sepotong roti. Corentine kembali meraih kopinya. Meski tubuhnya lelah dan kepalanya masih dipenuhi berbagai pertanyaan, ia merasa sedikit lebih tenang melihat Alize duduk di sampingnya. Setidaknya, pagi ini mereka tidak perlu menghadapi persoalan itu secara terpisah. Seusai sarapan, Corentine mengajak Alize menuju penjara bawah tanah. Greta mengikuti beberapa langkah di belakang mereka, ditemani dua pengawal yang ditugaskan menjaga keamanan. Lorong-lorong di bagian bawah kastel jauh lebih dingin daripada ruangan di lantai atas. Udara lembap meresap melalui pakaian, sementara cahaya dari obor yang terpasang di dinding membentuk bayangan panjang di lantai batu. Suara langkah mereka bergema di sepanjang lorong. Alize berjalan di sisi Corentine. Sesekali, ia melirik pin
Corentine tetap berdiri di tempatnya. Pintu kayu itu akhirnya tertutup, menyisakan keheningan dan bau obor yang terbakar. Tyron belum beranjak dari dekat pintu ketika Corentine kembali ke kursinya. Ia duduk, tetapi tidak segera mengambil dokumen yang tergeletak di atas meja. Pikirannya masih tertuju pada satu kalimat yang diucapkan Courcy. Mungkin karena masalah pribadi. Mengapa ia menyebutkan alasan itu? Alize yakin Fran adalah Mirelle. Corentine pun mulai meyakini hal yang sama. Akan tetapi, jika Courcy mengetahui sesuatu tentang kepergian Mirelle, apakah ia juga mengetahui apa yang terjadi setelah perempuan itu menghilang? Apakah ia tahu bagaimana Mirelle bisa berakhir di Biara Dunholm tanpa ingatan yang utuh? Ia mengangkat pandangan kepada Tyron. “Pastikan Courcy tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Periksa setiap orang yang mendekatinya, termasuk penjaga yang bertugas di penjara bawah tanah.” “Apakah Anda menduga dia memiliki kaki tangan di dalam kastel?
“Skandal yang memalukan. Aku benar-benar kecewa.” Suara Raja Aldred, penguasa Montveraine, menggema di ruang audiensi. Tegas dan tajam. Di balik kumis dan janggut peraknya, wajahnya memerah, menahan marah. Putra Mahkota―Pangeran Godwyn berdiri di sebelah singgasananya dengan wajah kaku. “Desc
“Kau suka pesta perkenalanmu, Duchess?” Pertanyaan itu ditanyakan Corentine begitu Alize tiba di ruang makan. Nada Corentine terdengar santai. Terlalu santai untuk seorang pria yang semalam berpura-pura mengklaim telah tidur sekamar dengan istrinya. Alize membiarkan pelayan menarik kursi untuk
“Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.” Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengu
Upacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa. Alize masih ingat ketika Corentine dengan cangg







