LOGIN„Nach den Gesetzen unserer Vorfahren gebührt es allein dem Alpha, die Frau anzuerkennen, die an seiner Seite stehen, mit ihm führen und seine Luna genannt werden wird.“ Die Stimme des Ältesten nahm einen ernsten Ton an. „Vor den Augen der Mondgöttin und dem Volk des Valemont-Rudels: Erkennst du Aria Ashwood als deine rechtmäßige Luna an?“ Ich schenkte ihm einen Erben. Er brach mir das Herz. Fast drei Jahre lang glaubte ich, Alpha Kael hätte mich, einen gewöhnlichen Menschen, zu seiner Gefährtin und künftigen Luna des Valemont-Rudels erwählt. Doch an dem Tag, an dem ich seinen Sohn zur Welt brachte, erfuhr ich die Wahrheit. Nicht von meinem Ehemann, sondern von den Mägden, an deren Seite ich einst gedient hatte. „Das Nervigste daran ist, dass sie tatsächlich glaubt, sie hätte es verdient, unsere Luna zu sein.“ Wie sich herausstellte, war die Geburt nicht das Schmerzhafteste, was an jenem Tag auf mich wartete. Ich war nie seine Wahl. Ich war nichts weiter als eine Gebärmaschine – ein Mittel zum Zweck, um einen Erben zu sichern, bevor er zu der Frau zurückkehrte, die er wirklich liebte. Von meinem Alpha verstoßen und um alles gebracht, was ich für mein Leben gehalten hatte, hätte ich still und leise verschwinden sollen. Stattdessen erregte ich die Aufmerksamkeit eines verfluchten Alpha-Königs, den die gesamte Werwolfwelt fürchtet. Jetzt erwachen verborgene Kräfte in mir, gefährliche Geheimnisse kommen ans Licht und die beiden mächtigsten Alphas der Welt sind bereit zu kämpfen – aus völlig unterschiedlichen Gründen. Der eine hat mich benutzt. Der andere würde ein ganzes Königreich niederbrennen, nur um mich zu behalten.
View MoreTarno sedang dalam perjalanan ke rumahnya saat ini dengan mengendarai mobil avanza hitam yang sengaja disewanya untuk perjalanan pulang. Dilihatnya lagi kalung yang sengaja dipesannya sebagai hadiah kejutan untuk istrinya, Susanti. Kalung berbandul hati dengan ukiran T&S, inisial Tarno dan Susanti sudah diukir di belakang bandulnya.
Lelaki berambut cepak, dengan beberapa helai uban yang mulai muncul itu tampak senyum-senyum sendiri membayangkan reaksi Susanti saat melihatnya pulang nanti. Ibu dari dua anaknya pasti akan sangat terkejut saat melihat Tarno masuk ke rumah dengan menyerahkan kalung kejutannya.
Tarno memang sengaja tidak memberitahu Susanti perihal kepulangannya untuk memberi kejutan pada wanita yang dicintainya itu. Lima tahun sudah Tarno merantau ke negeri orang untuk mencari uang demi merenovasi rumahnya. Susanti selalu mengeluh, rumahnya harus segera direnovasi karena setiap kali hujan atapnya selalu bocor sehingga lantainya yang masih terbuat dari tanah kerap kali becek. Awalnya Tarno hanya mengiyakan keluhan Susanti dan berjanji akan segera merenovasi rumah. Namun janji hanyalah janji, sampai dua tahun berlalu rumah tetap tidak direnovasi dan kondisinya semakin memprihatinkan.
Atap yang terbuat dari esbes semakin besar lubangnya sehingga setiap hujan air yang masuk semakin banyak. Setiap kali hujan deras rumah Tarno lebih mirip kebanjiran daripada disebut kebocoran.
Karena tak tahan, Susanti mengutarakan niatnya kepada Tarno supaya diizinkan kerja di luar negeri sebagai TKW agar bisa mengumpulkan uang untuk merenovasi rumah. Sebagai lelaki sejati, harga diri Tarno serasa diusik saat Susanti mengatakan keinginannya untuk menjadi TKW. Dia tidak rela jika wanita yang dicintainya harus bersusah payah bekerja sehingga setelah berpikir selama dua hari tiga malam akhirnya Tarno memutuskan bahwa dirinyalah yang akan berangkat ke luar negeri.
Sebelum berangkat, Tarno menitipkan Susanti pada Joko, sahabat yang dipercayainya untuk menjaga istrinya selama dirinya bekerja di luar negeri. Tarno khawatir jika terjadi sesuatu pada Susanti selama dirinya tidak ada. Apalagi saat itu anaknya yang kedua masih berumur setahun dan jauh dari sanak saudara. Tarno takut bila terjadi sesuatu saat dia tidak ada. Karena itu Tarno sudah berpesan pada Susanti untuk meminta tolong pada Joko butuh bantuan atau pertolongan.
Selama di luar negeri, Tarno selalu menanyakan pada Joko apakah Susanti baik-baik saja atau apakah ada tanda-tanda bahwa Susanti selingkuh darinya. Selama ini Joko selalu memberikan jawaban bahwa semuanya baik-baik saja dan dalam kondisi aman terkendali sehingga Tarno merasa lega, tidak pernah curiga sedikit pun.
Mobil Avanza hitam sudah memasuki gapura yang menjadi batas antar kota. Tarno sudah sampai di kotanya. Tak terasa perjalanan tinggal tiga puluh menit lagi. Tarno merasa sudah tidak sabar ingin cepat sampai ke rumahnya.
Selain membelikan kalung untuk Susanti, Tarno juga membelikan istrinya beberapa barang yang pernah dipesan Susanti sebelumnya. Tarno membelikan banyak mainan dan pakaian bagus untuk kedua putrinya. Tarno juga sudah menyiapkan hadiah untuk Joko, sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga istrinya selama lima tahun terakhir. Dibelikannya sahabatnya kaos jersey dari klub sepak bola favoritnya dan sepasang sepatu untuk olah raga.
Tarno memberi tahu pak supir arah menuju rumahnya. Senyum tak henti terkembang di wajahnya.
“Belok kanan, Pak. Nanti kalau ada belokan lagi ganti belok kiri,” ucap Tarno pada pak supir yang tengah sibuk mengemudi.
“Stop disini dulu Pak. Aku mau ngasih kejutan buat istriku dulu.” Tarno menghentikan mobil yang dinaikinya di depan rumah tetangganya.
Tarno sengaja memarkir mobilnya di rumah tetangganya yang berjarak dua rumah dari rumahnya agar kejutan berjalan sempurna. Jika mendengar mobil berhenti di depan rumahnya maka Susanti akan mendengarnya dan penasaran untuk melihat siapa yang datang, sehingga rencana untuk memberi kejutan akan gagal.
Tarno berjalan dengan membawa kalung yang disimpan dalam saku. Senyumnya masih terkembang membayangkan ekspresi kaget di wajah istrinya saat melihatnya nanti.
Hari masih pagi saat Tarno sampai, masih sekitar pukul 10.00 pagi. Tarno memang berangkat dari bandara sejak sebelum subuh agar tidak kesiangan sampai rumah. Dia sengaja memilih waktu anak-anaknya masih sekolah agar bisa menghabiskan waktu romantis bersama istrinya tanpa gangguan siapa pun, termasuk kedua putrinya sebelum mereka pulang sekolah.
Tinggal beberapa langkah sebelum Tarno tiba di depan rumahnya. Rumah yang beratap esbes itu telah menghilang berganti dengan rumah bercat hijau dengan atap genteng. Rumahnya juga sudah memiliki teras yang sudah dikeramik sekarang. Tarno tersenyum puas, usahanya untuk merantau ke negeri orang sudah membuahkan hasil.
Tarno sudah di halaman rumahnya sekarang. Dia berhenti sejenak untuk melihat rumahnya yang kini sudah berubah banyak dari yang diingatnya sebelum berangkat ke luar negeri. Saat melihat sekeliling, dilihatnya sebuah motor ninja yang tampak mengkilap terparkir di depan rumahnya. Motor yang masih tampak baru karena bodinya masih mulus dan nomer pelatnya yang bahkan belum tergores sama sekali. Tarno bertanya-tanya dalam hati, motor milik siapakah gerangan.
Tarno segera masuk ke rumah untuk melihat siapa yang datang. Pintu rumah tidak terkunci dan hanya ditutup biasa. Tarno melepas sepatunya dan menaruhnya di depan pintu saat melihat sepasang sandal lelaki yang teronggok manis di samping pintu. Rumah Tarno yang beralaskan tanah kini sudah berganti dengan keramik warna putih sehingga perlu melepas alas kaki saat akan masuk rumah.
Tarno segera membuka pintu dan masuk ke rumah. Ruang tamu dalam keadaan kosong dan tidak ada siapa pun disana. Lantas sandal milik siapa yang ada di depan pintu tadi. Lalu motor siapa terparkir di halaman rumahnya. Tamu yang dicari Tarno ternyata tidak ada di ruang tamu.
Dia melihat sekeliling ruangan. Rumah itu benar-benar sudah berubah total. Kursi sofa berwarna coklat mengisi sudut ruang tamu. Di depan sofa tampak televisi flat yang cukup besar, jauh berbeda dengan televisi yang dimilikinya dulu sebelum merantau. Hanya televisi tabung ukuran 22 inch yang layarnya hilang separo.
Tarno berjalan pelan menuju belakang rumahnya untuk mencari istrinya. Mungkin dia sedang di belakang dengan tamu pemilik motor yang terparkir di halaman rumah.
Saat melewati kamar tidurnya, Tarno mendengar suara tawa dari dalam. Suara tawa Susanti dan seorang lelaki yang terasa tidak asing di telinganya. Tarno mendekat ke kamar dan telinganya di dekatkan ke pintu agar bisa mendengar suara dari dalam lebih jelas.
“Iihh ... geli loh Mas, jauh-jauh sana.” Suara Susanti terdengar sangat manja.
“Geli tapi kamu suka kan. Tarno mana punya yang seperti ini,” sahut suara lelaki di samping Susanti.
“Apaan sih, bahas lelaki itu.”
Deg. Hati Tarno terasa sakit saat mendengar kata-kata Susanti barusan. Lelaki itu, katanya. Kenapa istrinya memanggilnya dengan sebutan lelaki itu.
“Oh iya, Tarno sudah kirim uang belum sayang?” kali ini suara lelaki yang terdengar.
Tarno sangat kenal dengan suara lelaki yang didengarnya barusan. Namun dia tidak mau berburuk sangka sebelum melihatnya sendiri. Sebenarnya dia sangat ingin mendobrak pintu dan masuk ke dalam kamar untuk melihat secara langsung. Namun dia urung dan ingin mendengarkan lagi apa yang sedang mereka bicarakan.
“Belum. Nanti kalau sudah dikirim pasti kukabari Mas. Jangan khawatir, buat cicilan si merah kan?”
“Iya sayang. Kamu kok pinter banget sih.”
“Iya donk. Kalau nggak pinter mana bisa aku bohongin Mas Tarno buat nerusin kontrak kerjanya dan jangan pulang dulu. Kalau dia pulang mana bisa kamu beli si merah yang sekarang terparkir di depan rumah.”
“Bener Dek. Kamu memang pintar sekali sayangku. Terus rayu Tarno supaya jangan pulang dulu sampai cicilan si merah lunas. Yah dua tahun lagi lah lunas. Selama itu kita juga bisa bersama terus kayak sekarang. Aku senang kamu pun terpuaskan hahahahha.” Suara lelaki itu terdengar sangat bangga saat mengatakannya.
Kuping Tarno sangat panas mendengar percakapan dua insan berlawanan jenis yang ada di dalam kamarnya sekarang. Amarahnya menggelegak laksana magma yang siap dimuntahkan seperti letusan gunung berapi. Napasnya memburu dan dadanya naik turun menandakan emosinya sedang di puncak sekarang.
Tarno bersiap masuk ke kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Dia menyiapkan diri untuk melihat sesuatu yang terburuk. Diaturnya napasnya yang tidak terkendali sekarang karena menahan amarah. Ditariknya napas panjang dan dihembuskannya pelan untuk meredakan emosinya. Dilakukannya hal itu berulang-ulang sampai akhirnya dia merasa cukup tenang.
Setelah merasa cukup tenang, Tarno membuka pintu kamarnya dengan pelan. Dilihatnya dua orang yang sangat dikenalnya dalam satu selimut dan tidak berpakaian sedang berpelukan diatas ranjangnya. Keduanya tampak kaget saat melihat pintu terbuka dan Tarno muncul setelahnya.
Meskipun sudah menyiapkan diri untuk hal yang terburuk, nyatanya Tarno tetap tidak kuat melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Bibirnya kelu dan netranya mengembun. Kedua orang itu sedang sibuk mencari pakaian masing-masing yang berserakan di lantai. Lalu memakainya dengan tergesa-gesa. Tarno hanya bisa menutup mata dan menarik nafas dalam untuk menguatkan dirinya.
“Mas, ini tidak seperti dugaanmu,” kata Susanti yang tengah sibuk mengancingkan dasternya.
“Benar, No. Ini semua salah paham. Tidak seperti yang kamu lihat,” sahut lelaki yang tengah memakai celana panjangnya. Celana dalamnya masih teronggok di lantai tidak jauh dari tempat Tarno berdiri sekarang.
“Kutunggu kalian di ruang tamu,” jawab Tarno singkat.
Lelaki berambut cepak itu berjalan ke luar kamar menuju ruang tamu. Diusapnya setitik air di sudut matanya dengan ujung tangannya yang kasar karena kerja keras selama ini. Kulit Tarno memang lebih bersih daripada sebelum berangkat keluar negeri karena dia bekerja di dalam ruangan. Tidak seperti sebelumnya yang harus berpanas-panasan di bawah terik matahari yang menyengat dan membakar kulitnya langsung selama di sawah.
Kedua orang yang selama ini dipercayainya ternyata menusuknya dari belakang. Tarno benar-benar tidak menyangka keduanya tega melakukan ini padanya. Rencana untuk memberikan kejutan pada istrinya gagal, justru kini dia yang mendapatkan kejutan yang luar biasa dari istri dan sahabatnya sendiri.
Ein einziges Wort wollte mir nicht aus dem Kopf gehen.Eklipse.Es verfolgte mich aus dem Verlies. Es begleitete mich den Korridor entlang. Es folgte mir bis zurück in meine Gemächer.Ich hatte dieses Wort schon einmal gehört.Vor vielen Jahren.Lange vor Aria.Lange bevor ich etwas über die Nullifier oder Blutlinien wusste, oder darüber, wie mein Fluch auf ihre Anwesenheit reagierte.Ich hatte es einmal in einer Prophezeiung gehört.Einer Prophezeiung, die ich nie vollständig verstanden hatte. Ich öffnete die Tür zu meinen Gemächern, sobald ich sie erreichte.Aria saß am Fenster. Sie drehte sich sofort um. „Da bist du ja.“Ich nickte.Ihr Blick suchte mein Gesicht. „Es ist etwas passiert.“Es war keine Frage.Ich ging an ihr vorbei zum Bücherregal.„Wonach suchst du?“„Nach etwas Bestimmtem.“Sie runzelte die Stirn. „Sehr hilfreich.“Ich ignorierte sie.Meine Finger strichen über den Buchrücken im Regal.Aufzeichnungen aus alten Zeiten.Verträge zwischen verschiedenen Königreichen.B
Aria wachte früh auf.Das tat sie immer.Trotz allem, was in der Nacht zuvor geschehen war, beobachtete ich sie dabei, wie sie unter den Decken erwachte, während das erste Morgenlicht durch die Fenster schien.Sie blieb für einen Moment regungslos liegen. Dann öffneten sich ihre Augen, und ihr Blick traf den meinen. „Du bist wach.“„Ich war wach.“Ihre Augen verengten sich leicht. „Hast du geschlafen?“„Genug.“Hatte ich nicht.Und sie wusste es.Ich konnte es in ihrem Blick lesen. Doch sie sagte nichts. Stattdessen stand sie auf und hüllte sich in die Decke.„Wohin gehst du?“„In den Kerker.“Sie sah verwirrt aus. „Die Männer?“Ich nickte. „Ich brauche Antworten.“Sie wirkte unruhig.Ich ergriff ihre Hand. „Ich werde dich beschützen“, sagte ich und gab ihr mein Wort.„Ich weiß.“Ich küsste ihre Stirn. „Warte hier, bis ich zurückkomme.“Sie nickte.Ich verließ den Raum. Doch das Bild ihres verängstigten Gesichts begleitete mich den gesamten Weg hinab in die Verliese.Das Erste, was mi
Ich hatte nicht geschlafen.Wie hätte ich auch? Jedes Mal, wenn ich die Augen schloss, sah ich, wie Aria in die Dunkelheit gezerrt wurde. Ich sah die Hand des Mannes auf ihrer Taille.Ich hörte sie meinen Namen rufen.Das war der Teil, der sich immer wieder in mein Gedächtnis brannte.Nicht der Kampf.Nicht das Messer.Nicht einmal die Tatsache, dass sich drei Fremde ihr so nah hatten nähern können, ohne dass es jemand bemerkt hatte.Es war der Klang ihrer Stimme gewesen.Voller Angst.Die nach mir rief.Ich wollte diesen Klang nie wieder hören.Ich stand vor den Fenstern meiner Gemächer und blickte hinaus in die Dunkelheit jenseits des Schlosses.Hinter mir schlief Aria.Zumindest hoffte ich das.Ich hatte darauf bestanden, dass sie diese Nacht in meinem Zimmer verbrachte.Nicht, weil ich sie einsperren wollte.Sondern weil ich den Gedanken nicht ertragen konnte, sie noch einmal ungeschützt zu lassen.Die Tür öffnete sich leise.Mein Beta trat ein. „Mein König.“Ich drehte mich um. „
ÄngstlichEin tiefes Knurren erfüllte die Dunkelheit.Nicht menschlich.Nicht gewöhnlich.Mein Herz begann in meiner Brust zu hämmern. Der Mann, der mich festhielt, versteifte sich. Irgendwo hinter uns... erklangen Schritte.Langsam.Vorsichtig.Unerklärlich ruhig.Draven.Angesichts der plötzlichen Stille...Wussten sie es auch.Ich konnte mich nicht sofort umdrehen.Ich konnte es nicht. Ich war wie gelähmt, aber gleichzeitig unendlich erleichtert, dass er meine Stimme gehört und gespürt hatte, dass etwas nicht stimmte.Die Schritte stoppten.Dann hörte ich seine Stimme. „Hände weg von ihr“, donnerte er.Ein Windstoß begleitete sein Brüllen; die Bäume und Blätter erzitterten unter der Wucht seines Zorns.Dravens Stimme zitterte nicht. Sie musste nicht zittern. Es lag so viel rohe Kraft in ihr, dass die Luft förmlich schwer wurde.Endlich ließ der Mensch von mir ab, und ich stolperte nach vorne.Ich drehte mich um.Draven stand nur wenige Meter entfernt. Ich hatte Draven noch nie so g

















