로그인سافر ريان الخالد معي ستًّا وستين مرّة، وفي كلّ رحلة كان يطلب يدي للزواج. وفي المرّة السابعة والستين تأثّرت أخيرًا ووافقت. في اليوم الأول بعد الزواج، أعددتُ له ستًّا وستين بطاقة غفران. واتفقنا أن كلّ مرّة يُغضبني فيها، يمكنه استخدام بطاقة مقابل فرصة غفران واحدة. على مدى ست سنوات من الزواج، كان كلّما أغضبني بسبب لينا الشريف، صديقة طفولته، يجعلني أمزق بطاقة من البطاقات. وعند البطاقة الرابعة والستين، بدأ ريان أخيرًا يشعر أن هناك شيئًا غريبًا في تصرّفاتي. لم أعد أذكّره بأن يحافظ على حدوده، ولم أعد أحتاج إليه كما كنت. وحين تركني مجددًا بسبب لينا، أمسكتُ بذراعه وسألته: "إذا ذهبتَ إليها… هل أستطيع احتساب ذلك من بطاقات الغفران؟" "توقّف ريان قليلًا، ثم نظر إليّ بلا حيلة وقال:" إن أردتِ استخداميها فافعلي، لديكِ الكثير. أومأت بهدوء وأنا أراقب ظله يتلاشى. كان يظنّ أن بطاقات الغفران لا تنفد، ولم يكن يعلم أن اثنتين فقط بقيتا.
더 보기Kumala menatap nanar layar ponselnya yang baru saja mati. wanita ayu ini baru saja mengirim pesan pada laki-laki yang bergelar suaminya.
ia tahu, suaminya tak keluar kota sendiri. ia tahu diam-diam suaminya menjalin kasih dengan wanita yang ia kenal cukup baik.___“Sampai, kapan kita akan terus sembunyi-sembunyi gini, Mas. aku juga ingin status yang sah.” rajuk Fiona, dengan wajah marah. Rasanya ia tak sabar ingin memiliki seutuhnya lelaki yang sedang duduk di hadapannya ini. Lelaki bertubuh tinggi besar, berhidung bangir yang juga suami dari sahabatnya. Ia tak perduli bila harus dicap sebagai pelakor, perusak rumah tangga orang ataupun nikung teman. Tubuh yang terjaga di usia tiga puluh empat tahun, karir yang mapan dan belum hadirnya anak di antara Dirham dan Kumala, buat wanita yang sudah dua kali menjanda ini nekat ingin memiliki suami Kumala dan tak ingin membaginya.“Kita nikah siri, mau?“Nggak mau, aku nggak mau dijadikan kedua, Mas pilih aku atau istrimu yang mandul itu.” dengan suara lantang Fiona mengucap itu, berharap Dirham pasti akan luluh. Tega sekali ia mengucap itu, melupakan siapa Kumala, bahkan melupakan semua bantuan Kumala padanya disaat tertimpa masalah.Dirham gusar, ia berjalan ke arah jendela kamar hotel, melihat ke arah kota dibawa sana, kota makassar yang begitu indah di malam hari. Sesekali ia menyugar rambutnya dengan kasar. Tak menyangka Fiona akan membawanya kedalam situasi yang sulit seperti ini. Entah cinta atau perasaan semu saja, namun ia juga nekat berselingkuh dan berzina dengan kawan istrinya ini. Hal yang ia anggap main-main saja, justru sedang membawanya kedalam kobaran api yang akan menghanguskan dirinya.“Jangan berikan aku pilihan Fiona,” Dirham balas dengan nada marah.“Untuk apa kamu bertahan dengan perempuan mandul itu, Mas, sementara aku bisa hamil anak kamu. Kamu ceraikan Kumala dan nikahi aku, setelahnya aku akan lepas KB dan kita bisa punya anak.” geram Fiona, tak sabar rasanya ia ingin menjadi nyonya Dirham Dirgantara S.E.Dirham tak menyangka Fiona akan tega mengucap itu, sama sekali selingkuhannya ini tak memikirkan perasaan Kumala. Lagi, wajah teduh istrinya terbayang di pelupuk matanya.Wajah teduh yang selalu menyambutnya dengan senyum dan dekapan hangat saat ia lelah.“Mas, capek, ada masalah nggak? Sini aku pijitin.” Ucapan-ucapan sayang dari Kumala terngiang-ngiang di telingnya. Meski belum ada anak yang hadir di antara mereka, namun tak mungkin Dirham tega meninggalkan wanita yang sudah yatim sejak kecil itu. Wanita yang membersamai dirinya saat masih berjuang membangun karir di kontraktor tempatnya bekerja sekarang ini. Bahkan Kumala ikut bekerja sebagai staf administrasi di salah satu toko grosir di kota ini.Lalu apakah sekarang Dirham bisa tega meninggalkan Kumala demi Fiona yang baru saja hadir sebagai duri dalam rumah tangganya enam bulan ini? Wanita yang dia kenal sebagai kawan Kumala semasa SMU dulu, kawan yang datang meminta pertolongan Kumala saat dirinya yang penuh lebam habis dihajar habis-habisan oleh suaminya.“Aku nggak mau jadi yang kedua, ceraikan Kumala atau kita putus!” ancam Fiona begitu yakinnya bila Dirham pasti akan memilih dirinya, sebab servis yang ia berikan di ranjang beberapa bulan ini buat Dirham selalu terlihat puas.Tentu beda dengan Kumala yang pemalu itu. Gampang saja bagi Fiona mendepak kawannya itu dari kehidupan Dirham.“Lebih baik kita putus, daripada aku harus menceraikan Kumala.” ucap Dirham tegas, buat Fiona yang mendengarnya terkejut bukan main, enam bulan ini, mana pernah Dirham membatah keinginannya, semua pasti Dirham turuti, termasuk besaran jatah bulanan yang ia minta.“Kamu tega, Mas!” raung Fiona tak percaya, bila laki-laki yang semalam masih saling memuaskan dengan dirinya di kamar hotel ini, nekat memutuskan hubungan mereka.“Kita sama-sama tega, Fiona. Kau lupa dengan kebaikan Kumala dulu.”Fiona enggan mengingat kebaikan-kebaikan Kumala padanya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya menjadi nyonya Dirham secepatnya.Fiona semakin meraung saat Dirham tak kunjung membujuknya seperti biasa, pria ini sudah jengah sebenarnya. Api yang coba Fiona kobarkan diantara mereka, sudah nyaris padam dalam diri Dirham.__Kumala menyiapkan saja makanan yang sudah ia masak tadi diatas meja makan, siapa tahu Dirham ingin makan setibanya di rumah nanti.Ayam goreng, cap cay dan perkedel jagung serta sambal, sudah Kumala masak tadi, ia benar-benar sendiri memasaknya. Sekarang ia bersiap-siap mandi dan berpakaian yang indah, menunggu kedatangan suaminya, tak lupa ia persiapkan diri untuk memberi kejutan pada suaminya.Taksi bandara membelah jalan yang cukup lengang sore itu, hampir pukul tiga sore tadi, pesawat dari bandara Sultan Hasanuddin mendarat di kota kelahiran Dirham, kota tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, kota tempat ia bertemu Kumala, menikah, belum punya anak dan …berselingkuh dengan Fiona.Tidak lagi, semalam keduanya memutuskan hubungan, tepatnya Dirham yang memutuskan, bahkan pria berambut cepak ini langsung cek out dari hotel tempat ia dan Fiona memadu kasih beberapa hari kemarin saat di Makasssar. Entah Fiona sudah pulang juga atau belum, Dirham tak ingin tahu lagi, setelah ia mengirimkan sejumlah uang ke rekening Fiona. Uang bulanan yang rutin Dirham kirim selama menjalin kasih dengan kawan istrinya itu.Seperti beristri dua saja rasanya Dirham selama enam bulan ini. Tentu ada sensasi tersendiri bagi pria tiga puluh empat tahun ini. Karir yang mapan, finacial yang tercukupi ditambah belum hadirnya anak, biasanya menjadi godaan tersendiri bagi seorang pria.sepertinya Dirham sedang dilanda puber kedua. ditambah kegilaan Fiona, jadilah mereka sepasang kekasih gelap yang berselingkuh dari istri sah.
__Kumala menyambut uluran tangan suaminya saat Dirham sudah di dalam rumah. Biasanya Kumala yang akan membuka pintu pagar bila lelakinya itu pulang dari perjalanan bisnis, namun kali ini tidak demikian, Kumala yang nampak rapi dengan gamis putih bunga-bunga biru, nampak cantik dengan rambut panjangnya yang tak tertutup hijab.“Mas kangen banget sama, kamu.” Lama Dirham memeluk Kumala, menghirup dalam wangi apel yang menguar dari rambut legam milik istrinya.“Makan dulu, Mas.” Kumala berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya, sekuat mungkin ia menahan hati, agar tak lena dengan wangi tubuh lelaki yang telah menikahinya lebih dari lima tahun ini.“Mas tadi makan coto di bandara Makassar. Mana kejutannya ini?” tak sabar rasanya Dirham dengan kejutan yang dijanjikan Kumala semalam.“Kalau gitu, Mas mandi dulu, kejutannya habis mandi.” ujar Kumala sambil tersenyum dan berlalu ke dapur, mengemasi kembali makanan yang telah ia siapkan tadi. Lalu naik ke lantai dua menuju kamar dan menyiapkan setelan baju rumah untuk suaminya di atas ranjang.Suara air terdengar dari dalam kamar mandi. Cukup lama Dirham mandi sore ini, sebab ia juga sedang mandi wajib, membersihkan diri dari zina yang telah ia lakukan beberapa hari kemarin, juga membersihkan kenangan antara dirinya dan Fiona.__Dirham mendekati Kumala yang sedang duduk diatas ranjang, ia lihat tangan istrinya itu memegang sebuah amplop berwarna putih. Sebelum membuka suara, Dirham terlebih dahulu mengecupi pipi dan bibir istrinya yang nampak lebih cantik dari biasanya.Baru akan bertanya lagi, namun Kumala sudah menyerahkan amplop putih tersebut ke tangan Dirham.“Apa ini, Sayang?” tanya Dirham, penarasan.Namun Kumala hanya tersenyum tipis, memperhatikan tangan besar Dirham membuka amplop dengan cekatan. Lalu …betapa terkejutnya Dirham, dengan mata terbelalak, sejenak ia lihat ulang lagi testpack dengan dua garis merah, netra lelaki itu sudah memerah, kemudian ia buka surat keterangan dari rumah sakit tempat ia dan Kumala beberapa kali berkonsultasi, nampak tandatangan dokter Dina, dokter kandungan langganan Kumala dan Dirham.“Sayang, hamil? I” rasa haru dan bahagia jelas membuncah dari wajah lelaki tiga puluh empat tahun ini. Anak yang mereka harapkan lima tahun ini, akhirnya hadir juga di rahim istrinya. Mungkin terlambat, namun sungguh Dirham bahagia luar biasa hari ini.“Ada satu lagi, Mas yang ingin kusampaikan.” Kumala bergeser ke samping, sedikit menjauh dari suaminya.“Apa, Sayang?” Dirham menatap wajah cantik Kumala, dengan kebahagiaan yang membuncah.“Sebaiknya kita pisah, Mas. agar mau dan Fiona bisa bersatu." ucap Kumala, begiti tegarبمجرد أن اتخذت قراري، لم يعد هناك مجال للتراجع.لبعض الوقت بعد ذلك، كان ريان يقف منتظرًا لي في الطابق السفلي، غير مكترثٍ بالأقاويل، يردد فقط أنه لا يريد الطلاق. لكن الحديث عن هذا الآن لم يعد ذا معنى.طالما اختار الخيانة، كان عليه أن يتحمل تبعات قراره. لقد أعطيته العديد من الفرص، وأما الآن، فلن أسامحه أبدًا.ظلَّ ريان هكذا، واقفًا في الأسفل طوال شهر كامل. في كل مرة، كان يتبعني كظلٍّ، يعبر عن ندمه ويتوسل إليَّ لأعود. كان مثابة ذبابةً عنيدة، جعلتني معروفة على الفور للكثيرين.لاحظ سامي وجود ريان، فقام بطباعة كومة كبيرة من أوراق الطلاق من أجلي. كلما التقينا، كان كل من يعرفه، عند لقائه، يسلمه نسخةً منها.لم يرغب البروفيسور في أن يؤثر هذا على سير العمل في الفريق، لكن ريان كان كلصاقه لا تُنزع. فقرر نقلنا فورًا إلى مختبر آخر قريب من الجامعة. في أول يوم لي في المختبر الجديد، لم يظهر ريان كما توقعت. لم يترك لي أي رسالة، لكنه ظل يرفض التوقيع على أوراق الطلاق.عاد ريان للانشغال بشؤون شركته. وفي مجموعة واتساب القديمة على هاتفي، كانت تُنشر يوميًا مشاهد درامية جديدة:"تم توبيخ السكرتيرة لينا! ضحكت."
لم يكن ريان يؤخر عمله قط؛ حتى عندما خضعتُ لعملية جراحية بسبب حمل خارج الرحم، كنتُ أنا من طلب الإجازة وذهبتُ وحدي.في ذلك الوقت اتصل به طارق."التعاون على الأبواب، ماذا تفعل الآن؟"أوقف ريان السيارة عند المطار، وقد اسودّ وجهه."ليلى سافرت إلى الخارج.""ذهبت لعقد صفقة التعاون؟" سأل طارق في حيرة، لكن شعورًا سيئًا كان يساوره في داخله."أنتم عندما كنتم تنبّهونني سابقًا… كان بسبب موقفي من لينا، صحيح؟ بسبب أننا بلا أي حدود بيننا؟"بعد أن قال ريان هذه الجملة، لم يسمع من الطرف الآخر سوى همهمة خفيفة تأكيدًا.لم يعد هناك ما هو غير واضح؛ اتّضح أن الوحيد الذي لم يرَ الحقيقة كان هو."كل هذا خطئي. منذ عودة لينا، لم أعد أستطيع التحكم في نفسي، أريد أن أعتني بها دائمًا كما كنت أفعل في طفولتنا.""هي بارعة في الاعتماد عليّ، وكثير من الأمور لا تستطيع إنجازها إلا إذا كنت إلى جوارها.""كان يجب أن أضع حدودًا بيننا منذ زمن طويل.""لا أريد أن أطلق ليلى، لكنني خيّبت أملها مرات كثيرة جدًّا."بدا وكأن ريان وجد أخيرًا منفذًا ليُفرِغ ما بداخله، فلم يستطع حبس دموعه التي بدأت تنهمر."إذًا… اذهب."في تلك اللحظة، كنتُ ق
لينا عضّت شفتها السفلية وهي تزمّ فمها وقالت:"أنا التي كتبت المقترح، وسهرت طوال الليل عليه."فتح ريان فمه وكأنه يريد أن يقول شيئًا، لكنه لم يجد ما يقوله.هو من أدخل لينا إلى الشركة متدرِّبة، ظانًّا أن حصولها على الخبرة هنا سيسهل عليها الانتقال إلى وظيفة أفضل لاحقًا.كانت لينا على وشك البكاء، وعيناها محمرّتان بالدموع:"ريان، سأعيد كتابته… لو لم تُصِرّ ليلى على أن المقترح يجب أن يسلَّم اليوم، لما استعجلت. ربما ما كان يجب أن أعمل عندك أصلًا."قالت ذلك، وضمّت ملف المقترح إلى صدرها وهمّت بالمغادرة.رفع ريان يده ليوقفها، لكن في ذهنه ظهرت صورة أخرى… صورة ليلى.ليلى لم تكن يومًا بهذا الوجه المليء بالشكوى. كانت دائمًا واثقة من نفسها.أي مشكلة تواجهها، مهما كانت معقدة، كانت تتعامل معها بهدوء وتبحث عن حل، لا بأنين ولا دموع.وعندما يختلفان في الرأي، كانت تفكّك النقاط واحدة تلو الأخرى، وتشرح وجهة نظرها بوضوح.حتى عندما أصرّ ريان على توظيف لينا في الشركة، عدّدت ليلى أمامه أكثر من سبب يشرح لماذا لا توافق.وبسبب إصراره في النهاية، اضطرت ليلى مرارًا للبقاء بعد الدوام لتلمّ الفوضى التي تخلّفها لينا وراء
لم أرغب في الرد أو الإجابة، فحوّلت الهاتف إلى الوضع الصامت، وتركت شاشته تومض في زاوية الغرفة. في تلك اللحظة بالذات، كنت أعلم أن علاقتنا قد انتهت تمامًا.في بيت لينا، كان ريان ينظر إلى رسالتي الأخيرة وقد بدأ الذعر يتسلّل إلى قلبه. راح يتصل بي بجنون ويرسل الرسائل واحدة تلو الأخرى: "عمّ تتحدثين؟ أليست بطاقات الغفران أكثر من ستين؟ هل يمكنكِ أن تتوقفي عن افتعال المشاكل؟""هل السبب أنني لم أبقَ معكِ الليلة؟ انتظريني، عندما أعود نتحدث.""لماذا لا تردّين على الهاتف؟ ليلى، حتى لو كنتِ غاضبة، لا يمكنك تجاهلي هكذا.""أجيبي على الهاتف! أقول لكِ أجيبي!"لم يصدق أنني حقًا لن أرد، فواصل إرسال الرسائل مرارًا وتكرارًا. وبعد عدد لا يُحصى من المكالمات التي لم يُجَب عليها، ورسائل لم تلقَ ردًّا، بدأ قلب ريان يثقل. تمتم في نفسه: كيف حدث هذا؟ ألم نتفق على ألا نغضب من بعضنا؟ لماذا لا تردّين؟بدأ يتذكر كل مرة نطقتُ فيها بكلمة "بطاقة غفران"، وكيف كنت أبدو وكأنني منفصلة تمامًا عن الموقف، لا أغضب كما يجب أن أغضب، ولا أحتج كما يفترض بي أن أحتج. أدرك أخيرًا أن الأمور خرجت عن السيطرة، فأمسك هاتفه بيد، واندفع نحو





