LOGINدفنتُ طفلي. ثم... حبلتْ عشيقة زوجي. وقبل أن أتمكن حتى من الحداد، جاءني حماي بعرض: "تظاهري بأن الطفل طفلكِ." أن أربّي الطفل غير الشرعي لزوجي. أن أبتسم أمام العلن. أن أحمي اسم "أشبورن". وعندما يحين الوقت... أتخلص من العشيقة. ظنوا أنني ما زلتُ سيدة "أشبورن" المطيعة. لكنهم كانوا واهمين. جمدتُ كل الأصول المسجلة باسمي. وأعلنتُ الحرب على أعظم سلالة نبيلة في "فاليريون". الآن، زوجي يرجو المغفرة. وعشيقته تريد حياتي. ووالده يرغب في كسري. سحقًا لهم، لقد نسوا أمرًا واحدًا. أنا لم أُولَد من آل "أشبورن". أنا سيرافينا فيرمونت. وآل "فيرمونت" لا يخسرون الحروب قط. خاصة... تلك التي لم يبدؤوها.
View MoreMalam merangkak semakin larut, menyelimuti Desa Sukamaju dalam keheningan yang pekat. Jarum jam dinding tua di ruang tengah rumah kontrakan kami yang sederhana sudah menunjuk ke angka dua belas lewat seperempat. Di luar, rintik hujan mulai turun, menciptakan suara gemericik berirama saat membentur atap seng rumah kami yang di beberapa bagian sudah mulai berkarat.
Udara malam yang dingin menyusup lewat celah jendela kayu yang tidak tertutup rapat. Namun, rasa dingin itu tak sebanding dengan kegelisahan yang tiba-tiba merayapi hatiku malam ini. Mataku tak bisa terpejam barang sedetik pun. Entah mengapa, ada perasaan tidak enak yang mengganjal di dada, seolah instingku sebagai seorang istri sedang memberikan peringatan bahaya. Di sebelahku, Bimo suamiku yang selama lima tahun pernikahan ini kukenal pendiam, pekerja keras, dan setia tertidur pulas. Dengkur halusnya terdengar teratur. Wajahnya tampak begitu damai di bawah cahaya remang lampu tidur. Laki-laki ini adalah satu satunya alasanku bertahan hidup ditengah himpitan ekonomi yang serba paspasan. Bimo hanyalah seorang mekanik bengkel motor kecil di ujung desa, sementara aku mengurus rumah tangga dan sesekali menerima jahitan demi menyambung hidup. Aku memandangi punggung Bimo yang berbalut kaus oblong pudar. Dulu, punggung itu adalah tempat paling aman bagiku untuk bersandar. Tapi malam ini, entah kenapa, jarak di antara kami di atas ranjang yang sama terasa membentang sejauh ribuan kilometer. Tiba-tiba, keheningan kamar itu terpecahkan. Ponsel pintar milik Bimo yang tergeletak di atas nakas kayu di samping ranjang menyala terang. Sebuah getaran singkat menyusul,menandakan ada pesan masuk. Cahaya dari layar ponsel itu menembus kegelapan kamar, menyilaukan mataku sejenak. Awalnya, aku tidak peduli. Paling-paling itu hanya pesan dari grup ronda desa, atau mungkin dari teman sesama mekanik yang menanyakan sparepart motor. Bimo jarang sekali mendapat pesan selarut ini. Tapi entah setan apa yang merasuki pikiranku malam ini, tanganku bergerak sendiri. Seolah ada benang tak kasat mata yang menarikku, aku membuka selimut yang sudah lusuh, lalu perlahan ponsel tersebut. Aku menahan napas, takut gerakanku membangunkan Bimo yang masih terlelap. Jantungku mulai berdegup kencang tak karuan saat mataku menangkap tulisan di layar yang masih terkunci. Bukan nama teman bengkelnya, bukan pula nama kerabat kami. Melainkan sebuah nama kontak yang disamarkan dengan sangat mencurigakan: "Pelanggan VIP". Pelanggan? Alisku berkerut tajam. Sejak kapan suamiku melayani pelanggan di tengah malam buta begini? Bengkel tempat Bimo bekerja sudah tutup sejak jam lima sore tadi. Rasa penasaran kini berubah menjadi curiga yang membakar. Tanganku mulai gemetar dingin. Bimo tidak pernah mengunci ponselnya dengan kata sandi yang rumit, hanya pola huruf 'Z' yang sangat kuhafal. Dengan satu sapuan jari yang ragu-ragu, kunci layar itu terbuka. Aku langsung membuka aplikasi pesan hijau tersebut. Mataku membelalak lebar. Darahku seolah berhenti mengalir, lalu sedetik kemudian mendidih seketika, naik hingga ke ubun-ubun dan membuat kepalaku pening bukan main. Pesan itu terpampang jelas di depan mataku. "Mas Bimo, besok siang jam sepuluh ditempat biasa ya. Bapak lagi dinas ke kecamatan dari pagi untuk mengurus berkas sengketa tanah warga. Jangan lupa pakai parfum yang kubelikan minggu lalu. Aku kangen banget sama 'servis' kamu yang kuat. Jangan sampai telat ya,Sayang." Nafasku tercekat di tenggorokan. Udara di dalam kamar ini mendadak terasa lenyap. Kata 'servis' dan panggilan 'Sayang' di akhir kalimat itu menghantam dadaku layaknya godam besi bertonton. Mataku berkaca-kaca menatap layar. Kutelan ludah yang entah mengapa terasa seperti pecahan kaca. Tanganku yang gemetar mengklik foto profil si pengirim pesan, mencoba mencari tahu siapa pelacur murahan yang berani menggoda suamiku ini. Saat foto itu membesar memenuhi layar, dunia kuseakan runtuh saat itu juga. Di dalam foto tersebut, tampak seorang wanita cantik dengan riasan wajah yang sempurna. Ia mengenakan kebaya merah menyala yang pas di badan, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang terawat. Rambutnya disanggul modern, dihiasi jepit emas yang berkilauan. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat manis, senyum keibuan yang selama ini berhasil menipu seluruh warga desa. Wajah itu sangat kukenal. Bahkan, seluruh penduduk Desa Sukamaju sangat menghormatinya. Wajah wanita yang selalu duduk dibarisan paling depan setiap ada hajatan desa, pengajian, maupun rapat kader PKK. Wanita yang selalu membagikan sembako saat lebaran sambil menebar pesona sebagai istri pejabat yang dermawan. Itu Bu Rina. Istri Pak Ario, sang Pamong Desayang sangat berkuasa di Sukamaju. "Astaghfirullah..." bisikku lirih,nyaris tak bersuara. Ponsel di tanganku nyaris terjatuh. Lututku lemastak bertulang. Aku mundur selangkah hingga punggungku menabrak lemari pakaiandari plastik di sudut kamar. Kepingan-kepingan memori selama sebulan terakhir tiba-tiba berputar di kepalaku layaknya kaset rusak. Semuanya mendadak menjadi sangat masuk akal. Pantas saja! Pantas saja akhir-akhir ini Bimo sering pulang terlambat dengan alasan lembur di bengkel, padahal tidak ada uang lembur tambahan yang dia bawa pulang. Pantas saja suamiku yang biasanya bau oli dan peluh, belakangan ini selalu berbau harum menyengat dari parfum mahal yang ia klaim dibeli dari pasar malam dengan harga diskon. Bahkan minggu lalu, saat aku mengeluh beras dirumah hampir habis, Bimo tiba-tiba memberiku uang lima ratus ribu rupiah. Katanya itu uang tip dari pelanggan yang motornya ia perbaiki. Ternyata... uangitu adalah hasil keringatnya melayani nafsu kotor istri Pamong Desa! Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jebol. Pandanganku mengabur. Hatiku hancur lebur berkeping-keping. Suami yang selama ini kuanggap sebagai pelindungku, laki-laki yang kupercaya menuntun langkahku, ternyata tak lebih dari sekadar pemuas nafsu seorang wanita kaya yang haus belaian. Aku menatap Bimo yang masih mendengkur. Kemarahan yang teramat sangat menguasai relung jiwaku. Kuangkat tanganku tinggi-tinggi. Aku ingin sekali menampar wajahnya saat ini juga. Aku ingin berteriak di depan wajahnya, memakinya, dan menyeretnya keluar dari rumah ini. Aku ingin menangis sejadi-jadinya dan bertanya apa kurangnya pengabdianku selama lima tahun ini! Namun, saat tanganku nyaris mendarat di pipinya, gerakanku terhenti di udara. Akal sehatku yang tersisa menampar kesadaranku dengan keras. Tunggu, Santi. Berpikir jernihlah, batinku menjerit memperingatkan. Siapa lawanku saat ini? Bu Rina. Istri seorang Pamong Desa yang punya pengaruh besar. Pak Ario, suaminya, adalah orang yang memegang kendali atas banyak hal di desa ini. Mulai dari urusan administrasi, bantuan sosial, hingga perizinan usaha warga. Jika aku melabrak Bimo malam ini dengan modal menangis dan marah-marah, Bimo pasti akan mengelak. Dia bisa saja menghapus pesan itu dan menuduhku gila atau cemburu buta. Lebih buruk lagi, jika masalah ini sampai ke telinga Rina tanpa persiapan matang, wanita licik itu pasti akan memutarbalikkan fakta. Dia punya uang, dia punya kekuasaan. Dia bisa dengan mudah menghancurkan hidupku dan suamiku. Dia bisa membuat kami diusir dari desa ini dengan fitnah keji. Aku menarik napasku dalam-dalam, mencoba meredam gemuruh di dada yang rasanya ingin meledak. Kuturunkan tanganku yang bergetar hebat. Kuusap air mata di pipiku dengan kasar. Tidak. Aku tidak boleh gegabah. Kemarahan sesaat hanya akan membawaku pada kehancuran yang lebih dalam. Dengan tangan masih sedikit gemetar, aku mengarahkan kamera ponsel milikku ke layar ponsel Bimo. Aku memotret isi pesan itu beserta foto profil Rina dengan jelas. Klik. Bukti pertama berhasil kudapatkan. Setelah itu, kukembalikan ponsel Bimo ke tempat asalnya di atas nakas, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku duduk di tepi ranjang, menatap nanar ke arah jendela yang basah oleh hujan. Rasa cinta dan hormatku pada laki-laki yang tidur di sampingku ini telah mati malam ini, terkubur bersama rintik hujan yang jatuh ke bumi. "Silakan nikmati waktu kalian besok, Mas," bisikku pelan ke arah Bimo, suaraku terdengar begitu dingin dan asing, bahkan di telingaku sendiri. "Karena aku bersumpah, senyum manis nyonya Pamong itu tidak akan bertahan lama." Malam ini, Santi yang lugu dan penurut telah mati. Mulai besok, aku akan memastikan bahwa setiap tetes air mata yang jatuh malam ini, akan dibayar mahal oleh mereka berdua. Permainan baru saja dimulai.I had attended enough royal events to know that none of them were actually optional. Someone could call it an invitation. Or simply, a request.But when the Royal Palace sent the message, the difference was mostly decorative. So when my mother told me I was expected at the National Arts and Design Exhibition, I didn't even bother asking if I could refuse."The Vermont Foundation has sponsored the student design program for years.""That doesn't mean I need to stand there.""It does if your name is on the invitation."I looked down at the invitation in my hand. My name was, unfortunately, very much on it.And here I was, looking like a lost person watching people pass by.The exhibition was being held at the Royal Museum of Arts, which had been transformed for the evening. The usual paintings and sculptures had been moved aside to make room for contemporary designs.Architectural models. Sustainable materials. Fashion pieces. Student inventions. Even several experimental vehicles.It w
لقد حضرت ما يكفي من الفعاليات الملكية لأعرف أن أياً منها لم يكن اختياريًا فعلًا. كان يمكن لأحدهم أن يسميها دعوة. أو ببساطة، طلبًا.لكن عندما يرسل القصر الملكي الرسالة، يكون الفرق بينهما في الغالب مجرد تفصيل شكلي.لذلك، عندما أخبرتني والدتي أن من المتوقع أن أحضر المعرض الوطني للفنون والتصميم، لم أكلف نفسي حتى عناء السؤال إن كان بإمكاني الرفض.«لقد دعمت مؤسسة فيرمونت برنامج تصميم الطلاب لسنوات.»«هذا لا يعني أن عليّ الوقوف هناك.»«بل يعني ذلك إذا كان اسمكِ على الدعوة.»نظرت إلى الدعوة في يدي.ولسوء الحظ، كان اسمي عليها فعلًا.وها أنا هنا، أبدو كشخص تائه يراقب الناس وهم يمرون من حوله.أُقيم المعرض في المتحف الملكي للفنون، الذي أُعيد تزيينه بالكامل لهذه الأمسية. أُبعدت اللوحات والمنحوتات المعتادة لإفساح المجال أمام التصاميم المعاصرة.نماذج معمارية. مواد مستدامة. قطع أزياء. اختراعات طلابية. وحتى عدة مركبات تجريبية.كان واحدًا من الفعاليات الملكية القليلة التي بدا فيها الناس أكثر اهتمامًا بما هو معروض على الجدران من الأشخاص الموجودين في القاعة.حسنًا، أحببته فورًا.وربما لهذا السبب كان ينبغ
وجهة نظر سيرافينا[أريد أن ألتقي بك. متى تكون متفرغًا؟]رسالة قصيرة من فايلدريك. فُتحت تلقائيًا لأنني ظننت أن اهتزاز هاتفي كان بسبب رسالة من سيباستيان. كدت أتجاهلها لو لم أكن قد فتحت الرسالة بالفعل.هل كان الأمر يتعلق بأميليا؟آخر ما سمعته أنها استفاقت بالفعل. وقد خرجت من المستشفى وسُمح لها بمتابعة تعافيها في المنزل بعد يومين من خضوعها للجراحة في ذلك الصباح.كنت أعرف كل شيء من خلال المستشفى. والسبب بسيط. كنت وصيّتها. لذلك كان يتم إبلاغي بكل تحديث وكل دفعة مالية.في الخفاء، كنت ممتنة لذلك. على الأقل كان بإمكاني التأكد من أن أميليا بخير دون الحاجة إلى سؤال عائلة أشبورن عنها.«هل أنتِ مسكونة؟»أخرجني لوسيان من أفكاري بأحد تعليقاته العشوائية.تمتمت بضيق.«لقد كنتِ تحدقين في هاتفك منذ فترة. لونه لن يتحول بطريقة سحرية إلى الأخضر النيون مهما طال انتظارك.»رميت عليه وسادة الأريكة الموضوعة بجانبي مباشرة. وبالطبع، تفاداها لوسيان بنجاح.«فايلدريك يريد مقابلتي.»«لا تفعلي.»جاء رده مقتضبًا. اختفت ملامح المرح والمزاح عن وجهه، وحل محلها شيء أكثر جدية. لم يكن يمزح عندما يتعلق الأمر بأشبورن.«حتى لو
لم تكن لديّ أي فكرة من أين أبدأ البحث.كان هاتف أميليا مغلقًا. ولم تكن تجيب على أحد. ولم أكن أعرف إلى أين يمكن أن تذهب بعد مغادرتها القصر.اتصلت بأحد أصدقائها. لا شيء. ثم بآخر. لا شيء.كان والدي قد خرج للتو من مكتبه عندما رآني أذرع المكان ذهابًا وإيابًا. تبعتني عيناه الباردتان. لم يسأل عن شيء. ظل وجهه قاسيًا، مما جعلني أخشى حتى أن أنطق بكلمة.«ستعود إلى المنزل من تلقاء نفسها. تلك الفتاة المدللة لا تعرف مدى قسوة العالم خارج هذا المكان.»كان صوته حازمًا. ولم يكن فيه أدنى ذرة من الشك. لكنني كنت أعرف أن أميليا لم تكن مدللة إلى هذا الحد.كانت صحفية تذهب إلى مناطق الحروب باستمرار. لم تكن هشة كما يظن والدي. لكنني التزمت الصمت، وتركت الجدال بأكمله يدور داخل رأسي فقط.«اهتم فورًا بإمدادات الفولاذ المتأخرة. ليس لدينا الكثير من الوقت في هذه الظروف الحرجة. أما الأمور الأخرى فيمكنها الانتظار.»ثم ابتعد هكذا ببساطة. موضحًا أنه لا مجال لي للتحدث.حتى اختفاء ابنته وقع ضمن فئة الأمور الأخرى.شيء يمكنه الانتظار.لم يكن ينبغي أن يفاجئني ذلك. ليس بعدما استطاع تجاهل موت حفيده الأول. أوريون. ومعاملته وكأنه
reviews