ความปรารถนาที่ควบคุมไม่ได้

ความปรารถนาที่ควบคุมไม่ได้

last updateHuling Na-update : 2026-07-31
By:  T.M TalesIn-update ngayon lang
Language: Thai
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
62Mga Kabanata
473views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

เล่มนี้ไม่เหมาะสำหรับคนใจอ่อน ปิดประตู หรี่ไฟ ตรวจสอบให้แน่ใจว่าคุณอยู่คนเดียวอย่างสมบูรณ์ ความปรารถนาที่ไร้การควบคุม คือรวมเรื่องสั้นสำหรับผู้ที่อยากรู้อยากเห็นอย่างกล้าหาญ—ผู้ที่ชื่นชอบนิยายในแบบเดียวกับที่พวกเขาชอบความลับ: ดิบเถื่อน ต้องห้าม และไม่มีใครควรมายุ่งเกี่ยว แต่ละบทเผยให้เห็นความปรารถนาที่แตกต่างกันออกไป มืดมนและกล้าหาญยิ่งกว่าบทก่อนหน้า เส้นแบ่งครอบครัวเลือนราง ขอบเขตถูกทดสอบ กฎถูกละเมิดโดยไม่ขอโทษ หากจินตนาการของคุณมักจะล่องลอยไปในดินแดนที่สังคมสุภาพแสร้งทำเป็นว่าไม่มีอยู่จริง ยินดีต้อนรับกลับบ้าน คุณได้รับคำเตือนแล้ว

view more

Kabanata 1

สิ่งล่อใจที่กระซิบกระซาบ

Hujan di luar jendela taksi tidak lagi sekadar air yang jatuh dari langit; ia telah berubah menjadi tirai abu-abu yang menenggelamkan Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit hanya tampak seperti bayangan raksasa yang bersembunyi di balik kabut, mengintip dengan mata-mata lampu neon yang buram.

Elena duduk mematung di kursi belakang. Tangannya yang dingin saling meremas di atas pangkuan, buku-bukunya memutih. Bau jok kulit sintetis yang apek dan pengharum mobil aroma jeruk murahan membuat perutnya semakin mual, namun rasa mual itu tak sebanding dengan teror yang melilit ususnya.

"Mbak, yakin mau turun di lobi depan?" tanya sopir taksi, memecah keheningan panjang. Matanya melirik ragu lewat spion tengah. "Itu Sky Tower, Mbak. Biasanya taksi kayak gini nggak boleh masuk sampai drop-off utama. Satpamnya galak-galak."

Elena menelan ludah yang terasa seperti pasir. "Turunkan saya di gerbang depan saja kalau begitu, Pak."

Sky Tower.

Gedung itu adalah legenda urban di kalangan warga Jakarta, namun bukan jenis legenda yang diceritakan dengan kekaguman. Itu adalah monumen kekayaan yang vulgar dan kekuasaan yang tak tersentuh. Sebuah menara kaca hitam setinggi lima puluh lantai yang menjulang angkuh di pusat distrik bisnis, seolah menantang langit. Orang bilang, hukum Indonesia berhenti berlaku begitu kau melewati gerbang otomatissnya. Di dalam sana, hukum dibuat oleh mereka yang memiliki uang paling banyak.

Dan malam ini, Elena menyerahkan dirinya ke tempat itu.

Taksi berhenti sepuluh meter dari pos penjagaan yang megah. Elena membayar dengan tangan gemetar, lalu keluar. Hujan badai langsung menyambutnya, menghantam tubuhnya tanpa ampun. Jaket tipis yang ia kenakan basah kuyup dalam hitungan detik, menempel di kulitnya yang menggigil. Rambutnya yang tadi sempat ia rapikan kini kembali lepek, menempel di wajahnya yang pucat.

Dia berdiri di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Dua orang penjaga berseragam safari hitam—bukan seragam satpam biasa, melainkan setelan taktis yang ketat—segera menghadangnya. Tubuh mereka besar, tegap, dengan earpiece melingkar di telinga. Di pinggang mereka, Elena bisa melihat tonjolan yang jelas. Pistol.

"Area privat," kata salah satu penjaga dengan suara datar. Wajahnya keras seperti batu granit. Dia tidak membentak, tapi nada bicaranya menyiratkan ancaman yang jelas. "Pergi sebelum kami menyeretmu."

Mereka melihat Elena sebagai sampah. Seorang gadis basah kuyup, berantakan, dengan sepatu sneakers kotor, yang tersesat ke istana para dewa.

Elena tidak mundur. Dia tidak bisa mundur. Bayangan apartemennya yang hancur dan darah di lantai kayu masih menghantui pelupuk matanya.

Dengan jari yang kaku karena kedinginan, Elena merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu hitam itu. Kartu dengan lambang ular melilit pedang. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi, membiarkan air hujan membasahi permukaan beludru kartu tersebut.

"Aku... aku punya undangan," suaranya serak, nyaris hilang ditelan suara guntur.

Penjaga itu menyipitkan mata. Senter di tangannya menyorot kartu itu, lalu beralih menyorot wajah Elena dengan silau yang menyakitkan.

Sikap tubuh penjaga itu berubah seketika. Ketegangan yang tadi bersifat mengusir, kini berubah menjadi kewaspadaan militer. Dia menekan earpiece-nya.

"Elang Satu melapor. Ada tamu dengan kartu hitam. Kode Viper. Seorang wanita. Ya. Dimengerti."

Penjaga itu menurunkan senternya. Dia menatap Elena lagi, kali ini bukan dengan penghinaan, melainkan dengan tatapan aneh—campuran antara rasa hormat yang terpaksa dan... rasa kasihan?

"Masuk," katanya singkat. Gerbang besi raksasa itu bergeser terbuka dengan dengungan mesin hidrolik yang halus. "Seseorang akan menjemputmu di lobi."

Elena melangkah masuk. Kakinya terasa berat, seolah dia sedang berjalan menuju tiang gantungan. Setiap langkah membawanya semakin jauh dari dunia normal yang dia kenal, dan semakin dalam ke wilayah kekuasaan Damian Kael.

Lobi Sky Tower terasa seperti katedral modern yang dingin. Lantainya terbuat dari marmer hitam Italia yang dipoles begitu licin hingga memantulkan bayangan Elena seperti cermin air yang gelap. Dindingnya kaca setinggi sepuluh meter, menampilkan pemandangan badai di luar seolah-olah itu adalah lukisan bergerak.

Ruangan itu hening. Tidak ada suara hiruk pikuk kota. Bahkan suara hujan pun teredam sempurna oleh kaca kedap suara. Yang terdengar hanya bunyi squish-squish dari sepatu basah Elena yang merusak kesempurnaan tempat itu. AC sentral berhembus kencang, membuat tubuh basahnya menggigil hebat. Giginya mulai beradu.

"Nona Elena Wijaya?"

Suara itu datang dari arah lift pribadi di ujung ruangan. Halus, sopan, namun memiliki ketajaman yang tersembunyi.

Elena mendongak. Seorang pria berdiri di sana. Dia mengenakan setelan jas abu-abu tiga potong yang dijahit sempurna, membungkus tubuhnya yang ramping namun atletis. Rambutnya pirang gelap, disisir rapi ke belakang. Kacamata berbingkai perak bertengger di hidungnya yang mancung, memberikan kesan intelektual.

Namun, Elena tahu lebih baik daripada tertipu oleh penampilan. Di tempat ini, iblis tidak memakai tanduk; mereka memakai Armani.

"Saya Victor," pria itu memperkenalkan diri sambil berjalan mendekat. Langkahnya tidak bersuara. "Asisten pribadi Tuan Kael. Kami sudah menunggu Anda."

"Ayahku..." Elena memaksakan suara keluar dari tenggorokannya yang kering. "Di mana dia?"

Victor tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. Mata di balik lensa kacamata itu berwarna biru pucat, sedingin es, dan sedang memindai Elena dari ujung kepala hingga ujung kaki. Menilai. Mengalkulasi.

"Mari kita bicarakan itu di atas," jawab Victor tenang. "Tuan Kael tidak suka menunggu, dan Anda sudah menghabiskan 82 menit dari waktu yang diberikan. Anda nyaris terlambat, Nona Wijaya."

Victor berbalik dan memberi isyarat agar Elena mengikutinya.

Elena menyeret kakinya mengikuti pria itu. Mereka melewati meja resepsionis yang kosong, menuju lift khusus yang terpisah dari lift umum. Panel lift itu tidak memiliki tombol angka, hanya pemindai biometrik. Victor menempelkan telapak tangannya, dan pintu lift terbuka tanpa suara.

Interior lift itu dilapisi cermin emas dan kulit. Begitu pintu tertutup, sensasi naik yang cepat membuat perut Elena bergejolak. Telinganya berdenging karena perubahan tekanan udara. Mereka naik sangat tinggi, sangat cepat.

"Lantai 50," gumam Elena, melihat angka digital yang berkedip cepat di layar atas pintu.

"Penthouse," koreksi Victor tanpa menoleh. Dia berdiri tegak dengan tangan tertaut di belakang punggung. "Dunia Tuan Kael ada di puncak. Dia suka melihat segala sesuatu dari atas."

"Kenapa dia melakukan ini?" tanya Elena tiba-tiba. Pertahanan dirinya mulai retak karena ketegangan. "Ayahku hanya seorang akuntan tua yang bodoh. Uang itu... kami bisa mencarinya. Kenapa harus menculiknya?"

Victor akhirnya menoleh. Tatapannya membuat Elena merasa kecil. "Uang?" Victor tertawa pelan, tawa yang kering tanpa humor. "Nona Wijaya, bagi Tuan Kael, uang yang diambil ayahmu hanyalah recehan. Hilangnya uang itu tidak mengganggu neraca keuangannya sedikit pun."

"Lalu kenapa?"

"Prinsip," jawab Victor dingin. "Di dunia kami, pengkhianatan adalah kanker. Jika satu sel kanker dibiarkan hidup, ia akan menyebar. Ayahmu tidak hanya mencuri; dia mencoba menjual informasi rahasia klien kami kepada pesaing. Itu dosa yang tidak bisa ditebus dengan uang."

Napas Elena tercekat. Ayahnya tidak pernah memberitahukan bagian itu. Handry hanya bilang dia menggelapkan uang untuk judi. Tapi menjual informasi? Itu sama saja dengan bunuh diri di dunia kriminal.

"Jadi... kalian akan membunuhnya?" bisik Elena.

Ting.

Pintu lift terbuka sebelum Victor sempat menjawab.

Pemandangan di depan Elena membuatnya tertegun sejenak, melupakan ketakutannya barang sedetik.

Penthouse itu luasnya luar biasa, tanpa sekat dinding yang membatasi pandangan. Seluruh dinding luarnya adalah kaca, menyajikan panorama 360 derajat kota Jakarta yang sedang diamuk badai. Kilat menyambar di kejauhan, menerangi ruangan yang temaram itu dengan cahaya putih kebiruan sesaat.

Desain interiornya minimalis, maskulin, dan sangat gelap. Sofa kulit hitam, meja dari kayu ebony, karpet bulu tebal berwarna abu-abu arang. Tidak ada foto keluarga, tidak ada bunga, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang hangat. Ruangan ini indah, tapi mati. Seperti mausoleum.

Udara di sini berbau tembakau mahal, kayu cendana, dan sesuatu yang lebih tajam—aroma bahaya.

"Tunggu di sini," perintah Victor. Dia menunjuk ke arah sofa tunggal di tengah ruangan. "Jangan sentuh apa pun. Jangan berjalan-jalan. CCTV mengawasi setiap inci ruangan ini, dan penembak jitu otomatis aktif di balkon."

Elena tidak tahu apakah Victor bercanda soal penembak jitu, tapi dia tidak berani mengambil risiko. Dia berjalan kaku dan duduk di tepi sofa. Air dari pakaiannya menetes ke karpet mahal di bawah kakinya, menciptakan genangan kecil. Dia merasa kotor, merasa seperti noda di tengah kemewahan yang steril ini.

Victor menghilang ke balik sebuah pintu ganda besar dari kayu mahoni di ujung ruangan, meninggalkan Elena sendirian.

Detik demi detik berlalu. Keheningan di ruangan itu mencekik. Hanya ada suara detak jam antik besar di sudut ruangan dan detak jantung Elena sendiri yang berpacu liar.

Dia mengedarkan pandangan. Di dinding sebelah kiri, ada sebuah lukisan besar. Abstrak, dengan dominasi warna merah darah dan hitam. Lukisan itu tampak kacau, penuh goresan kasar yang menyiratkan kemarahan pelukisnya. Semakin lama Elena menatapnya, semakin dia merasa lukisan itu sedang berteriak padanya.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki. Bukan langkah kaki Victor yang ringan. Ini langkah kaki yang berat, berirama, dan lambat. Langkah kaki seorang predator yang tidak perlu terburu-buru karena mangsanya sudah terperangkap.

Pintu mahoni ganda itu terbuka lebar.

Dua orang penjaga menyeret sesuatu keluar dari ruangan itu dan melemparnya ke lantai tepat di depan kaki Elena.

"AYAH!" jerit Elena.

Dia melompat dari sofa dan menjatuhkan diri ke lantai, meraih tubuh ayahnya. Kondisi Handry Wijaya mengerikan. Wajahnya lebam hingga nyaris tak dikenali. Bibirnya pecah, dan salah satu matanya bengkak menutup. Pakaiannya robek-robek, memperlihatkan noda darah yang merembes di kemejanya.

"El... Elena..." Handry merintih, matanya yang masih berfungsi sedikit terbuka. "Lari..."

"Apa yang kalian lakukan padanya?!" Elena berteriak, menoleh ke arah pintu yang terbuka. Kemarahan meledak di dadanya, mengalahkan rasa takutnya. Dia memeluk kepala ayahnya, berusaha melindunginya dari monster-monster ini.

Dari kegelapan ruangan kerja itu, sesosok pria melangkah keluar.

Cahaya kilat kembali menyambar di luar jendela, menerangi siluet pria itu. Dia tinggi, jauh lebih tinggi dari Victor. Bahunya lebar, terbalut kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kuat dengan tato samar yang melingkar di pergelangan tangannya. Kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan sedikit dada bidangnya.

Wajahnya seperti pahatan patung Romawi—tampan, tegas, dengan rahang yang kuat. Namun, matanya adalah hal yang paling menakutkan. Mata itu berwarna abu-abu gelap, setajam silet, dan kosong dari emosi manusiawi. Tidak ada kemarahan, tidak ada kegembiraan. Hanya kehampaan yang dingin.

Damian Kael. Sang Iblis.

Dia memegang gelas kristal berisi cairan berwarna amber di satu tangan, dan sebuah pistol hitam matte di tangan lainnya. Pistol itu tampak santai dalam genggamannya, seolah itu adalah perpanjangan alami dari tubuhnya.

"Aku tidak suka suara berisik," suara Damian rendah, dalam, dan bergetar dengan otoritas mutlak. Dia tidak berteriak, tapi suaranya mengisi seluruh ruangan, membungkam tangisan Elena.

Dia berjalan mendekat, langkahnya pelan dan mengintimidasi. Sepatu kulitnya berhenti tepat di depan wajah Elena yang sedang berlutut memeluk ayahnya.

Elena mendongak, menatap mata monster itu dengan air mata berlinang namun dagu terangkat. "Kau... kau menyiksanya."

Damian menatap Elena. Dia tidak melihat ke arah Handry yang mengerang kesakitan; dia hanya menatap Elena. Matanya menelusuri wajah Elena yang basah, rambutnya yang berantakan, dan matanya yang menyala karena benci. Sesuatu berkedip di mata abu-abu itu—sepercik ketertarikan.

"Dia mencuri dariku," kata Damian datar. Dia berjongkok perlahan, menyamakan tingginya dengan Elena. Aroma whisky dan musk menguar dari tubuhnya, memabukkan sekaligus mematikan. "Di duniaku, hukuman bagi pencuri adalah potong tangan."

Damian mengangkat pistolnya, dan dengan gerakan santai, menempelkan laras dingin itu ke pelipis Handry.

"TIDAK!" Elena menjerit, refleks mencengkeram pergelangan tangan Damian.

Ruangan itu hening seketika.

Para penjaga di belakang menahan napas. Victor yang berdiri di sudut ruangan sedikit melebarkan matanya. Tidak ada yang pernah berani menyentuh Damian Kael. Tidak ada yang berani menyentuh tangan penembaknya.

Elena menyadari kesalahannya sedetik kemudian. Tangannya gemetar di atas kulit hangat pergelangan tangan Damian. Dia bisa merasakan denyut nadi pria itu—tenang, lambat, stabil. Kontras dengan jantung Elena yang rasanya mau meledak.

Damian tidak menarik tangannya. Dia menatap tangan kecil Elena yang pucat mencengkeram lengannya, lalu tatapannya naik ke mata Elena. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk seringai yang mengerikan.

"Nyali yang besar untuk seekor tikus kecil," bisik Damian. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Elena bisa merasakan napas hangat pria itu di wajahnya. "Kau ingin menyelamatkannya?"

"Tolong..." Elena memohon, suaranya bergetar. Dia tidak melepaskan tangan Damian. Itu adalah satu-satunya hal yang menahan pelatuk itu ditarik. "Ambil apa saja. Aku akan melakukan apa saja. Jangan bunuh dia."

"Apa saja?" ulang Damian. Nada suaranya berubah, menjadi lebih berat, lebih gelap.

Dia berdiri tegak kembali, menarik tangannya dari cengkeraman Elena dengan mudah, seolah tenaga Elena tidak ada artinya. Dia menatap Elena dari ketinggian, seperti dewa yang sedang mempertimbangkan nasib manusia fana.

"Victor," panggil Damian tanpa menoleh.

"Ya, Tuan."

"Bawa sampah tua ini ke ruang bawah tanah. Obati lukanya agar dia tidak mati karena infeksi. Tapi jangan beri makan."

"Baik, Tuan."

Dua penjaga segera menyeret Handry menjauh. Handry meronta lemah, memanggil nama Elena, tapi suaranya menghilang saat pintu lift tertutup membawanya pergi.

Kini, hanya tinggal Elena dan Damian di ruangan luas itu.

Elena bangkit berdiri, kakinya goyah. Dia merasa telanjang di bawah tatapan tajam pria itu. "Kau... kau bilang akan melepaskannya jika aku datang."

"Aku bilang aku tidak akan mengirim kepalanya dalam paket jika kau datang," koreksi Damian. Dia berjalan menuju meja bar di sudut, menuang ulang minumannya. "Dia masih hidup. Kepalanya masih di lehernya. Aku menepati janji."

Damian berbalik, bersandar pada meja bar, menyesap minumannya sambil menatap Elena. "Sekarang, mari bicara soal harga nyawa ayahmu."

"Berapa?" tanya Elena cepat. "Berapa utangnya?"

"Tiga puluh miliar rupiah," jawab Damian santai, seolah dia sedang menyebut harga permen. "Ditambah bunga berjalan, dan denda atas kebocoran informasi. Totalnya sekitar empat puluh lima miliar."

Dunia Elena berputar. Empat puluh lima miliar. Dia bahkan tidak bisa membayangkan tumpukan uang sebanyak itu. Seumur hidupnya bermain piano pun tidak akan cukup untuk membayarnya.

"Aku... aku tidak punya uang sebanyak itu," bisik Elena. Harapannya hancur berkeping-keping.

"Aku tahu," kata Damian. Dia meletakkan gelasnya dengan bunyi klak yang tajam di atas meja.

Dia melangkah mendekati Elena lagi. Kali ini dia tidak berhenti sampai ujung sepatu mereka bersentuhan. Elena harus mendongak tajam untuk menatap wajahnya. Aura dominasi pria itu begitu kuat hingga membuat udara di sekitar mereka terasa menipis.

Damian mengulurkan tangan. Jari-jarinya yang kasar namun elegan menyentuh dagu Elena, memaksanya untuk tetap menatap mata abu-abunya. Sentuhan itu panas, mengirimkan sengatan listrik aneh ke tulang belakang Elena.

"Aku tidak butuh uangmu, Elena," suara Damian merendah menjadi bisikan serak yang berbahaya. "Aku punya lebih banyak uang daripada yang bisa kuhabiskan dalam sepuluh masa kehidupan."

"Lalu... apa yang kau inginkan?"

Ibu jari Damian mengusap bibir bawah Elena yang gemetar. Gerakan itu hampir lembut, namun matanya berkilat posesif.

"Kau," jawabnya. Satu kata yang jatuh seperti palu hakim.

"Aku?"

"Kau akan tinggal di sini. Di rumah ini. Di bawah aturanku," kata Damian. Matanya menggelap, pupilnya membesar. "Kau akan menjadi milikku. Menjadi bayanganku. Menjadi mainanku jika aku bosan, dan menjadi pianisku jika aku ingin musik."

Damian mencondongkan tubuhnya, bibirnya menyapu telinga Elena.

"Satu tahun. Serahkan tubuh dan jiwamu padaku selama satu tahun. Dan aku akan menganggap utang ayahmu lunas."

Dia menarik diri sedikit untuk melihat reaksi Elena. "Tolak, dan aku akan mengirim jari-jari ayahmu satu per satu setiap jam. Mulai dari sekarang."

Elena membeku. Pilihan itu bukan pilihan. Itu adalah jalan buntu. Di satu sisi adalah kematian ayahnya yang menyakitkan. Di sisi lain adalah perbudakan pada pria yang lebih mirip monster daripada manusia.

Dia menatap mata kelam Damian, mencari setitik belas kasih, tapi dia tidak menemukannya. Dia hanya menemukan kegelapan yang siap menelannya bulat-bulat.

Elena memejamkan mata, air mata terakhir menetes jatuh ke tangan Damian yang masih mencengkeram dagunya.

"Baik," bisiknya, suaranya pecah namun tegas. "Aku milikmu."

Damian tersenyum. Bukan senyum mengejek seperti tadi, tapi senyum kemenangan. Senyum seorang predator yang baru saja mendapatkan mangsanya.

"Keputusan yang bijak, Little Pianist," katanya. "Selamat datang di neraka."

Guntur menggelegar di luar, seolah alam semesta sedang menutup pintu keluar bagi Elena, menguncinya dalam sangkar emas bersama sang Iblis.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata
Walang Komento
62 Kabanata
สิ่งล่อใจที่กระซิบกระซาบ
“อ่า…”นี่คือความรู้สึกแบบนี้เหรอ?เซ็กส์ที่เพื่อนร่วมชั้นพูดถึงกันไม่หยุด ฉันตั้งโทรศัพท์ขึ้นแล้วแยกขาออกเพื่อให้มันดีขึ้น เสียงครางเบาๆ หลุดออกมาจากริมฝีปากฉันไม่เคยทำมาก่อน แต่ได้ยินเพื่อนร่วมชั้นบอกว่ามันรู้สึกดี และมันก็ดีจริงๆ เสียงเบาๆ ของฉันดังไปทั่วห้องน้ำและสะท้อนกับผนังสีขาวมันฟังดูดีอย่างประหลาด เสียงลมหายใจที่ติดขัดและเสียงลื่นๆ แปลกๆ ที่มาจากนิ้วของฉันที่สอดเข้าไปตรงนั้น ตลอด 18 ปี ฉันไม่เคยรู้สึกว่ามันเปียกขนาดนี้มาก่อน และมันทำให้ฉันหลงใหลฉันถูนิ้วเป็นวงกลมเหมือนผู้หญิงในวิดีโอ ฉันทำเหมือนกับวิดีโอที่เพื่อนส่งมาให้ ในวิดีโอผู้หญิงสวยหน้าอกใหญ่เหมือนฉันนั่งอยู่บนขอบอ่างอาบน้ำโดยแยกขาออกเธอเปลือยกายหมดจดและหลับตาอยู่ มือข้างหนึ่งบีบเต้านมข้างขวาขนาดใหญ่ของเธอ ส่วนอีกมือหนึ่งสอดเข้าไปในส่วนลับของเธอฉันเลียนแบบทุกอย่างที่เธอทำ ตั้งแต่ท่านั่งไปจนถึงวิธีที่เธอขยับนิ้วเป็นวงกลม การทำตามการกระทำของเธออย่างเป๊ะๆ ทำให้ฉันเข้าใจว่าทำไมเพื่อนร่วมชั้นถึงพูดถึงเรื่องเพศกันมากมายความรู้สึกระหว่างขาของฉันนั้นแปลกใหม่และไม่คุ้นเคย แต่ฉันก็ติดใจแล้วและต้องการมากกว่านี้ ร่างกายของฉ
Magbasa pa
หน้าลามก
บ้านป้าเคธี่เงียบจังเลยวันนี้ทุกคนออกไปข้างนอกกันหมดแล้ว ป้าเคธี่ไปห้างสรรพสินค้า ส่วนไมเคิลก็ออกไปเที่ยวกับเพื่อนๆ เหลือฉันอยู่บ้านคนเดียว ฉันเลยเดินสำรวจไปรอบๆ บ้าน จับต้องสิ่งของต่างๆ และแอบมองเข้าไปในห้องต่างๆ เพื่อทำความรู้จักบ้านให้ดีขึ้นบ้านฉันเรียบง่ายและเล็ก แต่บ้านหลังนี้ใหญ่โตมโหฬาร มีพื้นหินอ่อนและการตกแต่งที่หรูหรา ฉันเดินไปตามทางเดินยาวๆ แล้วหยุดอยู่หน้าประตูที่มีตัว M เขียนอยู่นี่คงเป็นห้องของลูกพี่ลูกน้องฉัน ตั้งแต่ฉันมาอยู่ที่นี่ เขาก็ไม่สนใจฉันเลย ทำให้ฉันกังวลว่าเขาอาจจะไม่ชอบฉัน ฉันแง้มประตูเล็กน้อยแล้วแอบมองเข้าไปอย่างอยากรู้อยากเห็น ฉันสงสัยว่าห้องของไมเคิลจะเป็นอย่างไรสิบปีแล้วที่ฉันไม่ได้มาเยี่ยมครอบครัวป้า แต่ฉันรู้ว่าเขาอายุยี่สิบปีแล้วและกำลังเรียนมหาวิทยาลัย ซึ่งแก่กว่าฉันแค่สองปีเท่านั้น ฉันอดสงสัยไม่ได้ว่าเขาคิดอะไรเกี่ยวกับฉัน ทุกครั้งที่เขามองมาที่ฉัน เขามีแววตาแปลกๆ ที่ทำให้ฉันรู้สึกเสียวซ่านไปทั้งตัวฉันเดินเข้าไปในห้องโดยไม่ปิดประตู เพราะไม่มีใครอยู่บ้านกับฉัน โต๊ะทำงานของเขาเต็มไปด้วยหนังสือสารพัดชนิด และมันดึงดูดความสนใจฉัน ลูกพี่ลูกน้องของฉันห
Magbasa pa
ตัณหาและความลุ่มหลง
ตั้งแต่เคย์ลีมาอยู่บ้านฉัน ฉันก็คอยจับตาดูเธอมาตลอด สิบปีทำให้เธอดูโตขึ้นและเซ็กซี่ขึ้นมาก แต่กลับทำตัวเหมือนคนไร้เดียงสาที่สุดมันบ้ามากที่เธอตื่นนอนตอนเช้าแล้วลงมาที่ครัวในชุดนอนสุดเซ็กซี่พร้อมใบหน้าน่ารักยิ่งบ้าไปกว่านั้นคือฉันเพิ่งรู้ว่าลูกพี่ลูกน้องสุดฮอตของฉันนั้นไร้เดียงสาแค่ไหนฉันสนุกกับสถานการณ์ที่จับได้ว่าเธอกำลังแอบเข้ามาในห้องฉัน และเธอก็หน้าแดงก่ำเหมือนมะเขือเทศแค่เพราะอ่านนิตยสารอีโรติกที่ฉันวางไว้ตรงนั้น เพราะรู้ว่าเธอจะต้องแอบเข้ามาเธอมีนิสัยอยากรู้อยากเห็นมาตลอด เป็นลักษณะนิสัยที่สืบทอดกันมาในครอบครัว และเป็นลักษณะนิสัยที่ฉันอยากลองสำรวจดู ความคิดนั้นแวบเข้ามาในหัว ฉันเลียริมฝีปากด้วยความรู้สึกสกปรก ความคิดที่จะทำให้คนในครอบครัวที่ไร้เดียงสาของฉันแปดเปื้อนฉันพนันได้เลยว่าเธอไม่เคยมีประสบการณ์ทางเพศมาก่อน และความคิดที่จะเป็นคนแรกที่ได้ร่วมเพศกับช่องคลอดบริสุทธิ์ของเธอทำให้องคชาตของฉันกระตุกอยู่ในกางเกง ให้ตายสิ ถ้าฉันไม่ได้เธอก่อนที่เธอจะไป ฉันอาจจะเสียสติ แต่ในอีกมุมหนึ่ง ฉันต้องทดสอบทฤษฎีของฉันอย่างแนบเนียนฉันเดินเข้าไปในห้องและวางกระเป๋าลงบนพื้น เธอดูเซ็กซี่มาก
Magbasa pa
เงาแห่งบาป
ฉันกำลังช่วยตัวเองอีกแล้วตั้งแต่วันที่ไมเคิลจับได้ว่าฉันอยู่ในห้องของเขา ร่างกายฉันก็ควบคุมไม่ได้อีกต่อไป ความรู้สึกร้อนๆ แปลกๆ ครอบงำท้องฉันทุกครั้งที่ฉันเห็นลูกพี่ลูกน้องอยู่แถวบ้านและราวกับว่าเขารู้ ไมเคิลก็จะยิ้มเยาะฉันแล้วเดินผ่านไปโดยไม่พูดอะไร ฉันอยากรู้มากกว่านี้ ความรู้สึกนั้นในร่างกายฉันทุกครั้งที่นึกถึงรูปไมเคิลในนิตยสารคืออะไรกันแน่?ฉันสอดนิ้วหนึ่งเข้าไปในช่องคลอดที่เปียกชื้นแล้วดึงออกมาถูเป็นวงกลม นิตยสารออนไลน์เล่มหนึ่งที่ฉันดูบอกให้ทำแบบนี้ ฉันสั่นสะท้านด้วยความรู้สึกที่รุนแรงและน้ำก็ไหลออกมาจากฉันมากขึ้นก่อนหน้านี้ฉันคุยโทรศัพท์กับฮันนาห์เพื่อนร่วมชั้น เธอรู้เรื่องเซ็กส์เยอะมากและเธอบอกฉันว่า “ที่รัก! เธอตกไข่แล้ว โอ้พระเจ้า” ฉันกัดริมฝีปากเพื่อไม่ให้เสียงครางดังออกมา“เอานิ้วเธอเลย เคย์ลี มันรู้สึกดี” เธอบอกและส่งลิงก์นิตยสารให้ฉัน ฉันใช้มือลูบไล้ตัวเองพลางครางเบาๆ มันรู้สึกดี แต่ยังไม่ดีพอฉันลูบไล้ตัวเองต่อไปจนกระทั่งเริ่มเบื่อ และความอยากรู้อยากเห็นก็ผลักดันให้ฉันเดินไปยืนอยู่หน้าประตูห้องของไมเคิล“ไมเคิล…” ฉันเรียกชื่อเขาอย่างหอบๆ แล้วเปิดประตู ฉันรู้ว่าเขาต้
Magbasa pa
ความปรารถนาที่ไร้การควบคุม
ฉันหลับตาลงและปล่อยให้ลูกพี่ลูกน้องจูบฉันอีกครั้ง รสหวานของกลีบช่องคลอดที่เปียกชุ่มของฉันเหลือเพียงแค่รสชาติจางๆ แต่จูบนั้นทำให้ฉันเปียกชุ่มยิ่งกว่าเดิมไมเคิลผละออกและปลดกระดุมเสื้อนอนของฉันทีละเม็ด จนกระทั่งหน้าอกใหญ่โตของฉันเผยออกมาอย่างเต็มที่"เปลือยแบบนี้มันดีกว่าอีก... ลูกพี่ลูกน้อง ฉันไม่อยากเชื่อเลยว่าเธอซ่อนมันไว้ได้นานขนาดนี้" เขาพูดพลางโน้มตัวมาจูบที่ปลายหน้าอกข้างขวาของฉัน ฉันครางออกมา ทุกอย่างใหม่สำหรับฉัน ทุกอย่างรู้สึกดีไปหมดเขาแลบลิ้นออกมาและเลียหัวนมของฉันอย่างช้าๆ ขาของฉันสั่นเทาด้วยความปรารถนา เขาใช้มือประคองหน้าอกของฉันและดูดหัวนม ทำให้ฉันครางออกมาเสียงดังปากของเขาร้อนและเปียกชุ่มแนบกับปากของฉัน ขณะที่ฉันแอ่นหลังและกดหน้าอกของฉันแนบกับปากของเขามากขึ้น เขาครางและใช้มืออีกข้างจับหน้าอกของฉัน เล่นกับมันและถูมันระหว่างนิ้วที่แห้งกร้านของเขา สักพักเขาก็เปลี่ยนข้าง ดูดหัวนมที่เขาบีบไปก่อนหน้านี้ แล้วก็บีบอีกข้างมันรู้สึกดีมากจนฉันอดที่จะส่งเสียงออกมาไม่ได้ เสียงครางของฉันเหมือนกับเสียงผู้หญิงในวิดีโอลิงก์ที่ฮันนาส่งมาให้ก่อนหน้านี้ สะโพกของฉันขยับเองโดยอัตโนมัติ ฉันร
Magbasa pa
ความปรารถนาอันบริสุทธิ์
มุมมองของไมเคิลร่างกายของโรเซลลาวนเวียนอยู่ในความคิดของผมตั้งแต่วันที่เธอก้าวเท้าเข้ามาในบ้านของเราทุกอย่างเกี่ยวกับเธอเหมือนแม่เหล็กที่ดึงดูดใจผมอย่างเหลือเชื่อขวดเจลหล่อลื่นเปล่าๆ ซองถุงยางอนามัย และกล่องทิชชู่กองอยู่เต็มห้องนอนเพราะเธอผมไม่อยากเชื่อเลยว่าเธอไม่ใช่ของผม ผมเอาหัวแนบกับผนังห้องน้ำ น้ำอุ่นไหลลงมาตามแผ่นหลังที่แข็งแรงของผม กลบเสียงคำพูดหยาบคายที่ผมพร่ำเพ้อถึงเธอบ้าเอ้ย…ถ้าใครได้ยินว่าผมบ้าคลั่งขนาดนี้ พวกเขาคงช็อกตายแน่ๆ“ผมรักจิ๋มเปียกๆ ของเธอ โอ้ พระเจ้า ร่างกายของเธอนุ่มนวลเหลือเกิน” ผมครางใต้น้ำนึกถึงตอนที่ผมไปเจอเธอกับพ่อกำลังมีอะไรกันเมื่อไม่กี่สัปดาห์ก่อน จิ๋มของเธอดูอวบอิ่ม รับอวัยวะเพศชายได้อย่างมืออาชีพ“เสียงครางของเธอทำให้ฉันแทบคลั่ง ความปรารถนาอย่างแรงกล้าที่จะกระแทกเธออย่างแรงและเร็วขณะที่เธอคราง โอ้วววววว”ฉันจำเสียงของเธอได้ เสียงครางอันแสนไพเราะ ความสกปรกอย่างแท้จริง เหมือนดาราหนังโป๊ฉันบีบอวัยวะเพศของตัวเองแน่นขึ้นขณะที่คราง ฉันลูบคลำอวัยวะเพศสีดำขนาดแปดนิ้วของฉันเร็วขึ้นในมือมันใหญ่มากจนฉันต้องใช้มือทั้งสองข้างเพื่อไล่ความใคร่ ฉันรู้สึกว่าลูกอ
Magbasa pa
แปดนิ้วของสิ่งต้องห้าม
มุมมองของไมเคิลประตูเปิดออกพร้อมเสียงเอี๊ยดอ๊าดเมื่อผมก้าวเข้าไป และเวลาก็หยุดนิ่ง เธออยู่ตรงนั้น โรเซลลา แม่เลี้ยงของผม นอนแผ่บนเตียง ขาแยกกว้าง เครื่องสั่นเล็กๆ กำลังส่งเสียงหึ่งๆ อยู่ลึกเข้าไปในช่องคลอดที่ชุ่มฉ่ำของเธอ กางเกงในถูกดึงออกไป เผยให้เห็นทุกอย่าง ริมฝีปากที่บวมเป่งเป็นประกายด้วยความเปียกชื้น คลิตอริสโผล่ออกมาเหมือนกำลังขอความสนใจ หน้าอกใหญ่ของเธอขยับขึ้นลงตามจังหวะลมหายใจ หัวนมแข็งและดำตัดกับผิวที่เปล่งปลั่ง มือข้างหนึ่งกำลังบีบและบิดหัวนมอย่างแรงผมขยับตัวไม่ได้ อวัยวะเพศของผมที่อ่อนตัวลงหลังจากช่วยจัดกระเป๋าให้พ่อ กลับมาแข็งตัวอีกครั้ง ดันกางเกงขาสั้นของผมอยู่ เธอครางเบาๆ หลับตาแน่น จมอยู่ในโลกของตัวเอง ยังไม่ทันสังเกตเห็นผมด้วยซ้ำ 'โอ้ พระเจ้า' เธออุทาน แอ่นหลังขึ้นขณะที่เครื่องสั่นส่งเสียงดังขึ้น น้ำจากช่องคลอดของเธอเคลือบต้นขา ผมอยากจะรีบวิ่งเข้าไป ดึงเครื่องสั่นนั่นออกมา แล้วเอาไอ้จู๋ใหญ่แปดนิ้วของผมมาเสียบเธอ กระแทกเธอจนกว่าเธอจะกรีดร้องเรียกชื่อผมแต่ผมลังเล หัวใจเต้นแรงเหมือนกลองในอก นี่แหละ โอกาสที่ผมเคยช่วยตัวเองมานับร้อยครั้ง พ่อไปแล้ว บ้านก็ว่างเปล่า มีแค่เ
Magbasa pa
วันแห่งความสุข
แสงแดดยามเช้าส่องลอดม่านในห้องนอนใหญ่ สาดแสงอบอุ่นลงบนผ้าปูที่นอนที่พันกันยุ่งเหยิง โรเซลล์ขยับตัวก่อน ร่างกายของเธอยังคงสั่นสะเทือนจากความเร่าร้อนเมื่อคืน ไมเคิลโอบแขนรอบเอวเธออย่างหวงแหน ลมหายใจของเขาแผ่วเบาอยู่ข้างลำคอ เธออมยิ้มให้กับตัวเอง นึกถึงตอนที่เขาร่วมรักกับเธออย่างเร่าร้อน ดุดัน และประกาศตนเป็นของเขา ขณะที่พ่อของเขาอยู่ไกลออกไปในชิคาโกเธอขยับตัว เอนหลังพิงเขา และรู้สึกถึงอวัยวะเพศของเขาที่แข็งตัวขึ้นแนบกับก้นของเธอ ไม่จำเป็นต้องพูดอะไร ร่างกายของพวกเขาสื่อสารภาษาแห่งความปรารถนา โรเซลล์เอื้อมมือไปด้านหลัง นำพาอวัยวะเพศที่แข็งตัวของเขาเข้าไปอยู่ระหว่างต้นขา เขาครางออกมา มือเลื่อนขึ้นไปประคองหน้าอกของเธอ นิ้วโป้งวนรอบหัวนมจนมันตั้งขึ้น"เช้าแล้วเหรอ?" ไมเคิลพึมพำ เสียงของเขาแหบพร่าด้วยความง่วงและตัณหา เขาดันตัวไปข้างหน้า ปลายอวัยวะเพศของเขาแตะกับกลีบที่เปียกลื่นของเธอ เธอเปียกตั้งแต่ตื่นนอน ช่องคลอดของเธอต้องการมากกว่านี้“รู้สึกเหมือนเราไม่เคยหยุดเลย” เธอกระซิบพลางแอ่นตัวให้เขาแทรกตัวเข้าไป เขาค่อยๆ สอดใส่เข้ามาอย่างช้าๆ ในครั้งนี้ ลิ้มรสความยืดหยุ่น ความรู้สึกของผนังช่องคล
Magbasa pa
ความอยากที่ซ่อนเร้น
ประตูหน้าบ้านปิดลงดังคลิกหลังพ่อของไมเคิล เสียงนั้นดังก้องเหมือนค้อนในบ้านที่เงียบสงบ โรเซลล์จัดเสื้อของเธอให้เรียบร้อย ฝืนยิ้มขณะที่เขาวางกระเป๋าเดินทางลงในโถงทางเดิน สัปดาห์แห่งความเร่าร้อนกับไมเคิลทำให้ร่างกายของเธอรับรู้ถึงความปรารถนาทุกอย่าง แต่ตอนนี้ความจริงกลับถาโถมเข้ามา อาหารเย็นกับครอบครัว การสนทนาทั่วไป ทุกอย่างล้วนเจือปนไปด้วยความลับที่เธอทำกับลูกเลี้ยงของเธอ“คิดถึงพวกเธอทั้งสอง” พ่อของเขาพูดพลางดึงเธอเข้ามากอด แขนของเขารู้สึกแปลกไปหลังจากที่ไมเคิลกอดเธออย่างหวงแหน เธอพยักหน้า เหลือบมองไปยังบันไดที่ไมเคิลยังคงยืนอยู่“ทุกอย่างเรียบร้อยดีใช่ไหม”“ดีมาก” โรเซลล์ตอบ เสียงของเธอมั่นคงแม้ว่าความร้อนจะพลุ่งพล่านอยู่ระหว่างขาของเธอเมื่อมองสายตาของไมเคิล อาหารเย็นในคืนนั้นเป็นการพูดคุยอย่างสุภาพ เรื่องงานจากชิคาโก และแผนการสำหรับสุดสัปดาห์ ไมเคิลนั่งตรงข้ามเธอ เท้าของเขาแตะเท้าเธอเบาๆ ใต้โต๊ะ เป็นการเตือนอย่างแผ่วเบาถึงน้ำอสุจิที่เขาทิ้งไว้ในตัวเธอเพียงไม่กี่ชั่วโมงก่อนที่พ่อของเขาจะมาถึงเวลานอนนำมาซึ่งการแยกจากกัน โรเซลล์นอนอยู่ข้างสามี เสียงกรนของเขาเต็มห้องหลังจากปิดไฟ แต่เธอ
Magbasa pa
ไม่มีสิ่งใดคงอยู่ตลอดไป
ดวงอาทิตย์ในฤดูร้อนคล้อยต่ำลงบนท้องฟ้า ทอดเงายาวไปทั่วละแวกบ้านชานเมือง ขณะที่ไมเคิลกำลังขนกล่องสุดท้ายใส่ท้ายรถเก๋งเก่าๆ ของเขา มหาวิทยาลัยอยู่ห่างออกไปเพียงไม่กี่ชั่วโมง บทใหม่ที่ทั้งตื่นเต้นและหวาดกลัว แต่ก่อนที่เขาจะขับรถออกไปสู่อนาคตที่ไม่แน่นอนนั้น ยังมีเรื่องสุดท้ายที่ยังทำไม่เสร็จ นั่นคือ โรเซลลา แม่เลี้ยงของเขา ผู้หญิงที่ทำให้โลกของเขาพลิกคว่ำด้วยเสียงกระซิบเย้ายวนและความปรารถนาอันไม่รู้จักพอพ่อของเขากลับมาจากชิคาโกเมื่อหลายสัปดาห์ก่อน กลับไปใช้ชีวิตประจำวันแบบเดิม คือตื่นเช้าไปทำงานและนอนดึกคุยงานทางโทรศัพท์ บ้านกลับเข้าสู่ความปกติที่เปราะบาง แต่ภายใต้พื้นผิวนั้น ความสัมพันธ์ระหว่างไมเคิลและโรเซลลากลับร้อนแรงกว่าที่เคย ช่วงเวลาที่แอบไปอยู่ด้วยกันในห้องซักผ้า การมีเพศสัมพันธ์อย่างรวดเร็วในโรงรถขณะที่พ่อของเขากำลังตัดหญ้า พวกเขาไม่รู้จักพอกันเลย หน้าอกอวบอิ่มของโรเซลลา ช่องคลอดที่แน่นกระชับบีบรัดเขาเหมือนคีมเหล็ก เสียงครางเรียกชื่อเขาตอนที่เธอถึงจุดสุดยอด... ไมเคิลคิดถึงแต่เรื่องนี้ขณะที่ปิดฝากระโปรงท้ายรถอย่างแรงโรเซลลาเดินออกมาจากประตูหน้าบ้าน รูปร่างโค้งเว้าของเธอถูกโอบรั
Magbasa pa
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status