แพทย์หญิงตระกูลหลี่ ระบบโอสถพลิกชะตา

แพทย์หญิงตระกูลหลี่ ระบบโอสถพลิกชะตา

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-02
โดย:  เจ้าสำนักยังไม่จบ
ภาษา: Thai
goodnovel4goodnovel
คะแนนไม่เพียงพอ
88บท
348views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

เมื่อสิบปีก่อน ตระกูลแพทย์หลี่ถูกตราหน้าว่าเป็น “ตระกูลหมอพิษ” ตำราถูกเผา โรงหมอถูกปิด ชื่อเสียงถูกลบออกจากเมืองเหมือนไม่เคยมีอยู่ หลี่เซวียนอิงเติบโตขึ้นท่ามกลางซากของชื่อเสียงนั้น

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

ตอนที่ 1 ชีพจรที่ถูกลบ

Wanita itu berdiri dengan kepongahan meski hatinya sakit tak terperi. 

Batinnya masih meyakinkan diri ia baik-baik saja, ia sudah tak merasakan apapun baik untuk adiknya yang sedang menatapinya dengan wajah bodoh ataupun ibu tirinya yang memasang wajah masa bodoh. 

Dua perempuan yang hadir dan merusak segala yang ia percayai itu sungguh tak tau malu, tak punya malu, tak memiliki rasa malu!

Bagaimana mungkin dua perempuan yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya ini merusak segala kepercayaannya yang memang tinggal sisa! 

Bagaimana mungkin dua perempuan yang bahkan tak menunjukan penyesalannya ini masih bisa berdiri tanpa menunjukan urat malunya sedikitpun!

Bagaimana mungkin--Bagaimana mungkin dan terus bagaimana mungkin yang ujungnya sama saja! 'both of then have no Shame!'

Sampai wanita yang tak mau menunjukan ekspresi kalahnya ini mengangkat wajahnya tinggi-tinggi setelah menarik nafas yang sesungguhnya begitu sesak, begitu menyakitkan, lalu berubah begitu tak terasa saat ia sadar dua perempuan dihadapannya ini memang tak pantas mendapat apapun dari dirinya. 

"Seharusnya aku mengusir kalian dari dulu." Suara itu terdengar begitu tenang, begitu dalam, begitu tegas, begitu-- dingin.

Sampai membuat dua perempuan dihadapannya itu mulutnya menganga dan makin lebar saat mendengar kalimat lanjutan yang bahkan tak menyisakan celah untuk dibantah. Tak secuilpun!

"Kuharap saat aku pulang kalian sudah membawa apapun yang ingin kalian bawa dari rumahku." 

"A-apa maksud kakak, Mom?" Tanya gadis bodoh yang bahkan tak menyadari kesalahan apa yang sudah ia perbuat. Tapi bukannya menjawab tanya sang putri perempuan paruh baya yang wajahnya masih kencang berkat perawatan super mahal itu menatap balik dengan tatapan menantang wanita yang tak sekalipun ia anggap putrinya. Tak sekalipun! 

"Kau pikir kami takut tak lagi mendapat sokongan darimu, hah?" begitu angkuh perempuan paruh baya itu berucap, "aku dan putriku akan baik-baik saja tanpa bantuanmu, apalagi sekarang ada janin yang sedang tumbuh dalam rahim putriku."

Perempuan paruh baya itu mengangkat ujung bibirnya tinggi. Mengejek. Merendahkan. Bahkan begitu senang melihat sorot mata wanita yang baru saja mengusirnya menunjukan ekspresi lain. 

Terlukakah ia? Seharusnya begitu karena memang itu yang diharapkan wanita paruh baya yang menggebrak meja dan nyalang menatap anak dari suaminya yang sudah lama mati.

Brak!! Meja yang tak bersalah sedikitpun itu tak bergeming meski apa yang ada diatasnya bergetar. Begitupun kepala pelayan yang rambutnya sudah bercampur uban. Tenang, diam, memperhatikan.

Memperhatikan wanita yang duduknya tak berubah sedikitpun meski pelayan setia itu tau sedang seburuk apa rasa sang majikan detik ini, hari ini, saat ini. Tapi wanita muda yang sikap dan sifatnya jauh lebih dewasa dari usia itu begitu pandai membawa diri. Hal yang memang harus ia miliki sejak usia dini, bahkan sebelum ia lancar bicara.

Wanita yang wajahnya tak menunjukan ekspresi kecuali kesombongan yang ia pertontonkan pada perempuan paruh baya tak tahu malu juga putrinya yang masih tak mengerti.

"Tentu saja kau tak perlu sokonganku, Mother. Saat kau bisa mencari pria macam ayahku yang mau menampung kalian," tak perduli pada rasanya, wanita itu melanjutkan ucapan, "lelaki seperti ayahku yang hanya perduli pada isi dalam celananya itu tak perduli wanita macam apa yang ia tiduri."

BRAKK!! sekali lagi meja itu bergeming mendapat pukulan tangan terawat wanita paruh baya yang tak lagi bisa menjaga amarahnya, sementara pelayan setia yang hendak mendekat itu mundur lagi saat tangan sang majikan terangkat, patuh tanpa kata kembali pada tempatnya semula. Memperhatikan dalam diam.

Perempuan paruh baya yang dipanggil 'mother' itu menatap tajam wanita dingin yang tak memiliki hubungan darah setetes pun dengannya, wanita yang bersikap seakan dirinya tak penting, bukan siapa-siapa kecuali istri dari ayahnya. Lelaki bodoh yang akan luruh dengan ucapan manis dan sentuhan penuh perhitungan pada selangkangan. Dan perempuan paruh baya itu begitu pandai memainkan jari dan mulutnya di sana. Dalam selangkangan pria yang hanya hidup untuk memuaskan segala dahaga wanita paruh baya ini sampai pria itu mati.

Namun, pria yang mati itu tak meninggalkan apapun karena pria kaya itu memang tak meliki hak atas apapun dari gemerlap dan Kilauan yang selalu perempuan paruh baya itu damba seumur hidupnya. 

Perempuan paruh baya ini sungguh-sungguh 'gold digger' yang terjebak pada apa yang tak bisa membuatnya lari. Karena itu ia bahagia mendengar ucapan wanita muda yang wajahnya sama sekali tak berubah meski ada sorot kemarahan di sana. Namun, hanya sesaat dan itu sama sekali tak membuatnya puas.

"Kau tau, Nara. Kau harus belajar menurunkan egomu supaya tak akan adalagi pria yang meninggalkanmu untuk wanita lain," duri! Itu yang ingin ia tancapkan pada tubuh tenang yang bahkan tak bergeming. Meski perempuan paruh baya itu kini jadi bertanya sedingin apa hati anak dari suaminya yang sudah mati ini?

"Mungkin, kau bahkan harus belajar dari adikmu ini," seringaian menyebalkan itu membuat pelayan setia menarik dalam nafasnya. "Lihatlah, Nara. Adikmu begitu manis, bisa bermanja, dan membuat lelaki berpikir untuk melindunginya dan merasa dibutuhkan. Sesuatu yang tak ada padamu, huh!"

Dengusan penuh duri itu keluar juga, ejekan yang bahkan terpancar jelas dari seluruh tubuh wanita paruh baya yang menyentuh pundak putrinya yang tersenyum mendapat pujian lalu ikut menatap Nara, wanita muda yang mengeratkan genggaman tangannya pada ucapan yang akan terlontar dari bibir istri ayahnya ini. "Pantas saja tak ada yang ingin tinggal dengan gadis dingin sepertimu." 

"Aku tak butuh lelaki yang merasa terintimidasi dengan egoku, mother. Kurasa cukup ayahku saja yang seperti itu," ucap Nara menunjukan senyumnya dan memberi isyarat pada pelayan setia yang mengangguk lalu maju, "pastikan tak ada sedikitpun barang mereka yang tertinggal dirumahku, Iori."

Iori, sang kepala pelayan mengangguk penuh hikmad pada ucapan sang majikan. Wanita dingin yang menatap adiknya, si gadis bodoh yang mau saja dimanfaatkan ibunya sendiri. Entah, apa yang sedang Nara pikirkan saat mata hitam dengan pinggiran kecoklatan itu menatap perut sang adik yang masih begitu rata dibalik baju tanpa lengan yang menempel begitu pas dibadan mungilnya itu.

"Kaka-" tapi belum sempat ia berucap Nara sudah berjalan meninggalkan ruangan yang bahkan tak mau tersenyum pada kebahagiannya. Gadis bodoh itu bahkan tak menunjukan penyesalan sedikitpun karena ia mengandung benih tunangan sang kakak yang punggungnya bahkan terlihat... Entahlah, siapa yang bisa menebak apa yang kini dirasakan wanita dingin yang menghilang dibalik pintu tertutup itu.

"Iori," panggil gadis bodoh itu dengan suara ceria. "Apa kakak akan menghadiri pernikahanku?"

Pelayan setia yang jadi diam itu bahkan tak bisa menemukan jawaban bodoh yang bisa ia ucapkan. Wajah tua yang sudah dihiasi garis-garis penuaan itu hanya bisa menatapi gadis ceria yang bahkan tak merasa bersalah sedikitpun baik sikap, sifat, pembawaan, maupun bahas tubuhnya. 

"Nona Ais," ucap Iori membuat gadis bodoh yang panggilan sayangnya disebut itu senyumnya makin lebar, telinganya siap mendengar jawaban dari kepala pelayan yang wajahnya bahkan tak bisa ia baca. Tentu saja, ia hanya gadis bodoh, bukan?"

"Hemm?," manja, sahutan Ais itu terdengar bahkan ditelinga tembok dan semua benda mati yang hanya bisa melihat dan mendengar tanpa bisa berkomentar.

"Sudah waktunya Nona Ais dan Nyonya Grace bersiap-siap." Ucap Iori membuat kepala Ais miring tak paham, sementara sang ibu menatap tajam pelayan setia yang bahkan terus menunjukan senyum menyebalkan yang membuatnya berdiri langsung meninggalkan ruangan tak perduli pada tatapan bodoh putrinya yang masih saja duduk menunggu jawaban dari Iori. "Kemana?"

"Pergi, Nona. Tanpa kesempatan kembali." Jawab Iori dan hanya tersenyum mendengar suara pintu yang dibanting begitu keras juga rutukan disertai sumpah serapah.

"Pergi? Pergi kemana dan siapa yang pergi?" 

Kepala pelayan yang senyumnya seolah permanen itu makin menunjukan keramahan, mata tuanya bahkan ikut tersenyum lalu membuka mata menatap gadis bodoh yang bahkan tak mengerti arti pembicaraan yang begitu mudah untuk dipahami. "Mari, Nona Ais."

Ais berdiri dari duduknya, masih tak paham dan berjalan dibelakan kepala pelayan yang membuka pintu lebar-lebar untuknya lalu menunduk. Nampaknya daripada bicara ia Iori lebih memilih menunjukan apa yang akan terjadi pada gadis muda yang menatap bingung koper-koper besar yang berjejer. sampai mata birunya melihat sang ibu yang menuruni tangga dengan amarah. "Dimana perhiasanku!?"

Perempuan paruh baya itu menatap tajam Iori yang mengangguk pada salah satu pelayan yang maju menyerahkan catatan. "ANAK SIALAN! KAU AKAN MENYESALI INI" 

"Mom? Mommy kenapa?" Tanya Ais yang hanya dianggap angin lalu oleh ibunya yang menarik kerah Iori begitu kuat.

Namun, tubuh tegap pria yang tak lagi muda itu tetap tegak tak goyah. Hanya manik matanya saja yang menunduk menatapi kemurkaan sang nyonya (oh, ralat) mantan nyonya.

Tak ada senyum permanen yang Iori tunjukan pada keangkuhan wanita yang mencengkram kuat kerahnya ini. Bahkan sorot matanya berubah begitu dingin membuat pelayan-pelayan muda yang ada dalam ruangan besar nan megah itu menunduk. Tau, pria itu sedang sangat marah apalagi saat mata dinginnya dihiasi senyum begitu ramah meski matanya sama sekali tak tertawa. "Nyonya Grace, Nona besar hanya mengatakan tak ingin satupun barang anda ataupun barang Nona Ais yang tertinggal dirumah ini. Tak lebih dan tak kurang dari itu." 

Senyum Ramah Iori membuat rambut-rambut halus Grace berdiri. Namun, kesombongannya tak ingin pergi dan diangkatnya tinggi-tinggi tangannya diikuti suara menggema yang membuat semua mata terkejut termasuk gadis bodoh yang mata bulatnya membesar. 

PLAKK!! tamparan keras itu hanya dijawab senyum dari wajah Iori yang tak perduli pipi kanannya membiru berkat sentuhan sepenuh hati wanita yang keluar tanpa membawa apapun kecuali apa yang ada didalam rumah ini. "Setidaknya Nona besar membiarkan Anda menyimpan perhiasan-perhiasan anda, Nyonya. Juga tas dan benda-benda mahal yang anda koleksi."

"You son of a bitch!"

"Indeed, Ma'am." Jawab Iori dengan senyum diwajah lalu mengangkat tangan diikuti gerakan pelayan-pelayan muda yang serempak mengangkuti koper-koper besar yang dibawa keluar lalu dimasukan kedalam truk pengangkut yang sudah menunggu. 

"Lepas! Lepaskan tangan kotor kalian dariku! Lepas!" Teriakan Grace sama sekali tak membuat cengkraman beberapa pelayan mengendur, malah sebaliknya makin kuat memegangi perempuan paruh baya yang  mereka seret. 

"Jangan terlalu kasar," ucap kepala pelayan pada telinga-telinga yang tangannya menggandeng tangan gadis bodoh yang masih tak mengerti, menatapi Iori penuh tanya sampai ia berdiri didepan gerbang yang akhirnya terbuka lebar lalu tertutup. "I- Iori? A-apa? Kenapa kau mengunci gerbangnya?"

"Nona Ais, semoga hidupmu baik setelah hari ini. Dan lahirkanlah anak yang sehat." Iori menundukkan badannya diikuti pelayan-pelayan muda yang serempak melakukan hal sama lalu meninggalkan gerbang tinggi menjulang, masuk kedalam mansion dengan pilar-pilar tinggi dan taman luas yang bisa membuatmu tersesat jika tak mengerti.

"Iori? Iori....! Iori...!! Ioriiiii...!"

Teriakan gadis bodoh itu hanya terdengar namun tak didengarkan.

*

Part pertama, silahkan diberi Kritik&saran dan terimakasih sudah membaca. Btw, salam kenal, saya Nur dari Bekasi gak perlu naik roket y kalo ke Bekasi, soalnya gak ada landasannya wkwk. Maturnuwon. Love buat yang baca deh.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ
ไม่มีความคิดเห็น
88
ตอนที่ 1 ชีพจรที่ถูกลบ
ตอนที่ 1 ชีพจรที่ถูกลบพู่กันขึ้นเขียนชื่อยากับจำนวนเงินด้วยลายมือที่นิ่งและคม เธอไม่ได้สวมเครื่องประดับงดงามอย่างบุตรสาวคหบดี ไม่ได้แต่งหน้าจัด แต่ความเรียบร้อยของเสื้อผ้าและสายตาที่นิ่งเหมือนสระน้ำลึกทำให้คนที่มองรู้สึกว่า นี่คือคนที่วางความรู้ไว้เหนือคำซุบซิบประตูไม้ถูกกระแทกเปิดดังปังเสียงเท้าหนักรีบเร่งดังเข้ามาพร้อมลมหายใจหอบ กวานซง ชายหนุ่มร่างล่ำในเสื้อผ้าเปื้อนฝุ่นโคลนก้าวเข้ามาแทบสะดุดธรณี เขาหอบคนหนึ่งไว้บนหลัง เด็กหนุ่มตัวผอม ซีดจนเหมือนกระดาษขาว แขนห้อยลงอย่างไร้เรี่ยวแรงกวานซงเอ่ยเสียงสั่น "คุณหนูหลี่ ช่วยด้วย เขาจะตายแล้ว"เซวียนอิงเงยหน้าขึ้น ไม่ถามก่อนว่าเป็นใคร ไม่ถามว่ามาจากไหน เธอวางพู่กันลงทันที ลุกจากโต๊ะอย่างรวดเร็ว "วางเขาลงบนเตียงตรวจ"กวานซงพยักหน้า รีบพาเข้าไปด้านใน เสียงผ้าห่มถูกดึง เสียงไม้เตียงดังครืด เด็กหนุ่มถูกวางลงอย่างระมัดระวัง แต่หัวของเขากระแทกหมอนเบา ๆ ริมฝีปากสีคล้ำเม้มแน่นเหมือนกำลังกลั้นลมหายใจสุดท้ายเซวียนอิงขยับเข้าไปข้างเตียง สองนิ้วแตะที่ข้อมือซ้ายของเด็กหนุ่ม ท่ามกลางความเงียบ มีเพียงเสียงไฟตะเกียงแตกดังเปาะและเสียงหายใจหอบของกวานซงน
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอนที่ 2 รอยเข็มต้องห้าม
ตอนที่ 2 รอยเข็มต้องห้ามไฟในห้องตรวจเหลือเพียงตะเกียงหนึ่งดวง แสงสีอำพันตกบนใบหน้าซีดของซือจิ่วและปลายเข็มเงินที่ปักค้างอยู่ตามจุดสำคัญ กลิ่นขมของยาที่เพิ่งป้อนผสมกับกลิ่นอาเจียนสีเข้มยังไม่จาง เซวียนอิงใช้ผ้าขาวเช็ดมืออย่างเงียบ ๆ แล้วหันไปมองกวานซงที่ยืนเฝ้าหน้าประตูด้านในเหมือนเสาหิน"ประตูหน้าร้านล็อกแล้วหรือยัง" เธอถามโดยไม่หันหน้า"ล็อกแล้ว" กวานซงตอบเสียงต่ำ "ข้าดับไฟหน้าร้านหมดแล้ว เหลือแค่นี้"เซวียนอิงพยักหน้า เธอไม่ได้วางใจเพราะคำรับรอง แต่เพราะได้ยินความเงียบในตรอกที่ไม่ใช่ความเงียบปกติ เมืองหลินอันยามค่ำไม่เคยนิ่งสนิท มีเสียงเมาคุย มีเสียงสุนัขเห่า มีเสียงล้อเกวียนไกล ๆ ทว่าเวลานี้มันเหมือนทั้งตรอกกลั้นหายใจเธอขยับเข้าไปใกล้เตียงอีกครั้ง วางปลายนิ้วลงบนชีพจรที่ข้อมือของซือจิ่ว จังหวะกลับมามีอยู่จริง แต่ยังเหมือนคนเดินอยู่บนสะพานไม้ผุ ก้าวพลาดนิดเดียวก็ตกน้ำในหัวของเธอ ข้อความของระบบที่เคยปรากฏก่อนหน้านี้ยังเหมือนรอยหมึกที่ไม่ลบเลือน เธอไม่ได้สนใจมันจนเสียสมาธิ แต่เธอรับรู้ว่าโลกกำลังมองการรักษาของเธอเป็นสิ่งที่มีราคาและมีผลลัพธ์เซวียนอิงยกมือแตะหน้าผากของซือจิ่ว ความเ
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอนที่ 3 สมุนไพรที่ถูกสลับ
ตอนที่ 3 สมุนไพรที่ถูกสลับเหมือนจะขาดอีกแล้ว จังหวะหายใจยังติดขัดเล็กน้อยเหมือนคนที่ยังมีหินก้อนหนึ่งกดอยู่ในอก ทว่าอย่างน้อย หินก้อนนั้นไม่หนักพอจะบดหัวใจให้หยุดกวานซงยืนอยู่มุมห้อง ตาแดงเพราะไม่ได้นอน มือเขากำถุงผ้าขนาดเล็กที่มีห่อยาอยู่ข้างใน เหมือนคนถือก้อนหินที่ไม่รู้ว่าจะโยนทิ้งหรือแบกต่อเซวียนอิงตรวจชีพจรซือจิ่วอีกครั้ง ใช้สกิลจับชีพจรลึกที่เพิ่งปลดล็อกเมื่อวาน จังหวะชีพจรแท้ยังคงไหลอยู่ใต้ชั้นของชีพจรลวงที่พิษทิ้งไว้ แต่วันนี้ชีพจรแท้กลับมั่นคงขึ้นเล็กน้อย เหมือนคนที่ได้ดื่มน้ำอุ่นในคืนหนาวเธอถอนหายใจช้า ๆ แล้วหันไปทางกวานซง "ยาชุดที่ข้าให้เจ้าซื้อเมื่อฟ้าสาง เจ้าได้มาแล้วหรือ"กวานซงรีบยื่นถุงผ้าให้ "ได้มาแล้ว ข้าไปตลาดยาตามที่คุณหนูบอก ร้านเดิมที่คนในตรอกนิยมซื้อ เขาว่าของดีและถูก"เซวียนอิงรับถุงผ้าไว้ เธอไม่ได้เปิดทันที แต่ชั่งน้ำหนักด้วยฝ่ามือก่อน ความรู้สึกแรกไม่ใช่ความหนักหรือเบา แต่เป็นความแปลกที่บอกไม่ถูก เหมือนจับถุงข้าวสารแล้วสัมผัสได้ว่ามีเม็ดทรายปนอยู่เธอวางถุงผ้าลงบนโต๊ะ เปิดออกช้า ๆ กลิ่นสมุนไพรลอยขึ้นมา แต่มันไม่ใช่กลิ่นที่ควรเป็นเธอหยิบชิ้นรากแห้งขึ้นมาด
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอน 4 สมาคมแพทย์กดดัน
ตอน 4 สมาคมแพทย์กดดันแสงเช้าของหลินอันส่องผ่านช่องไม้หน้าต่างเข้ามาเป็นเส้นบาง ๆ ฝุ่นในอากาศลอยช้า ๆ เหมือนความลับที่ยังไม่ยอมตกลงพื้น โรงหมอหลี่กลับมาดูเหมือนเปิดตามปกติภายนอก ประตูหน้าไม่ปิดสนิทเหมือนคืนก่อน มีป้ายผ้าสีซีดแขวนไว้บอกว่ารับตรวจคนไข้ แต่น้ำหนักของเช้าวันนี้ไม่เหมือนเช้าอื่น ๆ เพราะใต้พื้นไม้ด้านในยังมีคนที่ทั้งเมืองกำลังพยายามทำให้หายไปเซวียนอิงยืนหลังฉากไม้ กำลังตวงยาอย่างระมัดระวัง เสียงน้ำเดือดในหม้อดังปุด ๆ สม่ำเสมอ เธอจงใจทำให้เสียงร้านเหมือนปกติ มีคนเดินเข้าออกเบา ๆ สองสามรายที่มาขอยาแก้ไอและยาทาแก้ปวดข้อ เธอตรวจอย่างรวดเร็ว จ่ายยาอย่างเรียบ และไม่ปล่อยให้ใครเดินลึกเข้ามาเกินม่านกั้นห้องในกวานซงยืนหน้าร้านเหมือนคนช่วยงาน มือหนึ่งคอยรับเงิน อีกมือคอยจับกลอนประตูให้พร้อมปิด เขายังไม่ชินกับการต้องทำหน้าที่ทั้งเฝ้าคนทั้งเฝ้าคดี แต่เขาพยายามนิ่ง เพราะรู้ว่าความนิ่งคือเกราะบางที่สุดของคนที่กำลังถูกล่าซือจิ่วอยู่ใต้พื้น ได้น้ำอุ่นและยาอ่อน ๆ ตามที่เซวียนอิงสั่ง ชีพจรแท้เริ่มตั้งตัวได้มากขึ้นแต่ยังไม่พอให้ขึ้นมาเผชิญแสงในร้าน เธอให้เขาอดทนอีกหนึ่งวัน อย่างน้อยให้พิษท
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอน 5 ยาที่ไม่มีในตำรา
ตอน 5 ยาที่ไม่มีในตำราค่ำลงอีกครั้งเหนือเมืองหลินอัน ท้องฟ้าสีเทาหม่นเหมือนหมึกที่ถูกเจือจางจนไร้ประกาย ลมหนาวพัดลอดรอยไม้ของโรงหมอหลี่เข้ามาเป็นระยะ กลิ่นสมุนไพรอุ่น ๆ จากหม้อยายังคงลอยอยู่ แต่คืนนี้กลิ่นนั้นไม่ใช่กลิ่นที่ให้ความสบายใจเหมือนปกติ มันเป็นกลิ่นของการตัดสินใจเซวียนอิงยืนอยู่หน้าชั้นลิ้นชักยา ดวงตาเธอไล่ผ่านตัวอักษรที่เขียนบนป้ายไม้เล็ก ๆ ทีละช่อง เหมือนกำลังอ่านหนังสือเงียบ ๆ ที่ไม่มีเล่มให้เปิด เธอหยิบลิ้นชักหนึ่งออกมา ดูเนื้อยาด้านใน แล้วใส่กลับ เหมือนลังเล แต่แท้จริงกำลังคำนวณความเสี่ยงทุกเส้นทางหลังม่านด้านใน ซือจิ่วนั่งพิงหมอน ใบหน้าซีดแต่ไม่เหมือนคนใกล้ตายเหมือนคืนแรก เขาเริ่มพูดได้ยาวขึ้น เริ่มกลืนอาหารอ่อน ๆ ได้บ้าง ทว่าในส่วนลึกของร่างกาย พิษยังเหมือนตะกอนที่นอนก้น หากกวนผิดจังหวะ มันจะลอยขึ้นมาปิดลมหายใจอีกครั้งกวานซงปิดประตูหน้าร้านแน่น ตรวจกลอนสามครั้งเหมือนกลัวว่าจะพลาดเพียงครั้งเดียว เขาเดินกลับมาหาเซวียนอิง กระซิบ "วันนี้ไม่มีใครมาเคาะ แต่ข้ารู้สึกเหมือนมีคนยืนดูอยู่ปลายตรอก"เซวียนอิงพยักหน้า "เขารอให้สมาคมกลับมา" เธอตอบ "หรือรอให้ซือจิ่วตายเองจากพิษท
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอน 6 ชีพจรกลับมา
ตอน 6 ชีพจรกลับมาศาลเจ้าหลังเขาตั้งอยู่เหนือชุมชนไปไม่ไกล เป็นศาลเล็กเก่าแก่ที่คนเมืองหลินอันแวะไหว้เมื่ออยากขอให้ฝนตกหรือขอให้ลูกหายป่วย กลางวันมีควันธูปและเสียงสวดเบา ๆ กลางคืนกลับเงียบเหมือนถูกทิ้งให้เป็นที่พักของลมหนาว แสงจันทร์คืนนี้ขุ่นมัว หมอกลืนเงาต้นสนริมทางจนดูเหมือนเสาไม้ดำเรียงรายกวานซงแบกซือจิ่วขึ้นบันไดหินทีละขั้น เหงื่อซึมแม้อากาศหนาว เพราะคนบนหลังยังหนัก และเพราะทุกก้าวมีความกลัวเดินตามมา เซวียนอิงเดินนำ มือหนึ่งถือโคมกระดาษที่ปิดบังแสงไว้ให้สลัวพอไม่ดึงสายตาคนไกล อีกมือกุมห่อผ้ายาแน่น เธอไม่ได้วิ่ง ไม่เร่งจนล้ม แต่เดินด้วยจังหวะมั่นคงแบบคนที่รู้ว่าความผิดพลาดเล็กน้อยอาจกลายเป็นหลักฐานให้ศัตรูเมื่อถึงหลังศาล มีห้องเก็บของเก่าที่แทบไม่มีใครเปิด ประตูไม้ผุมีรอยตะปูเก่า เซวียนอิงหยิบกุญแจสนิมที่เธอเตรียมไว้จากครั้งก่อน ตอนเด็ก ๆ เธอเคยแอบขึ้นเขามาที่นี่กับพ่อเพื่อหาเห็ดหลินจือและสมุนไพรหายาก พ่อเคยบอกว่า "หมอที่ดีต้องรู้จักที่หลบลม" ตอนนั้นเธอคิดว่าหลบลมคือหลบฝนหลบหนาว วันนี้เธอเพิ่งเข้าใจว่า บางครั้งต้องหลบลมของอำนาจด้วยประตูเปิดออกด้วยเสียงเอี๊ยดต่ำ ๆ กลิ่นไม้เก่าแล
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอน 7 คนที่กำลังตามล่า
ตอน 7 คนที่กำลังตามล่ากลางคืนบนเขาเงียบจนได้ยินเสียงลมหายใจของคนเอง ศาลเจ้าหลังเขาเหมือนเรือลำเล็กที่ลอยอยู่กลางทะเลหมอก เสียงระฆังเก่าที่แขวนหน้าศาลดังแผ่ว ๆ เมื่อกระแสลมพัดผ่าน เหมือนเตือนว่าคืนนี้ยังไม่จบ แม้ชีพจรของซือจิ่วจะกลับมาแล้วก็ตามเซวียนอิงนั่งพิงผนังใกล้เตียง เธอหลับตาเพียงครึ่งเดียว มือยังวางบนห่อเข็มเงิน ข้างกายมีถ้วยน้ำอุ่นและผ้าสะอาด กวานซงนั่งเฝ้าประตูห้องเก็บของเก่า เขาไม่ได้นอนเช่นกัน ตาเขาจับเงามืดด้านนอกไม่วาง เหมือนกลัวว่าหมอกจะกลายเป็นคนได้ซือจิ่วนอนตะแคงห่มผ้าหนา ลมหายใจสม่ำเสมอขึ้น แต่ยังมีเสียงไอเบา ๆ เป็นช่วง ๆ ทุกครั้งที่เขาไอ เซวียนอิงจะเปิดตาเต็มที่ทันที ฟังจังหวะชีพจรด้วยสกิลจับชีพจรลึก แล้วค่อยผ่อนกลับเมื่อแน่ใจว่าหัวใจยังมั่นคงเวลาผ่านไปจนเทียนในโคมใกล้หมดไส้ ความมืดหนาขึ้นอีกระดับแล้วเสียงหนึ่งก็ดังขึ้นไม่ใช่เสียงลม ไม่ใช่เสียงสัตว์ป่าเป็นเสียงเหยียบใบไม้แห้งที่ถูกกดด้วยฝ่าเท้าหนักแน่น และเป็นจังหวะที่มีคนมากกว่าหนึ่งกวานซงเงยหน้าเร็ว มือเขาขยับไปจับไม้พลองทันที เซวียนอิงไม่ลุกพรวด เธอเพียงยกนิ้วขึ้นเป็นสัญญาณให้เงียบ แล้วค่อย ๆ ขยับตัวไปใกล้
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอน 8 แม่ทัพเซียวเหยียนจวิน
ตอน 8 แม่ทัพเซียวเหยียนจวินฟ้ายังไม่สว่าง แต่ความมืดเริ่มบางลงเหมือนผ้าคลุมที่ถูกยกขึ้นทีละนิด ป่าด้านหลังเขาเย็นชื้นจนไอหายใจกลายเป็นหมอกเล็ก ๆ ลอยออกจากปากทุกครั้งที่กวานซงหอบหนัก เขาแบกซือจิ่วมาเป็นชั่วโมง ขาเริ่มสั่น แต่ไม่ยอมวาง เพราะเสียงฝีเท้าของคนตามล่ายังไล่มาเป็นระยะ เหมือนเงาที่ไม่รู้จักเหนื่อยเซวียนอิงเดินข้าง ๆ ไม่ได้ถือโคมแล้ว เธอดับมันตั้งแต่หลุดจากศาลเจ้าเพื่อไม่ให้เป็นเป้า แสงเดียวที่เธอมีคือแสงจากความคุ้นชินทางป่าและความแน่นของชีพจรที่เธอจับได้เป็นครั้งคราว เมื่อใดที่ซือจิ่วหายใจสะดุด เธอจะยกมือแตะข้อมือเขาแค่หนึ่งลมหายใจ แล้วรู้ทันทีว่าต้องให้หยุดพักหรือเดินต่อ"หยุดตรงนี้" เซวียนอิงกระซิบในที่สุด เมื่อพวกเขามาถึงแอ่งหินที่มีต้นสนบังรอบด้านกวานซงทรุดเข่าลง วางซือจิ่วพิงหินอย่างระวัง เหงื่อของเขาเย็นจนเหมือนน้ำแข็ง "ข้าขอโทษ" เขาพูดเสียงหอบ "ข้าคิดว่าล่อเขาได้ แต่เขามาเร็วกว่าเดิม"เซวียนอิงไม่ตำหนิ เธอคุกเข่าลงข้างซือจิ่ว เปิดผ้าห่มให้เขาหายใจได้สะดวกขึ้น แล้วจับชีพจรลึกทันที ชีพจรแท้ยังอยู่และสู้ดี แต่มันเริ่มแกว่งจากความหนาวและความเหนื่อยเหมือนสายธารที่ถูกหินทั
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอน 9 การรักษาที่ผิดกฎ
ตอน 9 การรักษาที่ผิดกฎค่ายทหารชายแดนตั้งอยู่บนเนินกว้างที่มองเห็นเส้นทางเกวียนและทุ่งหญ้าไกลสุดตา รั้วไม้สูงเรียงแน่นมีหอเฝ้าทุกมุม ธงประจำเมืองชายแดนสะบัดในลมเช้าจนเกิดเสียงดังพรึ่บพรั่บเหมือนหัวใจของค่ายเต้นเป็นจังหวะ ทหารเดินสวนกันเป็นระเบียบ เสื้อเกราะกระทบกันดังกรุ๊งกริ๊ง แต่ไม่มีใครพูดมาก ทุกคนดูเหมือนคุ้นกับการใช้แรงมากกว่าการใช้คำซือจิ่วถูกหามบนเปลเข้าสู่ด้านในสุดของค่าย ผ่านสายตาของทหารหลายสิบคู่ที่มองด้วยความสงสัยและระวัง ในสายตาพวกเขา คนเจ็บไม่ใช่แค่คนเจ็บ แต่เป็นความเสี่ยง เป็นข่าว เป็นรอยรั่วที่อาจทำให้ค่ายทั้งค่ายล้มเซวียนอิงเดินข้างเปล ใบหน้าสงบแต่ในใจตึงเหมือนเชือกที่ถูกรัด เธอไม่กลัวดาบ กลัวสิ่งที่มองไม่เห็นมากกว่า กลัวคำสั่งที่เขียนบนกระดาษ และกลัวสายตาที่บอกว่า หากคนบนเปลตาย ทุกอย่างจะถูกโยนมาที่หมอผู้หญิงคนนี้ง่ายที่สุดแม่ทัพเซียวเหยียนจวินขี่ม้านำขบวนเข้าไปถึงลานใน เขาลงจากม้าอย่างเงียบและรวดเร็ว แล้วหันมาสั่งคนสนิทที่เดินตามมา "พาเขาไปเรือนพักทหารบาดเจ็บ แต่แยกห้อง" เขาเว้นจังหวะก่อนเสริม "ห้ามคนที่ไม่เกี่ยวข้องเข้าใกล้"ทหารคนสนิทค้อมศีรษะ "รับคำสั่ง"เซวียน
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
ตอน 10 หมอหลี่กลับมา
ตอน 10 หมอหลี่กลับมารุ่งเช้าในค่ายชายแดนไม่ได้มีกลิ่นหอมของข้าวใหม่เหมือนในเมืองหลินอัน มันมีกลิ่นโลหะจากเกราะที่ถูกเช็ด กลิ่นดินจากลานฝึก และกลิ่นยาสมุนไพรที่ต้มค้างคืนอยู่ในเรือนบาดเจ็บ เสียงแตรปลุกดังยาว ทหารเดินเป็นแถวผ่านหน้าต่างไม้แคบ ๆ จังหวะเท้ากระทบพื้นเหมือนหัวใจของค่ายที่ไม่เคยหยุดพักเซวียนอิงไม่ได้นอนทั้งคืนเต็ม ๆ เธอนั่งเฝ้าข้างเตียงซือจิ่ว สลับระหว่างจับชีพจรลึก ตรวจสีริมฝีปาก และเช็ดเหงื่อเย็นที่ออกเป็นระยะ เมื่อใดที่ชีพจรแกว่ง เธอจะหมุนเข็มที่คุมหัวใจเพียงเสี้ยวเล็ก ๆ แล้วปล่อยให้ร่างกายจัดระเบียบตัวเองเหมือนให้โอกาสคนเจ็บหายใจด้วยแรงของตนเองตอนฟ้าสาง ซือจิ่วลืมตาขึ้นอีกครั้ง ครั้งนี้ไม่ใช่การตื่นแบบหลงทาง แต่เป็นการตื่นที่มีสติ เขามองเพดานไม้ของเรือนบาดเจ็บ แล้วหันมามองเธอด้วยสายตาที่ชัดและนิ่งกว่าเดิมมาก"ข้ายังอยู่" เขาพูดเสียงแหบ แต่ประโยคเต็มคำเซวียนอิงวางปลายนิ้วบนข้อมือเขาอีกครั้ง ชีพจรแท้ตอบแรงขึ้น มีจังหวะที่แน่นเหมือนกลองที่เพิ่งถูกขึงใหม่ เธอถอนลมหายใจยาวอย่างเงียบ ๆ เหมือนคนเพิ่งวางหินหนักลงจากบ่า"เจ้ายังอยู่" เธอตอบ "และคราวนี้อยู่จริง"ซือจิ่วพยายามย
last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-02
อ่านเพิ่มเติม
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status