LOGIN感情を抑え、静かに日々を送る精神科医・朝倉澪。 その診察室に現れたのは、舞台の上で生きる若き俳優・葛城陽真だった。 心の奥に誰にも見せない痛みを抱えながら、陽真は「演じること」でしか感情を表現できずにいた。 一線を越えることを恐れ続けてきた澪と、本当の自分を見てほしいと願う陽真。 触れたいのに、怖い。けれど、離れたくない。 拒絶と欲望のあいだで揺れながら、ふたりは少しずつ互いの心と身体に触れていく。 「君といると、誰でもない自分でいられる」 静かな夜を重ね、痛みを抱えたまま、それでも求め合うふたりが辿り着く場所とは――。
View More"Sampai kapanpun aku tidak akan merestui anakku menikah dengan gadis rendahan sepertimu, Marieana!"
Pekikan keras dari wanita setengah baya itu membuat Marieana Florence membeku. Di bawah meja, tangannya terkepal dengan kuat, tampak berusaha menahan diri. Namun, alih-alih menunjukkan amarah, gadis berparas cantik itu memasang raut wajah sendu. “Maafkan saya, Nyonya—” “Apa yang Mama bicarakan?!” sela David Valdemar, kekasih Marieana, sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Pria itu terlihat marah. Ia menarik tangan Marieana dan menggenggamnya dengan erat. Malam ini, David mengajaknya untuk berkenalan dengan Keluarga Valdemar, sekaligus meminta restu untuk menikah. Tetapi, Keluarga Valdemar menolak dengan keras lantaran perbedaan status sosial mereka yang berbeda jauh. “Suka atau tidak, aku tetap akan menikah dengan Marieana,” ujar David kukuh, lalu beranjak dari duduknya. “Ayo, Sayang.” "Sekali tidak, maka tetap tidak, Dav!" bantah ibunya tidak mau kalah. "Kekasihmu itu tidak sepadan dengan keluarga kita. Dia hanya akan membuat malu!” Marieana yang sejak tadi tertunduk, diam-diam memutar bola mata jengah. Ia mulai muak dengan orang-orang yang merasa sok berkuasa ini. Namun, Marieana kembali memasang ekspresi sedih ketika mendongak menatap David dan menahan tangannya. "Dav, sudahlah. Mungkin Mamamu benar, kalau kita memang tidak seharusnya bersama," ujar Marieana dengan suara bergetar. Sepasang mata birunya tampak berkaca-kaca. “Jangan melawan orang tuamu demi wanita rendahan sepertiku.” Marieana mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya, seolah ia adalah wanita paling tersakiti sedunia. David menekuk lutut, mensejajarkan tubuhnya dengan Marieana. "Tidak, Marieana. Aku akan tetap memperjuangkanmu. Hanya kau yang pantas untukku." Marieana tersenyum pilu, seolah terenyuh dengan ucapan kekasihnya. "David, jangan keras kepala!" sentak wanita paruh baya itu, semakin berang melihat anaknya yang termakan cinta buta. "Aku tidak peduli dengan penolakan Mama! Aku akan tetap menikahi Marieana!" sentak David, masih menggenggam erat pergelangan tangan Marieana. Dalam hati, Marieana benar-benar salut pada David yang bersikeras meski sudah ditentang oleh keluarganya. Pria itu … ternyata sungguh jatuh hati padanya. Marieana merasa semua ini semakin seru. Melalui sudut matanya, Marieana memperhatikan orang-orang yang hadir di ruang keluarga itu. Ia sadar sejak tadi paman dan seorang wanita cantik yang duduk di sebelah pria itu juga menatapnya dengan sorot mata dingin. Maxim Valdemar, pria tampan itu duduk tepat di seberang Marieana. Sepasang mata elangnya terus mengawasi, meski ia bersikap seolah tidak peduli dengan drama di hadapannya. Dan pria itu, adalah alasan mengapa Marieana berada di sini. "Bagaimana ini, Maxim? Aku sudah angkat tangan!" sahut ayah David sambil menyergah napas kasar. Ia menatap Maxim—adiknya yang sedari tadi hanya bergeming. Maxim menyilangkan kaki, dengan tangan bersedekap di dada. Ia menatap Marieana lebih intens. Iris hitam itu membuat Marieana menelan ludah gugup. Aura dominasi pria itu bukan main … siapapun pasti akan merasa terintimidasi. Marieana tahu dari David kalau di rumah ini, segala keputusan penting ada di tangan pamannya, Maxim Valdemar. Pria berstatus duda itu, satu-satunya penerus sah keluarga Valdemar, CEO pemilik jajaran perusahaan besar di kota Fratz, yang tersohor hingga pelosok negeri. Sedangkan ayah David hanyalah anak angkat. Sehingga meski ia lebih tua, ayahnya tidak dapat menjadi pewaris. Maxim lantas berdeham. "Biarkan mereka menikah,” katanya dengan nada datar, membuat semua orang terkesiap, tidak menduga jawaban pria itu. “Tapi, Max—” “Biarkan dia menanggung konsekuensi dengan menikahi gadis yang tidak sepadan,” lanjut Maxim. Tatapan tajamnya masih menghunus Marieana yang tertunduk. Marieana tidak merasa sakit hati atas ucapan Maxim. Ia justru mengulum senyum miring mendengar keputusan pria itu. Ruang keluarga itu terasa hening mencekam setelah Maxim angkat bicara. Tanpa menunggu respon dari kedua orang tua David, Maxim beranjak pergi, sebelum diikuti oleh Camila Bailey—saudari sepupu Maxim yang kini bergegas mengikutinya. Marieana mendongak, menatap punggung Maxim dan Camila yang perlahan menghilang di balik pintu. "Puas kau atas jawaban Pamanmu, hah?!" sinis ayah David sambil menuding wajah putranya kesal. "Sampai kapanpun, kami tidak akan pernah menerima kekasih miskinmu ini, Dav!" Kedua orang tua David langsung melenggang pergi saat itu juga. "Pa, Ma, tolonglah—" "David…." Marieana kembali menahan kekasihnya sambil menggelengkan kepala. David tampak frustrasi. Ia menggenggam kedua tangan Marieana dengan erat dan menatapnya putus asa. "Maafkan aku, Dav," ucap Marieana pelan. Ia menggenggam erat kedua telapak tangan David dan tertunduk sedih. "Karena aku, kau bertengkar dengan orang tuamu." David menghela napas kasar. Lalu mendekat dan menangkup pipi Marieana dengan lembut. “Tidak, Sayang. Ini bukan salahmu,” katanya. "Tunggu aku di sini sebentar. Aku akan membujuk Mama dan Papaku. Aku yakin mereka pasti akan memberikan restu pada kita." "Tapi, Dav—" Belum sempat Marieana menyelesaikan ucapannya, David lebih dulu mengecup bibirnya. “Aku akan segera kembali.” Setelah mengatakan itu, David keluar dari ruang keluarga, meninggalkan Marieana seorang diri. Marieana tak bisa menahan senyum melihat David berlari menaiki anak tangga mengejar orang tuanya. Gadis itu lantas meraih tas miliknya dan ikut keluar. Sepasang matanya menyusuri sekitar, mencari-cari sosok yang menjadi alasan utamanya berada di sini. "Ke mana dia?" gumamnya lirih. Marieana menuruni anak tangga teras sambil menatap ke jalan setapak di sebelah kanan rumah mewah milik Keluarga Valdemar. Samar-samar, ia mendengar suara bariton yang familiar itu tak jauh dari tempatnya berdiri. Mariena berjalan cepat menuruni anak tangga sambil merapikan rambut dan dress yang ia pakai, memastikan penampilannya sempurna. Setibanya di anak tangga teras paling bawah, Maxim muncul dengan langkah terburu-buru. Marieana dengan sengaja menabrak dada bidang pria itu. "Ah...!" Marieana memekik tertahan, hampir jatuh kalau saja Maxim tidak menahan tubuhnya dengan sigap. Sepasang mata Marieana membelalak saat menyadari jarak di antara mereka begitu dekat. Ia dapat merasakan cengkeraman Maxim pada pinggangnya. Terasa hangat sekaligus menggigilkan tulang. Pria itu tengah menatapnya dengan sorot tajam. Alisnya berkerut, membuat wajah tampannya semakin mengintimidasi. “Ma-maaf, Paman… aku tidak sengaja,” ujar Marieana sembari melepaskan diri dari dekapan Maxim. Jantungnya berdentam. Telapak tangannya basah karena keringat dingin. Meski sengaja melakukannya, Marieana tidak menduga efek yang ditimbulkannya begitu dahsyat. Namun, Maxim tidak menjawab. Ia hanya meliriknya sekilas, sebelum berjalan melewatinya begitu saja. Sikap angkuh Maxim membuat Marieana terpaku. Ia menatap punggung tegap laki-laki itu dari belakang. Marieana mengepalkan kedua tangannya erat. Salah satu sudut bibirnya terangkat, sepasang mata birunya berkilat penuh tekad. Tujuannya berada di sini bukan karena ingin menikah dengan kekasihnya … melainkan pria itu!夜の底が静かにほどけていく。行為の余韻がまだ身体に残るなか、澪と陽真は毛布をゆるくまとってベッドに並んでいた。外では雨が小降りになり、わずかに空が白みはじめている。部屋のなかには灯りをつけていなかったが、カーテン越しの青い光が、ふたりの輪郭をやさしく浮かび上がらせていた。澪は仰向けになり、静かに呼吸を繰り返していた。腕は額の上に伸ばされ、まだどこか余韻に沈んだまま、微笑んでいる。ベッドのなかは肌の熱と香りが満ちていたが、それは不快なものではなく、ただ幸福の名残としてそこに在った。陽真は横向きになって澪の顔を見つめていた。乱れた前髪の隙間から額の白さがのぞき、長い睫毛がほのかな影を落としている。澪の唇は行為のあとの安堵でわずかにゆるみ、頬にはまだうっすらと赤みが残っていた。しばらく、何も言葉は交わさなかった。互いの肌と鼓動の気配だけが、静かに重なり合っていた。毛布の下で、ふたりの足が無意識に触れ合い、温度がゆっくりと溶けていく。夜のあいだに積み重なった不安や痛みが、少しずつ遠ざかっていくようだった。澪は目を閉じ、深く息を吐いた。夜の静けさのなかで、何も考えずにいられることが、これほど穏やかなものだとは思いもしなかった。心の奥に、何か柔らかなものが沈殿していく感覚があった。陽真がそっと顔を近づけ、澪の額にやさしくキスをした。その一瞬のために、澪は再び目を開く。カーテンの向こう、窓の外がゆっくりと白みはじめているのが見えた。「これからも、こうしていられたらいいな」陽真の声は低く、震えを含んでいた。そこには切実な願いが、誤魔化しも装いもなくにじんでいた。澪は、しばらく黙っていた。けれど、ゆっくりと微笑みながら、ためらいのない声で答える。「うん」ふたりはそれ以上、言葉を交わさなかった。もう何も確かめ合う必要がない。夜が明けていくその時間のなか、ふたりのあいだには、静かな幸福だけが横たわっていた。澪は目を閉じた。まだ身体に残る熱と、指先に触れた生の感触を確かめるように、静かに息を吐いた。――もう、誰かの手を拒む必要はない。
ベッドの上、毛布の下でふたりの身体が寄り添っている。夜の雨はまだやまず、微かな水音が静寂をやわらげていた。灯りは最低限しかつけていない。互いの輪郭だけが浮かび上がり、そのほかのものはすべて影のなかに溶けていく。陽真の手がゆっくりと澪の頬を撫でた。澪は目を閉じ、その手に顔を預ける。ふたりのあいだには、もう余計な気遣いやためらいが残っていなかった。ただ、静かな安心と、やわらかな期待だけが満ちていた。「好きだよ」陽真がそっと囁いた。澪はゆっくりと目を開け、微笑む。眉の力が抜け、頬に淡い赤みが差している。これまでに見せたことのない、柔らかい表情だった。陽真はその澪の顔を、まるで初めて見るもののようにじっと見つめていた。指先が、額から髪、耳の後ろ、顎の輪郭へとたどる。澪は何も言わず、その動きに身を任せている。呼吸が少しだけ深くなり、吐息が陽真の首筋にかかった。肌と肌が触れ合う音が、静かに重なっていく。触れるたびに、澪の鼓動がひとつ、またひとつと確かに伝わってくる。陽真は演じることを、完全にやめていた。どこにも“他人の目”を意識する影はなかった。ただ自分として、澪の身体を、心を、大切に扱っている。澪は腕を伸ばし、陽真の背にそっと手をまわす。指先が肩甲骨のあたりをなぞり、背中の温もりを確かめる。その仕草にも、もうためらいはなかった。ふたりのあいだの空気は、どこまでも穏やかで、どこまでも澄んでいた。「陽真」名前を呼ぶ声は、いつもよりも低く、柔らかい響きだった。その声に呼応するように、陽真が澪の髪に顔を埋める。唇が首筋をたどり、肩先にそっと触れた。澪は静かに目を閉じ、わずかに喉を震わせて息を吐いた。陽真が囁く。「怖くないよ」澪は短く返し、陽真の手を自分の手で包む。そのあたたかさに、互いの安心が重なっていく。愛撫は丁寧で、急ぐことはなかった。指先が、胸元、腹部、そして腰へと時間をかけて降りていく。どこかに迷いが残るなら、それごと抱きしめるような優しさだった。ふたりの身体が重なり合うとき、澪の頬には、穏やかな安堵の色が差していた。触れられることで生まれる悦びも、寄り添う
深夜二時。静かな雨の音が遠くで続いていた。澪の部屋には、ごく薄い灯りがともっている。ベッドサイドのスタンドだけが、白いカーテンと天井に淡い陰影をつくり、微かな風がカーテンの裾を揺らしていた。ベッドの上で、澪は仰向けになったまま天井を見つめていた。身体は毛布に包まれているが、どこか輪郭だけが浮いているような感覚が残っている。隣では陽真が静かに寝息を立てている――はずだった。しかし、その気配にわずかな違和感を覚え、澪はそっと視線を横に向けた。陽真は、澪の方に体を向けて目を開けていた。暗がりのなか、その輪郭は曖昧だが、頬の線や額の形が月明かりに照らされてかすかに浮かんでいる。眠っていないのだと気づいた瞬間、澪は自分の心臓が一度、大きく跳ねるのを感じた。しばらく何も言わなかった。言葉が要らない沈黙のなかで、陽真がそっと手を伸ばしてくる。澪の髪を、指先でひと房だけすくい、優しく撫でる。まるで、壊れ物に触れるような繊細な動きだった。「眠れない?」声にはならなかったが、そう尋ねているような視線が澪を射抜いていた。澪は小さく頷き、そしてふたりはただ、しばらく見つめ合う。カーテンが風に揺れ、微かに肌寒さが部屋に満ちる。毛布の内側では、互いの体温が確かに伝わっていた。「…髪、伸びたな」陽真が、ほとんど呟くように言った。「そうかな」「うん。こうしてると、前よりずっと柔らかい気がする」陽真の手がもう一度、澪の髪を撫でる。暗がりのなかで、それだけが際立って実感された。澪は目を閉じ、陽真の手のぬくもりに意識を預けた。そのまま静かに、時間だけが流れる。深夜の静けさは、すべての音を吸い込み、外の世界とふたりを切り離している。やがて、陽真がもう一度、澪の顔を覗き込む。その距離がごく近いと気づいた瞬間、自然に唇が触れ合った。それは、求めるでもなく、慰めるでもない、ただお互いを確かめるような、そっとしたキスだった。長くも短くもないその接触に、澪の呼吸がほんの少し深くなる。陽真の指が、頬から首筋へと移動する。澪は微かに身体をすくめたが、すぐに肩の力が抜けていく。
朝の光はやわらかく、カーテンの隙間から滲むように部屋に入り込んでいた。夜の雨がすっかり上がり、雲の切れ間からのぞく淡い空が、ベランダの手すりをゆっくりと照らしていた。鳥の鳴き声と、遠くを走る車の音が交じり合いながら、静かに一日が始まっていく。澪はキッチンでふたつのマグカップにコーヒーを注ぎ、そのまま窓辺に立っていた陽真の背中に目をやった。肩にかかる薄いシャツが、朝の風にふわりと揺れている。髪の毛の先まで光を吸って、彼の輪郭はどこかやさしく溶けて見えた。「熱いから、気をつけて」そう言いながら、澪は陽真の隣に立って、カップを手渡した。「ありがとう」陽真が受け取る手に、触れた熱がわずかに伝わる。その感触が、やけに遠く感じられた昨夜のことを、ほんの少しだけ思い出させる。ベランダに出ると、朝の空気が頬をなでていった。澪は手すりに寄りかかり、陽真はその横に立ったまま、コーヒーの湯気を見つめていた。話すべきことはたくさんあるはずだった。けれど、この静けさが壊れるのをどちらも望まなかった。マンションの下の道路には、登校中の学生たちが小さく見える。窓を開け放った家のベランダから、布団を干す気配も聞こえた。そんな当たり前の朝が、なぜか胸にしみていく。「不思議だよな」陽真がつぶやいた。「何が?」「昨日まで、心が擦れて、うまく言葉にできなかったのに。今は、こんなふうに並んでる」澪は答えずに、湯気の向こうにぼんやりと目を向けた。カップの底に広がる黒い液体に、自分の眉間がうっすらと映っている。「澪」「ん?」「お前といると、自分を変えようって思える。でも、変わらなくてもいいって思えることもある」「矛盾してるな」「そうだな。でも、どっちも本当だよ」陽真が微笑んだ。あの頃の笑顔とは違う、飾り気のない素の表情。澪のなかに、静かに何かがほどけていくのを感じた。「お前がいてくれて、よかった」言った自分の声に、自分がいちばん驚いた。けれど、もう引き戻すことはしなかった。その言葉は、ようや
夜は深く、窓の外では風が遠くのビルの隙間を抜けていた。澪の部屋の照明はすでに落とされていて、ベッドサイドの小さなランプだけが、部屋の輪郭をぼんやりと照らしていた。薄手のカーテンがわずかに揺れ、街の明かりがその向こうに滲んでいる。陽真はベッドに横たわったまま、視線だけで天井を見つめていた。隣には澪がいる。身体の距離は数十センチと離れていないのに、その空間に言葉の届かない緊張が滲んでいた。「…最近さ」陽真がぽつりと口を開いた。「ずっと、遠慮してたんだと思う」澪はすぐには返事をしなかった。呼吸を整える
窓の外には春の雨が降っていた。重たくもなく、かといって軽やかでもない、ただ静かに街を濡らす雨だった。澪の部屋のなかは、エアコンの微かな風が巡っていて、観葉植物の葉がゆっくりと揺れていた。リビングのソファには、ふたりが並んで腰かけていた。澪の手元には、コンビニで買ってきたビールと、小皿に盛られた総菜が並んでいる。陽真は足を組み、テレビのニュース番組をぼんやりと眺めていた。「このコメンテーター、いつも噛むよな」陽真がつぶやくように言った。澪はグラスを唇に運びながら、頷いた。「たぶん緊張してるんだ。生放送、苦手なん
澪は時計に目をやった。午後九時を少し回ったところだった。診察は予定通りに終わり、残っていた書類整理もひと通り片付いた。帰宅してシャワーを浴び、ソファに腰を下ろしたとき、部屋の静けさに初めて疲労が滲んだ。目を閉じると、ふと、陽真の舞台が今日だったことを思い出す。昼に届いた短いメッセージ。「今日、がんばるよ」それきり、連絡はなかったが、それで充分だった。スマートフォンを手に取り、映像配信サイトを開く。公演の記録配信が予定通りアップされているのを確認して、再生を押す。大きな画面に切り替え、音量を少し下げた。部屋に流れ始めたのは、開演前のざわめき。観客席のざらつい
夜がゆっくりと溶けていく。カーテンの隙間からわずかに覗く街の灯りは遠く、ベッドサイドの間接照明だけが部屋の輪郭をやわらかく照らしていた。シーツはふたりの動きの名残をとどめ、掛け布団の下には、重なりあった体温が消え残っている。澪は仰向けになり、薄いシーツ越しに感じる陽真の温もりを指先でそっとなぞった。自分の手は、陽真の胸の上に軽く置かれている。その下で鼓動が規則正しく打っていた。陽真は横向きに澪を見つめていた。長いまつげが、わずかに汗ばんだ頬に影を落としている。ベッドのきしむ音も、窓の外の雨音も、今はすべて遠く感じられた。ふたりの間に会話はなかった。ただ呼吸のリズムと、まだ