合縁奇縁、そんなふたりの話(BL)

合縁奇縁、そんなふたりの話(BL)

last updateLast Updated : 2026-01-30
By:  麻木香豆Completed
Language: Japanese
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
101Chapters
2.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

40歳童貞ダメダメSEの寧人と26歳配達員の一護。二人の出会いを描いた大人向けの作品です。 鳩森 寧人(はともりよしと)40歳 引きこもりネガティブSE、童貞。 パニック持ちの頼りないやつ。 菱 一護(ひしいちご)26歳 元美容師、オーナーであり現在フードジャンゴ社長。 裏ではメンズマッサージ店を経営していた。 ロン毛バリネコ。家事全般得意、お世話好き。 古田 倫悟(ふるたりんご)30歳 寧人の年上の上司で営業マン。バツイチ。 ドSと甘えん坊の二面性を持つ。 菱 頼知(ひし らいち)23歳 一護の異母兄弟。調子に乗りやすい。 人に好かれたい、甘え上手。

View More

Chapter 1

第一話

“Bagaimana, Nak,” tanya sang ayah dengan perasaan khawatir, ketika mengetahui anak laki-lakinya yang baru datang dari sekolah tempatnya menuntut ilmu. Walaupun Hendrawan mengetahui kalo anak laki-lakinya ini terbilang anak yang pintar dan selalu menjadi bintang kelas (selalu mendapatkan peringkat 1) selama ini di sekolahnya, di SMP Negeri 1 Bunga Harapan.

“Alhamdulillah, Yah, Bu,” ucap Eguh berkaca-kaca menyampaikan kabar gembira ini pada kedua orang tuanya, setelah hari ini dirinya menerima kabar kelulusan dari sekolahnya.

Hari ini adalah bertepatan dengan pengumuman kelulusan siswa SMP/MTs sederajad. Sehingga membuat seorang siswa bernama Eguh Hendrawan Putra merasa gelisah dan resah hatinya menunggu kabar kelulusannya, terlebih lagi kedua orang tuannya yang menunggu di rumah.

Tepat jam 8.00 pagi, para wali kelas masing-masing kelas IX mengumumkan berita kelulusan pada siswa didiknya di masing-masing kelas. Dan saat mengetahui dirinya dan semua teman-temannya lulus, hati Eguh merasa senang. Sujud syukur pun Eguh lakukan di dalam kelas setelah mendengar kabar kelulusannya.

Di rumah, setelah kedua orang tua Eguh mendengar berita kelulusan dari sang anak, kedua orang tua Eguh merasa senang dan gembira mendengarnya.

***

Eguh Hendrawan Putra adalah anak laki-laki dari pasangan suami istri bernama Hendrawan dan Siti Aisyah, dirinya tinggal di sebuah pedesaan bernama Bunga Harapan. Kedua orang tua Eguh bekerja sebagai penjual mie ayam. Walaupun dirinya berasal dari kalangan keluarga sederhana, Eguh tidak merasa kecil hati dengan nasibnya yang dilahirkan sebagai anak dari keluarga sederhana ini. Bahkan dirinya memiliki mimpi untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya kelak.

***

Hari sudah beranjak malam, dibangunan rumah yang terlihat sangat sederhana yang ditumbuhi banyak pohon buah-buahan di halaman depan dan belakang rumah, terlihat sebuah keluarga bahagia sedang bercengkrama setelah makan malam di ruang keluarga sambil menonton TV.

“Oh ya, Nak. Nanti rencana kamu mau melanjutkan sekolah dimana?” tanya sang ibu mengawali percakapan.

“Eguh inginnya sih melanjutkan di SMA Negeri 1 Kota Kumbang. Itu pun kalo ayah dan ibu mengijinkan,” jawab Eguh menjelaskan keinginannya pada kedua orang tuanya.

“Baiklah, Nak. Yang penting kamu di sana sekolahnya tidak bermalas-malasan dan ingat jangan suka berkelahir,” jelas sang ibu sedikit khawatir melepas anaknya untuk sekolah di tempat yang jauh dari pantauan mereka berdua. Apalagi ketika sang anak sedang marah, maka dirinya pasti tidak mampu mengontrol emosi yang menguasai dirinya.

“Insya Allah, Bu,” ucap Eguh berjanji pada sang ibu.

Eguh yang mendapat nasehat dari sang ibu, membuat dirinya merasa bersedih dan merasa sangat bersalah sekali kepada kedua orang tuanya, karena selama di SMP dirinya sering menyusahkan kedua orang tuanya. Meskipun Eguh seorang siswa berprestasi di sekolahnya, sifat liar dirinya yang suka berkelahir sedikit banyak membuat kedua orang tuanya khawatir.

“Sudahlah dek, mas yakin anak kita ini bisa jaga diri disana nanti. Lagi pula anak kita ini kan sudah besar, biarkan dia belajar untuk mandiri. Dan lagi pula di Kota Kumbang ada paman dan bibinya yang bisa menjaganya,” jelas Hendra panjang lebar menengkan hati istrinya yang terlihat khawatir.

“Memangnya Arman tugas di Kota Kumbang ya mas?” tanya Aisyah.

“Iya dek, kalo tidak salah baru kemarin dia dipindah tugaskan di Kota Kumbang,” jelas Hendra.

Dengan sedikit memberikan pengertian pada sang istri, Hendra pun bisa meyakinkan sang istri untuk tidak khawatir melepas kepergian sang anak yang ingin melanjutkan SMA di Kota Kumbang. Hendra juga bilang pada sang istri akan mencoba untuk menghubungi sang adik iparnya nanti.

Karena malam semakin larut, Eguh pun ijin kepada kedua orang tuanya yang masih duduk santai di ruang keluarga sambil nonton TV untuk pergi tidur. Lalu sambil menahan kantuk, Eguh beranjak pergi meninggalkan kedua orang tuanya menuju ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar Eguh tidak langsung pergi tidur, ia membaringkan tubuhnya sejenak di kasur.

‘Akhirnya usai sudah tiga tahun perjalanan diriku ini dalam menuntut ilmu di bangku SMP. Memang begitu banyak kenangan yang terjalin di masa-masa SMP, seakan semua memberikan gambaran nyata tentang perjalanan diriku dalam mencari arti sebuah kehidupan yang akan terus aku jalani,’ gumam Eguh dalam hati, hingga membuat dirinya larut dalam tidurnya.

 ***

Suara adzan subuh berkumandang di langit-langit kesunyian

Mengisyaratkan sebuah tanda untuk raga ini terbangun

Terjaga dari buaian bunga tidur

Untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim

Dengan masih sedikit mengantuk, Eguh mencoba untuk bangun dari kasur dan berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di belakang rumahnya, setelah mendengar adzan subuh berkumandang merdu di telinganya. Eguh berjalan keluar kamarnya dan menuju kamar mandi dengan sambil mengucek-ngucek kedua matanya dengan menggunakan tangan kanannya.

Sesampai di kamar mandi, Eguh langsung membasuh mukanya dan dilanjutkan dengan berwudhu’. Setelah rapi dengan stelan sarung dan baju koko serta kopiah, barulah Eguh melangkah ke mushalla bersama dengan kedua orang tuanya.

Selesai menjalankan ibadah shalat subuh berjamaah dan mengaji, seperti biasa Eguh membantu kedua orang tuanya menyiapkan bahan-bahan untuk berjalan mie ayam. Tugas Eguh membantu ayahnya membuat adonan mie dan mencetaknya, sambil membantu mengiris-iris sayuran. Sedangkan sang ibu membuat kare ayam dan bumbu-bumbu pelengkap serta sambel.

“Oh ya, Nak. Nanti kamu ada acara kemana?” tanya sang ayah, sambil kedua tangannya mengaduk adonan tepung.

“Tidak ada, Yah,” jawab Eguh, sambil memotong-motong sayuran.

“Kamu bantu-bantu di warung ya, Nak. Soalnya akhir-akhir ini warung mie ayam kita pelanggannya mulai rame, kasihan ibumu kewalahan melayani pesanan pelanggan,” tanya sang ayah kembali, sambil menjelaskan panjang lebar kondisi warung mie ayam kedua orang tuanya.

“Siap bos,” jawab Eguh dengan semangatnya.

Melihat anaknya yang begitu semangat untuk membantu kedua orang tuanya berjualan, membuat hati kedua orang tuanya bangga dan senang.

Setelah semua bahan pembuatan mie ayam dimasukkan ke wadahnya masing-masing, barulah sang ibu menyiapkan hidangan untuk sarapan pagi. Sambil sang ibu menyiapkan lauk dan sayuran untuk menu sarapan pagi, Eguh membantu sang ayah mengantarkan bahan-bahan pembuat mie ayam ke kios tempat kedua orang tuanya berjualan mie ayam.

***

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
101 Chapters
第一話
 とあるオフィスで、何やら言い争うような声が響いていた。 声の主は三十代半ばの男と、その上司である。上司に対しても一切遠慮のない強い口調で、男は眉間に皺を寄せ、言葉を放つたびに目がキッと吊り上がる。その鋭い眼光は、どこか闘犬のような気迫を帯びていた。「課長、いくらなんでも営業、プレゼン未経験のやつを同伴だなんて、冗談ですよね?」「まぁ、落ち着け。言いたいことは分かるが……」 上司がなだめようとするも、男の声はさらに大きくなる。 広々としたオフィスフロア。だが、デスクの間隔は広く、人の姿もまばらだ。社員たちは皆、黙々とパソコンに向かい、キーボードを叩き続けている。騒ぎに気づいていながらも、誰も視線を向けようとはしない。 今の時代、職場での小さな衝突は、チャットツールの中で済ませるのが主流になっている。直接声を荒げるのは、珍しい光景だった。 この会社――ベクトルユー株式会社は、システム構築やネットワーク運営を主な事業とする中堅企業である。全国に支店を持ち、社員数も増え続けていた。 しかし、いまの本社はどこか閑散としている。リモートワーク制度が導入されてからというもの、オフィスに姿を見せる社員は半数以下に減った。 会議も打ち合わせもオンライン。チャットやクラウドで仕事が完結する環境は、一部の社員からは「働きやすい」と好評だったが、同時に人間関係の希薄さを生んでいた。 その静かな空間の中で、声を張り上げていたのは営業担当の古田。 社内でも一、二を争う売上成績を持つ敏腕営業マンで、鋭い観察眼と巧みな話術を武器に顧客を落としてきた。だが、その反面で気性が荒く、思ったことはすぐに口に出してしまうタイプでもある。「いや、私も不安なんだよ。ただな、先方からの要望で、なぜか鳩森にも来てほしいって言われたんだ。彼の提案を詳しく聞きたい、と」「なぜ鳩森の意見が……? まぁ、SEとしては腕は悪くないですけど、あいつ根暗で、人前だとまともに話せないですよ。ビデオ会議でも終始挙動不審ですし……」「しょうがないだろ。相手がそう言ってるんだ。君がメインで喋ればいい。鳩森はただの同伴だ、ああ……」 課長が言いかけたそのとき、ふと二人の視線が一点に向かう。 そこに立っていたのは、鳩森寧人(はともりよしと)――件の人物である。 ヨレヨレのスーツに、くしゃくしゃの髪。シャ
Read more
第二話
 これは、今から半年前――寧人に起きた出来事である。 寧人(よしと)は大学を卒業して以来、ずっとベクトルユーという中堅IT企業に勤めている。職種はSE。几帳面で真面目、与えられた仕事は黙々とこなすタイプだ。いくつかのヒットしたアプリやシステムの開発にも関わってきたが、彼の名前が表に出ることはほとんどない。なぜなら、彼は人との距離を測るのが極端に下手だった。 会議で意見を求められても口ごもる。ようやく言葉にできたころには、すでに他の誰かが同じ提案をしてしまっていて、彼の言葉は空気に溶けていく。 その結果、いつの間にか「黙って指示を待つ人」として扱われるようになった。頼まれれば断れない、どこか要領の悪い男――それが職場での寧人の立ち位置だった。 そんな彼にとって、リモートワークという働き方は救いだった。誰にも会わずに済む。無言で画面を見つめ、与えられたタスクをこなす。朝から夜まで、ほとんど椅子から動かない。 それでも一番の難関は、週に数回行われるオンラインミーティングだった。画面越しのやりとり、相手の表情の間(ま)、言葉の温度――それらがどうにも掴めない。「なんで……みんな、わかってくれないんだろう」 小さくつぶやく声が、薄暗い部屋に溶けていった。 寧人は仕事そのものは丁寧にこなす。けれど、予定外のことにはとことん弱い。応用が利かない。人に何かを伝えるのも苦手。自分でも「ダメな男だ」と思っている。 そのせいで、いつの間にか彼には単純作業ばかりが回されるようになった。だが寧人にとって、それはむしろありがたかった。余計な考えをせずに済むからだ。 結果、彼は昇進のチャンスを逃し続け、同期のSEたちは次々と上に行った。気づけば彼だけが取り残され、給料もほとんど据え置きのまま。 それでも、寧人は気にしなかった。向上心という言葉が、彼の辞書にはないのだ。 部屋の中は、仕事の進捗と反比例するように荒れていた。床には空のペットボトル、脱ぎっぱなしのシャツ、山のようなレシート。 洗濯物の山の隣には、空の弁当容器が積み上がっている。だが彼はそれを見ても何とも思わない。見慣れすぎて、風景の一部と化していた。 料理など、もちろんしない。 食事はすべて宅配。冷凍食品ですら面倒で、アプリひとつで完結させる。 その日も、作業の手を止めた寧人はスマホを取り出した。「
Read more
第三話
「誰だっ!」 寧人は腰を抜かす。それも当たり前である。一人暮らしの家に人がいるのは怖い。 そして椅子から転がり落ちたのだ。古典的な漫才みたいな大袈裟な動きである。 「フードジャンゴの配達員です」  どう見てもフードジャンゴの配達員とわかるファッションである。「見ればわかるよ! なんで勝手に部屋の中に?」  確かにそうである。いきなりはいってきたのにはなぜか理由があるのだろう。泥棒の可能性もある。寧人は少し間を取っていたりもする。近くにあった定規を剣に、ノートを盾に構える。自分よりも大きな体の相手には太刀打ちできない装備である。「いや、玄関先にって書いてあったけどお隣さんの玄関先がびしょびしょで、多分水仕事か水遊びとかでかな? ここの部屋のドアの前まで水が垂れてたから置けなくて」 説明の長さに寧人は眉をしかめる。「んで、どうやって部屋に入った」 「ドアが開いてました」 驚いた寧人は慌てて部屋の前に行くと確かに部屋の前は水が伝いびしょ濡れ。 彼は隣に幼稚園児のいる親子が住んでいることを思い出した。 そしてあっ! と思い出したのは夜中のうちにゴミを出しに行ったこと。寝ぼけながらもいって、もう一つゴミがあるからとりに戻ったまま寝てしまった。その時にドアを開けっぱなしにしていたことを。「あああ、ずっと開きっぱなし……」 寧人はうずくまる。そんな様子を見て配達員はヤレヤレとした顔。「大丈夫ですよ、すこししか開いてなかったし。気をつけてくださいね……にしても部屋汚い」「うるさい、まぁとにかくここまで持ってきてくれたお礼とドアの件。ありがとう」 と寧人は財布からスッと札を抜いて配達員に渡した。配達員は再びニコッと笑った。「早く出ろよ」「はい、僕も急いでるんで!」 配達員の持ってきた麻婆丼を開ける。ほぼこぼれてない。配達員の中には乱雑に置くものや、こぼれても何も言わずにそのままのものもいる。 だから寧人はそういう配達員にクレームを出せるシステムをつけることを提案しようとしたがようやく言えた頃には他のものが提案したものが採用された。 その提案が可決されたがその内容は、クレームがそのまま本社に伝わり、その配達員の評価にフィードバックされて注意、あるいは減給、クビにもなるというかなりシビアなものであった。「……急に入ってくるのもあれだが、や
Read more
第四話
「鳩森くん、すまんがその提案はもう別のものが採用されていて、すでにプロジェクトが進んでいる。そのサポートをお願いできるかな」 会議で上司にそう言われ、寧人はパソコンの前で小さくうなずいた。 まただ。 何度目だろう。 彼は提案を却下されることにも、もう驚かなくなっていた。 数日後、本部から届いたメールを見て、彼はふぅ、と息を吐いた。 「了解しました」とだけ返し、また机に戻る。自分の役割は“進んでいる何かの支え”。決して“新しい何かを生み出す側”ではない。 でもそれでいい、といつしか思うようになっていた。 昼を過ぎると、胃がきゅうっと鳴った。 反射的に開くのは「フードジャンゴ」のアプリ。 そこにはまた“麻婆丼”が上位に表示されていた。「また麻婆丼……」 苦笑しつつも、結局それを選ぶ。 あの日の味が忘れられなかった。濃いタレと山椒の香り、何より、あの“イチゴ”という青年の笑顔が頭にちらついた。 麻婆丼は、ご飯とおかずが一緒に食べられる。 洗い物も少なく、すぐ腹が満たせる。 “効率”がいい。 そう、彼にとって食事は“栄養摂取と仕事再開の間の作業”にすぎなかった。 ――もう四十歳が見えている。 恋人はいない。いや、これまで一度もいなかった。 もちろん、性の経験もない。 ただ、性欲がないわけではない。 日々の中で溜まったストレスを、空しい手慰みで発散することはある。けれど、それすら“義務”のように淡々と。 恋とか愛とか、そんな情動はずっと置き去りにしてきた。 オナホールの新品を開けるときでさえ、感情は動かない。 「まぁ、出せば楽になるからいいか」 それくらいの感覚。 自分でも呆れるほど乾いていた。 両親は昔、電話のたびに「そろそろ結婚は?」と言っていたが、三十五を過ぎたあたりでその言葉も聞かなくなった。 最近は年賀状すらこない。 それでも寂しさはない――はずだった。 欲しいものも、特にない。 必要なのは仕事道具とパソコン、参考書、最低限の生活費。 あとは家賃と光熱費と通信費。 浪費も外出もしないから、貯金だけは着実に増えていく。 “使い道のないお金”が通帳に積もっていくたび、自分の人生も同じように堆積しているような気がした。 そんな時だった。「一人で、寂しくないですか?」「うわっ!」 背後から声がし
Read more
第五話
あれから寧人は必死にネットで調べ、ようやく管理人に連絡を取った。だが、修理業者と立ち会った結果、ドアの修理には数日かかると言われてしまった。しかも、経年劣化が原因でも「入居者負担」とのことだった。「どうしよう……僕が壊したわけじゃないのに負担しなきゃだし、このまま壊れたまま何日もいたら……」 その瞬間、胸の奥に黒い不安が広がる。いつも通りの生活が崩れるだけで、世界の輪郭がぼやけていくようだった。 パソコンの画面を見つめても、文字が頭に入らない。息が浅くなる。視界が歪む。頭の中でノイズのように焦りが響く。「うわっ……」 次の瞬間、寧人の肩を抱きしめる腕があった。 唐突に体温を感じ、体が硬直する。驚いて目を見開いたまま動けない。「落ち着いて。大丈夫だから、ね」 低く柔らかい声。 一護の手が背中をゆっくり撫でる。呼吸を合わせるように「吸って、吐いて」と言葉を重ねられ、寧人の呼吸は次第に落ち着きを取り戻していく。 気づけば頬を伝う涙。久しく流していなかった感情の水が、堰を切ったように溢れた。 ハッと我に返り、一護から慌てて離れる。「あ、ありがとう……もう大丈夫」「よかった。こんな狭い部屋でずっと籠もってたら、そりゃ息詰まるよ」 寧人は苦笑した。「昔からこうなんだ。人前でうまく話せないし……今の会社に入れたのも奇跡みたいなもんだよ。リモートワークで、誰にも会わなくていい。それだけが救いだった」 そこへ業者が戻ってきて、応急処置のロック装置を取りつけてくれた。あくまでも一時的なものだが、それでも閉じられるドアがあるだけで安心できた。「よかったじゃん。これならとりあえず寝られるね。……ま、無理に開けようとしたらアウトだけど」「うん……助かったよ」 寧人はそう言いながら財布を取り出し、札を抜いて一護に差し出した。「今日はほんとに助けてもらった。時間も取らせたし、これ……」「いや、いいですって」「いや、受け取ってくれ。仕事抜けてまで手伝ってくれたろ」 さらに札を取り出そうとするその手を、一護が掴んで止めた。「人との関わりを、全部お金で解決しようとするのはやめなよ」「……っ」 言葉が喉の奥で詰まった。 一護の声には咎める響きはなく、ただ真っすぐで優しい。「僕がここに残ったのは、心配だったからだよ。あのままだったら、ほんとに倒れて
Read more
第六話
 寧人は財布から名刺を取り出した。とりあえず名刺は“ある”――けれど、それは大学の授業で作った簡易なもので、今の会社のロゴも入っていない。紙の質感も安っぽく、渡すのが少し恥ずかしかった。「鳩森寧人……はともり、よしと、か。なんて呼ばれてるの?」 一護が名刺を指でひらひらさせながら尋ねる。 寧人は少し困ったように笑い、指先をいじった。「あまり人と話さないし、友達もそんなにいないから……あだ名とかないよ。ふつーに“鳩森さん”とか……」「じゃあ、寧人って呼ぶから。僕のことは一護でいいよ」「よ、呼び捨てでいいのか……イチゴ……」 寧人の口から名前を呼ばれた瞬間、一護はくすりと笑った。 下の名前で呼ばれるなんて、せいぜい家族くらいだ。寧人にとってそれはとても距離の近い行為だった。 彼は小さい頃から「寧人」という名前の読みでからかわれたことが多く、それが人付き合いを避ける原因の一つにもなっていた。 一護はそんな事情を知らないまま、先ほどよりもずっと馴れ馴れしく話しかけてくる。寧人は悪い気はしないが、少し戸惑っていた。「てか、一護……くん……いや、一護。君は仕事いいのか?」「気にしないで。フードジャンゴはフリーの配達員が自分の裁量で動けるし、この辺りは子どもが休みで外に出られない主婦層が多くてね。注文も多いから、配達員も増員されてる。僕も狙い目だと思ってこの地域に来てるの」「でも……その中で、俺みたいな独身一人暮らしの家に、しかも麻婆丼一つだけ……なんか変な確率だなって」 寧人がぼそりと呟くと、一護は声を上げて笑った。「もー、またそんなこと言って! 二回も当たるなんて、むしろ奇跡だよ。これはもう運命的なご縁でしょ、寧人!」「……なんか、呼び捨てやっぱり慣れないな」「いい名前だってば。落ち着く感じで好きだよ!」 そう言いながら、一護はガシッと寧人の手を握った。 思わぬスキンシップに寧人は顔を赤くし、あたふたする。そんな反応すら面白いというように、一護は部屋をぐるりと見回した。「まずは部屋をきれいにしましょう。あ、よかったら僕、片付け手伝うよ。仕事はそのままで大丈夫。……てかその髪もヒゲも伸びっぱなしだね。ま、ロン毛の僕が言うのも変だけどさ」「べ、別に誰と会うこともないし……もうすぐ理髪店に行く予定だし」「理髪店? 僕、美容師だよ。それも
Read more
第七話
「じつはさー、恋人から家追い出されちゃってさ。好きな人ができたから出ていけって。ありえないよねー」 一護はそう言いながら、まるで自分の部屋のように手際よくゴミをまとめ、床に落ちた雑誌を拾っていく。 話の内容は重いのに、口調は妙に軽やかで、冗談を言うようなトーンだった。 寧人は机に向かいながら、パソコンの画面から目を離せずにいたが、耳はしっかりその言葉を拾っていた。「恋人……そりゃ、かっこいいからモテるよな」 寧人がぼそっと呟くと、一護は手を止めてこちらを振り返った。「そう? かっこいいかなー。ありがとう。でもさ、ひどくない? あっという間に“出ていけ”って言われてさ。僕、仕事で忙しいのに、荷物勝手にまとめられてポイだよ? お店の一室に泊めてもらってるけど……家電とか全部取られちゃった。ほんと、泣けるよねー」 笑いながら言っているが、その奥にはほんの少しの寂しさが滲んでいた。 寧人は思わず手を止めてしまう。「……ひどいやつだな。最低だよ、それは。ありえない」「でしょでしょ? まぁでも今夜は、なんとかなりそう……助かるぅー!」 一護はわざとらしく両手を合わせてお礼ポーズを取る。 その人懐っこさに、寧人は完全には信用しきれないながらも、心のどこかで“この明るさは悪意じゃない”と思っていた。 結局、寧人は「今夜だけな」と念を押して、一護を泊めることにした。 荷物はリュック一つ。貴重品と最低限の着替えだけ。 「今度、元恋人の家に乗り込んで荷物取り返してくる」なんて軽く言っていたが、きっとそれも強がりだろう。 しかし、片付けの腕前は本物だった。 床もテーブルもピカピカに磨かれ、流し台の水垢もきれいに落ちている。 短時間でここまでやるのかと、寧人はただ感心するばかりだった。「ふぅー。やりがいがあったなー」 一護が伸びをすると、シャツの裾から覗く腹筋がチラリと見えた。 寧人は慌てて視線を逸らす。「……ジュースくらいしかなくて、ごめん。なにか出前取ろうか」「んー、僕がなんか買ってくるよ」 二人の視線がふと交差する。 その瞬間、まるで示し合わせたように同時に口を開いた。「麻婆丼!」 思わず笑ってしまう。 互いに苦笑しながら、息がぴたりと合ったことに気づく。「ラジャー! では、お待ちくださいませ、お客様!」 軽快な敬礼ポーズを
Read more
第八話
「美味しい……。いつも気になってたんだよね、この麻婆丼」 一護が頬を緩めながら言う。「……そんなに人気なのか?」「うん、フードジャンゴでも上位だよ。店の人に聞いたら、最近調味料を変えたんだって。スパイスがちょっと増えたらしい」 無邪気に笑うその横顔に、寧人はつい目を逸らした。 整った顔立ちと軽やかな仕草。だがその明るさの裏に、どこか無理をしているような影を感じる。 風呂上がりのようにさっぱりした寧人は、髭も剃り、眉まで整えられていた。 鏡越しに見る自分が少しだけ他人のように見えた。「本当はね、バリカンがあればもっときれいにできたんだけど。明日持ってきて、後ろもやってあげる」「いや、いい。君の美容院に行ってやってもらう」「だーめ」「いいよ」「だーめ」 子どものように軽口を交わすうち、ふと距離が近づく。 寧人は慌てて麻婆丼をかきこみ、湯呑を持ち上げて喉に流し込んだ。 その動作に、一護が小さく笑う。 ――やっぱり、距離感がつかみにくい。 人懐っこさが天然なのか計算なのか、寧人には読めない。「あと一仕事したい。僕はソファーで寝るから、君はベッドで先に休め」「はぁい。片付けは僕がやっておくね」 一護は少し寂しげに笑い、食器をまとめた。「じゃあ、お風呂借ります」「どうぞ」 その背中を見送ったあと、寧人は深く息を吐いた。 静かになった部屋の中で、パソコンの画面を開くが、頭はうまく切り替わらない。 遠くでシャワーの音が響く。 規則的な水音が、妙に生々しく耳に残る。 寧人は無意識に、さっき一護が笑った時の横顔を思い出していた。 ――なに考えてるんだ俺は。 机の上の湯呑を持ち上げて冷めたお茶を飲み干し、もう一度深呼吸する。 シャワーの音が止まった。 すぐにドライヤーの風の音が続く。 それがまた、静かな夜の空気を乱してくる。 寧人は小さく頭を振った。 今夜は仕事を進めるつもりだったのに、何も手につかない。 まるで部屋の空気そのものが、一護の温度に塗り替えられていくようだった。 寧人は素っ気ない。腹を満たしたからか、もう仕事モード。ガソリン満タンにした車のようだ。デスクについた途端作業を始めた。が、とあることに気付いた。「そういえば……」 一護は一人麻婆丼を食べ終えて容器をゴミに捨ててからお風呂に入った。「寧
Read more
第九話
 一護のお尻が、ふと寧人の脚に触れた。 ほんの一瞬、布越しの軽い感触。けれど、その小さな接触が不思議と長く続いたように感じられて、寧人の背筋がピクリと動いた。「お、おい……」 声をかけたつもりが、思ったよりも掠れていた。「やめろ、一護……お前は男だろっ」 と言いながらも寧人は抵抗せず。一護が振り返ると彼も悶えるような顔で見つめる。「男だけどぉ、なあに?」「あああっ……」「寧人、すっごい感じちゃってるぅ」「やめろっ、やめろぉおお」 と言われて一護は寧人から降りた。「はい、やめたよ……」「もうあっち行ってくれ」 一護は行こうとしない。そして寧人を指を刺して片方の指は自分で舐めている。艶かしく。「ねぇ、どうする?」「う、うるさいっ! 知るか!」 すると一護が跪いてキスをする。「お、おいっ」 寧人の身体に沿ってキスをしていく。「あったかい……気持ちいい!」「やめろっ! まじでやめろっ」「って言う割には抵抗しない。匂い……好きな匂いっ」「ち、力が入らないっ……ああああっ」 一護は上目遣いで寧人を見る。「感じちゃってる? 可愛い……もっと気持ちよくなろうよー」「ん、んなけないっ……ああああっ!」「ブルブル震えちゃってさ……」 一護はわざと音を立ててキスをする。寧人は放心して椅子にもたれかかってる。一護の動きはとても激しい。もちろん寧人は男にやられるどころか女の人にでさえもやってもらったことのない。そして激しく悶える。 自分では味わえない快楽。温かく柔らかくてテンポの良い動き。そのその顔もエロい。「あああああああっ」 寧人は一護の頭を掴んで動かした。 一護は頷いて寧人の要望に応えた。一護は苦しい顔をするが必死に寧人の要望に応える。離れないように力強く激しく……。 自分本位に。いつも以上に興奮し、服従させたい気持ちになる。そして……「んあっ!!!」 と寧人の大きい声とともにのけぞる。「ああ……」 虚な目をしながら寧人がそう言うが、だらんとしたままうごけない。「ああ、その……」「素直な身体ね」 寧人は聞く。「てか、その……一護はゲイなのか?」「うん、そうだけど? 寧人もまさか……」 すると寧人は目を見開く。「んなわけない! このやろう。あああっ、まだ女の子とやったことないのに……男に、見知らぬ男に
Read more
第十話
 寧人の記憶は、まだ鮮やかに残っている。 あの夜、寧人は一護に何度もキスをされた。互いの体温を確かめ合うように抱きしめ、名前を呼び合い、夢中で息を重ねた。 触れられるたびに、胸の奥が熱くなり、自分の中に知らなかった感情が生まれていくのを感じた。 風呂場でも、笑い合いながらお互いの髪や背中を流した。けれど―― まだ童貞の寧人には、その先の一歩を踏み出す勇気がどうしても持てなかった。 翌朝。 カーテンの隙間から差し込む光が、シーツの上の一護を照らしていた。「……おはよ、寧人」「おはよう……」 寝起きの声は掠れていて、どこか甘い。 寝ぼけ眼の一護の表情に、寧人の心臓がどくんと跳ねた。「シャワー、浴びてくるね」 そう言って、軽く唇を寄せてくる。 不意打ちのキスに、寧人は反射的に顔を赤らめた。「ば、バカかっ……」 しかしその言葉のあとに、自然とまた唇が重なった。 昨夜よりもずっと穏やかで、やさしいキスだった。 もう、抵抗する気はなかった。「腹減ったな……」「そうね。もうお昼の時間ですもの」「……ん?」 その言葉に寧人は反射的に時計を見た。 秒針が進む音がやけに大きく聞こえる。「うわあああああああっ! お昼っ!? やべぇっ!」 慌てて飛び起き、パソコン部屋へと駆け出す。 裸のままだったことにも気づかずに。「寧人、何回か起こしたんだけど、全然起きなくて……」「うああ……! 怒られはしないけど、納期が……! 今日徹夜コースだぁぁ……!」 一護は苦笑して、脱ぎ散らかされた服の中からパンツを拾い上げた。「まずはパンツ、履こう?」「そ、そうだな……あと……」 寧人が言葉を詰まらせた瞬間、二人の声がぴたりと重なった。「「麻婆丼」」 二人の声がまた同時に重なり、思わず吹き出した。 笑いながら目を合わせる。なんでもない会話なのに、どうしてこんなに息が合うのだろう。「わかった。じゃあ、荷物を取りに行くついでに麻婆丼も持ってくるから。待ってて」「……うん」 寧人は小さくうなずき、気づけば一護の腕を引き寄せていた。 自分でも意外だった。抱きしめるなんて、こんなに自然にできるとは思わなかった。「ずっとここに住めばいい。家政夫じゃなくて――一緒にいてほしい。……でも仕事の邪魔すんなよ」 言葉の端に少し照れが滲む。 一護は
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status