LOGIN40歳童貞ダメダメSEの寧人と26歳配達員の一護。二人の出会いを描いた大人向けの作品です。 鳩森 寧人(はともりよしと)40歳 引きこもりネガティブSE、童貞。 パニック持ちの頼りないやつ。 菱 一護(ひしいちご)26歳 元美容師、オーナーであり現在フードジャンゴ社長。 裏ではメンズマッサージ店を経営していた。 ロン毛バリネコ。家事全般得意、お世話好き。 古田 倫悟(ふるたりんご)30歳 寧人の年上の上司で営業マン。バツイチ。 ドSと甘えん坊の二面性を持つ。 菱 頼知(ひし らいち)23歳 一護の異母兄弟。調子に乗りやすい。 人に好かれたい、甘え上手。
View More“Bagaimana, Nak,” tanya sang ayah dengan perasaan khawatir, ketika mengetahui anak laki-lakinya yang baru datang dari sekolah tempatnya menuntut ilmu. Walaupun Hendrawan mengetahui kalo anak laki-lakinya ini terbilang anak yang pintar dan selalu menjadi bintang kelas (selalu mendapatkan peringkat 1) selama ini di sekolahnya, di SMP Negeri 1 Bunga Harapan.
“Alhamdulillah, Yah, Bu,” ucap Eguh berkaca-kaca menyampaikan kabar gembira ini pada kedua orang tuanya, setelah hari ini dirinya menerima kabar kelulusan dari sekolahnya.
Hari ini adalah bertepatan dengan pengumuman kelulusan siswa SMP/MTs sederajad. Sehingga membuat seorang siswa bernama Eguh Hendrawan Putra merasa gelisah dan resah hatinya menunggu kabar kelulusannya, terlebih lagi kedua orang tuannya yang menunggu di rumah.
Tepat jam 8.00 pagi, para wali kelas masing-masing kelas IX mengumumkan berita kelulusan pada siswa didiknya di masing-masing kelas. Dan saat mengetahui dirinya dan semua teman-temannya lulus, hati Eguh merasa senang. Sujud syukur pun Eguh lakukan di dalam kelas setelah mendengar kabar kelulusannya.
Di rumah, setelah kedua orang tua Eguh mendengar berita kelulusan dari sang anak, kedua orang tua Eguh merasa senang dan gembira mendengarnya.
***
Eguh Hendrawan Putra adalah anak laki-laki dari pasangan suami istri bernama Hendrawan dan Siti Aisyah, dirinya tinggal di sebuah pedesaan bernama Bunga Harapan. Kedua orang tua Eguh bekerja sebagai penjual mie ayam. Walaupun dirinya berasal dari kalangan keluarga sederhana, Eguh tidak merasa kecil hati dengan nasibnya yang dilahirkan sebagai anak dari keluarga sederhana ini. Bahkan dirinya memiliki mimpi untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya kelak.
***
Hari sudah beranjak malam, dibangunan rumah yang terlihat sangat sederhana yang ditumbuhi banyak pohon buah-buahan di halaman depan dan belakang rumah, terlihat sebuah keluarga bahagia sedang bercengkrama setelah makan malam di ruang keluarga sambil menonton TV.
“Oh ya, Nak. Nanti rencana kamu mau melanjutkan sekolah dimana?” tanya sang ibu mengawali percakapan.
“Eguh inginnya sih melanjutkan di SMA Negeri 1 Kota Kumbang. Itu pun kalo ayah dan ibu mengijinkan,” jawab Eguh menjelaskan keinginannya pada kedua orang tuanya.
“Baiklah, Nak. Yang penting kamu di sana sekolahnya tidak bermalas-malasan dan ingat jangan suka berkelahir,” jelas sang ibu sedikit khawatir melepas anaknya untuk sekolah di tempat yang jauh dari pantauan mereka berdua. Apalagi ketika sang anak sedang marah, maka dirinya pasti tidak mampu mengontrol emosi yang menguasai dirinya.
“Insya Allah, Bu,” ucap Eguh berjanji pada sang ibu.
Eguh yang mendapat nasehat dari sang ibu, membuat dirinya merasa bersedih dan merasa sangat bersalah sekali kepada kedua orang tuanya, karena selama di SMP dirinya sering menyusahkan kedua orang tuanya. Meskipun Eguh seorang siswa berprestasi di sekolahnya, sifat liar dirinya yang suka berkelahir sedikit banyak membuat kedua orang tuanya khawatir.
“Sudahlah dek, mas yakin anak kita ini bisa jaga diri disana nanti. Lagi pula anak kita ini kan sudah besar, biarkan dia belajar untuk mandiri. Dan lagi pula di Kota Kumbang ada paman dan bibinya yang bisa menjaganya,” jelas Hendra panjang lebar menengkan hati istrinya yang terlihat khawatir.
“Memangnya Arman tugas di Kota Kumbang ya mas?” tanya Aisyah.
“Iya dek, kalo tidak salah baru kemarin dia dipindah tugaskan di Kota Kumbang,” jelas Hendra.
Dengan sedikit memberikan pengertian pada sang istri, Hendra pun bisa meyakinkan sang istri untuk tidak khawatir melepas kepergian sang anak yang ingin melanjutkan SMA di Kota Kumbang. Hendra juga bilang pada sang istri akan mencoba untuk menghubungi sang adik iparnya nanti.
Karena malam semakin larut, Eguh pun ijin kepada kedua orang tuanya yang masih duduk santai di ruang keluarga sambil nonton TV untuk pergi tidur. Lalu sambil menahan kantuk, Eguh beranjak pergi meninggalkan kedua orang tuanya menuju ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar Eguh tidak langsung pergi tidur, ia membaringkan tubuhnya sejenak di kasur.
‘Akhirnya usai sudah tiga tahun perjalanan diriku ini dalam menuntut ilmu di bangku SMP. Memang begitu banyak kenangan yang terjalin di masa-masa SMP, seakan semua memberikan gambaran nyata tentang perjalanan diriku dalam mencari arti sebuah kehidupan yang akan terus aku jalani,’ gumam Eguh dalam hati, hingga membuat dirinya larut dalam tidurnya.
***
Suara adzan subuh berkumandang di langit-langit kesunyian
Mengisyaratkan sebuah tanda untuk raga ini terbangun
Terjaga dari buaian bunga tidur
Untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim
Dengan masih sedikit mengantuk, Eguh mencoba untuk bangun dari kasur dan berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di belakang rumahnya, setelah mendengar adzan subuh berkumandang merdu di telinganya. Eguh berjalan keluar kamarnya dan menuju kamar mandi dengan sambil mengucek-ngucek kedua matanya dengan menggunakan tangan kanannya.
Sesampai di kamar mandi, Eguh langsung membasuh mukanya dan dilanjutkan dengan berwudhu’. Setelah rapi dengan stelan sarung dan baju koko serta kopiah, barulah Eguh melangkah ke mushalla bersama dengan kedua orang tuanya.
Selesai menjalankan ibadah shalat subuh berjamaah dan mengaji, seperti biasa Eguh membantu kedua orang tuanya menyiapkan bahan-bahan untuk berjalan mie ayam. Tugas Eguh membantu ayahnya membuat adonan mie dan mencetaknya, sambil membantu mengiris-iris sayuran. Sedangkan sang ibu membuat kare ayam dan bumbu-bumbu pelengkap serta sambel.
“Oh ya, Nak. Nanti kamu ada acara kemana?” tanya sang ayah, sambil kedua tangannya mengaduk adonan tepung.
“Tidak ada, Yah,” jawab Eguh, sambil memotong-motong sayuran.
“Kamu bantu-bantu di warung ya, Nak. Soalnya akhir-akhir ini warung mie ayam kita pelanggannya mulai rame, kasihan ibumu kewalahan melayani pesanan pelanggan,” tanya sang ayah kembali, sambil menjelaskan panjang lebar kondisi warung mie ayam kedua orang tuanya.
“Siap bos,” jawab Eguh dengan semangatnya.
Melihat anaknya yang begitu semangat untuk membantu kedua orang tuanya berjualan, membuat hati kedua orang tuanya bangga dan senang.
Setelah semua bahan pembuatan mie ayam dimasukkan ke wadahnya masing-masing, barulah sang ibu menyiapkan hidangan untuk sarapan pagi. Sambil sang ibu menyiapkan lauk dan sayuran untuk menu sarapan pagi, Eguh membantu sang ayah mengantarkan bahan-bahan pembuat mie ayam ke kios tempat kedua orang tuanya berjualan mie ayam.
***
久方ぶりの営みが、この部屋の中でよかった——。寧人は、胸元で静かな寝息を立てる愛しい一護を見下ろしながら、そう思った。指先でそっと髪をかき上げ、天井へと視線を逃がす。一緒に暮らしているからこそ、慣れや仕事の疲れに紛れて、愛し合う時間がいつの間にか簡素になっていた。そのことを、今さらのように反省する。昨夜のように、何度も、急がず、優しく、甘く、確かめ合うように抱き合ったのは本当に久しぶりだった。きっと、こういう時間が必要だったのだ。愛する人の体温。規則正しい寝息。胸に伝わる鼓動。微かに残る香り。——この旅が終わり、また二人の日常に戻ったとしても。今夜のことを、忘れずにいよう。そう心に刻みながら、寧人は再び一護を抱き寄せ、静かに目を閉じた。「おはよう、寧人! 寧人社長!!!」「はうっ――っ!? ……いでっ……お、おは……」頬に走った衝撃で、寧人は変な声を上げて目を覚ました。反射的に体を起こそうとして、全身に鈍いだるさが走る。「あ……待っ、待って……それ、今やると……」「ほら見た。だから言ったでしょ、勢いよく起きるなって」横を見ると、すでに着替え終えた一護が、呆れ半分・心配半分の顔で髪を整えながら座っていた。「……今のさ、ビンタじゃなかったよね」「うん。最初は手のひら。でも全然起きないから」「櫛?」「櫛。最終手段」ひどい。そう思いながらも、否定できないのが悔しい。どうやら一度は目を覚ましたのに、そのまま見事に二度寝したらしい。「……体、重……」「そりゃそうだよ。昨夜あれだけやっといて、しかも何回も」「ちょ、それ言わなくていい……」「事実でしょ。自覚しなよ、いい歳した社長さん」キャンピングカーじゃない、きちんとした部屋。柔らかいマットレス。静かな朝。そのせいで、昨夜の余韻が余計に体に残っている気がする。「……提供でもらったマットレスも良かったけど、ここのも相当だな……」と、だるそうに言いながらも、目だけは完全に仕事モードに入る。「メーカー違うけど、大丈夫?」「大丈夫。ちゃんと把握してます」一護は即答する。「他の部屋には、提供いただいたザノッカスのマットレス使ってるところもあるから。そこも含めて、動画で説明する」「さすが……」「感心してる場合じゃない。ほら、さっさと起きる」「……腰が……」「自業自
「まぁ、そういう関係ですよ」 さくらキャンパーの二人が帰り、キャンピングカー内での簡単なミーティング中。 ドラゴンがまるで天気の話でもするみたいに、さらっと言った。 あまりに雑な一言だったが、それだけで他の三人はだいたいを察する。 「既婚者だって分かってて付き合ってた。でもさ……陸斗さんの息子――宙社長の写真を見せてもらってさ。 かっこいいって言ったら、そこから嫉妬が始まったんだよ」 一息ついて、苦笑する。 「陸斗さんも十分イケメンだけど、亡くなった奥さんも美人でさ。 二人のいいとこ取り、って感じで宙社長はさらにイケメンで……」 「……なるほどね」 話を聞いていた一人が、間を置かずにまとめる。 「で、恋人の“息子”に目移りしたと思われて嫉妬されて、結果フラれた、と」 「違う!」 ドラゴンは即座に声を上げた。 「フラれてない! 嫉妬がひどすぎて……こっちから別れたんだ。 別れたくない、でも別れる、って……最悪な別れ方」 少しだけ視線を落とす。 「後になって分かった。あれ、向こうがわざと大喧嘩になるよう仕向けてたんだって。 俺に嫌われ役を押し付けて、綺麗に終わらせるために」 小さく、息を吐く。 「……結局さ、陸斗さんの方が一枚も二枚も上手だったってわけ。そっから美容師の仕事に力を入れようとしたところに一護と出会ったわけさ……」 ドラゴンは一護を見る。一護は知らなかった過去をフーンと聞いていた。 「まぁ過去は誰にでもある。知る、知らないは……プライベートのことだから踏み入れない方が良い」 と1人納得してるようだ。 寧人は立ち上がった。「よしよし。過去の話も全部聞けたし、俺はスッキリした! あとはゴールするだけだな!」「いや、それ完全に自分が一人で納得しただけだろ!」 三人から一斉に突っ込まれた。「でもさ、陸斗さんって当時も奥さんいなかったんでしょ? 宙社長も独身。どっちもフリーだよね。……まぁ宙社長はノンケだけど」 そう前置きしてから、寧人はずいっとドラゴンを見る。「やっぱり陸斗さんなんじゃないの? ドラちゃん」 ドラゴンは一瞬言葉に詰まり、耳まで赤くなった。「……そ、そうだけど。でもやっぱ無理だって」「不倫でもないしさ。陸斗さんだって、ドラちゃんのこと今も
「社長! すいません……」 「いえいえ、こちらこそ……お返事がないまま押しかける形になってしまって」 二人の社長が同時に頭を下げ合う光景は、端から見ればどこか可笑しい。だが寧人はその様子を横目に流し、すぐに視線を逸らした。 ――ドラゴン。 さくらキャンパーの宙社長のすぐ後ろ、少し距離を取るように立っている。 向かい合う二人の社長を見ても、胸はざわつかない。スタート時に感じた、あの妙な引っかかりもない。 (……社長じゃない? じゃあ、社員の中に気まずい相手でもいるのか) その後も、さくらキャンパーのスタッフが何度か商品を運び、メンテナンスの確認に訪れたが、場の空気は終始穏やかだった。少なくとも、表面上は。 「いやいや、寧人くん。相変わらずよく動くね。中年の星だよ」 快活に笑ったのは宙社長の父、陸斗だった。寧人より十は年上のはずだが、日に焼けた肌と張りのある体つきのせいか、年齢を感じさせない。 「そんな……まだ中年ってほどでもないですよ」 そう前置きしてから、寧人は自然な流れで続けた。 「ここまで体が持つのも、彼のマッサージのおかげなんです」 視線を向けると、ドラゴンは一瞬だけこちらを見返し――すぐに目を伏せた。笑顔はなく、表情はわずかに硬い。 「ほう……」 陸斗は興味深そうに顎を撫でる。 「スタートの時、後ろの方で隠れてるみたいだったが……君が寧人くんの体を?」 その言葉に、ドラゴンの肩がほんのわずかに強張る。 寧人はその変化を、見逃さなかった。 (ははーん、まさかのまさか……宙社長じゃなくて……陸斗さんだったのかー) と思った矢先、一護も古田も確信していたようだ。 「なるほど……年上が好きだったから僕には靡かなかったんだ、ドラちゃん」 少し一護は鼻で笑った。だが年上すぎるのでは、寧人よりも上である。 「隠れなくてもわかることだったのに……でも今は落ち着いて立派な仕事しているようで何よりだよ」 「……まぁね」 気づけば2人の世界になっていた。 宙社長も何か知ってそうである。 「……息子も社長業をして数年になるからそろそろ僕も落ち着いて来たんだよね。僕もサイクリングでもしようかな、その時は君にマッサージしてもらおうかな。久しぶりに」 「……無理しないでくださ
その頃、ドラゴンは―― 人影もまばらなサービスエリアの公園で、山並みをぼんやりと眺めていた。 風に揺れる木々を見ているうちに、思考は勝手に過去へと滑っていく。 一護と同じ記憶を辿っていたのかどうかは、本人にもわからない。 ただ、胸の奥が重くなって、息を吐くしかなかった。 そのため息が、答えの代わりだった。さてさてとキャンピングカーに戻ろうとするとクラクションが後ろから聞こえた。 ドラゴンは自分ではないと思い振り返らなかったがもう一回鳴った。 ようやく振り返ったドラゴン。 そこにあったものを見て彼は諦めたかのように、少し笑って言った。 「……しょうがないなぁ、もう……」 ※※※ キャンピングカーの中。 古田はすでに起きており、一護も編集作業をひと段落させていた。 寧人はマットの上で黙々とストレッチをしている。 あれから、もう一時間が経っていた。 「……ドラちゃん、いい加減帰ってこないかな」 ぽつりと零した一護の視線は、無意識にテーブルへ向かう。 そこには、ドラゴンのスマホが置き去りのままだった。 連絡が取れないことは、わかっている。それでも気になってしまう。 「まぁ、そのうち戻ってくるさ」 古田は軽く受け流すように言いながら、続けて寧人を見る。 「リン、今日のスケジュールは?」 「はい……えっと……あっ」 寧人の声が裏返る。 古田はスマホを覗き込み、目を見開いた。 「……しまった。寝過ぎた」 慌ててメールを開き、指を走らせる。 「寝てる間に来てたみたいだ。今、返す」 画面に表示されていたのは、さくらキャンパー広報からの連絡だった。 他の業務との兼ね合いで、依頼されていた商品の持ち込みが―― 予定より三時間、前倒しになるという内容である。 キャンピングカーの空気が、わずかに引き締まった。 「まぁ、焦ってもしょうがないよ。向こうも自分たちの都合だし、大丈夫ですよって言ってくれてるし」 そう言う一護に、古田はすぐ首を振った。 「いえ、社長。それが一番よくないです。 どれだけ関係が良好でも、信頼は積み重ねで、逆にミスも積み重なります。今回は……僕が寝てたせいですし……」 珍しく歯切れの悪い古田。 寧人はそこまで切迫感を持っていないが、その温度
「じつはさー、恋人から家追い出されちゃってさ。好きな人ができたから出ていけって。ありえないよねー」 一護はそう言いながら、まるで自分の部屋のように手際よくゴミをまとめ、床に落ちた雑誌を拾っていく。 話の内容は重いのに、口調は妙に軽やかで、冗談を言うようなトーンだった。 寧人は机に向かいながら、パソコンの画面から目を離せずにいたが、耳はしっかりその言葉を拾っていた。「恋人……そりゃ、かっこいいからモテるよな」 寧人がぼそっと呟くと、一護は手を止めてこちらを振り返った。「そう? かっこいいかなー。ありがとう。でもさ、ひどくない? あっという間に“出ていけ”って言われてさ。僕、仕事で忙
寧人は財布から名刺を取り出した。とりあえず名刺は“ある”――けれど、それは大学の授業で作った簡易なもので、今の会社のロゴも入っていない。紙の質感も安っぽく、渡すのが少し恥ずかしかった。「鳩森寧人……はともり、よしと、か。なんて呼ばれてるの?」 一護が名刺を指でひらひらさせながら尋ねる。 寧人は少し困ったように笑い、指先をいじった。「あまり人と話さないし、友達もそんなにいないから……あだ名とかないよ。ふつーに“鳩森さん”とか……」「じゃあ、寧人って呼ぶから。僕のことは一護でいいよ」「よ、呼び捨てでいいのか……イチゴ……」 寧人の口から名前を呼ばれた瞬間、一護はくすりと笑った。
あれから寧人は必死にネットで調べ、ようやく管理人に連絡を取った。だが、修理業者と立ち会った結果、ドアの修理には数日かかると言われてしまった。しかも、経年劣化が原因でも「入居者負担」とのことだった。「どうしよう……僕が壊したわけじゃないのに負担しなきゃだし、このまま壊れたまま何日もいたら……」 その瞬間、胸の奥に黒い不安が広がる。いつも通りの生活が崩れるだけで、世界の輪郭がぼやけていくようだった。 パソコンの画面を見つめても、文字が頭に入らない。息が浅くなる。視界が歪む。頭の中でノイズのように焦りが響く。「うわっ……」 次の瞬間、寧人の肩を抱きしめる腕があった。 唐突に体温を感じ、
「鳩森くん、すまんがその提案はもう別のものが採用されていて、すでにプロジェクトが進んでいる。そのサポートをお願いできるかな」 会議で上司にそう言われ、寧人はパソコンの前で小さくうなずいた。 まただ。 何度目だろう。 彼は提案を却下されることにも、もう驚かなくなっていた。 数日後、本部から届いたメールを見て、彼はふぅ、と息を吐いた。 「了解しました」とだけ返し、また机に戻る。自分の役割は“進んでいる何かの支え”。決して“新しい何かを生み出す側”ではない。 でもそれでいい、といつしか思うようになっていた。 昼を過ぎると、胃がきゅうっと鳴った。 反射的に開くのは「フードジャンゴ」