Se connecter砂漠の王宮に響く、夜ごとの語り。 「愛すれば死ぬ」という呪いを背負う孤独な王と、兄の死の影を纏った語り部――互いに満たされぬ心を抱えながらも、ふたりは夜ごと現実と寓話のあわいで心と身体を重ね合う。 果たして、過去と痛み、赦しと自己犠牲の連鎖を超えて、人は“ただ一人の自分”として誰かを愛することができるのか? 物語ることでしか近づけなかったふたりが、やがて“語り部”と“王”という役割を超え、本当の自分として対等に向き合う瞬間―― 幻想と現実、官能と再生が交錯するこの王宮で、彼らはどんな結末にたどり着くのか。 静かな絶望の先に見える、ほのかな夜明け。 心を揺さぶる再生のドラマが、いま幕を開けます。
Voir plus"Tuan saya lapar, dari tadi saya dikurung di kamar tanpa makan dan minuman. Tidakkah itu sangat keterlaluan?" Ucap Yasmin dengan wajah cemberut menyilangkan kedua tangannya didada.
Tuan Muda Arkana pewaris dari Amijaya menatap gadis berusia 22 tahun itu dengan tatapan datar.Yasmin semakin kesal, pasalnya sedari tadi pria di hadapannya telah menculiknya dan tidak mengatakan apapun, seperti… orang bisu."Tuan saya lapar," rengek Yasmin menangis memegangi perutnya.Arkana berdiri dan berkata. "Ikut saya," singkatnya melangkahkan kaki membuka pintu kamar yang tadinya dikunci dari dalam.Dengan tubuh lemas Yasmin bangkit dari duduknya. Yasmin mengikuti langkah Arkana dengan kaki telanjang tanpa alas menginjak lantai mewah yang terbuat dari marmer, sehingga pantulan dari penampilan Yasmin tampak jelas."Sebenarnya Tuan kenapa menculik saya? apa yang Tuan inginkan dari saya? Tuan kan sangat kaya raya." Cerocos Yasmin berusaha menyamakan langkah lebar Arkana.Yasmin mengepalkan satu tangannya bersiap memukul Arkana dari belakang, namun ia urungkan karena Arkana berbalik masuk ke dalam lift.Lift itu membawa Yasmin tiba di lantai utama mengantarnya langsung ke bagian dapur. Sambutan para pembantu berbaris menunduk hormat menyambut kedatangan Tuan Muda Arkana dan Yasmin yang mengekor."Silahkan Tuan," ujar salah satu pembantu menarik kursi.Yasmin ikut duduk di samping tuan muda membuat para pelayan itu penasaran padanya, dengan tatapan menelisik penuh penilaian.Yasmin tidak memperdulikan tatapan mereka, ia segera membalik piring di depannya penuh semangat tidak sabar untuk menyantap makanan lezat di hadapannya."Mulai hari ini saya tugaskan bibi Anna untuk mengurus segala keperluannya, termasuk mendidiknya menjadi perempuan dewasa yang berkelas." Ujar Arkana.Perempuan paruh baya yang di barusan sebut tuan muda, ia menganggukan kepala dengan senyuman tipis memperhatikan Yasmin dan berkata. "Baik tuan," ucapnya.Yasmin mencicipi semua makan di depannya begitu lahap, mulutnya penuh dengan makanan seperti gelandangan yang sudah lama tidak mendapatkan makan. Ia begitu rakus sampai mulutnya dipenuhi dengan saus tomat.Tiba-tiba Arkana berdiri dan berkata. "Selesai dia makan, antarkan ke kamar saya."Ukhuk ukhukYasmin tersedak makanannya, dengan sigap bibi Anna memberikan minum sambil menjawab ucapan tuan muda."Baik, tuan." Katanya.***Yasmin sangat ragu melangkahkan kaki memasuki kamar tuan muda Arkana begitu luas dan megah. Tetapi bibi Anna memaksa dan mendorongnya masuk.Kepala Yasmin celingak celinguk mencari sang pemilik kamar, ia berjalan mengendap dengan sandal rumah agar tidak mengeluarkan bunyi ketukan antara sandal dan lantai."Sepertinya Aman," katanya tidak menemukan siapapun.Tanpa izin, Yasmin merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik tuan muda. Rasa ngantuk menyerang setelah perutnya terisi penuh.Kedua matanya baru saja terpejam, tiba-tiba sebuah pergerakan ranjang mengguncang tubuhnya."Akhh tuan ngapian di atas?"Teriakan Yasmin menggelegar, keterkejutannya melihat tuan muda tiba-tiba berada diatas tubuhnya hanya menggunakan piyama terbuka yang memperlihatkan tubuh atletisnya.Yasmin mengerjapkan matanya beberapa kali, ia melihat pemandangan yang begitu indah menggoda iman sampai ia harus menelan ludahnya sendiri."Tugas kamu sekarang adalah melayani saya," kata Arkana merendahkan tubuhnya semakin merapat menyentuh Yasmin."Me– me layani? maksudnya me melayani seperti apa?" Ucap Yasmin begitu gugup.Kedua mata Yasmin membulat sempurna tatakala bibirnya di bungkam dengan cepat oleh pria yang berada di atasnya. Nafasnya terputus-putus berusaha berusaha membebaskan diri dari kurungan tuan muda Arkana.Bugh.Bugh.Bugh.Yasmin memukul pundak Arkana karena nafasnya hampir habis."Huh huh huh, tubuh tuan sangat berat. Saya tidak bisa bernafas huh huh," katanya terengah-engah mengatur nafas.Arkana tersenyum tipis, ia menyingkir dari atas tubuh gadis itu. Tetapi tangannya tidak pernah diam membelai rambut dan wajah Yasmin dengan lembut."Emmh, ini tidak benar Tuan. Tidak sepantasnya Tuan melakukan hal ini dengan saya, tolong pulangkan saya." Pinta Yasmin sambil menggeser tubuhnya menjauhi Arkana.Terdengar hembusan kasar keluar dari mulut Arkana, kemudian ia menarik tubuh mungil Yasmin memeluk dan mengurungnya dengan erat.Wajah Yasmin tepat berada di dada bidang keras Arkana, begitu juga kedua telapak tangannya yang secara langsung menyentuh kulit dan otot dada Arkana."Ini sudah sepantasnya kita lakukan sejak lama, saya memiliki hak atas dirimu." Jawab Arkana dengan tegas menangkup dagu Yasmin dengan tatapan dalam."Maksud Tuan apa? Saya tidak paham." Kata Yasmin dengan kerutan di keningnya.Tidak ada jawaban. Arkan justru melanjutkan aksinya dengan menciumi leher dan telinga gadis itu dengan kabut gairahnya."Hiks… tolong Tuan, hentikan hiks… " tangisan Yasmin pun pecah.Arkana tidak mengindahkannya, ia terus melanjutkannya sampai melepaskan baju gadis itu hingga terpangpang jelas bra merah pelindung kedua bukit kembar Yasmin."Mulai hari ini kamu adalah milik saya," tegas Arkana menatap Yasmin dibanjiri air mata.Tubuh besar Arkana tidak sebanding dengan kekuatan Yasmin yang kecil. Yasmin hanya bisa menangis menggelengkan kepala menolak semua perlakuan pria yang baru saja dikenalnya, ingin melecehkannya."Tuan hiks, salah saya apa? Jika Tuan mencari perempuan yang bisa memberikan kepuasan. Bukan saya orangnya hiks…" balas Yasmin."Kamu memang tidak bersalah, tetapi ayahmu yang bersalah. Jadi kamu sebagai tebusannya," ujar Arkana membuat Yasmin terdiam seketika.Yasmin membalas tatapan Arkana dengan serius, ia menghapus air matanya dan berkata. "Apa kesalahan papi saya?" Katanya dengan gemuruh di dada."Dia, sudah membuat kekasih saya meninggal," ujar Arkana penuh penekanan di setiap kalimatnya.Dengan cepat Yasmin menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Arkana yang menuduh papinya."Tidak, papi bukan pembunuh. Tuan pasti salah orang, tidak mungkin papi saya melakukan hal keji seperti itu." Bantah Yasmin dengan cepat.Arkana kembali membuang nafas kasar, ia semakin merapatkan tubuhnya kembali mencium Yasmin yang terus memberontak memukul dan mencakar punggungnya.Untuk pertama kalinya, tangisan Yasmin menjadi hiasan malam yang panas dalam kamar tuan muda Arkana, sampai terdengar oleh bibi Anna.Perempuan paruh baya itu dengan sengaja menunggu didepan pintu kamar tuan muda, ia mengkhawatirkan keadaan gadis yang baru di bawa tuannya."Satu hal lagi yang harus kamu tahu," ujar Arkana dengan nafas terengah-engah menatap Yasmin yang berada di bawahnya.Penampilan Yasmin sudah acak-acakan dengan wajah merah penuh air mata, ia menatap marah Arkana dengan kedua pergelangan tangan di cekal di atas kepalanya.Nafasnya yang memburu, tidak sanggup lagi memberontak."Kamu adalah istri saya, jadi sepantasnya malam ini kamu melayani saya layaknya seorang istri melayani suaminya." Ujar Arkana kembali merunduk menciumi leher Yasmin.Sejenak Yasmin terdiam. Kemudian ia merasakan sakit di leher karena gigitan Arkana menyadarkan lamunannya."Tidak, kau pembohong… aku tidak percaya sialan… Aku belum menikah dan aku tidak mau punya suami tua sepertimu," teriak Yasmin penuh membara.Bersambung…夜明け前の王宮は、息を潜めたような静けさに満ちていた。窓の外には、夜と朝の境がゆっくりと溶けあい、淡い朝靄が庭園を覆いはじめている。アミールとサリームは、寝台の上で互いの体温を確かめるように静かに寄り添っていた。言葉はなかった。必要もなかった。ふたりの間に流れる時間は、もう“語り”や物語に頼るものではなかった。ただ存在する、そのこと自体が幸福だった。サリームはアミールの髪をゆっくりと撫でる。その指先が額に、頬に、首筋に触れてゆくたび、アミールのまぶたが静かに揺れる。小さく息を吸い、吐き、肌が重なり合う。夜の余韻と新しい朝の気配が、ふたりの身体の間に薄く、柔らかな光を宿していた。「アミール」低く囁かれた名に、アミールはそっとサリームの手を握る。その手の温もりが、これまでの全てを慰めてくれる。ふたりは目を合わせ、微笑み合う。それだけで言葉より深い約束が交わされた気がした。サリームはアミールの唇にそっと口づける。触れるだけの、静かなキス。アミールは身を委ね、胸の奥に湧き上がる安堵と歓びに身を浸す。「君といると、私のなかにたくさんの光が生まれる」その声に、アミールは静かに頷いた。「私も同じです。もう、語りも物語も要りません。ただ、あなたの隣にいるだけで十分です」サリームの手が、アミールの肩から背へ、ゆっくりと滑っていく。優しく抱き寄せ、頬と頬を寄せ合う。ふたりの呼吸が、重なり合う音だけが部屋に満ちる。布がめくれ、肌と肌が触れ合う。サリームはアミールをそっと寝台に横たえ、腰に手をまわす。アミールの脚がサリームの脚に絡み、静かな官能が波のように身体を包んでいく。「もう、何も怖くない」「私も」囁き合いながら、ふたりは互いの身体の中に安らぎと確かさを探していく。サリームはゆっくりとアミールに入り、アミールは王を受け止める。どちらかが導くのではなく、ふたりでひとつの幸福を分かち合う。アミールはサリームの肩に腕をまわし、静かに快楽と安心を味わう。その吐息や小さな震えが、夜明けの光と混じり合い、部屋いっぱいに満ちていく。どちらから
夜の王宮は、深く澄んだ静寂に包まれていた。細い月が窓辺に光を落とし、王の私室には灯火がひとつだけ静かに揺れている。アミールは椅子に座り、膝の上に手を重ねてサリームを見つめていた。王冠は今夜、卓の上に外されている。その金属の曲線が、炎の影に沈んでいた。サリームはゆっくりとアミールの前に座り、少しだけ息を整えた。語り部のいない夜。今この瞬間だけは、王もただ一人の人間だった。「アミール」王の低い声が、夜の空気を震わせる。その響きは、これまで何度もアミールが語ってきた“物語”とはまるで違っていた。言葉を紡ぐのは、王自身の意志だった。「私は…いつも弱い自分を隠してきた。王であること、誰も傷つけないこと、すべての正しさを背負うこと。それが“生きる”ことだと信じてきた」静かな炎が王の横顔を照らす。そこには幼さと老いが入り混じり、これまで見たことのない陰影があった。「だが私は、失うことも、傷つくことも、恐ろしかった。ザイードの死も、アミール、おまえを愛することも…心のどこかでいつも、すべてを失うことへの恐怖ばかりを抱えていた」アミールは黙って王の声を受け止めていた。語り手としてではなく、ただ傍らにいる者として。「私は王として、命令し、守り、罰し、赦しを与えてきた。しかし本当は、誰よりも救われたかった。私自身が…自分の痛みを、誰かに伝えたかったのだと、今なら分かる」王冠の影が卓の上に長く伸びる。サリームはそれに目を落とし、指先でそっと撫でた。「私は初めて、物語を語りたいと思う。自分のために、そして君のために」サリームは顔を上げ、アミールをまっすぐに見つめる。「私の人生は、孤独と後悔と罪の繰り返しだった。だが…今こうして、君がここにいてくれることで、私は違う夜を生き直せる」言葉はときにたどたどしく、けれどまっすぐに響いた。「私は、君を愛している。これは呪いでもなく、罰でもなく、ただの私の人生の物語だ。君が私の隣にいる限り、私はこれから何度でも、自
夜の帳が静かに王宮を包み込む。宴の余韻も遠く、廊下の灯火がひとつずつ消えてゆくころ、アミールは自室に戻っていた。薄暗い部屋の奥、机の上には長いあいだ使い込んだ筆記具と、古びたインク壺が並んでいる。窓の外では、風が微かに壁を撫でていた。アミールは静かに椅子に腰を下ろす。しばし何もせず、指先でペンの軸を転がし、インク壺の蓋を開けては閉じる。その動作に、どこか名残惜しさが滲む。それは、兄の死以来ずっと自分と世界をつなぐ唯一の手段だった。語ること、記すこと、言葉にして誰かに捧げること。そのすべてが、彼自身の鎧であり、同時に檻だった。机の上には未完の物語が一枚だけ置かれている。まだ語られていない王の夜、書きかけの言葉が小さな光となって紙の上に残っていた。アミールはそれをじっと見つめ、ためらいがちに手を伸ばす。けれど、指先は紙の端に触れただけで、そっと離れた。深い沈黙が部屋を満たす。その静けさの中で、アミールは自分の呼吸だけを頼りに目を閉じる。「語らなくても、ここにいられるのだろうか」ふと、そんな問いが胸の内をかすめる。だがその問いは、不思議なほど恐ろしいものではなかった。むしろ、言葉も物語も必要としない“ただの自分”が、今この空間に確かに存在している気がした。沈黙がこんなにもあたたかく、柔らかいものなのだと、初めて知った夜だった。アミールはゆっくりとペンを箱にしまい、インク壺の蓋をしっかりと閉じる。仮面や古いノート、語り部である証の小さな品々も、一つ一つ手に取ってから、引き出しの奥にしまい込んだ。自分を語るために用いたすべての道具が、いまは静かに闇の中に沈んでいく。手放すことで、自分の中に小さな空洞が生まれる。それは喪失の痛みではなく、未知の自由の予感だった。窓を開けると、夜風がふわりと部屋に入り込む。インクの香りと夜の空気が交じり合い、胸の奥まで沁みてくる。遠く王宮の塔の上に、淡い星が瞬いていた。アミールはその光を見上げる。物語に頼らなくても、王と沈黙を分かち合い、同じ夜空を仰ぐことができる。それだけで、なぜか満たされていた。
宴の余韻が去り、王宮には深い静寂が戻っていた。広間には金色の燭台がいくつか残るのみで、人々のざわめきも、笑い声もすっかり消え失せている。石の床に残る香の残り香だけが、かすかに漂い続けていた。アミールは高窓から差し込む淡い光の下、ひとり広間に佇んでいた。壁に並ぶ絵皿や装飾の影が、静けさのなかでゆるやかに長く伸びている。宴のあいだ、彼は無意識のうちに“語り部”としての自分を探していたのだと気づいた。どこかで、誰かに語りかけることで自分の輪郭を保っていた。それが兄の名を背負って生きてきた証でもあり、王に寄り添うための役割でもあった。けれど今、アミールの胸に満ちているのは不思議な静けさだった。誰のためでもなく、誰かの代理でもない。ただ、ここに自分がいること。王宮という広大な空間の片隅で、たったひとりの自分として夜を迎えている。それだけで十分だった。静かな足音が、石の床をゆっくりと進む。宴のあとの廊下を、アミールは迷わず歩いた。王の気配は遠くにある。けれど、いつもなら後ろめたさと恐れに引き戻されていたはずのこの道も、今夜だけは特別だった。どこにも“語り”を求める声はない。ただ宮殿の光が、静かに彼の背を押してくれる。小さく吐息をつく。自分のためにここにいる。その決意が胸に宿るたび、足取りは少しずつ確かなものになっていく。「アミール」不意に、背後からサリームの声が響いた。振り返ると、王は広間の入口に静かに立っていた。宴の名残を纏いながら、どこか安堵したような顔でこちらを見ている。「どうした、こんなところで」アミールは微笑み、肩をすくめる。「静けさを感じていたかったのです。もう、誰かの物語を語らなくても、ここにいられる気がして」サリームはゆっくりと近づき、アミールの隣に並ぶ。ふたりの足音だけが、大きな空間に穏やかに響いた。「おまえがここにいるだけで、私は…安心する」王の声はいつになく素直で、心の奥底からの響きをもっていた。アミールはその言葉を静かに受け止める。役割や肩書きではなく、“今ここにいる自分”に