Masukヨレたネクタイ、寝癖まじりの髪、だらしない笑み。 岡田課長は、会社一の“やる気なさそうな人”だった。 だけど――実は、誰より仕事ができて、 笑うと一瞬だけ、息をのむほど綺麗な顔をする。 若手エースの牧野晴臣は、最初こそ呆れていたはずだった。 けれど、噛み合わない会話、すれ違う視線、 そして時折こぼれる素の優しさに、次第に心がほどかれていく。 これは、不器用なふたりが 愛し方を探しながら結び直す、大人の恋の物語。
Lihat lebih banyak"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNG玄関のドアが開く音がした。夜の空気をまとった風が、わずかにリビングへ流れ込む。「ただいま」低く掠れた声が、部屋の静けさを優しく破った。晴臣はソファから立ち上がり、振り返る。「おかえりなさい」岡田は黒いコートを脱ぎながら、ゆっくりと息を吐いた。肩に積もった粉雪が、玄関の明かりの中で小さく光る。鞄を床に置くと、ほっとしたように眉を緩めた。「寒かったですか」「めっちゃ寒い。あっち、雪ひどかったで」声に疲労の色はあったが、どこか安心した響きも混じっていた。晴臣は玄関へ歩み寄り、岡田の手からコートを受け取る。冷え切った生地が掌に触れた瞬間、身体の奥にまで冬の冷たさが入り込んでくるようだった。「お風呂、湧いてます」「おお、助かるわ。やっぱり家が一番やな」岡田は笑って靴を脱ぎ、スリッパに足を入れた。その音が、暮らしの音に戻っていく。湯気と光の混ざった浴室の扉が閉まると、晴臣はキッチンに残るコップを片付けた。お湯を出して洗う手元に、静かな水音が響く。外ではまだ雪が降っているらしく、窓の向こうは淡く白い。やがて、風呂場から水の音が止んだ。岡田が上がり、髪を拭きながら廊下を歩いてくる。パジャマに着替えた彼の顔は、湯上がりでほんのり赤い。「お前も風呂、入っとけよ」「はい。すぐ行きます」晴臣は短く答え、洗面所へ向かった。洗面台の上には、歯ブラシが二本並んでいる。白と青。柄の部分がわずかに触れ合って立っていた。鏡に映る自分の顔を見て、晴臣は小さく息を吐く。湯気で曇る鏡を手でぬぐうと、背後の扉が開く音がした。「一緒に磨こか」岡田の声。振り向くと、彼がタオルで髪を押さえながら立っていた。「課長、もう磨いたんじゃ」「まだや。お前が来るの待っとった」そう言って岡田は、洗面台の横に並んだ。ふたりの肩が
外の風が細かく鳴っていた。窓ガラスの向こうで、粉のような雪が斜めに降り、街灯の光を受けてゆっくりと舞っている。冬の夜は、音を吸い込むように静かだった。晴臣は、ソファの端に腰を下ろしていた。テレビはつけていない。時計の針の音が、部屋の奥から一定の間隔で響いている。テーブルの上には、岡田のマグカップがひとつ置かれていた。白地に、青い線が一本入っただけのシンプルなカップ。岡田がコンビニの景品でもらってきたものだ。昼間、岡田は出張に出た。「明日の夜には帰る」と言って、鞄を肩にかけて出ていった。駅まで送ろうとしたが、「ええよ、寒いし」と断られた。その言葉に頷きながらも、晴臣の中にはわずかな空洞が残った。午後までは平気だった。洗濯をして、掃除をして、スーパーで食材を買い足した。いつもと同じことをしているはずなのに、部屋の空気がどこか違っていた。いつもなら、洗濯機が止まる頃に岡田の声がする。「干しとくでー」と言いながら、勝手にベランダに出ていく音。そんな音が、今日はない。晴臣はハンガーに白いシャツをかけながら、無意識にその音を探していた。空気が動かない。風も、声も、温度も。ただ、シャツの布が指に擦れる音だけが、静寂の中に滲んでいく。ベランダに出ると、外の空気は鋭く冷たかった。干した洗濯物の隙間から見える夜空には、灰色の雲が漂っている。雪は降っているのか止んでいるのか、わからないほど静かだ。遠くで電車の通る音がかすかに響き、やがて消える。「……寒いな」誰に言うでもなく呟く。その声が自分の耳に届くまでの間に、やけに時間がかかったように思えた。部屋に戻り、湯を沸かす。ケトルの中で泡が立ち始める音が、やけに大きく感じる。湯気が立ちのぼり、鼻先をかすめる。いつもなら、この湯で岡田のコーヒーを淹れる。カップを二つ出して、ひとつはミルクを少し多めにして。けれど
箸の先から、湯気が細くのぼっていた。照明の光を受けて、まるで空気の中に線を描くように揺れる。白い湯気と、醤油の香り、煮物の温かい匂いが部屋の中に満ちていた。岡田は、テーブルの端に肘をつきながら、ゆっくりとご飯を噛んでいた。晴臣は向かい側で、味噌汁をすくいながら静かに箸を動かす。テレビは消してあった。小さな時計の秒針の音だけが、部屋の奥で一定のリズムを刻んでいる。どちらも、あまり多くを話さない夕食だった。だが、それは気まずさではなく、心地の良い沈黙だった。二人の間に漂う空気は、やわらかく、温度を持っていた。「今日のこれ、出汁変えたやろ」岡田が箸を止め、煮物の皿を見下ろした。晴臣は少し顔を上げる。「はい。昆布の量を少し減らして、代わりに鰹を多めにしました」「やっぱりな。いつもより香りが軽い思たわ」岡田の声は、湯気と一緒に緩やかに溶けていく。彼は茶碗を手に取り、ゆっくりと白米を口に運んだ。ご飯の粒が箸に残り、それを親指で落とす動作が妙に丁寧だった。「課長」「ん?」「このあと、風呂、先にどうぞ」「ええわ。お前先に入れ」「じゃあ、あとで」短いやりとりのあと、再び静けさが戻る。聞こえるのは、箸が皿に触れる小さな音だけ。冬の夜の静かな空気が、窓の外から流れ込んでくる。晴臣は箸を置き、水を口に含んだ。グラスの表面についた水滴が、指先にひやりと伝わる。その冷たさが、なぜか心地よかった。岡田がゆっくりと、背もたれに体を預ける。その動作とともに、空気が少しだけ動いた。ふと、彼の目が晴臣の手元を見ているのに気づく。「……お前と暮らして、俺、変わったな思うわ」その言葉は、食卓の上にぽとりと落ちた。晴臣は思わず箸を止め、顔を上げた。「え?」岡田はすぐに続けなかった。
外はもう暗く、窓の外を流れる車のヘッドライトが、壁に淡い光の帯を描いていた。電子レンジの静かな唸りが止まり、部屋に沈黙が戻る。晴臣は菜箸を持ったまま、時計を見上げた。秒針の音がひときわ大きく響く。七時半を過ぎていた。岡田からのメッセージは、さっき届いた一行だけだった。「あと30分で帰る」その文字を何度も見返しても、やはりそれ以上の言葉はなかった。たった一行。それだけで十分だと、頭ではわかっている。だが、心の奥ではなにか小さな波紋が広がっていた。テーブルには夕食の準備が整っている。煮魚、味噌汁、ほうれん草のお浸し、そして小鉢の冷奴。湯気がゆっくり立ち上り、照明の光に混ざって揺れている。料理は温かいのに、部屋の空気はどこか冷えていた。晴臣は箸を置き、椅子に腰を下ろす。テレビはつけていない。時計の音と、外の遠い車の走行音だけが響く。いつの間にか、こうして“待つ”時間に慣れていた。高校時代も、大学の頃も、誰かを待つのが苦手だった。待っている間に心がざわつく。「遅い」という苛立ちと、「来ないかもしれない」という不安が同じ形で押し寄せてくる。けれど今は、待つという行為がどこか穏やかなものに変わっていた。岡田は必ず帰ってくる。遅くなっても、疲れていても、ちゃんとこの部屋に戻ってくる。その確信があるからこそ、時計を見つめながら過ごす時間も、どこか柔らかい。しかし、その柔らかさの裏側で、言葉にならない小さな痛みが動いていた。食卓に並んだ二人分の茶碗。湯気が少しずつ薄くなっていくのを見ていると、誰かの分を待ち続けることの“静かな寂しさ”が胸の奥で鳴った。レンジをもう一度使うか迷いながら、晴臣は箸をそっと持ち上げた。少し冷めた味噌汁の表面に、光が淡く反射する。一口だけ飲み、舌の上に残る塩気と出汁の味を感じながら、ため息をひとつ落とした。玄関の鍵が回る音が
冬の朝の空気は、まるで透明な膜のように張りつめていた。吐く息が白く曇り、頬にあたる風は細い針のように冷たい。駅のホームに立つ人々の肩が、同じ方向に少しずつ傾いている。どこかのビルの屋上から、鳩が数羽、低く円を描いて飛んだ。晴臣は手袋を外し、スマートフォンの画面で時間を確認した。八時十二分。いつもと変わらない時間。変わらない電車。変わらない通勤。けれど、彼の中では、ほんの少しだけ何かが違っていた。電車が到着し、ドアが開く。暖かい空気が流れ込み、車内の人いきれと混ざり合う。晴臣は鞄を持ち直し、奥のほうに進んだ。吊り革をつかみ
カーテンの隙間から差し込む冬の光が、白い壁を静かに照らしていた。目覚ましが鳴る前に、晴臣はゆっくりと目を開けた。外の空気は張りつめていて、窓の外には細い雲が流れている。部屋の奥で寝息を立てる岡田の気配が、微かに聞こえた。一定のリズムを刻むその呼吸が、冬の朝の静寂にとけ込んでいる。布団から抜け出すと、床の冷たさが足の裏に伝わる。キッチンのスイッチを入れ、湯を沸かす。コンロの青い火が揺れ、その前で晴臣は背筋を伸ばした。窓際に置かれた観葉植物の葉に、淡い光が反射する。外では誰かの掃き掃除の音が遠くに響いていた。ケトルの中で湯が鳴り始めると、コーヒーの
夜の帳が落ちる頃、晴臣はようやく帰宅した。靴を脱ぐ音だけが、無人の玄関に控えめに響く。リビングの照明は落とされ、間接照明のやわらかな光が壁の一部だけをほのかに照らしていた。テレビもついていない。岡田の気配はあるのに、その姿は見えなかった。キッチンカウンターに置かれた、ラップのかかった皿。料理は温め直された形跡もなく、盛り付けられたまま、冷めている。味噌汁の鍋にはまだ湯気が残っていた。作られた時間は、そう遠くないのかもしれない。晴臣はそのまま、自分の部屋に向かった。岡田の顔を探すようなこともせず、ましてや「ただいま」と口にすることもなかった。
雨も降っていないのに、靴の裏が濡れていた。岡田が玄関のドアを開けたとき、廊下にかすかに残る湿気の気配に、ほんの少しだけ足を止めた。傘立てには傘がなく、靴箱の上にあるキーケースの位置も朝と変わっていなかった。その小さな確認に、まだ帰ってきていないんやな、とつぶやかずともわかってしまう。靴を脱いでリビングに足を踏み入れると、昼間閉めたままのカーテンが外光をさえぎり、部屋全体が青く沈んでいた。冷蔵庫の音と、自分の足音だけが耳に届く。テレビもエアコンも、何一つついていない空間に、岡田は深く息をついた。ダイニングのテーブルには、朝