Mag-log inヨレたネクタイ、寝癖まじりの髪、だらしない笑み。 岡田課長は、会社一の“やる気なさそうな人”だった。 だけど――実は、誰より仕事ができて、 笑うと一瞬だけ、息をのむほど綺麗な顔をする。 若手エースの牧野晴臣は、最初こそ呆れていたはずだった。 けれど、噛み合わない会話、すれ違う視線、 そして時折こぼれる素の優しさに、次第に心がほどかれていく。 これは、不器用なふたりが 愛し方を探しながら結び直す、大人の恋の物語。
view moreHari itu seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan—ulang tahun pertama Elio. Namun alih-alih balon, kue dan lilin, yang hadir adalah tangis dan bunga duka. Nadine berdiri kaku di depan nisan mungil yang baru saja ditancapkan ke tanah basah. Dalam genggaman tangannya ada sebuah boneka beruang kecil milik putranya, satu-satunya peninggalan yang masih menyimpan aroma bayi Elio.
“Elio bisa diselamatkan kalau dapat donor sumsum, 'kan?” bisik salah satu tamu pemakaman. “Benar. Sebenarnya ayahnya, Arvan, satu-satunya yang cocok. Tapi katanya mereka sudah pisah ranjang sejak Nadine hamil. Arvan bahkan menolak jadi donor.” “Ya Tuhan! Jadi anak itu mati karena ayahnya sendiri menolak menyelamatkannya?” Kata-kata itu mengiris hati Nadine. Ia menggigit bibir untuk menahan isak. Mereka tak paham kebenaran di baliknya. Mereka tak tahu betapa ia sudah memohon, mengemis, bahkan mencium kaki pria yang dulu pernah ia cintai itu. “Aku tak mau urusan dengan anak itu,” ucap Arvan dulu. “Bayi itu adalah hasil dari malam sial, dan aku tidak akan mempertaruhkan hidupku untuknya.” Kini, jadi kenyataan pahit, Elio pergi. Bukan karena penyakit yang tak bisa disembuhkan, tetapi karena kebencian seorang ayah yang terlalu dalam. Satu-satunya keluarga yang tersisa kini hanya tinggal luka. Saat para pelayat telah meninggalkan pemakaman, Nadine duduk sendiri di tepi nisan. Suara notifikasi dari ponselnya memecah kesunyian. Ada sebuah pesan video dari nomor tak dikenal. Jari Nadine gemetar menekan tombol putar. Dalam rekaman itu, Arvan terlihat sedang bercinta dengan seorang wanita—Raline--sepupu Nadine. Di tengah tawa dan desahan, suara mereka terdengar begitu jelas. “Aku lebih baik denganmu, Raline. Nadine membosankan.” “Lupakan dia, Arvan! Aku yang kau butuhkan,” bisik Raline seraya mencium leher pria itu. Napas Nadine tercekat. Dadanya sesak bukan hanya karena kemarahan, tetapi juga karena pengkhianatan yang kini terasa begitu nyata. Saat anaknya meregang nyawa, dua orang terdekatnya justru bersenang-senang dalam kubangan dosa. Belum sempat ia menyeka air mata, pesan teks lain masuk. [Kau terlihat cantik dalam balutan duka. Lihatlah ke belakangmu, Nadine.] Dengan hati-hati, ia menoleh. Raline berdiri tak jauh dari tempatnya, mengenakan gaun hitam dengan senyum licik terpulas di wajah. “Apa lagi maumu?” tanya Nadine dengan suara rendah. Raline berjalan pelan, menyentuh nisan Elio seolah benar-benar berduka. “Hanya ingin melihat keponakanku terakhir kali. Sayang sekali, dia tak sempat mengenalku lebih lama.” “Kau sudah merampas suamiku, kebahagiaanku, dan kini putraku mati. Kau masih belum puas juga?” Raline menatapnya penuh kemenangan. “Aku belum puas… karena kamu masih hidup.” Napas Nadine tercekat. Seketika, tubuhnya didorong keras ke arah belakang. Ia terguling menuruni tangga pemakaman. Dunia berputar. Benturan keras di kepalanya membuat dunia perlahan menggelap. Namun samar, di antara jeritan pura-pura Raline yang memanggil pertolongan, Nadine melihat senyum Elio—di ujung pandangan, seolah menantinya. “Mama akan segera datang…” bisik Nadine, sebelum kesadarannya sirna. --- “Dokter! Pasien di kamar 187 sadar!” Seruan itu mengoyak keheningan, menarik Nadine dari tidur panjangnya yang terasa seperti seabad. Kelopak matanya terasa berat, cahaya menyilaukan menusuk retinanya begitu ia mencoba membuka mata. Suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat. “Cepat hubungi keluarganya. Nona Nadine sudah sadar,” ujar sang perawat. Nadine hanya mampu menggerakkan bola matanya, mengamati langit-langit putih yang asing. Beberapa menit kemudian, pintu bangsal terbuka. Nadine berharap melihat wajah yang ia kenal—mungkin mama, atau… siapa pun yang mencintainya. Tapi bukan. Yang masuk adalah bibinya, Hestia, bersama suaminya, Danu. “Nadine… syukurlah…” Hestia langsung memeluknya. Namun, setelah pelukan itu, suara bibinya berubah menjadi sesenggukan. “Kenapa kamu mencoba mengakhiri hidupmu, Sayang?” Nadine mengerutkan kening. Mencoba bunuh diri? Tidak. Dia tidak mencoba… dia tidak melompat sendiri. Raline yang mendorongnya. Tapi suaranya tak keluar. Tenggorokannya kering, dan lidahnya terasa lumpuh. Dia mencoba bersuara, namun yang keluar hanya desah parau. “Kenapa suaranya serak seperti itu?” Danu menatap dokter yang baru saja masuk. Dengan ekspresi serius, dokter mempersilakan mereka keluar ruangan. Nadine hanya bisa melihat bayangan mereka dari balik kaca jendela. Lalu tangis Hestia meledak. “Kau bilang dia kehilangan bayinya… suaminya menceraikannya saat dia masih koma… dan sekarang dia alami trauma?!” Apa? Nadine membeku. Bisakah suaramu pulih? Tangannya menggigil, meraih selimut, berusaha bangkit. Tapi tubuhnya terlalu lemah. Dia jatuh dari ranjang. Infus tercabut, darah mengalir. Semua panik, termasuk dokter dan perawat yang berlari masuk. Setelah ditenangkan dan dikembalikan ke ranjang, Nadine hanya bisa menatap langit-langit kosong. Sampai akhirnya, Hestia menyerahkan sebuah kotak kecil. “Ini satu-satunya yang Tante bisa selamatkan dari rumah…” ucapnya lirih. Di dalamnya ada pakaian mungil berwarna biru—kaus milik bayi Nadine, Elio. Aroma sabun bayi masih tertinggal. Nadine mencium kain itu, menahan isak yang mendesak dari tenggorokan bisunya. Dengan tangan lemah, Nadine menulis di kertas. Cerai? Hestia mengangguk, matanya merah. “Arvan menceraikanmu tak lama setelah kamu koma. Dia juga meninggalkan semua utang atas namamu. Rumah, mobil, aset—semua atas nama perusahaan. Kau… tak punya apa-apa lagi.” Nadine memejamkan mata. Luka itu dalam. Terlalu dalam. Tapi Hestia belum selesai. “Ada satu lagi…” bisik Hestia. “Orang tuamu… mereka mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari pemakaman Elio. Mereka… tidak selamat, Nadine.” Tubuh Nadine menggigil. Tangisnya meledak tanpa suara. Seakan dunia benar-benar menghapus keberadaannya satu demi satu—anaknya, suaminya, suaranya, orang tuanya. --- Beberapa Hari Kemudian Nadine tidak pernah benar-benar pulih. Ia menjalani fisioterapi, makan dengan dipaksa, hidup dengan tubuh yang bergerak tanpa jiwa. Suatu malam, ia menunggu hingga malam berganti dini hari. Ia tahu jadwal petugas. Ia tahu rooftop rumah sakit akan terbuka selama lima belas menit untuk inspeksi udara. Angin dingin menyambutnya saat ia berdiri di tepi pembatas. Rambutnya beterbangan, gaun rumah sakitnya tipis melambai. Tangannya terbuka, seakan menyambut Elio di langit. “Elio … mama akan pulang.” Namun tepat ketika tubuhnya hendak melompat, sebuah tangan kuat menariknya ke belakang. Nadine terhuyung dan jatuh ke pelukan seseorang. “Gila,” gumam suara berat seorang pria. “Kalau mau mati, cari tempat lain. Jangan di sini. Aku tidak punya waktu menjelaskan pada polisi kenapa wanita setengah hidup ada di tanganku.” Nadine terbelalak. Pria itu berdiri dengan kemeja lusuh, mata cokelatnya tajam, penuh luka, namun tak ada sedikit pun iba dalam sorotnya. “Apa hidupmu semenyedihkan itu?” tanyanya. Nadine tak bisa menjawab. Hanya air mata yang mengalir dan kepala yang tertunduk. “Baiklah,” ucap pria itu sambil membalik badan. “Kalau kamu masih ingin mati besok malam, aku akan menunggumu. Tapi untuk malam ini, ikut aku. Kita belum selesai membicarakan tentang hidup.”玄関のドアが開く音がした。夜の空気をまとった風が、わずかにリビングへ流れ込む。「ただいま」低く掠れた声が、部屋の静けさを優しく破った。晴臣はソファから立ち上がり、振り返る。「おかえりなさい」岡田は黒いコートを脱ぎながら、ゆっくりと息を吐いた。肩に積もった粉雪が、玄関の明かりの中で小さく光る。鞄を床に置くと、ほっとしたように眉を緩めた。「寒かったですか」「めっちゃ寒い。あっち、雪ひどかったで」声に疲労の色はあったが、どこか安心した響きも混じっていた。晴臣は玄関へ歩み寄り、岡田の手からコートを受け取る。冷え切った生地が掌に触れた瞬間、身体の奥にまで冬の冷たさが入り込んでくるようだった。「お風呂、湧いてます」「おお、助かるわ。やっぱり家が一番やな」岡田は笑って靴を脱ぎ、スリッパに足を入れた。その音が、暮らしの音に戻っていく。湯気と光の混ざった浴室の扉が閉まると、晴臣はキッチンに残るコップを片付けた。お湯を出して洗う手元に、静かな水音が響く。外ではまだ雪が降っているらしく、窓の向こうは淡く白い。やがて、風呂場から水の音が止んだ。岡田が上がり、髪を拭きながら廊下を歩いてくる。パジャマに着替えた彼の顔は、湯上がりでほんのり赤い。「お前も風呂、入っとけよ」「はい。すぐ行きます」晴臣は短く答え、洗面所へ向かった。洗面台の上には、歯ブラシが二本並んでいる。白と青。柄の部分がわずかに触れ合って立っていた。鏡に映る自分の顔を見て、晴臣は小さく息を吐く。湯気で曇る鏡を手でぬぐうと、背後の扉が開く音がした。「一緒に磨こか」岡田の声。振り向くと、彼がタオルで髪を押さえながら立っていた。「課長、もう磨いたんじゃ」「まだや。お前が来るの待っとった」そう言って岡田は、洗面台の横に並んだ。ふたりの肩が
外の風が細かく鳴っていた。窓ガラスの向こうで、粉のような雪が斜めに降り、街灯の光を受けてゆっくりと舞っている。冬の夜は、音を吸い込むように静かだった。晴臣は、ソファの端に腰を下ろしていた。テレビはつけていない。時計の針の音が、部屋の奥から一定の間隔で響いている。テーブルの上には、岡田のマグカップがひとつ置かれていた。白地に、青い線が一本入っただけのシンプルなカップ。岡田がコンビニの景品でもらってきたものだ。昼間、岡田は出張に出た。「明日の夜には帰る」と言って、鞄を肩にかけて出ていった。駅まで送ろうとしたが、「ええよ、寒いし」と断られた。その言葉に頷きながらも、晴臣の中にはわずかな空洞が残った。午後までは平気だった。洗濯をして、掃除をして、スーパーで食材を買い足した。いつもと同じことをしているはずなのに、部屋の空気がどこか違っていた。いつもなら、洗濯機が止まる頃に岡田の声がする。「干しとくでー」と言いながら、勝手にベランダに出ていく音。そんな音が、今日はない。晴臣はハンガーに白いシャツをかけながら、無意識にその音を探していた。空気が動かない。風も、声も、温度も。ただ、シャツの布が指に擦れる音だけが、静寂の中に滲んでいく。ベランダに出ると、外の空気は鋭く冷たかった。干した洗濯物の隙間から見える夜空には、灰色の雲が漂っている。雪は降っているのか止んでいるのか、わからないほど静かだ。遠くで電車の通る音がかすかに響き、やがて消える。「……寒いな」誰に言うでもなく呟く。その声が自分の耳に届くまでの間に、やけに時間がかかったように思えた。部屋に戻り、湯を沸かす。ケトルの中で泡が立ち始める音が、やけに大きく感じる。湯気が立ちのぼり、鼻先をかすめる。いつもなら、この湯で岡田のコーヒーを淹れる。カップを二つ出して、ひとつはミルクを少し多めにして。けれど
箸の先から、湯気が細くのぼっていた。照明の光を受けて、まるで空気の中に線を描くように揺れる。白い湯気と、醤油の香り、煮物の温かい匂いが部屋の中に満ちていた。岡田は、テーブルの端に肘をつきながら、ゆっくりとご飯を噛んでいた。晴臣は向かい側で、味噌汁をすくいながら静かに箸を動かす。テレビは消してあった。小さな時計の秒針の音だけが、部屋の奥で一定のリズムを刻んでいる。どちらも、あまり多くを話さない夕食だった。だが、それは気まずさではなく、心地の良い沈黙だった。二人の間に漂う空気は、やわらかく、温度を持っていた。「今日のこれ、出汁変えたやろ」岡田が箸を止め、煮物の皿を見下ろした。晴臣は少し顔を上げる。「はい。昆布の量を少し減らして、代わりに鰹を多めにしました」「やっぱりな。いつもより香りが軽い思たわ」岡田の声は、湯気と一緒に緩やかに溶けていく。彼は茶碗を手に取り、ゆっくりと白米を口に運んだ。ご飯の粒が箸に残り、それを親指で落とす動作が妙に丁寧だった。「課長」「ん?」「このあと、風呂、先にどうぞ」「ええわ。お前先に入れ」「じゃあ、あとで」短いやりとりのあと、再び静けさが戻る。聞こえるのは、箸が皿に触れる小さな音だけ。冬の夜の静かな空気が、窓の外から流れ込んでくる。晴臣は箸を置き、水を口に含んだ。グラスの表面についた水滴が、指先にひやりと伝わる。その冷たさが、なぜか心地よかった。岡田がゆっくりと、背もたれに体を預ける。その動作とともに、空気が少しだけ動いた。ふと、彼の目が晴臣の手元を見ているのに気づく。「……お前と暮らして、俺、変わったな思うわ」その言葉は、食卓の上にぽとりと落ちた。晴臣は思わず箸を止め、顔を上げた。「え?」岡田はすぐに続けなかった。
外はもう暗く、窓の外を流れる車のヘッドライトが、壁に淡い光の帯を描いていた。電子レンジの静かな唸りが止まり、部屋に沈黙が戻る。晴臣は菜箸を持ったまま、時計を見上げた。秒針の音がひときわ大きく響く。七時半を過ぎていた。岡田からのメッセージは、さっき届いた一行だけだった。「あと30分で帰る」その文字を何度も見返しても、やはりそれ以上の言葉はなかった。たった一行。それだけで十分だと、頭ではわかっている。だが、心の奥ではなにか小さな波紋が広がっていた。テーブルには夕食の準備が整っている。煮魚、味噌汁、ほうれん草のお浸し、そして小鉢の冷奴。湯気がゆっくり立ち上り、照明の光に混ざって揺れている。料理は温かいのに、部屋の空気はどこか冷えていた。晴臣は箸を置き、椅子に腰を下ろす。テレビはつけていない。時計の音と、外の遠い車の走行音だけが響く。いつの間にか、こうして“待つ”時間に慣れていた。高校時代も、大学の頃も、誰かを待つのが苦手だった。待っている間に心がざわつく。「遅い」という苛立ちと、「来ないかもしれない」という不安が同じ形で押し寄せてくる。けれど今は、待つという行為がどこか穏やかなものに変わっていた。岡田は必ず帰ってくる。遅くなっても、疲れていても、ちゃんとこの部屋に戻ってくる。その確信があるからこそ、時計を見つめながら過ごす時間も、どこか柔らかい。しかし、その柔らかさの裏側で、言葉にならない小さな痛みが動いていた。食卓に並んだ二人分の茶碗。湯気が少しずつ薄くなっていくのを見ていると、誰かの分を待ち続けることの“静かな寂しさ”が胸の奥で鳴った。レンジをもう一度使うか迷いながら、晴臣は箸をそっと持ち上げた。少し冷めた味噌汁の表面に、光が淡く反射する。一口だけ飲み、舌の上に残る塩気と出汁の味を感じながら、ため息をひとつ落とした。玄関の鍵が回る音が
冬の朝の空気は、まるで透明な膜のように張りつめていた。吐く息が白く曇り、頬にあたる風は細い針のように冷たい。駅のホームに立つ人々の肩が、同じ方向に少しずつ傾いている。どこかのビルの屋上から、鳩が数羽、低く円を描いて飛んだ。晴臣は手袋を外し、スマートフォンの画面で時間を確認した。八時十二分。いつもと変わらない時間。変わらない電車。変わらない通勤。けれど、彼の中では、ほんの少しだけ何かが違っていた。電車が到着し、ドアが開く。暖かい空気が流れ込み、車内の人いきれと混ざり合う。晴臣は鞄を持ち直し、奥のほうに進んだ。吊り革をつかみ
カーテンの隙間から差し込む冬の光が、白い壁を静かに照らしていた。目覚ましが鳴る前に、晴臣はゆっくりと目を開けた。外の空気は張りつめていて、窓の外には細い雲が流れている。部屋の奥で寝息を立てる岡田の気配が、微かに聞こえた。一定のリズムを刻むその呼吸が、冬の朝の静寂にとけ込んでいる。布団から抜け出すと、床の冷たさが足の裏に伝わる。キッチンのスイッチを入れ、湯を沸かす。コンロの青い火が揺れ、その前で晴臣は背筋を伸ばした。窓際に置かれた観葉植物の葉に、淡い光が反射する。外では誰かの掃き掃除の音が遠くに響いていた。ケトルの中で湯が鳴り始めると、コーヒーの
帰り道、晴臣はコンビニのビニール袋を右手にぶら下げたまま、ふと足を止めた。夜風が首筋を撫でていく。空は高く、黒に近い|群青《ぐんじょう》。街灯に照らされた歩道の先に、小さな花屋の明かりが残っているのが目に入った。「まだ、やってたんだな」自分でも気づかぬ声が、吐息にまぎれてこぼれる。時計を見れば、二十三時をまわっていた。通常の営業時間はとっくに終わっているはずだが、シャッターの隙間から中の灯りが漏れている。店の奥で片づけをしていた店主が、こちらに気づいて目礼した。晴臣はビニール袋を持ち直して、迷うように一歩を踏み出した。
夜の帳が落ちる頃、晴臣はようやく帰宅した。靴を脱ぐ音だけが、無人の玄関に控えめに響く。リビングの照明は落とされ、間接照明のやわらかな光が壁の一部だけをほのかに照らしていた。テレビもついていない。岡田の気配はあるのに、その姿は見えなかった。キッチンカウンターに置かれた、ラップのかかった皿。料理は温め直された形跡もなく、盛り付けられたまま、冷めている。味噌汁の鍋にはまだ湯気が残っていた。作られた時間は、そう遠くないのかもしれない。晴臣はそのまま、自分の部屋に向かった。岡田の顔を探すようなこともせず、ましてや「ただいま」と口にすることもなかった。