LOGIN女神エステルの加護を受けたリンドベルム王国の王女セレーネは、ある日、婚約者から「異母妹フローラを愛している」と告げられ、婚約破棄を自ら国王に申し出るよう迫られる。絶望の中、庭へ飛び出した彼女は雷に打たれ、その衝撃で前世の記憶を取り戻す。なんと彼女は、かつて好きだった小説の“破滅する悪役王女”に転生していたのだ! 物語通りなら、妹が神託を受けてヒロインとなるはずなのに、現実は違っていた。時系列もズレていて、神託を受けたのはセレーネ自身。そして自分の補佐官であるローラントのことが気になりだし……。これはもう、小説とは違う“別の物語”かも? ならば、運命に流されるのではなく、自分の意思で未来を選ぼう。
View More"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat.
Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tubuh gadis itu menempel lebih erat tanpa celah. Gerakan Sasa yang malu-malu dan ragu justru menjadi pemicu yang membakar kendali diri Javendra. "Lebih cepat, Sasa," perintah Javendra dengan napas yang memburu di telinga gadis itu. Sasa tersentak, ia mencoba mempercepat gerakannya meski tangisnya semakin pecah. Dada polosnya bergesekan lebih kasar dengan kulit Javendra, menciptakan sensasi panas yang membuat kepalanya pening. Javendra mengerang keras, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kelembutan Sasa yang benar-benar membuatnya gila. Pria itu kehilangan sedikit kendalinya. Tangannya tidak lagi hanya diam di pinggang, tapi mulai menjalar ke punggung Sasa, menekan tubuh gadis itu seolah ingin menyatukan kulit mereka sepenuhnya. Javendra benar-benar terpancing oleh bagaimana Sasa mencoba patuh meski tubuhnya gemetar hebat. "Sial, kamu benar-benar membuat aku gila," gumam Javendra serak. Beberapa hari sebelum kejadian itu, saat hari dimana Sasa diterima sebagai pelayan pribadi di rumah itu. Sasmaya berdiri di depan pintu rumah besar itu dengan jantung berdegup kencang. Tangan kirinya memegang tali tas, tangan kanannya menggenggam map lamaran yang sudah agak lembab karena keringat. "Ini kesempatan bagus," katanya berulang dalam hati. "Gajinya lumayan, bisa kirim ke ibu tiap bulan, dan aku nggak perlu lagi bantu-bantu warung tetangga." Tapi harapan itu bercampur takut. Kalau ditolak lagi, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Ruang tamu terasa terlalu luas dan dingin. Dua kandidat lain sudah duduk. Sasa memilih kursi paling ujung, duduk dengan punggung tegak tapi lututnya gemetar sedikit. Ia berusaha mengatur napas. Tenang, Sasa. Jawab saja pertanyaan dengan baik. Jangan banyak bicara. Tak lama kemudian, Javendra Prakasa masuk. Pria itu berjalan dengan langkah mantap, wajahnya datar dan dingin. Rumor yang beredar pria itu sangat arogan, tidak suka dibantah, pemilik kepribadian dingin yang mencekam. Pria 34 tahun yang masih lajang, meskipun begitu, pesonanya membuat setiap orang yang melihat menahan napas. Javendra duduk di kursi utama. Tatapannya menyapu ketiga orang di depannya. Saat mata itu mampir ke arah Sasa, gadis itu merasa ada yang aneh. Pandangannya agak lama, lalu Javendra cepat mengalihkan mata. Sasa menelan ludah. Apa aku salah kostum? Batinnya. Rok hitam dan kemeja putihnya sudah paling rapi yang dia punya. "Perkenalkan diri kalian," kata Javendra dengan suara rendah. Kandidat pertama dan kedua bicara duluan. Mereka punya pengalaman bertahun-tahun dan banyak sertifikat. Sasa merasa semakin gugup. Mereka jauh lebih berpengalaman. Kenapa aku nekat datang ke sini? Batin Sasa lagi. Gilirannya tiba. Sasa berdiri, tangannya saling meremas di depan perut. "Nama saya Sasmaya Larasati, Tuan. Biasa dipanggil Sasa. Umur 21 tahun. Lulus SMA. Saya nggak kuliah karena biaya nggak memungkinkan. Tapi saya rajin, teliti, dan mau belajar apa saja yang diperlukan. Saya sangat butuh pekerjaan ini." Suara Sasa pelan tapi ia berusaha supaya jelas. Setelah selesai, ia duduk kembali sambil menahan napas. Tolong terima aku. Tolong. Sasa terus memohon dalam hati. Javendra diam sebentar. Lalu ia berkata, "Kalian berdua boleh pulang. Terima kasih." Dua kandidat lain keluar dengan wajah kecewa. Sekarang hanya Sasa yang tersisa di ruangan bersama Javendra. Jantung Sasa berdegup semakin keras. Ia menunduk, tak berani menatap langsung. "Kamu diterima," kata Javendra datar. "Saya diterima, Tuan?" Sasa seolah tidak percaya. Tapi dia luar biasa bersyukur atas hal itu. "Ya, tapi ada syaratnya." "Syarat apa, Tuan? Saya akan lakukan segalanya demi pekerjaaan ini, Tuan." "Benarkah?" Sasa mengangguk cepat. Sasa mengangkat wajahnya lagi, pelan. Javendra menatapnya lurus. "Panggil saya Tuan Javen. Kamu hanya melayani saya. Jangan pernah berbohong dan jangan coba mendekat lebih dari batas. Mengerti?" "Ya, Tuan Javen. Saya mengerti," jawab Sasa cepat. Suaranya hampir hilang di tenggorokan. "Apa ada syarat lain, Tuan?" Javen menatap Sasa sekilas lalu mengalihkan pandangan. "Nanti aku pikirkan, saat ini cukup. Kamu boleh pulang." Sasa mengangguk. "Terima kasih, Tuan, saya akan bekerja sebaik mungkin untuk keluarga ini." "Apa?" Javen menatap Sasa tajam. Sasa meneguk ludah, apa dia salah bicara, batinnya. "Kamu tidak bekerja untuk keluarga ini. Kamu bekerja untuk aku. Hanya aku, Javendra." Sasa mengangguk paham. "Baik, maafkan saya Tuan Javen." "Mulai besok pagi kamu sudah tinggal di sini." "Baik, Tuan." ** Sasa keluar dari rumah itu dengan kaki yang terasa ringan sekaligus berat. Senang karena akhirnya diterima, tapi ada rasa was-was yang tidak bisa dijelaskan. Tuan Javen terasa berbeda dari yang dibayangkannya. Dingin, tapi tatapannya tadi, entah kenapa membuatnya gelisah. Malam itu, Sasa packing barang sedikitnya sambil berpikir. "Ini cuma pekerjaan. Aku harus profesional. Jaga jarak, kerja keras, dan semuanya akan baik-baik saja. Sasa kamu nggak boleh bikin masalah." ** Keesokan paginya, Sasa sudah berdiri di kamar pelayan pribadi yang disiapkan untuknya. Seragam hitam-putih yang diberikan kepala pelayan terasa kaku dan terlalu ketat di bagian dada. Ia menarik-narik sedikit kain di depan bajunya, tapi tetap saja tidak nyaman. "Kenapa sih baju apa pun selalu begini?" batinnya kesal. Ukuran dadanya memang selalu jadi masalah. Baju longgar jadi kelihatan konyol, baju pas malah seperti ini. Ia menghela napas panjang sambil mencoba berdiri lebih tegak. Baru saja ia merapikan rambutnya yang diikat rapi, pintu ruangan terbuka. Javendra masuk dengan langkah biasa. Sasa langsung membungkuk hormat. "Selamat pagi, Tuan Javen," sapanya sopan, suara masih agak gugup. Javendra berhenti di depannya. Matanya menelusuri Sasa dari bawah ke atas. Saat pandangannya sampai di dada Sasa yang tertutup seragam ketat itu, pria itu tersentak kecil. Wajahnya tetap datar, tapi Sasa sempat melihat perubahan di matanya. Sasa merasa panas di wajah. Ia langsung menunduk dan menarik seragamnya lagi dengan tangan kanan. "Maafkan saya, Tuan Javen. Bajunya agak sempit," katanya pelan, malu sekali. Javendra tidak langsung jawab. Ia meneguk ludah, lalu berdeham pelan sebelum bicara. "Kenapa tidak bilang dari awal?" suaranya rendah. Sasa menggigit bibir bawah. "Saya baru pakai tadi pagi, Tuan. Takut merepotkan. Nanti saya minta ganti yang lebih pas saja." Javendra diam sebentar. Tatapannya masih belum lepas sepenuhnya dari tubuh Sasa. "Tidak perlu. Biar nanti saya yang suruh kepala pelayan mengganti ukurannya." "Terima kasih, Tuan," jawab Sasa cepat, masih menunduk. Udara di ruangan terasa berat. Sasa merasa jantungnya kembali berdegup tidak karuan. Ia berusaha mengingatkan diri sendiri. Tapi saat ia melirik sekilas ke atas, Javendra masih berdiri di sana, menatapnya dengan cara yang membuat Sasa ingin mundur selangkah. "Untuk hari ini, ikut saya. Saya akan tunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan," kata Javendra akhirnya, suaranya kembali datar seperti biasa. "Baik, Tuan Javen." Sasa mengikuti langkah pria itu keluar dari ruangan, tapi di dalam hatinya sudah mulai muncul pertanyaan yang tak berhenti. Sasa mengikuti Javendra menyusuri koridor rumah yang luas. Pria itu menjelaskan tugasnya dengan suara datar sambil berjalan di depan. "Pagi hari kamu siapkan kopi hitam tanpa gula di meja kerja saya. Setelah itu bersihkan kamar saya, tapi jangan sentuh meja tulis. Siang kamu ikut saya ke mana pun kalau saya butuh. Malam—" Tiba-tiba langkah Sasa tersandung ujung karpet yang sedikit terlipat. Tubuhnya oleng ke depan. Ia panik dan mencoba menyeimbangkan diri, tapi malah terdorong ke arah Javendra yang baru saja berhenti dan membalikkan badan. "Aduh!" Bruk. Sasa jatuh tepat ke pangkuan Javendra yang sedang duduk di kursi panjang ruang kerja. Bokongnya mendarat persis di atas pangkal paha pria itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan hangat tepat di bawahnya. "Maaf, Tuan! Saya—" kata Sasa panik sambil berusaha bangun. Tapi saat itu tangan Javendra otomatis terulur untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Telapak tangan kanannya mendarat tepat di dada Sasa yang kencang karena seragam ketat. Jari-jarinya tanpa sengaja meremas pelan di sana, merasakan kelembutan dan bobot yang penuh. Waktu seolah berhenti sebentar. Sasa membeku. Rasa panas langsung naik ke wajah dan telinganya. Ia bisa merasakan dada Javendra naik-turun cepat di belakang punggungnya, napas pria itu menyapu lehernya. Tangan Javendra masih di sana. Tidak langsung dilepaskan. Sasa gemetar. "Tuan Javen ... maafkan saya..." Suara Sasa hampir hilang. Ia berusaha bangkit, tapi gerakannya malah membuat bokongnya bergeser pelan di atas milik Javendra yang semakin keras. Javendra menegang. Napasnya terdengar berat di telinga Sasa. Dia tidak langsung melepaskan tangannya.記念するべき三百回目の建国祭は歴史に残る事件が勃発し、波乱に満ちていた。だが、事件は迅速に解決し、幕を引いたのだ。 セレーネの暗殺を企てたハルヴィオン侯爵は裁きの後、毒杯を賜った。だが、家族はハルヴィオン侯爵の企みを知らず家の取り潰しは免れ、爵位は長男が引き継いだ。実行役の家令は家族の命を盾に取られたこと、暗殺が未遂に終わったことで情状酌量となり、家族とともに国外追放となった。 そして、今日はフローラが離宮に旅立つ日だ。 セレーネは国王とともに王宮の門まで馬を駆ってフローラの見送りに来た。「あの……お姉様。今までいろいろとごめんなさい。わたくしお姉様が羨ましかったの。美しくて賢くてわたくしにはないものをたくさん持っている。それなのにお父様の愛情や女神エステルにも愛されてずるいって妬んでいたの。逆恨みもいいところよね」「本当に困った子よね。私はずっと貴女と仲良くしたかったのよ。だって腹違いでも私たち姉妹だもの」「お姉様!」 フローラが涙を流してセレーネに抱き着いてきたので、子供をあやすように背中を優しく撫でてやる。「お許しが出て王宮に帰ってきたら、お茶会でもしましょう。その前に私が離宮に遊びに行くけれどね」「本当に? 約束よ。お姉様」「ええ。約束よ。ほら! 小指を出して」 フローラは首を傾げながら、おずおずと小指を出す。セレーネは小指を絡ませて指
「家族の命を盾に取られて命令に背くことができなかったのです! お許しくださいとは申しません。わたしはとうに覚悟はできております。ですが、どうか家族の命だけはお助けください! 王太女殿下!」 家令は涙を流しながら、家族の命乞いをする。王族の弑逆は重罪だ。未遂だとしても極刑は免れない。場合によっては一族郎党処刑ということもあり得るのだ。「ハルヴィオン侯爵。シャンデリアには貴方の魔力の痕跡が残っておりました。殿下がシャンデリアの真下に来た時に落下するよう、魔力操作をしていましたね?」 ハルヴィオン侯爵は魔力操作の才能が飛び抜けている。正確に魔力を操ることが上手いのだ。花火を爆発させたのも侯爵の仕業だ。巧みに魔力操作をして炎上させたのだ。「証拠は揃っているのですよ、ハルヴィオン侯爵。まだ申し開きがありますか?」 黙したままのハルヴィオン侯爵にセレーネが問いかける。「嘘よ! 伯父様がそんなことをするはずがないわ! そうだわ。お姉様がわたくしを貶めようと伯父様を犯罪者に仕立てているのね?」 これだけ証拠を突きつけているというのに、フローラが的外れなことを言い出すのでセレーネが窘めようとした時だ。「くくく。どこまでも愚かな娘だ」「伯父様?」 それまで黙していたハルヴィオン侯爵が口を開く。「偽物の王女だとしても、もう少
そろそろガーデンパーティーが終了するので、今日帰国予定の賓客たちが国王に挨拶をしている。そんな中、ハルヴィオン侯爵は落ち着かない様子で時折一定の場所に視線を向けていた。誰かを待っているようだ。「ハルヴィオン侯爵」 だから、意外な人物が目の前に現れた時に驚愕の表情を浮かべた。「おっ! 王太女殿下!? なぜここに……」「どうしました? 私がここにいるのが不思議ですか?」 首を傾げるセレーネにハルヴィオン侯爵は動揺を隠すように笑顔を取り繕う。「い、いえ。先ほど急いで王宮に戻られたようなので……」「急ぎの用件でしたが、もう終わりました」 セレーネが頷くと、ハルヴィオン侯爵の前に黒づくめの装束を着た男が引きずり出された。その男は後ろ手に手枷をはめられ、口元には猿ぐつわをかまされている。「これは……我が家の家令ではありませんか? 何故このような仕打ちをなさるのですか!?」「ハルヴィオン侯爵、そのまま動かれませんよう」 ハルヴィオン侯爵が家令を助け起こそうと身を屈める前にローラントがけん制をする。助けるふりをして口封じをする可能性があるからだ。「ドレンフォード卿! 何をしているのです?
舞踏会の翌日、招待客たちへの詫びを兼ねて急遽王宮の庭園でガーデンパーティーが開催された。 帰国予定の賓客や予定がある貴族はそのまま王宮を辞したが、大半の招待客はガーデンパーティーに参加したのである。「昨日の奇跡は素晴らしかったですな」「わたくしはシャンデリアの破片で腕を切ったのですが、奇跡のおかげで跡形もなく消えましたの」「王太女殿下に感謝ですな」 立食形式のガーデンパーティでは、昨日の舞踏会でセレーネが起こした奇跡の話題で盛り上がっていた。「何よ。お姉様ばかり……」 どこへ行ってもセレーネの話題ばかりでフローラは面白くなかった。奇跡を目の当たりにしても、フローラのセレーネに対する態度は変わらない。「フローラ殿下」 隅で一人佇んでいるフローラにハルヴィオン侯爵が声を掛けた。「伯父様。ごきげんよう」「浮かぬ顔をされていますね。せっかくの可愛らしいお顔が台無しですよ」「だって、皆様お姉様の話ばかり。つまらないのですもの」 フローラが拗ねたように頬を膨らませると、ハルヴィオン侯爵はふっと笑う。「今に面白い事が起こるかもしれませんよ」「え?」「いえ。こちらの話です。それではフローラ殿下。また後でお会いいたしましょう」 他の貴族に挨拶するために去っていったハルヴィオン侯爵の姿をフローラは首を傾げて見送った。 挨拶にやってきたキリアン・オーランドにセレーネはカーテシーをする。「オーランド大使。昨日は危ないところを救っていただきありがとうございました」「いや。昨日の奇跡はすごかったな。あれが女神エステルの力というわけか?」「はい。ところでオーランド大使も魔法が使えるのですか?」 昨日、シャンデリアが落下する寸前、キリアンは一瞬の間に場所を移動していた。ただ身体能力が高いだけでは不可能な技だ。「まあな。グラキア大陸では魔法を使える者はほとんどいないが、祖母がこちらの大陸出身で魔
セレーネはほっと胸をなでおろす。ようやくこの茶番から抜け出すことができる。ローラントが急ぎ足で植物園にやってきたということは、緊急で処理が必要な案件があるのだろう。 ローラントはフローラとヴィンセントの姿を認めると、胸に手を当てて軽く膝を折る。王女であるフローラに礼をとっているのだ。どこかの誰かとはえらい違いだと、セレーネはチラリとヴィンセントに軽蔑の眼差しを向ける。「フローラ王女殿下にご挨拶を申しあげます」 ローラントはフローラに挨拶をした後、ヴィンセントには軽く目礼で挨拶を交わす。同じ公爵令息という身分なので、公の場でない限り畏まった挨拶
セレーネは次期女王として国政に関わる仕事をしている。王女として王宮に迎えられてから、国王は常にセレーネをそばに置き、自分の仕事を見せてきた。帝王学を国王自ら叩き込んだというわけだ。 十六歳で後継者として指名され、王太女となってからは国王の仕事を一部担っている。「セレーネ殿下!」 いつものように執務机で仕事をしているセレーネを見るなり、血相を変えたローラントが叫ぶ。「あら、ローラント。おはよう」 ローラントはセレーネの補佐官だ。王太女として執務室を与えられた際に国王が付けてくれた補佐官である。なかなか優秀で頼りに
ヴィンセントと初めて顔合わせをしたのは、セレーネの十六歳の誕生日だった。サラサラの金髪に青空のような空色の瞳。端正な顔立ちを持つ同じ年のヴィンセントに、セレーネは一目で心を奪われた。 リンドベルムの国王は男子に恵まれず、王女が二人いるのだが、将来は嫡子であるセレーネが女王になる。女王には王配が必要だ。そこで選ばれたのが、ノルクシュタット公爵家の次男であるヴィンセントだった。「顔がいいだけで、とんだクズ男だわ。男を見る目がないわね、セレーネ。って私か」 雷に打たれたはずだが、気がつけば自室のベッドで横になっていた。四阿で倒れていたセレーネを
雷に打たれたようなではなく、文字どおり雷に打たれたショックで、恐ろしいほどたくさんの記憶が一気にセレーネの脳内に流れ込んできた。「あれ? ここって『エステルの戴冠』の世界じゃない?」 そんな言葉を呟いた後、セレーネは気を失った。 セレーネが気を失う少し前に時間は遡る。「……ヴィンセント。これはいったい……どういうことなの?」 婚約者であるヴィンセントのもとに訪れたセレーネは衝撃を受けた。なぜなら彼はセレーネの異母妹であるフロ