LOGIN離婚後、松山昌平は後悔の念でいっぱいだった。 かつての退屈で魅力のない元妻が、どうして突然成功を収めているのか? 豪門の御曹司が彼女の子分で、国民的なアイドルが彼女のファンで、金融界の大物が彼女を先輩と呼んだ...... 篠田初、一体いくつの顔を持っているのか?全部暴いてやった! 松山昌平:「俺の元妻は、優柔不断で自立できない女性だから、君たちは彼女をいじめるなよ」 人々:「怒髪天を突くような彼女が、誰がいじめるって?」 松山昌平:「元妻は良家の出だから、君たちは無駄にアプローチするな」 人々:「ごめんなさい、これほど心を惑わす妖艶な良家の出は見たことがない!」 松山昌平:「こっちよ、初、大人物を紹介するよ」 大人物:「いいえ、とんでもございません。こちらこそ、私の崇高な敬意をお受け取りください!」 こうして、松山昌平は、昼は冷徹な大企業の社長だが、夜は涙を流しながら妻を追い求める道を歩むことになった。
View MoreMaya memutar tubuhnya di depan cermin ruang tamu untuk kesekian kalinya. Blazer krem yang membalut tubuhnya masih sama elegannya seperti saat pertama ia beli dua tahun lalu, meski sekarang terasa sedikit lebih longgar. Enam tahun, bisiknya dalam hati. Enam tahun, dan tubuhnya malah makin kurus, bukannya tambah berisi... seperti yang seharusnya.
"Wah, cantik sekali, Bu." Pak Karyo muncul dari arah dapur, membawa secangkir teh hangat. Asisten rumah tangga yang sudah mengabdi sejak mereka pertama menikah itu tersenyum tulus. "Kayak foto pengantin yang di sana itu." Ia menunjuk ke figura yang tergantung di dinding—foto pernikahan Maya dan Irwan. Maya tersenyum tipis. "Ah, Pak Karyo bisa aja." Ia menerima teh yang disodorkan, menyesapnya perlahan. Aroma melati yang familiar bikin tubuhnya agak rileks. "Yang, dasi aku miring nggak?" Irwan keluar dari kamar, masih berkutat dengan simpul dasinya. Maya letakkan cangkir tehnya, lalu hampiri suaminya. "Sini." Dengan lembut ia membenarkan dasi Irwan. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma aftershave yang familiar—masih sama seperti enam tahun lalu. "Sudah." "Maya..." Irwan menangkap tangannya yang hendak menjauh. "Kamu oke?" Matanya menatap cemas. Maya mengangguk, meski keraguan jelas di matanya. "Cuma... nervous. Biasa." "Bu Maya, Pak Irwan," Pak Karyo berdeham pelan. "Udah jam setengah tujuh." "Oh iya," Irwan melepaskan tangan Maya, mengambil kunci mobil dari meja. "Kita harus berangkat sekarang kalau nggak mau telat." Maya mengambil tas tangannya, mengeluarkan lipstik untuk sentuhan terakhir. "Pak Karyo, tolong jaga rumah ya. Kita pulangnya mungkin agak maleman." "Siap, Bu." Pak Karyo mengikuti mereka ke teras depan rumah. Langit Jakarta sudah gelap, tapi udara masih terasa hangat. "Selamat ulang tahun pernikahan. Semoga Allah selalu memberkahi." Di mobil, Maya mengeluarkan ponselnya, mengecek alamat restoran untuk terakhir kali. Mereka memilih tempat Indonesia yang cukup berkelas di Menteng—tidak semewah hotel bintang lima, tapi cukup untuk menjaga gengsi keluarga besar mereka. "Siap?" Irwan remas tangannya lembut sebelum nyalakan mesin. Maya tarik napas panjang, ngerasain jemarinya gemetar. Dia tau banget apa yang nunggu mereka malam ini—tatapan penuh tanya, bisikan yang nggak keucap, harapan yang belum terpenuhi. "Siap," jawabnya, lebih buat yakinkan diri sendiri. Dua puluh menit kemudian, mobil mereka berhenti di depan restoran. Bangunan kolonial yang direstorasi itu tampak hangat dengan pencahayaan taman yang lembut. Maya bisa melihat beberapa mobil familiar sudah terparkir—keluarga mereka sudah mulai berdatangan. Maya merasakan genggaman Irwan mengerat. Mereka berdua tahu apa yang menanti di balik pintu kayu berukir itu—dua keluarga besar dengan ekspektasi yang lebih besar lagi. Ruangan VIP itu dirancang mengikuti konsep pendopo modern—luas dan elegan dengan sentuhan Jawa yang halus. Dua meja bundar besar dengan lazy susan kristal mendominasi ruangan. Aroma rempah dan bunga melati bercampur di udara, menciptakan atmosfer mewah yang tetap akrab. Di meja pertama, keluarga Maya sudah berkumpul. Papanya lagi diskusi serius sama Om Hadi soal harga properti di BSD, sementara Mamanya dan Tante Mira bahas rencana umroh tahun depan. Sepupunya, Andi, sibuk dengan iPad-nya—paling lagi closing another deal, pikir Maya. Typical keluarganya—bisnis nggak pernah berhenti, bahkan di acara keluarga. Di meja satunya, keluarga Irwan mulai berdatangan. Mama mertuanya langsung hampiri Maya, peluk dia dengan kehangatan yang terasa sedikit beda dari biasanya. "Selamat ulang tahun pernikahan ya, Nak. Enam tahun... masya Allah, nggak kerasa ya?" Justru kerasa setiap detiknya, Maya membatin, bales pelukan mertuanya dengan senyum profesional yang biasa dia pake di meeting. Percakapan ngalir ke berbagai topik. Om Hadi dan Papa balik tenggelam dalam diskusi properti mereka. Di sisi lain meja, Tante Astrid lagi cerita dengan antusias soal gallery batik barunya di Kemang. Mama Irwan sesekali nimpal, tapi Maya bisa ngerasain tatapannya yang sesekali arah ke blazer krem yang bungkus tubuh rampingnya. "Oh iya, Dik Linda udah masuk bulan ketujuh ya, Bu?" Tante Astrid beralih ke Mama Irwan. "Anak kedua..." Maya merasakan jemarinya mencengkeram garpu lebih erat. Linda, adik Irwan, baru menikah dua tahun lalu. Tapi sudah hamil anak kedua, sementara dia.... "Alhamdulillah," Mama Irwan senyum bangga. "Semoga lancar kayak yang pertama." Matanya lirik sekilas ke arah Maya. "Sekarang tinggal..." "Eh, soto konro-nya enak ya," Irwan motong cepat, tangannya di bawah meja remas lembut jari Maya yang mulai gemetar. "Tante mau tambah?" "Eh, nanti dulu," Tante Astrid senyum, matanya beralih ke Maya. "Maya sendiri gimana? Udah coba program lagi?" Maya merasakan jemarinya semakin dingin dalam genggaman Irwan. Ia memaksakan senyum profesional yang biasa ia gunakan saat presentasi sulit di kantor. "Lagi fokus kerja dulu, Tante. Project baru..." "Aih, kerja melulu." Tante Mira dari seberang meja ikut nimbrung. "Lihat Linda tuh, baru dua tahun nikah udah anak kedua. Padahal dia juga kerja." Maya teguk air putihnya pelan, berusaha tenangkan diri. Blazer krem yang tadi terasa pas kini kayak mencekik lehernya. Dari sudut matanya, dia bisa lihat Mama Irwan yang mulai gelisah dengan arah pembicaraan ini. "Maya ini emang kebanyakan mikir," Papa coba cairkan suasana. "Semua mesti direncanain detail. Iya kan, Wan?" "Iya, Pak." Irwan ngangguk, tangannya masih genggam erat jemari Maya di bawah meja. "Tapi bagus kan? Lihat aja pemilihan menu malam ini, semua—" "Ah, menu mah gampang diatur," potong Om Hadi, "tapi ada hal-hal yang nggak bisa diatur pake Excel sheet. Iya kan, Maya?" Tawa kecil menyebar di meja. Maya tersenyum tipis, merasakan keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Enam tahun, dan komentar-komentar seperti ini masih bisa menusuknya sedalam hari pertama. "Bu Maya," pelayan datang di saat yang tepat, "hidangan utamanya udah siap. Rendang atau ayam bakar?" Maya hampir menghela napas lega dengan interupsi ini, tapi Tante Astrid rupanya belum selesai. "Nanti coba tanya Linda ya, Maya. Dia pake dokter bagus di Menteng. Katanya ada program khusus buat... yang agak susah." Kali ini, Maya merasakan tangan Irwan yang gemetar dalam genggamannya. "Rendang saja," Maya menjawab pelan, bersyukur bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan penuh arti Tante Astrid. Hidangan utama disajikan dengan elegan di atas piring porselen putih. Maya menatap rendang di hadapannya, aroma rempah yang biasanya menggugah selera kini terasa mencekik. Dia bisa denger percakapan di sekitarnya mulai beralih ke topik lain—bisnis properti Om Hadi, rencana umroh Mama, gallery batik Tante Astrid—tapi telinganya masih berdenging dengan komentar soal Linda... "Maya," Om Hadi tiba-tiba manggil dia dari seberang meja, suaranya yang berat bikin beberapa kepala noleh. "Kalo mau cepet hamil, kuncinya tuh posisi sama durasi." "Om Hadi..." Maya usaha senyum, tapi jarinya yang gemetar hampir jatuhin garpu. "Irwan ini kebanyakan kerja sih," Om Hadi nyendok rendangnya santai, matanya lirik penuh arti. "Minimal mesti tiga jam sehari, posisi yang tepat. Biar gravitasi bantu." Dia kedip mata. "Kalo cuma lima menit sebelum tidur, ya mana bisa?" Bisikan tawa tertahan terdengar di sekitar meja. Maya merasakan wajahnya terbakar, teringat rutinitas malam mereka yang memang hanya berlangsung singkat—Irwan selalu terlalu lelah setelah lembur. "Dan jangan lupa, posisinya harus yang dalem," Om Hadi lanjut dengan nada sok tau, seolah-olah dia ahli fertilitas. "Kalo cuma missionary standar gitu, susah nembus. Harus yang..." Dia bikin gerakan pake tangannya yang bikin Mama Irwan kesedak tehnya. Maya menunduk, tangannya mencengkeram garpu semakin erat. Di sampingnya, ia bisa merasakan tubuh Irwan menegang, keringat mulai membasahi telapak tangannya yang menggenggam jemari Maya. Mereka berdua tahu persis semua yang disebutkan Om Hadi adalah kebalikan dari rutinitas intim mereka yang singkat dan mekanis. Irwan berdeham keras. "Om Hadi, soal properti di BSD tadi—" "Oh iya, Maya," Mama Irwan motong, suaranya melembut dengan cara yang bikin Maya pengen nangis. "Mama denger di Malaysia ada treatment baru. Temen Mama sukses setelah lima tahun nyoba. Mau Mama minta kontaknya?" Maya merasakan pandangan semua orang tertuju padanya. Blazer kremnya yang sudah terasa longgar kini seolah menyusut, mencengkeram tubuhnya seperti tangan-tangan yang menuntut jawaban. "Makasih, Ma." Maya denger suaranya sendiri jawab, tenang dan terkontrol kayak pas dia mimpin rapat direksi. "Nanti kita omongin." Mama Irwan mengangguk, tapi Maya bisa melihat kekecewaan samar di matanya. Enam tahun, dan mereka masih menunggu. Enam tahun, dan setiap pertemuan keluarga masih berakhir dengan tatapan yang sama. Sisa makan malam berlalu dalam gerakan-gerakan mekanis. Maya mengiris rendangnya menjadi potongan-potongan kecil yang nyaris tidak ia sentuh. Irwan di sampingnya berusaha keras menjaga percakapan tetap pada topik-topik aman—politik, bisnis, cuaca—apa saja selain bayi dan kehamilan. Ketika hidangan penutup disajikan—es teler premium dengan kelapa muda Australia—Maya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Setiap suapan terasa seperti abu di mulutnya. "Udah jam sembilan," Irwan akhirnya umumkan, lirik jam tangannya. "Maya besok ada meeting pagi." "Ah, masih sibuk aja," Tante Mira senyum penuh arti. "Padahal harusnya—" "Iya, meeting sama client dari Singapore," potong Maya cepat, bangkit dari kursinya. Blazer kremnya yang longgar dia rapetin kayak armor. "Makasih semuanya. Maaf kita harus duluan." Pelukan dan ciuman perpisahan terasa seperti siksaan. Setiap pelukan disertai bisikan "Sabar ya", "Jangan stress", "Coba konsul ke..." yang Maya tanggapi dengan senyum profesionalnya. Di mobil, Maya melepas sepatunya dengan gerakan lelah. Irwan menyalakan mesin dalam diam, membiarkan AC mobil mengisi keheningan di antara mereka. "Yang..." Irwan akhirnya ngomong setelah mereka keluar dari area parkir. "Jangan sekarang," Maya potong pelan, matanya terpejam. "Please." Irwan mengangguk, tangannya menggenggam kemudi lebih erat. Enam tahun, dan mereka masih belum menemukan kata-kata yang tepat untuk saat-saat seperti ini.「ありえない、ありえない、絶対に信じないから!」白川景雄はあまりのショックに、重心が崩れてその場に座り込んでしまった。その後、看護師が手術台を押しながら手術室から出てきた。そこには、大きな男性の体が白い布で覆われて横たわっていた。「ご遺族の方、最期ですが、もう一度見ますか?」医者が顔色の悪い白川景雄に言った。「もし見ないのであれば、遺体を霊安室に運びますので、葬儀の手配を早急にお願いします」「俺は......」白川景雄は喉を一度鳴らし、立ち上がろうとしたが、この現実を受け入れる準備ができていないことに気づいた。「結構だ」彼は手を振り、絶望的にうつむいた。それから看護師は手術台を彼の前を通り過ぎ、霊安室に向かった。松山昌平が死んだ!松山昌平が死んだ!松山昌平が死んだ!この情報は呪文のように白川景雄の頭の中で繰り返され、彼の神経を圧迫し、眠れぬ夜を過ごさせた。あれほど強く、あれほどの風雲児が、こんな形で命を落とすなんて!ライバルとして戦っていた自分さえもこの現実を受け入れられないのに、ましてや篠田初は......白川景雄は指をぎゅっと握りしめた。駄目だ。絶対に篠田初にはこのことを知らせてはならない。少なくとも彼女が回復するまでは、絶対に知られないようにしなければ!翌日にて。白川景雄は、精魂込めて作った朝食を持って、最初に病室に向かった。「景雄か」篠田初はすでに目を覚まし、熱心に本を読んでいた。「どうだった?まだ痛いか?」白川景雄は小さなテーブルを出し、色とりどりの朝食を並べながら心配そうに尋ねた。「もう痛くないよ。看護師さんが止めなければ、ベッドから降りて歩きたいくらい!」篠田初は元気に言った。彼女はテーブルの上に並べられた美味しそうな朝食を見て、すぐにでも食べたくてたまらなかった。朝食を食べながら、篠田初は待ちきれない様子で松山昌平のことを尋ねた。「彼はどうだったの?手術は終わったの?さっき看護師に聞いたけど、誰も教えてくれなかった」「彼は......」白川景雄は深く息を吸い込み、顔を変えずに言った。「彼はもう大丈夫だよ。専門家もいるし、彼は松山家の若様だから、誰だって全力で彼を救おうとするさ」「そうだよね。それなら安心した」篠田初はほっとして、
実際、松山昌平の状況は、彼が言ったよりもさらに深刻で、脚の壊死した組織があまりにも多かった。そのため、切断の危険だけでなく、命にかかわる危険もあった。「ご馳走様。もう腹いっぱいだわ!」篠田初はお腹を押さえて、満足げな表情を浮かべながら白川景雄に尋ねた。「先生は言ってた?私のギプスはいつ外せるの?退院はいつできる?」「それは姉御の体質と協力の程度によるね。早ければ二週間、遅ければ数ヶ月かかるよ」「じゃあ、しっかりと療養しないとね。回復して退院できる日には、ちゃんとお礼を言うよ」白川景雄はその言葉を聞いて、慌てて答えた。「お礼なんて言う必要ないよ。彼は前に君に対してひどかったんだから、今回のことは償いだよ。お礼なんて大丈夫よ」白川景雄は、もし松山昌平が本当に死んでしまったら、篠田初がそれを受け止めきれないだろうと心配していた。それなら、松山昌平のことはもう二度と会わない方がいいと考えていた。「あなたって、本当に心が狭いね。もしかして私とあの人が再び恋に落ちるのが怖いの?」篠田初は白川景雄の肩を軽く叩きながら、まるで三歳の子どもをあやすように言った。「大丈夫よ、景雄。たとえ世界中の男が全部死んでも、私とあの人には何の可能性もないから、安心しなさい。嫉妬しないでね?」篠田初はそう言いながら、白川景雄の素敵な頬を突っついた。「ほら、怒ってるこの顔、可愛すぎ!」「わかったよ!」白川景雄は合わせて頷き、仕方なさそうにため息をついた。おそらく海都中で、篠田初だけが、伝説の「魔王」だった彼を「子供」だと思っているのだろう!今は、松山昌平の生命力が本当に強くて、この難関を乗り越えてくれることを祈るばかりだった。白川景雄は篠田初が寝ついた後、松山昌平がいる手術室に状況を尋ねに行った。松山昌平が篠田初の最愛の男で、二人の子供たちの父親であることを考えると、彼は松山昌平が無事でいてほしかった。白川景雄は、篠田初を深く愛していて、彼女のためなら何でもできると誓っていたが、もし松山昌平と彼女が再び恋に落ちたときは、静かに身を引く覚悟もできていた。手術室のドアは閉ざされており、「手術中」と表示されていた。深夜になり、手術室の外は静まり返り、白川景雄一人だけがそこにいた。彼は手術室の赤いランプが点滅するのを見つめ、どんどん不
白川景雄は篠田初があまりにも心配しすぎているのを見て、こう言った。「焦らないで、まずはおとなしく寝て体を休めて。すぐに先生に詳しい状況を聞いてくるから。松山昌平の奴はしぶといから、きっと大丈夫だよ」「そうね、あいつはしぶといから、どんなことがあっても大丈夫だ。ただ転んだだけで、きっとなんとかなるわ!」篠田初はやっと落ち着き、白川景雄に急かして言った。「ここで時間を無駄にしないで、早く先生に最新の情報を聞いてきて。もし行かないなら、私が行くしかないわ!」「動かないで、すぐに行ってくる!」白川景雄は立ち上がって去ろうとしたが、少し心配そうな表情を浮かべ、持ってきた食事を指さして言った。「戻る前に、姉御がちゃんと食事を済ませてほしい。体は自分のものなんだから、もし体を壊したら、二人の子供たちはどうするんだ?」白川景雄が去った後、篠田初は依然として心配でたまらず、食事をする気にはなれなかった。松山昌平がもしこのことで死んでしまったり、足を失ってしまったら、残りの人生をどう責任を感じながら過ごすことになるのか、想像もできなかった。すぐに、白川景雄が病室に戻ってきた。顔は真剣で、深刻な表情をしていた。「どうだった?先生は何て言っていた?」篠田初は急いで尋ねた。もし今、体が病床に固定されていなければ、きっと彼女はすぐにでも駆け寄っていただろう。白川景雄は答えず、代わりに食べていない食事を見て、責めるように言った。「どうして食べないんだ?先に食べるって言ったでしょ。こんなに長い間空腹で、手術も受けたばかりよ。何も食べないなんて、本当に命を捨てる気か?」「景雄、怒らないで。心配してくれるのは分かっているけど、少しは私の気持ちも理解して。こんな大きな出来事があって、松山昌平の安否もわからない。しかも彼が足を失うかもしれないよ。こんな状況で、食事する気になれるわけないでしょ?」篠田初は目を潤ませ、声が詰まった。「もうじらさないで、早く教えてよ。最終的な治療法は何だ?」白川景雄は少し迷った後、こう答えた。「さっき専門医が来て、彼の状況はそれほど深刻ではないと言っていた。切断するほどの状況ではないし、保守的な治療を選べば、手術後に十分に回復するそうだ」「本当?」篠田初は半信半疑だった。さっきはそんなに深刻だと言って、命の危険
「彼が自分の足が怪我しているのに、それでも傷を堪えて、私を坂の下から道路まで背負った。もし彼の足に障害が残ったら、この恩は一生かけても返せないと思うんだ。彼との関係が一生解けないものになることが怖いからこそ、彼が今どうなっているのかをあなたに聞いたんだ。わかるか?」篠田初は白川景雄に詳細に説明した。「何だって?彼が......君を助けたのか?」白川景雄は振り返り、信じられないという表情を浮かべた。「嘘だ。彼の足のケガがあんなにひどくて、まともに歩けないのに、君を助けたなんて信じられない!」「私も信じられないよ。彼は冷酷無情で、自分勝手だけど、現実はそうなんだ。もし彼がいなかったら、私は今も坂の下で横たわっていて、死んでいたかもよ......」篠田初は松山昌平が暗闇の中、一歩一歩彼女を背負って坂を上がるその光景を思い出し、夢を見ているように不思議な感覚に襲われた。その痛みは、親族でも耐えられないかもしれない。ましてや彼女を殺したいほど憎んでいる松山昌平が耐えられるわけがなかった。「ありえない。彼の足はあんな風になっているのに、絶対にありえない!」白川景雄は何度も首を振り、その事実をどうしても受け入れられなかった。彼は篠田初よりも松山昌平の足の怪我がどれほど深刻かを知っているからこそ、その状況を信じられなかった。そのひどい傷は、普通の人間には到底耐えられないものだった「だから、教えてくれる?彼の状況はどうなんだ?足はどうなった?」篠田初は再度尋ねた。白川景雄の反応を見て、篠田初は何か不吉な予感がした。「まだわからない!」白川景雄は深く息を吸い、ついに打ち明けた。「まだ手術中だ。先生は彼の状況が非常に複雑だと言った。すでに専門のチームを組んでいるんだ。保守的な治療をするか、それともリスクを冒して治療をするか、まだ決まっていないんだ」篠田初の表情が急に曇り、すぐに質問を続けた。「その二つの治療法にはどんな違いがあるのか?」「保守的な治療は、まず障害が残らないように対処した後、治療法を考えるものだけど、彼の状況はとても深刻だ。足の神経が多く切れていて、組織の一部が壊死して血流が滞っている。もし切断を遅らせると、全身に感染が広がり、命に関わる可能性もあるんだ......」「な、何だって?」篠田初は頭が真
reviewsMore