Malam itu, setelah piring-piring kosong ditumpuk rapi di meja, suasana kontrakan berubah lebih hening daripada biasanya. Hening yang bukan dingin, bukan jaga jarak, melainkan hening yang menunggu.Sevi duduk bersandar di sofa, tangannya masih menggenggam gelas hangat berisi teh jahe yang Arlan buatkan. Lelaki itu duduk di sampingnya, miring sedikit, seolah memastikan setiap kata yang keluar nanti tidak saling bertabrakan.Arlan menarik napas panjang. “Aku yang jelasin duluan, ya?”Sevi mengangguk pelan.Arlan menunduk sejenak, lalu menatapnya jujur, tanpa tameng, tanpa sisa gengsi.“Yang pertama, aku kelewatan… Aku takut. Aku takut kamu nggak lagi bergantung sama aku, kamu nggak lagi cari aku, karena jujur aja kita dekat karena 'itu' kan. Tapi waktu itu pemilihan kata ku nggak tepat yang bikin kamu mikir aku nggak mau kamu sembuh .” Ia menelan ludah dan menunduk pelan. “Yang kedua, aku marah, cemburu, apalagi dokter itu keliatan suka sama kamu, Sev. Aku sebagai cowok ngerti tatapan da
Terakhir Diperbarui : 2025-12-03 Baca selengkapnya