Share

Titik Terendah

Author: Olivia
last update publish date: 2025-11-29 23:52:05

Pagi itu, bahkan matahari pun terasa enggan naik.

Awan menggantung berat, sama seperti perasaan Arlan sejak beberapa minggu terakhir. Ruang kerjanya sunyi, hanya ada tumpukan berkas, laptop yang masih menyala sejak subuh, dan kopi dingin yang bahkan tak sempat ia minum.

Arlan menatap layar di depan dirinya, tetapi tidak benar-benar melihat apa pun. Rasanya seperti duduk di dalam tubuhnya sendiri tanpa kendali. Hampa. Kosong.

Satu minggu penuh ia hampir tidak bertemu Sevi, dan satu minggu penuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Man Man
kasian arlan
goodnovel comment avatar
jamie
kasihan arlan. sedih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Ngegibah Sonya

    Arlan masih membeku di tempatnya. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Sevi, kini perlahan menegang. Wajahnya terlihat kosong beberapa detik, seperti sedang menyusun jawaban yang tepat di kepalanya.Sedangkan Sevi masih menatap lurus ke arahnya. Tatapan itu menusuk seperti meminta jawaban segera, dan justru itu lebih membuat Arlan gugup.“Aku… ngigau?” tanyanya pelan.Sevi mengangguk kecil. “Iya, tadi malam.”Arlan mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas panjang. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, namun yang ia ingat hanya tidur dengan kepala yang penuh pikiran.“Aku beneran nggak sadar, sayang,” ucapnya jujur. “Aku bahkan nggak inget mimpi apa.”Sevi tidak langsung menjawab, tangannya memainkan ujung selimut pelan dan bibirnya mengerucut kecil.“Aku cuma takut aja…” lirihnya akhirnya.Kalimat itu langsung membuat dada Arlan terasa diremas. Ia mendekat lagi ke ranjang, lalu memegang kedua tangan Sevi lagi.“Aku nggak ada apa-apa sama Sonya.” Nada suaranya kali ini t

  • Bos, Jangan di Sini!   Hayoloh, Lan

    Mereka masih saling menggenggam tangan satu sama lain. Tangis yang tadi pecah kini perlahan mereda, menyisakan mata sembab dan napas yang belum sepenuhnya tenang. Air mata mereka bahkan sudah mengering, rasanya seperti tidak ada lagi yang bisa keluar.Ruangan kembali hening. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali langkah orang berlalu lalang di luar kamar rawat.Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Suster yang tadi dipanggil melalui tombol di samping ranjang masuk sambil membawa alat pemeriksaan sederhana.“Sudah sadar ya, Mbak?” tanyanya ramah.Sevi mengangguk kecil.Suster itu mulai memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh Sevi. Sesekali ia meminta Sevi menggenggam tangannya atau mengangkat kepala perlahan untuk memastikan kondisinya membaik.“Sudah lumayan stabil. Tinggal banyak istirahat dan jangan terlalu dipikirkan yang berat-berat dulu ya.”Sevi kembali mengangguk pelan.Tak lama setelah suster pertama keluar, suster lain menyusul masuk membawa nampan makan siang

  • Bos, Jangan di Sini!   Ketakutan

    Jantung Arlan berdegup cepat, tidak beraturan. Rasa panik bercampur penyesalan memenuhi pikirannya. Ia menyalahkan dirinya sendiri tanpa henti. Seharusnya ia lebih peka terhadap kondisi Sevi sejak pagi. Seharusnya ia menyadari ada yang tidak beres. Namun kenyataannya, ia terlambat.“Bodoh banget… kayak gini mau jadi suami.” Kalimat itu keluar lirih dari bibirnya, lebih seperti gumaman yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Berkali-kali ia menghela napas kasar, mencoba menenangkan diri, tetapi sia-sia. Yang ada justru perasaan bersalah semakin menekan.\\\Sesampainya di rumah sakit, tanpa membuang waktu, Arlan langsung mengangkat tubuh Sevi ke dalam pelukannya. Langkahnya terburu-buru memasuki rumah sakit. Ia menatap gelisah, mencari siapa pun yang bisa membantu.“Suster… tolong… pasien pingsan!” suaranya terdengar tegang, sedikit bergetar.Beberapa perawat yang berjaga langsung menoleh. Salah satu dari mereka mendekat dengan sigap, mengarahkan Arlan ke ruang penanganan.“Di sini, Pa

  • Bos, Jangan di Sini!   Pingsan

    Pikiran Sevi berisik sedari tadi malam, bahkan ia tak bisa berpikir jernih, hanya ada kecurigaan pada Arlan juga Sonya. Matanya sempat melirik ke arah meja Sonya, perempuan itu duduk seperti biasa. Tangannya bergerak lihai di keyboard, Sonya sedang bekerja. Tidak ada yang aneh dan mencurigakan. “Kayaknya cuma pikiran ku aja deh…” batin Sevi. Namun tetap saja rasa curiga itu tidak hilang. Ia menghela napas pelan, lalu memaksa dirinya fokus. Sevi berjalan menuju laboratorium. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, ia membuka pintu hendak masuk. Namun baru beberapa langkah, kepalanya terasa ringan seperti kosong. Lalu pandangan mulai berputar. “Sev aman?” Salah satu rekan memanggil, namun suara itu terdengar jauh. Sevi mencoba bertahan, beberapa kali ia membuka dan menutup mata untuk fokus, tangannya meraih meja di samping, tapi ternyata tubuhnya tidak kuat. “Sevi!” Suara rekannya kini lebih jelas, namun terlambat. Tubuh Sevi limbung dan... Bruk. Ia terjatuh pingsan.

  • Bos, Jangan di Sini!   Overthinking

    Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi ruang penuh pikiran bagi Sevi. Ia tidak benar-benar terlelap setelah terbangun oleh gumaman Arlan. Tubuhnya memang diam, namun matanya terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sesekali ia menoleh ke arah nakas. Ponsel Arlan ada di sana. Layar nya hitam, diam, tidak ada nada dering yang terdengar. Namun entah kenapa, benda itu terasa seperti menyimpan sesuatu.Sevi menarik napas pelan, lalu memejamkan mata. Ia mencoba tidur, namun gagal. Beberapa menit kemudian, matanya terbuka lagi, tangannya meraih ponselnya sendiri.Ia menggulir layar tanpa tujuan. Membuka aplikasi, menutupnya lagi. Tidak ada yang benar-benar ia perhatikan.Pikirannya sibuk, berulang pada satu hal, suara Arlan yang menggumamkan nama itu, Sonya.“...jangan…”Sevi menelan ludahnya sendiri.“Cuma mimpi kok” gumamnya pelan.Namun semakin ia mencoba meyakinkan diri, semakin terasa tidak sederhana. Bahkan waktu berjalan lambat sekarang.Jam dem

  • Bos, Jangan di Sini!   Double Date

    Arlan kira setelah lelah melakukan kegiatan panas tadi, Sebi akan langsung tertidur. Nyata nya, Sevi malah merengek ingin menonton acara kesukaan nya.Lampu ruang tamu menyala hangat, sementara televisi hanya menjadi latar tanpa benar-benar mereka perhatikan.Sevi duduk bersila di sofa, baju nya sudah diganti menjadi baju tidur. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh di pipi.“Lan…”“Iya?”“Kita jadi gym bareng kan nanti?”Arlan yang sedang membuka kulkas menoleh. “Jadi.”Sevi mengangguk pelan,. “Tapi aku masih takut sih.” Gumam nya pelan, bahkan Arlan pun tidak mendengar.“Kenapa sayang? Aku nggak denger suara mu.” Arlan terdiam sebentar, lalu menutup kulkas. Sebenarnya Arlan paham apa yang dikatakan Sevi, namun dalam kasus sekarang Arlan pura-pura tidak tau apapun.“Itu, kan aku nggak ada pakaian olahraga di sini. Tadi kan ditinggal di rumah utama.” “Kamu kuat jalan nggak? Kalau kuat kita keluar sekarang aja.”Sevi langsung menoleh cepat. “Sekarang?”“Iya. Sekalian makan mal

  • Bos, Jangan di Sini!   Special Valentine

    Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Hamil?

    Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjan

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Keputusan

    Siang itu seharusnya menjadi jeda yang tenang.Sevi duduk berhadapan dengan Arlan di ruangannya, makan siang sederhana yang Arlan bawa dari luar. Tidak ada obrolan berat, hanya cerita ringan tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh gejolak, Sevi m

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Menagih Janji

    Mobil Arlan berhenti tepat di depan rumah orang tuanya. Mesin dimatikan, pintu dibuka, dan angin sore langsung menyergap masuk ke dalam kabin. Sevi yang duduk di kursi penumpang depan menoleh, memperhatikan kedua orang tua Arlan yang sudah bersiap turun.“Hati-hati di jalan,” kata mama Arlan sambil

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status