Share

Titik Terendah

Author: Olivia
last update publish date: 2025-11-29 23:52:05

Pagi itu, bahkan matahari pun terasa enggan naik.

Awan menggantung berat, sama seperti perasaan Arlan sejak beberapa minggu terakhir. Ruang kerjanya sunyi, hanya ada tumpukan berkas, laptop yang masih menyala sejak subuh, dan kopi dingin yang bahkan tak sempat ia minum.

Arlan menatap layar di depan dirinya, tetapi tidak benar-benar melihat apa pun. Rasanya seperti duduk di dalam tubuhnya sendiri tanpa kendali. Hampa. Kosong.

Satu minggu penuh ia hampir tidak bertemu Sevi, dan satu minggu penuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Man Man
kasian arlan
goodnovel comment avatar
jamie
kasihan arlan. sedih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, Jangan di Sini!   Sonya di Mata Arlan

    Sore mulai turun perlahan di luar jendela rumah sakit. Langit yang tadinya terang kini berubah jingga redup, membuat suasana kamar rawat Sevi terasa lebih tenang dibanding siang tadi. Televisi menyala kecil tanpa benar-benar mereka perhatikan.Di atas meja samping ranjang sudah ada beberapa camilan yang dibawa Arlan sebelumnya, lengkap dengan susu stroberi dingin favorit Sevi. Namun perempuan itu masih belum benar-benar berselera makan sendiri karena tubuhnya masih terasa lemas.Maka sekarang, Arlan duduk di samping ranjang sambil memegang mangkuk makanan. Sedangkan Sevi duduk bersandar dengan selimut menutupi kakinya.“Mulutnya buka.”Sevi menurut pelan.Suapan demi suapan masuk dengan tenang. Sesekali Arlan meniup makanannya dulu sebelum menyuapi Sevi lagi, takut masih terlalu panas.Padahal tangan Sevi sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Infusnya pun berada di tangan kiri. Namun Arlan tetap keras kepala ingin menyuapi.“Nggak usah disuapin juga bisa kali…” gumam Sevi pelan.“Bisa sih

  • Bos, Jangan di Sini!   Pura-pura Pingsan?

    Ruangan itu kembali sunyi setelah Arlan keluar untuk meeting tadi pagi. Pendingin ruangan terasa dingin menusuk kulit, namun Sonya tetap memejamkan matanya di sofa panjang milik Arlan. Napasnya perlahan mulai teratur kembali. Pusing yang tadi menyerang memang nyata adanya, kepalanya bahkan masih terasa berat sampai sekarang.“A-aku pingsan?” Tanya nya pada dirinya sendiri.Jujur saja, kemarin ia benar-benar keteteran. Semua pekerjaan yang biasanya dibantu Arlan mendadak harus ia tangani sendiri karena pria itu terus fokus pada Sevi yang pingsan. Belum lagi revisi data, laporan meeting, dan email yang masuk tanpa henti membuat Sonya nyaris tidak tidur.Ditambah pikirannya sendiri yang semakin kacau. Ia terlalu memikirkan Arlan, tentang bagaimana pria itu sekarang mulai menjaga jarak yang membuatnya tak bisa lagi menggoda ataupun memberi perhatian kecil.Sonya menggertakkan giginya pelan. Dadanya terasa sesak lagi mengingat perubahan itu.“Emang pengganggu, sial.”Padahal dulu Arlan ma

  • Bos, Jangan di Sini!   Akhirnya Tegas

    Langkah Arlan yang awalnya ringan langsung terhenti di depan pintu ruang rawat. Kantong plastik berisi camilan dan susu stroberi yang ia bawa bergesekan pelan di tangannya. Wajahnya yang tadi sempat terlihat lega karena meeting selesai lebih cepat, kini perlahan berubah tegang.Sevi duduk di sofa dekat jendela rumah sakit. Tubuhnya menyandar lemah dengan selimut tipis menutupi kakinya. Cahaya sore dari luar masuk menerpa wajah pucatnya.Namun yang membuat dada Arlan terasa tidak nyaman, Sevi bahkan tidak menoleh sedikit pun saat dirinya datang.“Sayang…” panggil Arlan pelan.Tidak ada jawaban.Hanya suara notifikasi handphone yang sedari tadi berbunyi tanpa henti.Arlan berjalan mendekat. Baru saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, Sevi mengangkat tangannya pelan.Bukan untuk menyambut, melainkan menunjuk handphone di meja samping sofa.“Liat aja sendiri.” Nada suaranya datar. Alis Arlan langsung mengernyit. Ia mengambil handphone itu dan membaca isi grup kantor yang ramai seja

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidur di Ruangan Pak Arlan

    Pagi itu suasana kantor masih cukup sepi. Beberapa karyawan baru datang dan sibuk menyalakan komputer masing-masing, sedangkan sebagian lainnya masih mengambil kopi di pantry. Langkah Arlan terdengar pelan memasuki area kantor dengan jas yang masih rapi dan wajah lelah karena kurang tidur hari ini. Pikirannya sebenarnya masih tertinggal di rumah sakit. Namun pekerjaan tetap harus berjalan.Arlan menghela napas pelan sambil membuka pintu ruangannya. Baru saja ia hendak duduk, suara langkah tergesa terdengar mendekat.“Pak…”Sonya berdiri di depan pintu sambil memegang map. Wajahnya terlihat pucat, tidak seperti biasanya yang selalu tampak segar dengan riasan rapi dan senyum manisnya.Arlan hanya mengangkat kepala sekilas.“Iya?”“Mau minta tanda tangan buat revisi data kemarin…” Nada suara Sonya pelan, bahkan seperti berbisikArlan mengambil map itu tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cepat membuka lembar demi lembar sambil sesekali memberi koreksi singkat. Namun baru beberapa men

  • Bos, Jangan di Sini!   Keluar ASI?!

    Cahaya matahari pagi masuk perlahan dari sela tirai kamar rawat. Suasana rumah sakit masih cukup tenang, hanya terdengar suara roda troli dan langkah para perawat yang sesekali lewat di depan ruangan.Arlan yang sedari tadi duduk sambil menyandarkan kepala di samping ranjang perlahan membuka mata. Lehernya terasa pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman semalaman.Namun begitu sadar, hal pertama yang ia cari adalah Sevi. Ternyata wanitanya masih tertidur miring menghadap ke arahnya. Napasnya lebih stabil dibanding kemarin, wajahnya juga tidak sepucat sebelumnya.Arlan tersenyum kecil lega. Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Sevi.“Pagi sayang…” gumamnya lirih walau Sevi belum benar-benar bangun.Tak lama kemudian, Sevi bergerak pelan. Keningnya sedikit mengerut seperti merasa tidak nyaman.“Hmm…”Arlan langsung mendekat. “Udah bangun, sayang?”Namun alih-alih menjawab, Sevi justru menunduk pelan ke arah bajunya sendiri. Wajahnya berubah panik dan bingung.“Lan…”“Iya, ken

  • Bos, Jangan di Sini!   Tidak Akan Kecolongan

    Pelukan Arlan tidak pernah lepas sedari tadi. Tangannya masih mengusap pelan punggung Sevi, sesekali mengecup rambut perempuan itu dengan hati-hati. Setelah menangis dan mengeluarkan apa yang selama ini ia tahan sendiri, tubuh Sevi perlahan mulai rileks.Napasnya yang tadi tidak teratur kini mulai tenang.“Ngantuk…” gumam Sevi pelan sambil memejamkan mata.“Tidur aja, sayang” jawab Arlan lembut. “Aku di sini kok.”Sevi mengangguk kecil. Tangannya masih menggenggam ujung baju Arlan seperti takut laki-laki itu pergi. Namun rasa lelah dan obat yang mulai bekerja membuat kesadarannya perlahan menghilang.Tak lama kemudian, Sevi benar-benar tertidur.Arlan menunduk memperhatikan wajah perempuan itu cukup lama. Wajah pucatnya mulai sedikit membaik dibanding tadi pagi. Walau masih terlihat lelah, setidaknya Sevi kini bisa tidur lebih tenang.Jemari Arlan menyapu pelan rambut yang menutupi kening Sevi.Dadanya terasa sesak. Ia benar-benar tidak menyangka semuanya bisa sampai sejauh ini.Awaln

  • Bos, Jangan di Sini!   Hamil?

    Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Cahaya matahari masuk malu-malu melalui celah gorden, jatuh tepat di lantai kamar kontrakan Sevi. Jam dinding baru saja menunjukkan pukul enam lewat sedikit ketika Sevi berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya yang ia ikat setengah. Kemeja kerjan

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Bos, Jangan di Sini!   Keputusan

    Siang itu seharusnya menjadi jeda yang tenang.Sevi duduk berhadapan dengan Arlan di ruangannya, makan siang sederhana yang Arlan bawa dari luar. Tidak ada obrolan berat, hanya cerita ringan tentang pekerjaan dan rencana akhir pekan. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh gejolak, Sevi m

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Lamaran

    Udara siang itu terasa berbeda. Hangat, namun tidak menyengat. Matahari bersinar cerah, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa. Angin berembus perlahan, menyapu dedaunan di halaman rumah Sevi, membawa aroma tanah basah dan bunga segar yang sejak pagi dirangkai dengan penuh ketelatenan.Mobil y

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Bos, Jangan di Sini!   Melepaskan

    Sore perlahan merayap turun di Lembang. Matahari yang sejak siang begitu ramah kini mulai condong ke barat, meninggalkan cahaya keemasan yang menyentuh dedaunan dan halaman rumah Sevi. Acara lamaran sudah memasuki fase akhir. Suara tawa mulai mereda, hidangan tersisa dibereskan, dan satu per satu s

    last updateLast Updated : 2026-04-01
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status