로그인Malam itu gym sudah jauh lebih sepi. Lampu bagian bawah sebagian dimatikan, hanya menyisakan beberapa titik cahaya di area resepsionis dan ruang kerja trainer.Bima duduk selonjoran di ruangannya sambil memainkan botol air mineral yang sudah hampir kosong. Pikirannya masih penuh oleh Sonya.Tentang siapa perempuan itu sebenarnya dan gosip yang ia dengar. Serta tentang dirinya sendiri yang mulai nyaman.Ponselnya sedari tadi terbuka pada chat Arlan. Awalnya ia ragu ingin cerita, namun akhirnya jemarinya bergerak juga. “Lan, lu pernah curiga gak sih sama Sonya?”Tak butuh waktu lama, balasan masuk. “Kenapa emang?”Bima menghela napas panjang sebelum akhirnya menelepon langsung.Beberapa detik kemudian sambungan tersambung.“Kenapa?” suara Arlan terdengar lelah di seberang sana.“Santai dulu dengerinnya.”“Jadi takut.”Bima tertawa hambar. “Kayaknya gue suka sama Sonya.”Hening.Lalu, “Hah?”“Jangan hah doang bangsat.”Arlan langsung duduk tegak di sofa apartemennya. Sevi yang sedang r
Suasana gym siang itu cukup ramai dibanding biasanya. Suara musik terdengar samar dari speaker atas, bercampur dengan suara alat-alat gym dan obrolan para member yang saling menyapa.Bima berdiri di lantai dua dekat pagar pembatas, tangannya sibuk mencatat progres beberapa member di tablet miliknya. Sesekali ia memperhatikan ke bawah untuk memastikan semuanya aman.Tatapannya lalu berhenti pada rombongan Arlan dan Sevi yang baru masuk bersama Miko dan istrinya. Senyum kecil langsung muncul di wajahnya.“Rame banget bawa pasukan,” gumamnya pelan.Ia melihat Sevi tertawa kecil karena Arlan yang masih mengeluh pegal. Tangannya bahkan tidak lepas dari pinggang Sevi sedari masuk tadi, seolah takut wanita itu jatuh.Entah kenapa dada Bima terasa aneh melihat itu, seperti rasa lega yang bercampur sesak tipis. Ternyata Sevi benar-benar bahagia.Bima menghela napas pelan lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri.“Yaudah lah,” batinnya. “Emang harusnya gini kok.”Ia akhirnya turun menghampiri
Pagi itu suasana rumah utama terasa jauh lebih hangat dibanding semalam. Matahari masuk lewat jendela ruang makan, menimpa meja kayu panjang yang penuh dengan sarapan sederhana. Ada bubur ayam, telur dadar, roti panggang, dan teh hangat yang masih mengepul.Mama memang belum benar-benar pulih, wajahnya masih sedikit pucat, namun setidaknya pagi ini beliau sudah bisa duduk sendiri di kursi makan tanpa harus dipapah Papa. Dan itu sudah cukup membuat Arlan kembali hidup.“Ma, nanti kalau badanku udah gede kayak bima, Mama jangan kaget ya kalau aku tiba-tiba jadi atlet.”“Yang ada kamu encok duluan,” sahut Papa santai sambil menyeruput teh.Sevi menahan tawa kecil melihat Arlan yang langsung manyun.“Papa nggak supportif banget sih.”“Mama dukung kok,” ucap Mama sambil tersenyum tipis. “Asal habis olahraga nggak ngeluh badan sakit lagi.”Arlan langsung menunjuk Sevi. “Nih ya Ma, saksi hidup. Semalam aku turun kasur aja bunyi ‘krek’.”“Padahal yang paling heboh ngeluh siapa coba,” balas Se
Malam itu Arlan terlihat jauh lebih diam dibanding biasanya. Walau tubuhnya rebah di samping Sevi, pikirannya jelas masih tertinggal di rumah utama bersama Mama dan Papa. Sesekali ia membuka ponsel hanya untuk memastikan tidak ada pesan atau panggilan masuk. Sevi yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mendekat pelan.“Kepikiran terus ya?” tanyanya lembut.Arlan mengangguk kecil tanpa menoleh. “Hm.”Sevi langsung menggeser tubuhnya lebih dekat lalu memeluk pinggang Arlan. Kepalanya bersandar di dada lelaki itu sambil mengusap pelan lengannya.“Kan udah ada dokter di sana.”“Iya…”“Papa juga jagain.”Arlan menghela napas panjang. “Aku tuh takut tiba-tiba kenapa-kenapa pas nggak ada aku.” Nada suaranya terdengar kecil sekali.Sevi langsung mendongak menatap wajah Arlan. Untuk pertama kalinya Sevi melihat Arlan begitu rapuh. Seperti melihat seorang anak yang takut kehilangan ibunya. Tanpa banyak bicara Sevi mencium pipi Arlan singkat.“Mama kamu kuat.”Arlan memejamkan mata sebentar. “
Rumah utama Arlan pagi itu terasa jauh lebih sepi dibanding biasanya. Tidak ada suara Mama yang sibuk memanggil orang rumah atau suara televisi yang menyala keras di ruang tengah. Yang terdengar hanya suara langkah mereka ketika masuk ke dalam rumah. Papa yang membuka pintu langsung menghela napas lega melihat Arlan dan Sevi datang.“Tumben cepet.”“Ya panik lah pa.” jawab Arlan sambil buru-buru masuk. “Mama mana?”“Di kamar.”Sevi langsung berjalan lebih dulu menuju kamar Mama. Begitu pintu dibuka, terlihat Mama sedang bersandar di kepala kasur dengan selimut menutupi tubuhnya. Wajahnya memang terlihat pucat, rambutnya juga sedikit berantakan.Namun begitu melihat Sevi dan Arlan masuk, Mama langsung tersenyum kecil.“Loh malah kesini kalian.”“Mama sakit malah santai banget ngomongnya.” Sevi langsung duduk di samping kasur sambil memegang tangan Mama, tangannya hangat.“Mama demam dari kapan?” tanya Arlan sambil menyentuh dahi sang mama.“Semalem aja kok. Kayaknya kecapekan.”Papa i
Obrolan malam itu akhirnya berlanjut lebih santai. Walau Arlan sempat diam karena cemburu kecilnya muncul lagi, Sevi beberapa kali sengaja menyentuh tangan Arlan di bawah meja. Kadang menggenggam jemarinya, kadang sekadar mengusap punggung tangannya pelan seperti memberi tahu kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Dan memang benar, rasa cemburu Arlan perlahan mereda sendiri. Miko yang sedari tadi memperhatikan malah menyeringai jahil.“Gym lagi kapan kalian?”“Lusa kayaknya.” jawab Sevi sambil menyuap mie.“Eh serius?” Mila langsung antusias. “Aku mau ikut yoga nya.”“Nah iya sekalian aja.”Miko langsung menunjuk dirinya sendiri. “Gue ikut juga.”“Kamu olahraga?” Sevi tertawa mengejek.“Kurang ajar.”Mila ikut tertawa kecil sambil mengelus perutnya. “Sekalian lah Mik, biar nggak ngeluh encok terus.”“Padahal belum tua.” gerutu Miko.Arlan yang sedari tadi diam akhirnya ikut menyahut. “Papa mama ku juga mau ikut kayaknya.”“Hah serius?”“Iya. Mama malah ngambek kemarin karena kita
“Pak Bos... Bantu saya, ya...” Suara rendah nan halus, kini hancur sudah dinding kesabaran Arlan.Segera ia menggendong Sevi menuju ruangannya, tak ingin adegan yang membuatnya dejavu ini terekam oleh CCTV ruangan. Selagi menuju ke ruangannya, Sevi hanya mengusak lembut di lehernya. Suara kecipak
Sore itu suasana kantor terasa berbeda. Entah kenapa, hampir semua karyawan tampak bersemangat membereskan meja masing-masing. Biasanya masih ada yang santai mengobrol atau menunda pulang, tapi hari ini jam menunjukkan pukul lima lewat sedikit saja, ruangan sudah mulai lengang. Sevi yang sedang men
Malam itu, setelah Arlan pulang dari rumah orang tuanya, udara di sekitar kontrakan Sevi terasa tenang dan hangat. Lampu di dapur menyala redup, menerangi meja kecil yang kini dipenuhi beberapa bahan masakan sederhana, bawang merah, cabai, daun bawang, dan satu ikat sawi segar. Sevi duduk di kursi,
Suasana kantor malam itu begitu sunyi. Hanya dengungan pendingin ruangan dan bunyi jarum jam dinding yang sesekali terdengar. Lampu neon berpendar dingin, memantulkan cahaya putih pucat ke meja-meja kerja yang sebagian besar sudah kosong.Sevi masih duduk di balik meja, menatap layar komputer denga







