مشاركة

Titik Terendah

مؤلف: Olivia
last update تاريخ النشر: 2025-11-29 23:52:05

Pagi itu, bahkan matahari pun terasa enggan naik.

Awan menggantung berat, sama seperti perasaan Arlan sejak beberapa minggu terakhir. Ruang kerjanya sunyi, hanya ada tumpukan berkas, laptop yang masih menyala sejak subuh, dan kopi dingin yang bahkan tak sempat ia minum.

Arlan menatap layar di depan dirinya, tetapi tidak benar-benar melihat apa pun. Rasanya seperti duduk di dalam tubuhnya sendiri tanpa kendali. Hampa. Kosong.

Satu minggu penuh ia hampir tidak bertemu Sevi, dan satu minggu penuh
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (2)
goodnovel comment avatar
Man Man
kasian arlan
goodnovel comment avatar
jamie
kasihan arlan. sedih
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Bos, Jangan di Sini!   Jujur Perkara Gym

    Suasana kamar rawat yang tadi dipenuhi tangis dan kecemasan perlahan berubah lebih ringan sejak kedatangan Bima. Lelaki itu benar-benar tidak bisa diam. Baru beberapa menit duduk, sudah ada saja yang ia komentari.“Bang, serius deh. Kamu tuh mukanya gampang diboongin cewek.”Arlan mendelik malas.“Perasaan muka ku biasa aja.”“Enggak,” sahut Bima cepat. “Muka abang tuh tipe yang kalau ditipu investasi pasti bilang, ‘nggak apa-apa yang penting orangnya belajar.’”Sevi langsung tertawa keras sampai sedikit batuk. “HAHAHA apaan sih…”“Nah tuh ketawa,” Bima menunjuk Sevi bangga. “Berarti terapi ku berhasil.”Arlan menggeleng tidak habis pikir. “Paling bener jadi badut aja, Bim.”“Kalau aku jadi badut, member gym ku nangis semua nanti karena jatuh cinta.”“Najis,” balas Arlan spontan.Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama.Tak terasa hampir satu jam Bima menemani mereka mengobrol. Mulai dari membahas gym, makanan rumah sakit yang hambar, sampai Arlan yang dijadikan bahan candaan terus-me

  • Bos, Jangan di Sini!   Ngegibah Sonya

    Arlan masih membeku di tempatnya. Tangannya yang tadi menggenggam tangan Sevi, kini perlahan menegang. Wajahnya terlihat kosong beberapa detik, seperti sedang menyusun jawaban yang tepat di kepalanya.Sedangkan Sevi masih menatap lurus ke arahnya. Tatapan itu menusuk seperti meminta jawaban segera, dan justru itu lebih membuat Arlan gugup.“Aku… ngigau?” tanyanya pelan.Sevi mengangguk kecil. “Iya, tadi malam.”Arlan mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas panjang. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, namun yang ia ingat hanya tidur dengan kepala yang penuh pikiran.“Aku beneran nggak sadar, sayang,” ucapnya jujur. “Aku bahkan nggak inget mimpi apa.”Sevi tidak langsung menjawab, tangannya memainkan ujung selimut pelan dan bibirnya mengerucut kecil.“Aku cuma takut aja…” lirihnya akhirnya.Kalimat itu langsung membuat dada Arlan terasa diremas. Ia mendekat lagi ke ranjang, lalu memegang kedua tangan Sevi lagi.“Aku nggak ada apa-apa sama Sonya.” Nada suaranya kali ini t

  • Bos, Jangan di Sini!   Hayoloh, Lan

    Mereka masih saling menggenggam tangan satu sama lain. Tangis yang tadi pecah kini perlahan mereda, menyisakan mata sembab dan napas yang belum sepenuhnya tenang. Air mata mereka bahkan sudah mengering, rasanya seperti tidak ada lagi yang bisa keluar.Ruangan kembali hening. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali langkah orang berlalu lalang di luar kamar rawat.Tak lama kemudian, pintu terbuka pelan. Suster yang tadi dipanggil melalui tombol di samping ranjang masuk sambil membawa alat pemeriksaan sederhana.“Sudah sadar ya, Mbak?” tanyanya ramah.Sevi mengangguk kecil.Suster itu mulai memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh Sevi. Sesekali ia meminta Sevi menggenggam tangannya atau mengangkat kepala perlahan untuk memastikan kondisinya membaik.“Sudah lumayan stabil. Tinggal banyak istirahat dan jangan terlalu dipikirkan yang berat-berat dulu ya.”Sevi kembali mengangguk pelan.Tak lama setelah suster pertama keluar, suster lain menyusul masuk membawa nampan makan siang

  • Bos, Jangan di Sini!   Ketakutan

    Jantung Arlan berdegup cepat, tidak beraturan. Rasa panik bercampur penyesalan memenuhi pikirannya. Ia menyalahkan dirinya sendiri tanpa henti. Seharusnya ia lebih peka terhadap kondisi Sevi sejak pagi. Seharusnya ia menyadari ada yang tidak beres. Namun kenyataannya, ia terlambat.“Bodoh banget… kayak gini mau jadi suami.” Kalimat itu keluar lirih dari bibirnya, lebih seperti gumaman yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Berkali-kali ia menghela napas kasar, mencoba menenangkan diri, tetapi sia-sia. Yang ada justru perasaan bersalah semakin menekan.\\\Sesampainya di rumah sakit, tanpa membuang waktu, Arlan langsung mengangkat tubuh Sevi ke dalam pelukannya. Langkahnya terburu-buru memasuki rumah sakit. Ia menatap gelisah, mencari siapa pun yang bisa membantu.“Suster… tolong… pasien pingsan!” suaranya terdengar tegang, sedikit bergetar.Beberapa perawat yang berjaga langsung menoleh. Salah satu dari mereka mendekat dengan sigap, mengarahkan Arlan ke ruang penanganan.“Di sini, Pa

  • Bos, Jangan di Sini!   Pingsan

    Pikiran Sevi berisik sedari tadi malam, bahkan ia tak bisa berpikir jernih, hanya ada kecurigaan pada Arlan juga Sonya. Matanya sempat melirik ke arah meja Sonya, perempuan itu duduk seperti biasa. Tangannya bergerak lihai di keyboard, Sonya sedang bekerja. Tidak ada yang aneh dan mencurigakan. “Kayaknya cuma pikiran ku aja deh…” batin Sevi. Namun tetap saja rasa curiga itu tidak hilang. Ia menghela napas pelan, lalu memaksa dirinya fokus. Sevi berjalan menuju laboratorium. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, ia membuka pintu hendak masuk. Namun baru beberapa langkah, kepalanya terasa ringan seperti kosong. Lalu pandangan mulai berputar. “Sev aman?” Salah satu rekan memanggil, namun suara itu terdengar jauh. Sevi mencoba bertahan, beberapa kali ia membuka dan menutup mata untuk fokus, tangannya meraih meja di samping, tapi ternyata tubuhnya tidak kuat. “Sevi!” Suara rekannya kini lebih jelas, namun terlambat. Tubuh Sevi limbung dan... Bruk. Ia terjatuh pingsan.

  • Bos, Jangan di Sini!   Overthinking

    Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi ruang penuh pikiran bagi Sevi. Ia tidak benar-benar terlelap setelah terbangun oleh gumaman Arlan. Tubuhnya memang diam, namun matanya terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sesekali ia menoleh ke arah nakas. Ponsel Arlan ada di sana. Layar nya hitam, diam, tidak ada nada dering yang terdengar. Namun entah kenapa, benda itu terasa seperti menyimpan sesuatu.Sevi menarik napas pelan, lalu memejamkan mata. Ia mencoba tidur, namun gagal. Beberapa menit kemudian, matanya terbuka lagi, tangannya meraih ponselnya sendiri.Ia menggulir layar tanpa tujuan. Membuka aplikasi, menutupnya lagi. Tidak ada yang benar-benar ia perhatikan.Pikirannya sibuk, berulang pada satu hal, suara Arlan yang menggumamkan nama itu, Sonya.“...jangan…”Sevi menelan ludahnya sendiri.“Cuma mimpi kok” gumamnya pelan.Namun semakin ia mencoba meyakinkan diri, semakin terasa tidak sederhana. Bahkan waktu berjalan lambat sekarang.Jam dem

  • Bos, Jangan di Sini!   Hilangnya Alya dan Kemarahannya

    Alya menutup pintu apartemennya dengan perlahan, menjerat satu napas panjang di dada. Di balik kaca tebal itu, kota tampak biasa lampu lalu lintas berdenyut, kendaraan mengais jalan, namun semuanya terasa asing dan jauh. Ia menempelkan punggungnya pada pintu seolah berharap getarannya bisa meredak

    last updateآخر تحديث : 2026-03-22
  • Bos, Jangan di Sini!   Rencana Alya

    Malam di kota itu terasa terlalu sunyi. Lampu-lampu jalan berpendar di balik jendela apartemen mewah milik Alya, memantulkan cahaya kekuningan di wajahnya yang dingin. Di meja ruang tamu, beberapa berkas berserakan, dokumen perusahaan, catatan percobaan, juga beberapa foto yang diambil diam-diam.

    last updateآخر تحديث : 2026-03-22
  • Bos, Jangan di Sini!   Malam Panjang

    Perjalanan pulang dari pasar malam terasa berbeda.Tidak ada obrolan berisik, tidak ada tawa berlebihan, hanya keheningan yang hangat dan penuh rasa.Sevi dan Arlan duduk berdampingan di dalam mobil, tangan mereka saling bertaut di atas konsol tengah. Genggamannya erat, seolah dunia di luar sana bi

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
  • Bos, Jangan di Sini!   Hari Terakhir Pengobatan

    Pagi itu, cahaya matahari merembes lembut melalui celah gorden kamar kontrakan Sevi. Udara sejuk menandai bahwa hari sedang berjalan dengan tenang, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Sevi bangun tanpa rasa cemas di dadanya.Ia membuka gorden perlahan, membiarkan cahaya menerpa

    last updateآخر تحديث : 2026-03-26
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status