ANMELDEN“CK! Mereka beli seisi butiknya kali ya, Mom. Cowok tapi lelet banget belanjanya,” ujar Nia mulai mengeluh.Luna mengusap kepala Nia, “kayak gak tahu Daddy aja. Kalau udah datang ke butik ini pasti lama.” seolah apa yang terjadi sekarang sudah menjadi kebiasaan Devan dan kedua anak laki-lakinya.“Tapi serius, lama banget. Samperin yuk, Mom.”Luna pun menyetujui permintaan anak gadisnya.Luna menatap tiga laki-laki kesayangannya yang sedang sibuk memilih pakaian di butik itu. Devan, Dika, dan El tampak serius memperhatikan setiap detail pakaian yang mereka pegang, saling bertukar pendapat, dan selalu menanyakan pada Devan apakah baju itu cocok untuk mereka atau tidak. Tidak ada satu pun pakaian yang mereka beli tanpa persetujuan sang ayah. Luna tersenyum melihat pemandangan itu, hatinya hangat sekaligus bangga. Anak-anaknya, walaupun sudah remaja dan dewasa, tetap menghargai pendapat ayah mereka, dan itu membuatnya merasa hangat sebagai seorang ibu.“Sayang,” panggil Luna lembut sambil
Ternyata yang bilang “I love you” pada Nia adalah seorang anak laki-laki yang baru berusia lima tahun. Dari tatapannya saja sudah terlihat betapa dia menyukai Nia. Matanya berbinar, wajahnya tersenyum lebar, dan caranya menatap Nia jelas membuat siapa pun bisa merasa gemas melihatnya. Bocah itu bukan orang asing bagi Nia. Dia adalah adik kandung dari sahabat baik Nia, yang selalu ada di sekelilingnya saat bermain di taman atau saat les musik. Meski usianya masih kecil, tapi rasa sayangnya pada Nia terlihat tulus dan polos.Nia, dengan senyum nakal yang selalu berhasil mencairkan suasana, menghampiri bocah itu. “I love you too, Om,” godanya sambil terkekeh. Bocah laki-laki itu sampai terkekeh sendiri, matanya berbinar melihat Nia memanggilnya “Om.” Dia merasa bangga meski sebenarnya dia masih terlalu kecil untuk benar-benar mengerti kata-kata itu.“Eh, kakakmu mana?” tanya Nia dengan penasaran.“Sama Mama. Katanya lagi shopping. Ya udah, Glen ke sana dulu ya, Kak Nia. By by!” jawab bo
“Kemarin El yang makan, sekarang tinggal satu-satunya malah dimakan sama Dika. Huaaaaaa huaaaaa.”Semua orang akhirnya menatap ke arah Dika yang menjadi tersangka utama yang menyebabkan gadis cantik itu menangis meraung di rumahnya yang besar. Sekarang suster Intan sudah menikah dengan Ryan dan sudah punya anak. Sementara Bi Inem masih setia pada keluarga ini.“Cuma permen coklat doang masa kamu nangis, Nia?” Dika masih heran.Dia pikir itu hanya permen biasa, makanya diambil di atas meja dan tidak minta izin pada adiknya. Karena biasanya juga kayak gitu. Devan dan Luna terkekeh. “Itu coklat limited edition, sayang. Itu dibawain Uncle Kevin dari luar negeri. Makanya benda itu jadi sangat sakral di rumah ini. Gak ada yang berani nyentuh selain El,” sahut Devan.“Huh?” Dika masih terkejut mendengarnya. Dia seakan gak percaya dengan ucapan sang Daddy.“Udah-udah. Nanti kita beli lagi yang lain. Udah masuk perut mereka berdua, emang Nia mau makan bekas dalam perut El dan Dika?” tanya Lun
“Ma, Pa, Dika datang. Kalian apa kabar? Dika kangen Mama,” ucap Dika di atas kuburan kedua orang tua angkatnya. Sejak kejadian kecelakaan itu nyawa Amel pun tidak bisa diselamatkan. Dan saat itu Amel menitipkan Dika untuk dirawat oleh Luna. Jelang kepergiannya, Amel memohon maaf pada Luna untuk diberikan maaf baginya dan juga suaminya. Luna tentu saja memaafkan semua kesalahan yang pernah Amel lakukan. Dan dia juga berjanji akan menjaga Dika. Akan menjadikan Dika anaknya dan Devan. Luna juga janji sama Amel kalau dia akan menyayangi Dika seperti menyayangi kedua darah dagingnya sendiri. Meski kala itu situasinya sangat sulit untuk diterima oleh Dika, tapi dia tahu kalau mamanya sedang tidak baik-baik saja. Sampai akhirnya Amel pun dinyatakan meninggal dunia. Semua aset Arkana disita oleh pemerintah. Dia telah menyelundupkan barang terlarang ke tanah air. Dia juga melakukan penipuan dan merugikan negara. Sehingga tak ada satupun aset Arkana yang berpindah tangan atau diwariskan pada
Di luar ruang ICU, Devan dan Pak RT mendengarkan penjelasan polisi terkait kecelakaan sepasang suami istri itu. Sementara istrinya pak RT hanya diam sebagai pendengar dan tidak menimpali sama sekali. Hatinya juga ngilu mendengar kabar duka ini. Tak pernah terbersit dalam benaknya Arkana akan pergi dalam keadaan seperti ini, bahkan terlibat dalam skandal besar obat-obatan terlarang dan juga senjata ilegal. “Jadi waktu dia menghilang selama beberapa tahun itu, dia pergi ke luar negeri hanya untuk bergabung dengan komplotan penjahat?” tanya Pak RT. Mereka pikir kepulangan Arkana adalah awal perubahan hidup pria itu ke arah yang lebih baik. Mereka terlalu percaya dengan cerita bohong yang diumbar oleh Arkana dan Amel, yang katanya selama di luar negeri Arkana bekerja di sebuah perusahaan makanan kaleng. Sungguh mereka sangat percaya kebohongan yang dibuat apalagi Arkana pulang seolah memiliki banyak tabungan.“Benar, Pak. Dia adalah tangan kanan mafia paling berbahaya di dunia gelap. Dan
Suara telepon di meja nakas berdering nyaring. Luna terbangun saat mendengar ponsel suaminya terus berdering. “Mas, bangun,” panggil Luna. Devan mulai membuka matanya, “ponselmu nyala, Mas,” ucap Luna.Dengan mata setengah terpejam pria itu segera meraih ponselnya, dan ternyata nama pak RT yang tertera di sana. “Halo, pak,” jawab Devan.“Pak Devan, saya baru mendapat kabar dari pihak kepolisian kalau Arkana dan Amel mengalami kecelakaan di jalan tol.”“Apaaaaa?” Devan menegakkan tubuhnya dan matanya seketika membesar menerima kabar duka ini. Seketika bayangan wajah Dika melintas di benaknya. Luna pun kaget melihat reaksi sang suami kala menerima telepon. Dia segera duduk di atas ranjang. “Benar, Pak. Arkana sudah dinyatakan meninggal di tempat, sementara Amel masih kritis. Amel terus memanggil nama Dika dan Bu Luna. Bisakah Pak Devan ke rumah sakit sekarang? Saya dan istri pun akan bernag ke sana. Amel dirawat di ruang ICU,” balas Pak RT lagi.Devan napasnya sesak, dia sempat terdi







