“Maaf ganggu ya?” tanya Adit sambil melangkah masuk setengah.“Oh nggak,” jawab Dinda cepat sebelum Khalisa sempat bicara.“Cuma waktunya pas aja,” sambung Nadia dengan senyum lebar. “Temani Khalisa ya.”Khalisa langsung menoleh tajam ke arah Nadia.Adit terlihat sedikit bingung, tapi tetap tenang. Ia menyerahkan sebuah paper bag ke arah Khalisa.“Aku cuma mau ngasih ini. Tadi lewat toko dessert langganan. Sekalian buat kamu, Dinda, sama Nadia.”Dinda langsung menerimanya dengan antusias. “Wah, terima kasih banyak.”“Apa sih, Nad. Aku bisa sendiri,” ucap Khalisa pelan, nadanya tertahan.“Oh aku nggak keberatan kok, Lis,” sahut Adit santai. “Aku juga free hari ini.”Khalisa menggeleng pelan.“Nggak usah, Dit. Aku cuma mau lihat rumah sebentar. Nggak ada yang perlu dibantu.”Adit terdiam sebentar, lalu mengangguk.“Kalau gitu aku pamit.”Ia berbalik sedikit, benar-benar siap pergi.“Eh jangan, tunggu sini aja.”Khalisa sendiri terkejut dengan ucapannya. Kalimat itu keluar spontan. Bahka
อ่านเพิ่มเติม