Ruangan itu terasa semakin sempit.Khalisa menarik napas pelan, lalu menunduk sopan.“Kalau gitu… aku permisi,” ujarnya lirih.Adit langsung melangkah maju.“Jangan pulang, Lis. Aku yang mengundang kamu makan. Dan kita belum selesai.”“Adit, jaga perasaan Kayla!” bentak Bu Reni tajam.“Ma, cukup!” suara Adit meninggi. “Ini hidup Adit. Stop atur kehidupan Adit!”Khalisa hanya bisa diam. Dadanya terasa sesak.Bu Reni menoleh tajam padanya.“Heh, kamu? Jadi kamu yang buat anakku berani membantah mamanya?”Khalisa menegakkan tubuhnya meski lututnya terasa lemas.“Maaf, Tante… kalau aku salah, aku minta maaf. Dan aku permisi.”Ia berbalik tanpa menunggu siapa pun.“Khalisa, tunggu!” teriak Adit.Namun Khalisa terus melangkah keluar rumah. Tangannya gemetar saat membuka ponsel. Dengan cepat ia memesan mobil Grab. Ia tidak ingin diantar. Tidak ingin ada adegan kejar-kejaran. Ia hanya ingin pergi dengan tenang.Di dalam rumah, Bu Reni menahan lengan Adit.“Kamu mau kejar dia? Di depan Mama?”
อ่านเพิ่มเติม