“Kamu anterin aku dulu baru nganterin Ibu, Mas.” Gelas yang telah tandas itu Adhisti letakkan di meja.“Ibu, enggak apa-apa, kan?” tanya Adhisti.Ting.Bunyi sendok yang beradu dengan garpu memecah suasana meja makan yang sejak tadi dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata.Raka yang sedang menyendok nasi berhenti sejenak. Rahangnya mengeras. Ia bahkan tidak langsung menjawab. Tatapannya jatuh pada piring di depannya, seolah sedang menghitung kesabaran yang tersisa.Di seberang meja, Widya menoleh bergantian kepada anak dan menantunya.“Kalau Ibu sih enggak masalah,” jawab wanita itu hati-hati. Ia sudah melihat paras kemarahan anak lelakinya. Ia tidak mau menjadi alasan lain kemarahan itu. Widya yakin ia juga lelah.“Tuh, Ibu aja enggak apa-apa,” sahut Adhisti santai.Sikap santainya itu justru membuat dada Raka terasa semakin sesak. Sejak pagi wanita itu bertingkah seolah tidak ada apa-apa. Tidak ada pembahasan soal pertengkaran semalam.Bahkan permintaan maaf dan penjelasan dari mulu
Mehr lesen