**** Suara hujan di atap mobil terdengar seperti ketukan yang sabar. Tidak tergesa, tidak juga berhenti. Hanya jatuh, berulang, konsisten. Aku memandangi jemariku sendiri yang masih sedikit gemetar. “Pak…” suaraku serak, “Bapak pernah merasa… tidak pernah cukup di rumah sendiri?” Ia menoleh perlahan. Tidak langsung menjawab. “Kenapa kamu tanya begitu?” Aku tertawa kecil, hambar. “Karena dari kecil, aku selalu jadi yang ‘harus bisa’. Harus pintar. Harus dewasa. Harus ngerti keadaan. Bianca boleh manja, boleh salah. Aku nggak.” Hujan memantul lebih keras di kaca depan. “Papa selalu bilang, ‘Kamu kan kakak.’ Seolah itu jabatan seumur hidup.” Aku menelan ludah. “Kalau aku capek, itu dianggap drama. Kalau aku sedih, itu dianggap kurang bersyukur.” Pak Rassel mematikan mesin mobil. Suara hujan kini jadi satu-satunya latar. “Aku belajar jadi kuat bukan karena mau,” lanjutku pelan. “Tapi karena nggak ada pilihan.” Ia menghela napas dalam. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan mal
Last Updated : 2026-02-25 Read more