Malam itu, Nadia tidak langsung pulang ke kos.Ia duduk lama di dalam kamar, lampu dimatikan, hanya cahaya dari jendela yang membelah ruangan menjadi dua warna—gelap dan abu-abu. Pesan Kevin masih terngiang di kepalanya, berputar seperti gema yang menolak berhenti.Mulai malam ini, apa pun yang terjadi sama gue… itu pilihan gue. Bukan sistem.Kalimat itu seharusnya membuat Nadia lega.Tapi yang ia rasakan justru sebaliknya.Dadanya terasa berat, bukan oleh takut kehilangan, melainkan oleh rasa bersalah yang perlahan merayap. Selama ini, ia selalu bertanya-tanya apakah kedekatannya dengan Kevin membuatnya terperangkap. Baru sekarang ia menyadari—Kevin juga sedang terjebak, dan memilih cara paling berbahaya untuk keluar.Nadia bangkit dari kasur, mengambil jaket, dan menatap bayangannya di cermin.“Aku nggak bisa cuma diam,” katanya pada diri sendiri.Begitu melangkah keluar kamar, sensasi itu datang lagi.Bukan sakit.Bukan pusing.Melainkan tarikan halus, seperti benang yang ditarik p
Terakhir Diperbarui : 2026-01-02 Baca selengkapnya