Malam turun tanpa hujan.Lampu kamar Nadia masih menyala, tapi tirainya tertutup rapat. Ia duduk di lantai, bersandar ke sisi ranjang, lutut ditekuk, tangan memeluk diri sendiri. Di luar kamar, apartemen terasa terlalu sunyi Kevin tidak bergerak, tidak mengetuk, tidak mencoba masuk.Seperti janji diam-diam yang ia tepati.Nadia menutup mata.Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak mencoba menahan apa pun.Ia tidak menekan sensasi hangat di dadanya.Tidak mengusir tekanan halus di pelipisnya.Tidak berusaha menjadi normal.“Kalau ini aku,” bisiknya pelan, “tunjukin.”Awalnya hanya gelap.Lalu seperti suara jauh yang muncul dari balik air—ia mendengar detak.Bukan jantung.Detak itu lebih teratur. Lebih dingin. Seperti mesin yang sangat sabar.Napas Nadia melambat tanpa ia sadari.Di balik kelopak matanya, ruang terbentuk.Bukan ruangan nyata lebih seperti konsep. Bidang luas tanpa dinding, berwarna abu-abu pucat, dengan garis-garis cahaya tipis yang berdenyut seirama de
Terakhir Diperbarui : 2026-01-06 Baca selengkapnya