ログインPagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti gedung pencakar langit Wijaya Group. Siska duduk di dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lobi gedung. Pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Sebuah undangan resmi untuk Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) telah dikirimkan ke alamat Siska. Siska tahu, hari ini adalah hari penghakiman bagi pria yang pernah membuangnya demi wanita lain. Siska melangkah masuk ke dalam gedung dengan langkah yang lebih mantap. Dia mengenakan pakaian formal yang elegan, pemberian dari Arga. Saat dia berjalan melewati lobi, dia melihat Arga sudah berdiri di sana, dikelilingi oleh beberapa pengawal dan asisten pribadinya. Arga menoleh dan melihat Siska. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika melunak. Dia berjalan menghampiri Siska tanpa mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. "Kamu datang, Siska?" tanya Arga lembut. Dia meraih jemari Siska dan mengecupnya di depan umum. Arga terse
Malam yang dingin di sebuah gang sempit kawasan padat penduduk, seorang wanita sedang menahan mual karena bau lembap yang menyengat.Veni membanting tas bermereknya ke atas kasur tipis yang terasa keras. Ruangan itu sempit, hanya ada satu kipas angin tua yang berderit bising dan dinding yang catnya sudah mengelupas. Ini adalah hotel kelas melati, tempat yang dulu tidak pernah terbayangkan akan diinjak oleh kaki indahnya.Semua fasilitas kemewahan yang diberikan Hendri telah dibekukan. Apartemen mewahnya disegel, mobilnya ditarik, dan yang paling menyakitkan, kartu kreditnya tidak bisa digunakan sama sekali."Sialan! Kenapa hidupku jadi menjijikkan begini?!" teriak Veni frustrasi.Dia menatap cermin buram di kamar itu dan melihat wajahnya yang tampak kusam karena stres. Veni mencoba menenangkan diri. Dia duduk di pinggir kasur, jemarinya mulai membuka aplikasi Instagram. Dia mencari satu nama yang kini sedang menjadi pembicaraan hangat di kalangan elit: Arga Dewantara.Matanya membelal
Suasana mewah dan tenang di Penthouse menyambut mereka. Namun, bagi Siska, kemewahan ini terasa berbeda malam ini. Adrenalin yang selama ini memacu jantungnya untuk membalas dendam telah menguap sepenuhnya, menyisakan keletihan yang teramat sangat di sekujur tubuhnya. Siska kemudian melangkah masuk ke kamar dan menutup pintu dengan pelan. Dia berjalan menuju meja rias yang diterangi lampu temaram. Perlahan, dia menatap pantulan dirinya di cermin besar itu. Siska menyentuh wajahnya sendiri. Di bawah cahaya lampu, dia melihat apa yang selama ini tidak pernah dia perhatikan: kerutan halus di sudut matanya. Kulitnya yang tampak sedikit pucat karena kelelahan kronis. Ada guratan-guratan kesedihan yang seolah sudah permanen di wajahnya. Dia membandingkan dirinya dengan Arga. Arga adalah matahari yang sedang terbit, sementara dia merasa seperti bulan yang sudah mulai memudar. Rasa minder yang selama ini terkubur jauh di dalam hatinya mendadak muncul ke permukaan seperti ombak yang meng
Pagi itu, langit di atas Jakarta tampak sangat tenang, seolah tidak tahu bahwa badai besar sedang menghantam hidup seseorang. Di sebuah rumah mewah yang berdiri tegak dengan pilar-pilar raksasa, Hendri masih terlelap. Jam dinding menunjukkan pukul 06.00 pagi. Cahaya matahari mulai merambat masuk melalui celah gorden sutra yang mahal, menyentuh wajah Hendri yang tampak sangat kusut. Hendri mengerang. Dia mencoba membuka matanya, namun kepalanya terasa sangat berat dan berputar. Hangover yang luar biasa menyiksanya akibat pesta minuman keras semalam. Dia merasa seolah ada ribuan jarum yang menusuk-nusuk otaknya. Dengan tangan gemetar, dia mencoba meraba meja di samping tempat tidur, mencari segelas air, namun tangannya justru menyenggol botol kosong hingga terjatuh ke lantai. "Siska... Siska, ambilkan aku minum!" teriak Hendri dengan suara serak. Namun, tidak ada jawaban. Keheningan yang hampa adalah satu-satunya hal yang menyambutnya. Dia lupa bahwa Siska sudah tidak ada lagi di
Hendri masih di sana, tertawa parau dengan tatapan mata yang liar karena pengaruh alkohol dan dendam. Dia mengira tindakannya barusan akan membuat Arga mengamuk dan Siska menangis malu. Namun, yang dia lihat justru pemandangan yang membuatnya merasa semakin kecil. "Mas Hendri," suara Siska terdengar sangat stabil dan dingin. Tidak ada lagi nada ketakutan yang biasanya menghiasi suaranya jika berhadapan dengan pria itu. "Kau meludah karena kau tahu kau sudah kalah, Mas. Kau melakukannya karena kau tidak lagi memiliki kata-kata untuk membela dirimu sendiri. Kau tidak lagi memiliki kuasa untuk menjatuhkan kami dengan caramu yang dulu," ujar Siska sambil menatap lurus ke dalam mata Hendri yang memerah. Hendri hendak menyela, namun Siska mengangkat tangannya, membungkam pria itu dengan wibawanya yang baru. "Ludahmu tadi tidak menghina Arga. Sedikit pun tidak. Tindakanmu justru memperlihatkan kepada semua orang di ruangan ini betapa rendahnya kelasmu. Kau datang ke sini dengan jas m
Beberapa hari ini adalah hari yang menenangkan untuk Siska dan Arga. Dan tepat di malam ini adalah acara Gala Diner yang dihadiri para pengusaha muda. Arga dan Siska tampil sangat memukau, Siska memakai gaun merah dengan belahan yang tinggi dan memperlihatkan tato baru dikakinya, Siska tampil begitu cantik dan percaya diri, sedangkan Arga tampil menggunakan setelan jas hitam yang memperlihatkan wibawanya. Dalam kehangatan suasana Gala Diner itu, tiba-tiba suara teriakan kasar dan bunyi benturan benda keras merusak keanggunan malam itu. Para tamu undangan serentak menoleh ke arah pintu kayu jati besar yang kini terbuka lebar. "Mana Siska?! Di mana kalian menyembunyikan wanita jalang itu?!" Sesosok pria muncul dengan langkah sempoyongan. Dia adalah Hendri. Penampilannya sangat mengenaskan. Jas mahalnya tampak kusut dan tidak terkancing, dasinya miring, dan rambutnya yang biasa klimis kini berantakan menutupi dahi. Bau alkohol yang sangat menyengat langsung tercium bahkan dari jara
"Halo. Saya Coach Arga, pelatih pribadi ibu kamu. Dan kamu pasti Grace, kan? Kebetulan sekali kamu mendaftar hari ini, karena mulai besok saya yang akan mengurus kalian berdua di tempat ini." Darah di sekujur tubuh Siska terasa membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum a
Siska menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi dengan tatapan kosong. Kantung matanya terlihat menghitam karena kurang tidur. Sentuhan hangat bibir Arga pada bekas luka bakarnya kemarin seolah masih menempel di kulit betisnya. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan fisik biasa. Bagi Siska, ciuman
"Lari, Siska! Jangan seperti mayat hidup yang hanya membuang buang oksigen di sini!" Teriakan Arga menggelegar di seluruh penjuru area VIP, memecah kesunyian pagi yang dingin. Siska tersentak, mencoba memacu kakinya lebih cepat di atas karpet treadmill yang terus berputar tanpa ampun. Napas wanita
Pagi itu Siska terbangun dengan perasaan yang sangat tidak tenang. Bayangan mobil sport hitam Arga yang terparkir di seberang jalan restoran tadi malam terus menghantuinya. Pesan singkat pria itu tentang air matanya seolah menjadi bukti bahwa tidak ada satu inci pun dari hidupnya yang luput dari pe







