"Apa?!" Daphne nyaris tertawa lepas, tapi wanita itu langsung menahannya."Kenapa, Ibu?" Aisha mengerutkan alisnya. Gadis itu terlihat tak mengerti."Ah, nggak apa-apa," jawab Daphne sambil cengengesan."Hah!" Aisha memicingkan mata, penasaran. "Apa ada yang lucu? Aku sedang bertanya serius, Ibu!" tegas Aisha, memegang tangan sang ibu."Ya, tapi yang lucu itu bukan pertanyaan kamu, Sayang." Daphne mengusap lengan putrinya sambil tersenyum."Apa?! Terus, apa yang lucu?" Aisha belum mengerti. Gadis itu benar-benar sangat polos, membuat Daphne tak tahan lagi untuk tertawa oleh tingkah sang putri."Yang lucu itu, panggilan kamu ke suamimu, Sayang." Daphne mencubit pipi Aisha pelan.Aisha mengusap pipinya, bekas cubitan dari sang ibu yang agak memerah, lalu menyahut, "Ah, apa seperti itu lucu?" "Tentu saja lucu. Di saat kamu harus memanggilnya 'Sayang', atau 'Cinta', kamu malah memanggilnya, 'Pak'." Daphne menutup mulutnya dengan satu tangan."Apa?!" Mata Aisha membulat. "Apa harus seper
続きを読む