Share

Ciuman Pertama

Penulis: Miss Wang
last update Tanggal publikasi: 2026-01-25 15:47:31

Clara melangkah tergesa di belakang Ken tanpa sempat mengenakan alas kaki. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya.

Pintu kamar Raymond sudah terbuka lebar.

Raymond setengah duduk di atas ranjang, punggungnya bersandar pada dipan ranjang. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras menahan nyeri. Kemeja hitamnya terbuka sebagian, perban di perutnya tampak mulai basah oleh darah segar. Keringat tipis mengilap di pelipisnya, napasnya terukur, dipaksakan tetap tenang.

Clara membeku sepersekian d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Foto 3 Hari yang Lalu 2

    "Dia tidak akan menemukannya." "Bagaimana kau yakin?" Elena menatap lorong kosong di depannya. "Karena orang yang dia cari..." Ia berhenti sejenak. "...sudah tidak berada di mansion." Sambungan terputus. Elena memasukkan ponselnya ke dalam saku. Namun ia tidak menyadari bahwa di ujung lorong, di balik bayangan pilar besar... seseorang berdiri diam. Seseorang telah mendengar percakapan mereka. Di sebuah ruangan yang jauh dari jangkauan Raymond... wanita yang menyerupai Maria duduk di depan cermin. Lampu kecil di atas meja rias menerangi wajahnya. Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah itu begitu sempurna. Bentuk mata. Hidung. Bibir. Garis rahang. Bahkan tahi lalat kecil di dekat sudut bibir yang pernah dimiliki Maria. Namun itu bukan wajah aslinya. Ia menyentuh pipinya dengan ujung jari. Air mata perlahan mengalir. "Maaf..." Suaranya bergetar. "Aku tidak ingin melakukan ini." Pintu terbuka. Elena masuk. Wanita itu segera menoleh.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jejak Wajah yang Hilang

    Pintu kayu tua itu tertutup tepat di depan wajah Raymond. BRAK! Bunyi benturannya menggema di sepanjang koridor mansion, lalu perlahan lenyap ditelan kesunyian. Raymond berhenti. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempatnya. Dada pria itu masih naik turun akibat berlari. Napasnya berat, tetapi bukan kelelahan yang membuatnya terdiam. Tatapannya terpaku pada permukaan pintu berwarna cokelat tua di hadapannya. Di balik pintu itu... ada wanita yang baru saja membuat seluruh keyakinannya tentang masa lalu berantakan. Wanita yang memiliki wajah ibunya. Wanita yang beberapa detik lalu menatapnya dengan mata penuh air mata dan mengatakan bahwa dirinya belum pernah mati. Raymond perlahan mengangkat tangan. Jemarinya hampir menyentuh gagang pintu. "Jangan, Tuan." Suara John terdengar dari belakang. Raymond menoleh tajam. John segera berhenti beberapa langkah darinya. Dua pengawal berada di belakang pria itu, masing-masing membawa senjata dan memasang kewasp

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Disembunyikan

    Gelap total. Dalam sekejap, mansion tua itu berubah menjadi lautan kegelapan. "Jangan bergerak!" Suara John terdengar tegas dari bawah tangga. Para pengawal Raymond langsung membentuk lingkaran perlindungan. Senjata mereka terangkat, sementara beberapa orang menyalakan senter kecil dari peralatan yang mereka bawa. Raymond tidak peduli. "Ken!" Ia menatap ke arah lantai atas. Tidak ada jawaban. "Ken!" Kali ini ia berteriak lebih keras. Hanya gema suaranya yang terdengar. Kemudian dari suatu tempat di lantai atas terdengar suara langkah kaki. Satu. Dua. Tiga. Perlahan. Berat. Raymond langsung mengangkat kepalanya. "Siapa di sana?" Tidak ada jawaban. John bergerak mendekati Raymond. "Tuan, jangan naik sendirian." "Aku tidak punya pilihan." "Ini jebakan." "Aku tahu." Raymond menatap tangga yang gelap. "Justru karena itu aku harus naik." Ia baru hendak melangkah ketika suara Charles terdengar dari belakangnya. "Selamat datang, Raymond." Raymond berhenti. Suara

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rahasia yang Ditinggalkan Maria

    Raymond terdiam. Nama Maria kembali menggema di dalam kepalanya. Rahasia. Warisan. Dua kata itu terasa seperti potongan teka-teki yang selama bertahun-tahun sengaja disembunyikan darinya. "Apa yang sebenarnya disembunyikan ibu?" Charles menatap putranya beberapa detik sebelum menjawab. "Beberapa minggu sebelum kematiannya, Maria mulai bersikap berbeda." Raymond mengerutkan kening. "Berbeda bagaimana?" "Dia menjadi lebih berhati-hati." Charles berjalan perlahan menuju ruang utama mansion. "Dia mengganti beberapa pengawal. Mengunci ruang kerjanya. Bahkan memutus hubungan dengan beberapa orang yang selama bertahun-tahun bekerja untuk keluarga kita." Raymond mengikuti dengan tatapan tajam. "Dan kau tidak bertanya?" "Aku bertanya." Charles berhenti. "Dia tidak menjawab." Raymond tertawa hambar. "Jadi sekarang kau ingin aku percaya bahwa kau tidak tahu apa-apa?" "Aku tahu sebagian." Charles menoleh. "Tapi tidak semuanya." Elena yang sejak tadi diam akhirnya berkata,

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rahasia yang Disembunyikan

    Raymond tidak bergerak.Selama beberapa detik, tubuhnya berdiri kaku di halaman depan mansion tua itu. Cahaya lampu kekuningan yang baru menyala dari dalam bangunan jatuh tepat ke wajah wanita yang berdiri di ambang pintu.Raymond menatapnya tanpa berkedip.Wajah itu.Garis rahangnya. Bentuk matanya. Lekuk bibirnya. Bahkan kebiasaan kecilnya memiringkan kepala ketika sedang menatap seseorang.Semuanya begitu familiar.Terlalu familiar.Seolah sebuah bagian dari masa kecil Raymond tiba-tiba keluar dari foto lama dan berdiri hidup-hidup di hadapannya.Bibir Raymond bergetar."Ma...?"Suara itu keluar begitu lirih hingga hampir tertelan angin malam.Wanita tersebut langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir deras."Raymond..."Satu kata.Namun suara itu menghantam dada Raymond jauh lebih keras daripada suara tembakan mana pun yang pernah ia dengar.Dadanya terasa sesak.Kenangan masa kecil berkelebat begitu cepat di kepalanya.Sebuah taman.Ayunan kayu.Tangan le

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Maria Antonio

    Malam semakin larut. Namun bagi Raymond, waktu seolah berhenti tepat pada saat John mengucapkan satu nama yang selama bertahun-tahun hanya hidup di dalam ingatan. Charles Antonio. Ayahnya. Pria yang selama ini ia yakini telah mati. Raymond masih berdiri di tengah ruang keamanan Rumah Sakit Pusat. Cahaya kebiruan dari puluhan monitor CCTV jatuh di wajahnya yang kaku. Untuk beberapa detik, ia bahkan tidak berkedip. Tangannya perlahan turun dari sisi tubuh. "Ulangi." Suaranya rendah. John menelan ludah sebelum menjawab. "Mansion itu tercatat dalam dokumen lama keluarga Antonio, Tuan." Ia membuka salah satu berkas digital di tabletnya. "Dan nama yang tercantum sebagai pemilik adalah..." John berhenti sejenak. "Charles Antonio." Ruangan mendadak terasa lebih sempit. Raymond menatap layar. Di sana terpampang salinan dokumen lama dengan tanda tangan yang sudah menguning dimakan usia. Charles Antonio. Tanda tangan itu sangat dikenalnya. Raymond pernah melihatnya berkali-ka

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status