공유

Ciuman Pertama

작가: Miss Wang
last update 게시일: 2026-01-25 15:47:31

Clara melangkah tergesa di belakang Ken tanpa sempat mengenakan alas kaki. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya.

Pintu kamar Raymond sudah terbuka lebar.

Raymond setengah duduk di atas ranjang, punggungnya bersandar pada dipan ranjang. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras menahan nyeri. Kemeja hitamnya terbuka sebagian, perban di perutnya tampak mulai basah oleh darah segar. Keringat tipis mengilap di pelipisnya, napasnya terukur, dipaksakan tetap tenang.

Clara membeku sepersekian d
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Anak yang Dinyatakan Mati

    Raymond menaiki tangga besi menuju lantai dua dengan langkah cepat.Suara sepatu para pengawal terdengar mengikuti dari belakang. John berjalan paling depan, memastikan tidak ada orang yang masih bersembunyi di antara ruangan-ruangan tua itu.Namun pikiran Raymond tidak lagi berada di gudang.Pikirannya tertahan pada satu kalimat dari rekaman Maria.Mulailah dengan mencari anak yang dinyatakan mati.Dan sekarang John mengatakan ada foto Maria bersama Adriana ketika perempuan itu sudah cukup besar untuk berdiri sendiri.Raymond berhenti di depan sebuah pintu kayu."Di sini."John membukanya.Ruangan itu kecil dan berdebu.Tidak ada jendela.Hanya sebuah meja, lemari tua, dan beberapa kardus yang sudah lapuk.Di atas meja terdapat sebuah foto dalam bingkai kaca.Raymond mendekat.Dadanya langsung terasa berat.Maria berdiri di halaman sebuah rumah.Di sampingnya seorang anak perempuan berusia sekitar enam atau tujuh tahun

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Surat Terakhir Maria

    Raymond masih berdiri di tengah gudang.Foto yang baru saja ditemukan berada di tangannya. Hujan di luar terdengar semakin jelas, menghantam atap seng dengan suara berulang yang membuat suasana terasa semakin menekan.Di dalam foto itu, Maria berdiri di depan sebuah bangunan tua.Wajahnya tampak lebih kurus dibandingkan foto-foto yang selama ini disimpan Raymond. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada perhiasan mewah. Tidak ada senyum yang biasa ia tunjukkan ketika berada di depan keluarga.Di belakangnya berdiri Charles.Ayahnya.Pria yang selama bertahun-tahun diyakini telah meninggal.Raymond mengangkat foto itu lebih dekat ke arah cahaya senter.Charles terlihat berbeda.Bukan karena usia.Melainkan karena ekspresinya.Ia tidak sedang tersenyum kepada Maria. Tatapannya justru mengarah ke sisi lain, seolah-olah sedang mengawasi seseorang yang berada di luar jangkauan kamera.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gudang No 17

    Hujan turun ketika mobil Raymond memasuki kawasan pelabuhan lama.Bukan hujan deras, tetapi cukup untuk membuat kaca depan kendaraan dipenuhi titik-titik air yang terus mengalir ke bawah. Lampu kota semakin jarang terlihat. Gudang-gudang tua berdiri berjajar di sepanjang jalan, sebagian besar sudah tidak digunakan.Cat pada dindingnya mengelupas.Pintu-pintu besi berkarat.Beberapa lampu penerangan bahkan sudah mati bertahun-tahun.Raymond duduk diam di kursi belakang.Di telapak tangannya, kunci kecil pemberian Elena masih tergenggam erat.Gudang nomor tujuh belas.Tempat itu disebutkan oleh Elena sebagai lokasi terakhir yang berkaitan dengan Maria.Namun Raymond tidak mempercayai Elena sepenuhnya.Tidak setelah mengetahui wanita bernama Adriana telah menjalani operasi untuk menyerupai ibunya.Tidak setelah menemukan dokumen yang menunjukkan Maria sendiri pernah membiayai operasi tersebut.Dan yang paling mengganggunya...Adriana mengaku pernah melihat Maria setelah wanita itu dinyat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Di Balik Layar

    Pintu itu terbuka lebar.Cahaya dari lorong masuk ke dalam ruangan yang selama beberapa jam hanya diterangi lampu kecil di atas meja.Ken menyipitkan mata.Tubuhnya masih lemah.Namun wajahnya berubah ketika melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.Ia mengenalnya.Tidak mungkin salah.Wajah itu pernah muncul dalam dokumen lama keluarga Antonio.Pernah ia lihat dalam foto.Pernah ia dengar namanya disebut oleh Raymond.Dan yang paling mengerikan...pria itu seharusnya sudah meninggal."Mustahil..."Ken berbisik.Maria berdiri di samping ranjang dengan wajah pucat.Pria itu masuk perlahan.Tidak membawa senjata.Tidak pula menunjukkan kemarahan.Justru ketenangannya membuat suasana terasa semakin mengerikan."Sudah lama, Ken."Ken menatapnya tajam."Bagaimana mungkin kau masih hidup?"Pr

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jejak Terakhir Maria

    Kartu hitam itu masih berada di tangan Raymond.Satu kalimat sederhana tercetak di atas permukaannya.Kalau ingin menemukan Ken, datanglah sendirian.Raymond membacanya sekali lagi.Kemudian tertawa pendek.Bukan tawa karena lucu.Melainkan tawa seseorang yang baru saja kehilangan kesabarannya."Mereka pikir aku akan datang sendirian?"John segera menggeleng."Jangan lakukan itu, Tuan."Raymond menatapnya."Aku tidak berniat mengikuti aturan mereka."Ia menyerahkan kartu tersebut."Periksa semuanya."John menerima kartu itu."Sidik jari?""DNA, serat kain, tinta, apa pun yang bisa ditemukan.""Baik."Raymond kemudian menoleh kepada Adriana.Wanita itu masih berdiri di sudut ruangan.Wajah yang menyerupai Maria membuat Raymond kembali merasa tidak nyaman."Adriana."Wanita itu mengangkat w

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wajah yang Bukan Miliknya

    Ruangan bawah tanah itu mendadak terasa sesak.Raymond menatap John."Di mana wanita itu?""Ruang sebelah, Tuan.""Antarkan aku."John mengangguk.Namun sebelum Raymond bergerak, Charles tiba-tiba bersuara."Raymond."Raymond berhenti."Apa?"Charles menatap putranya dengan wajah penuh keraguan."Jangan percaya semua yang akan kau lihat."Raymond tersenyum dingin."Seharusnya Ayah mengatakan itu kepada dirimu sendiri sejak awal."Ia berbalik.John membuka pintu besi di ujung lorong.Kreeek...Ruangan di baliknya jauh lebih terang.Seorang wanita duduk di atas kursi.Rambut hitam panjang terurai di bahunya.Wajahnya...wajah Maria.Raymond berhenti beberapa langkah dari pintu.Jantungnya berdegup keras.Walaupun ia sudah mengetahui kemungkinan wanita itu bukan ibunya, mel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pura-pura menjadi Kekasih Tuan Mafia

    Clara membeku mendengar itu. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Langkahnya gontai mengikuti Raymond dan anak buahnya menuju mobil. Di dalam mobil, Clara hanya bisa membisu. Di saat yang bersamaan, air mata Clara kembali menggenang. Perasaannya kembali bercampur. Putus asa dan pengharapan, semuan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status