เข้าสู่ระบบTubuh Charles jatuh tepat ke dalam pelukan Raymond."Ayah!"Raymond menekan luka di dada Charles dengan telapak tangannya. Darah mulai merembes melalui sela-sela jarinya."Dokter!"Suara Raymond mengguncang seluruh mansion.John langsung berlari mendekat."Pengawal, tutup seluruh akses!"Beberapa pria berlari ke arah pintu utama dan jendela."Jangan biarkan siapa pun keluar!"Raymond menatap wajah Charles yang semakin pucat."Jangan tutup mata."Charles membuka matanya sedikit."Raymond...""Diam. Dokter akan segera datang.""Tidak..."Charles menggenggam pergelangan tangan Raymond."Folder..."Raymond mengerutkan kening."Folder apa?""Maria..."Napas Charles terdengar berat."Jangan biarkan mereka mendapatkannya."Raymond langsung menoleh ke arah ruang kerjanya.Folder hitam.Aset rahasia Maria.Folder yang bahkan Charles sendiri dilarang menyentuhnya."John.""Ya, Tuan.""Amankan ruang kerja."John baru hendak bergerak ketika suara ledakan terdengar dari lantai dua.BOOM!Kaca jend
Raymond masih menatap layar ponselnya.Panggilan telah berakhir.Namun suara Maria masih terngiang jelas di kepalanya.Maafkan Mama.Bertahun-tahun ia mengira tidak akan pernah mendengar kalimat itu lagi.Sekarang, ketika kesempatan tersebut benar-benar datang, justru Maria kembali menghilang."Nomornya bisa dilacak?" tanya Raymond.John segera mendekat dengan perangkat di tangannya."Sedang dicoba."Raymond menatap Charles."Kenapa Mama takut kembali?"Charles tidak menjawab."Dan jangan katakan kau tidak tahu."Charles menghela napas."Karena orang yang mengejarnya belum berhenti.""Elena?"Charles menggeleng."Elena hanya menjalankan perintah."Raymond membeku."Perintah siapa?"Charles menatap putranya."Aku tidak tahu."Raymond tertawa dingin."Kau selalu tidak tahu."
Mansion Antonio tidak pernah terasa sesunyi malam itu.Raymond berdiri di ruang utama dengan foto yang baru saja dikirim oleh nomor tak dikenal masih berada di tangannya.Foto Maria.Terbaring di ranjang rumah sakit.Masih hidup.Selama bertahun-tahun Raymond percaya ibunya meninggal pada malam kecelakaan itu. Ia bahkan sudah menerima rasa kehilangan tersebut sebagai bagian dari hidupnya.Ternyata semuanya adalah kebohongan.Pintu ruang utama terbuka.Charles masuk seorang diri.Wajah pria itu terlihat jauh lebih tua daripada sebelumnya.Raymond langsung menatapnya."Saint Rose."Langkah Charles terhenti.Wajahnya berubah.Raymond tidak membutuhkan jawaban lagi."Kau tahu."Charles menunduk."Maria tidak mati malam itu."Raymond tertawa kecil. Hambar."Jadi benar."Ia berjalan mendekat."Siapa yan
Malam telah berganti ketika Raymond kembali ke mansion.Namun ia tidak tidur.Foto Maria dan seorang anak perempuan itu masih berada di tangannya.Di atas meja ruang kerja, foto tersebut diletakkan berdampingan dengan gelang bertuliskan A.R., dokumen rumah sakit, serta salinan surat Maria yang ditemukan di Gudang Nomor 17.Semua potongan itu seperti bagian dari sebuah teka-teki.Masalahnya, semakin banyak potongan yang ditemukan, semakin sulit Raymond memahami gambarnya.John berdiri di depan layar besar."Rumahnya sudah ditemukan."Raymond mengangkat kepala."Di mana?""Daerah pegunungan sebelah utara. Sekitar dua jam dari sini."John menampilkan foto satelit.Sebuah rumah tua berdiri sendirian di tengah kawasan yang hampir tidak berpenghuni."Rumah itu tidak pernah terdaftar atas nama Antonio.""Pemiliknya?""Nama di dokumen lama adalah seorang per
Raymond menaiki tangga besi menuju lantai dua dengan langkah cepat.Suara sepatu para pengawal terdengar mengikuti dari belakang. John berjalan paling depan, memastikan tidak ada orang yang masih bersembunyi di antara ruangan-ruangan tua itu.Namun pikiran Raymond tidak lagi berada di gudang.Pikirannya tertahan pada satu kalimat dari rekaman Maria.Mulailah dengan mencari anak yang dinyatakan mati.Dan sekarang John mengatakan ada foto Maria bersama Adriana ketika perempuan itu sudah cukup besar untuk berdiri sendiri.Raymond berhenti di depan sebuah pintu kayu."Di sini."John membukanya.Ruangan itu kecil dan berdebu.Tidak ada jendela.Hanya sebuah meja, lemari tua, dan beberapa kardus yang sudah lapuk.Di atas meja terdapat sebuah foto dalam bingkai kaca.Raymond mendekat.Dadanya langsung terasa berat.Maria berdiri di halaman sebuah rumah.Di sampingnya seorang anak perempuan berusia sekitar enam atau tujuh tahun
Raymond masih berdiri di tengah gudang.Foto yang baru saja ditemukan berada di tangannya. Hujan di luar terdengar semakin jelas, menghantam atap seng dengan suara berulang yang membuat suasana terasa semakin menekan.Di dalam foto itu, Maria berdiri di depan sebuah bangunan tua.Wajahnya tampak lebih kurus dibandingkan foto-foto yang selama ini disimpan Raymond. Rambutnya diikat sederhana. Tidak ada perhiasan mewah. Tidak ada senyum yang biasa ia tunjukkan ketika berada di depan keluarga.Di belakangnya berdiri Charles.Ayahnya.Pria yang selama bertahun-tahun diyakini telah meninggal.Raymond mengangkat foto itu lebih dekat ke arah cahaya senter.Charles terlihat berbeda.Bukan karena usia.Melainkan karena ekspresinya.Ia tidak sedang tersenyum kepada Maria. Tatapannya justru mengarah ke sisi lain, seolah-olah sedang mengawasi seseorang yang berada di luar jangkauan kamera.
Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan
Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat
Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T







