Share

Dendam Clara

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-01-28 16:23:59

Kilasan masa lalu datang seperti hantaman.

Suara pisau yang menusuk tubuh ibunya. Aroma darah. Jeritan ibunya yang terpotong di tengah napas. Clara muda terjatuh di dalam lemari sempit.

Tangannya lengket oleh darah ibunya. Lalu di atas semuanya—wajah seorang wanita. Tenang. Dingin. Mata yang tak berkedip saat bilah baja itu menancap.

Wajah itu adala wajah yang sama yang kini berdiri di hadapannya.

Clara tersentak kembali ke aula.

Matanya sontak berair, pandangannya buram oleh bayangan masa l
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jejak yang Seharusnya Mati

    Tik...Tok...Tik...Tok...Suara jam antik itu terdengar jelas di tengah ruangan yang nyaris tanpa suara.Jarumnya bergerak perlahan, seolah tidak peduli dengan waktu yang terus berjalan.Di atas ranjang besar dengan seprai putih, Ken masih terbaring tak sadarkan diri.Wajahnya pucat.Perban tebal melingkari kepalanya, sementara beberapa luka kecil terlihat di pelipis dan rahangnya. Selang oksigen terpasang di bawah hidung. Di samping ranjang, sebuah monitor portabel terus menampilkan garis detak jantung yang naik turun.Bip...Bip...Bip...Lemah.Tetapi stabil.Ruangan itu sama sekali tidak menyerupai kamar rumah sakit.Dindingnya dilapisi marmer hitam mengilap. Lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi. Tirai beludru berwarna gelap menutup seluruh jendela, membuat cahaya dari luar tidak bisa masuk.Tidak ada lambang rumah sakit.Tidak ada suara perawat.Tidak ada bau khas antiseptik.Hanya kesunyian.Kemudian...Klik.Pintu kayu besar terbuka perlahan.Seseorang masuk.S

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Umpan

    Tik... Tok... Tik... Tok... Jari Ken kembali diam di atas seprai. Di tempat lain, jauh dari mansion tua itu, suasana di Rumah Sakit Pusat Sentosa kembali berubah ketika suara teknisi tiba-tiba memecah keheningan ruang keamanan. "Ketemu!" Raymond dan John yang baru saja kembali langsung menoleh. Teknisi itu berdiri dari kursinya dengan wajah tegang. "Rekaman kamera jalan tol." Raymond segera mendekat. "Putar." Layar utama menampilkan rekaman jalan raya. Sebuah ambulans putih terlihat melaju dengan kecepatan tinggi. Timestamp menunjukkan kendaraan itu meninggalkan kawasan rumah sakit sekitar dua belas menit setelah Ken dinyatakan hilang. Raymond memperhatikan layar tanpa berkedip. "Perbesar." Teknisi memperbesar gambar. Ambulans itu melaju beberapa kilometer. Kemudian... Belok. Bukan menuju pusat kota. Bukan menuju rumah sakit lain. Melainkan memasuki jalan lama yang jarang digunakan. John mengerutkan kening. "Jalan itu menuju kawasan industri lama." Raymond te

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat yang Tidak Dikenal

    "Clara?" Suara Raymond terdengar rendah dari balik telepon. Dari seberang, suara Clara terdengar lirih. "Ray..." "Aku masih di rumah sakit." "Aku tahu." Clara menarik napas panjang. "Bagaimana?" Raymond terdiam beberapa detik. Ia tidak ingin mengatakan bahwa sampai saat ini mereka belum menemukan jejak Ken. Namun Clara pasti akan tahu jika ia berbohong. "Aku masih mencarinya." Keheningan terdengar di antara mereka. Kemudian suara Clara terdengar lebih lembut. "Jangan berhenti." "Aku tidak akan berhenti." Jawaban Raymond terdengar tegas. "Aku akan menemukan Ken." Ia menatap layar CCTV di hadapannya. "Dan aku akan membawanya pulang." Clara mengembuskan napas panjang. "Semoga Tuhan menjaganya." Raymond memejamkan mata sesaat. "Amin." Sambungan berakhir. Raymond memasukkan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya kembali dingin. "John." "Ya, Tuan?" "Temukan ke mana ambulans itu pergi." John langsung berdiri tegak. "Kalau perlu, periksa setiap kamera jalan dari ru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keamanan

    Malam mulai turun perlahan di atas kota. Langit yang sejak sore berwarna kelabu kini berubah menjadi biru gelap. Sisa cahaya matahari menghilang di balik gedung-gedung tinggi, sementara lampu jalan menyala satu demi satu, membentuk garis cahaya panjang di sepanjang jalan raya. Namun di Rumah Sakit Pusat, tidak ada seorang pun dari tim Antonio yang berniat pulang. Lantai khusus yang menjadi pusat pencarian Ken masih dipenuhi aktivitas. Langkah kaki berlari terdengar di sepanjang koridor. Radio komunikasi bersahutan. Pintu-pintu dibuka dan ditutup. Para petugas keamanan memeriksa identitas setiap orang yang hendak keluar. Tidak ada yang boleh meninggalkan rumah sakit tanpa pemeriksaan. Di dalam ruang keamanan utama, puluhan layar CCTV memenuhi hampir seluruh dinding. Raymond berdiri tepat di depan monitor terbesar. Jasnya masih sama seperti ketika ia meninggalkan mansion. Kemejanya sedikit kusut. Wajahnya terlihat lelah. Namun sorot matanya tetap tajam. Ia menatap layar dem

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CCTV

    John masih terpaku di depan dinding monitor. Pantulan cahaya kebiruan dari puluhan layar membuat wajahnya tampak semakin pucat. Rekaman CCTV itu terus diputar berulang-ulang. Detik demi detik. Frame demi frame. Namun perhatian John kini bukan lagi tertuju pada wajah kedua dokter palsu itu. Melainkan... Cara pria bertubuh tinggi tersebut berjalan. Langkahnya mantap. Tenang. Nyaris tanpa suara. Namun kaki kanannya selalu sedikit terlambat setengah langkah dibanding kaki kirinya. Bahu kirinya juga tampak lebih rendah. Sangat tipis. Hampir mustahil disadari orang lain. Tetapi... John pernah melihatnya. Berkali-kali. "Pak..." Suara teknisi membuyarkan lamunannya. "Apakah rekamannya diulang lagi?" John tidak menjawab. Tatapannya masih melekat pada layar. Di dalam kepalanya, berbagai wajah mulai bermunculan. Para mantan petinggi Antonio Group. Direktur perusahaan. Mantan pengawal. Rekan bisnis lama. Semuanya muncul silih berganti. Namun... Tak satu pun terasa be

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian Ken

    Raungan mesin SUV hitam milik Antonio Group memecah suasana siang yang semula lengang di halaman depan Rumah Sakit Pusat Sentosa. Lima kendaraan berhenti hampir bersamaan. Ban-ban tebalnya berdecit keras di atas paving block. CIIIIIITTT...! Belasan pintu langsung terbuka serempak. Para pengawal berbadan tegap turun lebih dulu. Jas hitam mereka berkibar diterpa angin, sementara alat komunikasi yang menempel di telinga masing-masing terus mengeluarkan suara laporan yang saling bersahutan. Tak lama kemudian... Sebuah SUV lain berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat. Dari sanalah John turun. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tegang dibanding biasanya. Dasi hitamnya sedikit miring akibat terburu-buru mengenakannya di perjalanan. Tatapannya langsung menyapu seluruh area rumah sakit. Beberapa petugas keamanan rumah sakit tampak kebingungan. Perawat berlalu-lalang dengan wajah pucat. Keluarga pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu mulai berbisik-bisik karena

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Kejam

    Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status