공유

Mimpi Buruk

작가: Miss Wang
last update 게시일: 2026-01-22 16:28:46

Clara melangkah mundur satu langkah. Ia menoleh ke arah lorong—namun yang tertangkap matanya hanya ujung rambut hitam berkilau dan gaun mahal yang melambai sebelum menghilang ke dalam kamar Raymond.

Clara mengerutkan kening.

‘Mungkin aku salah dengar,’ pikirnya sebelum melangkah kembali ke dalam kamar.

Wanita itu Veronika, ia melangkah masuk ke kamar anak tirinya dengan langkah pasti. Sepatu haknya beradu tajam dengan lantai, suaranya terdengar berani. Gaun hitamnya menempel sempurna di tubuh
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pingsan

    “Apa?!”Suara Raymond langsung menggema keras di dalam mobil.Tubuhnya menegang seketika. Rahangnya mengeras, sementara tatapan matanya yang tadi tenang langsung berubah tajam penuh kepanikan yang nyata.Ken refleks menoleh cepat.“Ada apa, Tuan?”Raymond menggenggam ponselnya begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.“Clara pingsan.”Kalimat itu langsung mengubah suasana di dalam mobil.Udara yang tadi terasa lebih ringan mendadak membeku.“PUTAR BALIK SEKARANG!”Bentakan Raymond terdengar tajam dan penuh tekanan.Ken langsung membanting setir tanpa berani bertanya apa pun. Ban mobil berdecit keras di atas jalan basah sebelum kendaraan hitam panjang itu melesat cepat membelah lalu lintas kota.“Semua pertemuan bisnis dibatalkan,” ucap Raymond dingin sambil kembali menatap layar ponselnya.“Tapi Tuan, rapat sore dengan investor—”“AKU BILANG BATALKAN SEMUA!”Suara Raymond kali ini jauh lebih keras sampai Ken langsung diam.Selama bertahun-tahun bekerja dengannya, Ken sangat jarang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clark Berakhir

    Keheningan langsung memenuhi kamar utama mansion itu. Hanya suara hujan tipis dari luar jendela yang terdengar samar, mengetuk kaca besar kamar dengan ritme pelan yang justru membuat suasana terasa semakin tegang. “Tuan Clark bergerak lebih dulu.” Kalimat Ken menggantung di udara seperti ancaman yang akhirnya benar-benar datang. Namun anehnya… Raymond tidak terlihat panik. Tidak ada perubahan drastis di wajahnya. Tidak ada keterkejutan ataupun amarah. Justru sebaliknya—tatapannya perlahan berubah semakin dingin sebelum sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Senyum kecil yang langsung membuat Ken mengembuskan napas lega. Karena itu berarti satu hal. Semuanya berjalan sesuai rencana. Clara yang sejak tadi berdiri di dekat Raymond langsung mengernyit bingung melihat reaksi suaminya. “Ray?” Raymond berjalan santai menuju meja kecil di dekat jendela. Jemarinya mengambil jam tangan hitam yang tadi belum sempat dipakai, lalu memasangkannya perlahan di pergelangan tang

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kehangatan

    Raymond melirik sekilas ke arah lengannya seolah baru sadar luka itu ada. Kau berkelahi lagi?” tanya Clara pelan. “Hanya sedikit masalah," jawab Raymond nyaris berbisik. “Sedikit?” Clara langsung berdiri dan mendekat. “Raymond, tanganmu lebam begini.” Raymond justru terkekeh kecil. “Kau mulai cerewet.” “Aku serius.” Clara memegang pergelangan tangannya hati-hati, seolah takut menambah rasa sakit di sana. Dan cara wanita itu menyentuhnya membuat tatapan Raymond perlahan berubah lebih lembut. Pria itu tiba-tiba menarik pinggang Clara mendekat sampai tubuh mereka nyaris tidak berjarak. “Dan aku suka saat kau khawatir,” gumamnya rendah. Pipi Clara langsung memanas. “Dasar aneh…” Raymond tersenyum tipis, lalu menyandarkan dahinya pelan ke dahi Clara. “Aku tidak pernah punya orang yang mengkhawatirkanku sebelumnya.” Kalimat itu membuat hati Clara langsung terasa sesak. Tidak ada nada dramatis dalam suara Raymond. Justru karena diucapkan begitu tenang, kata-kata itu terasa j

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tempat Pulang

    Dan di bawah sana, di tengah hujan malam yang turun semakin rapat, lampu mobil hitam panjang milik Raymond akhirnya memasuki halaman mansion perlahan. Sorot lampunya membelah gelap halaman yang basah oleh air hujan, memantulkan kilau pucat di jalan batu menuju tangga utama mansion. Suara mesin mobil terdengar berat sebelum akhirnya mati tepat di depan pintu besar rumah itu. Clara yang sejak tadi berdiri gelisah di balkon langsung mengembuskan napas panjang. Dadanya yang sedari tadi terasa sesak perlahan mengendur. Lega. Begitu lega sampai lututnya hampir kehilangan tenaga. Tanpa sempat mengenakan alas kaki, Clara langsung berbalik dan berlari keluar kamar. Langkahnya terdengar cepat menuruni tangga marmer mansion yang sunyi. Gaun tidur satin putih yang dikenakannya bergerak mengikuti langkah tergesa itu, sementara rambut panjangnya yang tadi sudah setengah kering kini sedikit berantakan menempel di pundaknya. Di bawah, pintu mobil akhirnya terbuka. Raymond turun perlahan dari k

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Titik Lemah

    “Clark membangun seluruh kekuasaannya untuk Thomas,” lanjut Ken. “Dan sekarang dia kehilangan satu-satunya pewaris.” Tatapan Raymond mengeras sedikit. “Orang yang kehilangan segalanya biasanya jadi paling berbahaya.” Sore harinya, Raymond akhirnya tiba di sebuah hotel mewah di pusat kota. Gedung tinggi itu menjulang megah di tengah langit mendung yang mulai gelap. Lantai lobby pribadi dipenuhi marmer hitam mengilap, sementara lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang elegan namun dingin. Raymond baru berjalan beberapa langkah ketika langkahnya tiba-tiba berhenti. Karena di ujung lorong— Tuan Clark sudah berdiri di sana. Sendirian. Pria tua itu mengenakan setelan hitam elegan dengan tongkat kayu gelap di tangannya. Rambut putihnya tersisir rapi ke belakang, membuat wajah kerasnya terlihat semakin tajam. Tatapannya tenang. Namun dingin menusuk. Ken langsung refleks menegang. “Biarkan,” ucap Raymond rendah. Para pengawal segera mundur. Kini lorong panjang itu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Serangan Bisnis

    Tatapan Raymond langsung berubah dingin begitu melihat ekspresi Ken di depan pintu kamar. Seketika, suasana hangat yang sejak tadi memenuhi ruangan terasa menghilang begitu saja. Cahaya matahari pagi masih masuk lembut melalui jendela besar kamar mereka. Aroma parfum Clara dan kopi hangat masih samar terasa di udara. Namun dalam satu detik, semuanya berubah menegangkan. Raymond perlahan melepaskan tangan Clara sebelum menatap Ken tajam. “Ada apa?” tanyanya rendah. Nada suaranya tenang. Dan Ken tahu persis—itu pertanda buruk. Pria itu sempat melirik sekilas ke arah Clara sebelum kembali memusatkan perhatian pada Raymond. “Anak buah kita menemukan sesuatu,” jawabnya serius. “Sepertinya ini ulah Tuan Clark.” Nama itu langsung membuat tubuh Clara menegang tanpa sadar. Jantungnya terasa turun sesaat. Bayangan pria tua dengan rambut memutih dan tatapan dingin yang datang ke pesta pernikahan mereka kemarin langsung muncul di kepalanya. Ayah Thomas. Pria yang bahkan tidak menunjuk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Desa Terpencil

    Di mana?” suaranya rendah, namun tajam seperti pisau.Di seberang telepon terdengar napas ragu-ragu anak buahnya. “Di sebuah desa terpencil, Tuan.”Raymond menegang dengan matanya menyempit.“Desa apa?”“Kami masih memastikan koordinatnya, tapi informasinya datang dari seseorang yang mengaku pernah

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mayat Wanita

    Malam-malam berikutnya di mansion terasa semakin panjang, seolah waktu sendiri ikut terjebak dalam kecemasan sang pemilik. Pencarian Clara tidak pernah benar-benar berhenti.Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi di langit, mobil-mobil hitam milik Raymond sudah kembali menyusuri jalanan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian Clara

    Malam itu, kota seakan bergerak di bawah satu perintah.Konvoi mobil hitam milik Raymond meluncur ke berbagai arah, memecah jalanan yang mulai lengang. Mesin meraung rendah, lampu-lampu sorot memotong gelap seperti mata para pemburu yang tak ingin kehilangan jejak mangsanya.Di dalam salah satu mob

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Baku Hantam

    Di markas, Adrian dan Sofia mulai merasa gelisah. Di ruang utama yang remang, Adrian berdiri menghadap jendela tinggi, jarinya mengetuk gelas kristal dengan ritme yang tak sabar. Jam dinding berdetak pelan, namun setiap detiknya terasa seperti ejekan.Sofia duduk di sofa kulit, kakinya yang jenjang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status