Share

Membela Clara

Penulis: Miss Wang
last update Tanggal publikasi: 2026-01-26 15:50:00

Clara berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di aspal. Tatapan Raymond jatuh tepat padanya—tajam, dingin. Udara di sekeliling mereka berubah tegang.

Hans melirik bolak-balik, bingung. ‘Siapa pria ini?’ pikirnya. Ia ingin melangkah, tapi sesuatu pada cara Raymond berdiri—tenang namun mengancam—membuatnya ragu.

Bisik-bisik mulai berdesir.

“Dia… tampan,” salah satu teman Alda berbisik, suaranya bergetar kagum.

“Diam,” sahut yang lain cepat. “Aku merinding. Tatapannya bikin takut.”

“Aku pernah liha
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Teror

    Clara tidak mampu mengalihkan pandangannya.Matanya seolah terkunci pada pemandangan itu—pada tubuh kecil yang tergantung tak berdaya di cabang pohon, pada darah yang masih menetes perlahan, jatuh setitik demi setitik ke tanah di bawahnya. Setiap tetes terasa seperti dentuman yang menggema di dalam dadanya.Napasnya mulai tersengal. Pendek. Tidak teratur.Dingin merayap pelan, dimulai dari ujung jari, menjalar ke lengan, hingga akhirnya mencengkeram dadanya erat.“Ray…” suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan yang terpecah oleh ketakutan.Tangannya refleks mencengkeram lengan pria di sampingnya.Raymond menoleh. Ia menatap Clara dan Noah bergantian. Tanpa berkata apa-apa, Raymond langsung bergerak. Tangannya terangkat, menarik Clara mendekat ke dalam pelukannya, memutar tubuh wanita itu sedikit agar pandangannya tertutup sepenuhnya dari pemandangan mengerikan di depan mereka.“Jangan lihat,” ucapnya pelan, namun tegas—seperti perintah yang tak boleh dibantah.Clara menggeleng l

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Persiapan Pernikahan

    Keesokan harinya, mansion yang biasanya tenang berubah total—seolah napasnya sendiri ikut dipercepat oleh kesibukan yang tak ada henti. Orang-orang berlalu-lalang tanpa jeda, membawa kotak-kotak besar berisi dekorasi mewah, kain-kain mahal, dan rangkaian bunga yang masih terbungkus rapi. Di sudut lain, tumpukan undangan dicetak dengan tinta emas yang berkilau, satu per satu memuat nama-nama penting dari berbagai kalangan. Pernikahan itu bukan sekadar acara, tapi akan menjadi perhelatan besar. Sangat besar. Di ruang tengah, beberapa desainer berdiri mengelilingi Clara yang tengah diukur untuk gaun pengantinnya. Kain putih menjuntai panjang di sekeliling tubuhnya, lembut menyentuh lantai marmer, mengalir seperti kabut tipis yang indah. Gaun itu terlihat begitu anggun—nyaris seperti mimpi yang perlahan menjadi nyata. “Bagian ini kita jatuhkan sedikit… supaya siluetnya lebih elegan,” ujar salah satu desainer sambil merapikan lipatan kain. Clara hanya mengangguk pelan. Pikirannya masi

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rumah

    Hans menatap Clara beberapa detik. Sorot matanya sempat berubah—seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar peringatan biasa. Namun kemudian ia menggeleng pelan, menarik sudut bibirnya dalam senyum ringan. “Tidak… bukan apa-apa,” ujarnya santai. “Aku cuma… ya, kalian tahu sendiri. Dunia sekarang tidak aman. Jadi… hati-hati saja.” Clara mengangguk pelan. “Iya… terima kasih, Hans.” Hans tersenyum kecil, lalu mundur satu langkah. Tatapannya beralih sekilas ke Raymond—singkat, namun cukup tajam untuk menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya santai. “Jaga dia baik-baik,” ucap Hans. Raymond membalas tatapan itu tanpa ekspresi. “Itu tugasku.” Hening sesaat. Lalu Hans menepuk pelan bahu Clara. “Aku pergi dulu. Senang melihatmu baik-baik saja.” Clara mengangguk. “Aku juga… hati-hati ya.” Hans tersenyum, lalu berbalik. Langkahnya menjauh perlahan dari sana, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Clara menatap kepergian sahabat lamanya itu beber

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Sahabat Lama

    “CLARA!” Semua kepala menoleh serempak—Raymond, Ken, bahkan Thomas yang sejak tadi berdiri diam. Seorang pria berlari mendekat. Langkahnya tergesa, napasnya sedikit terengah. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut seperti seseorang yang terburu-buru keluar tanpa sempat merapikan diri. Dan saat wajah itu semakin jelas—mata Clara langsung melebar. “Hans…?” suaranya nyaris tak percaya. Pria itu berhenti tepat di depan mereka, menatap Clara seolah memastikan ia tidak sedang berhalusinasi. “Clara…” ucapnya pelan. Satu detik hening. Lalu—Clara bergerak lebih dulu. Ia melangkah cepat, hampir berlari, dan tanpa ragu langsung memeluk pria itu. “Hans!” Pelukan itu erat. Hangat. Penuh rindu yang tak terucapkan. Galang membalas pelukan itu dengan sama kuatnya. “Ini benar-benar kamu…” gumamnya, masih seperti tidak percaya. Beberapa langkah dari sana—Raymond membeku. Tatapannya seketika menajam. Aura di sekelilingnya langsung turun beberapa derajat. Ken yang berdiri di sampingnya melir

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pindah

    Malam merambat turun dengan perlahan, menelan setiap sudut kota dalam bayangan gelap yang panjang. Di lantai atas hotel, di balik pintu kamar yang tertutup rapat—Raymond berdiri sendirian di depan jendela. Lampu-lampu kota berkilau di bawah sana, terlihat indah… namun baginya, itu hanyalah ilusi ketenangan. Dunia yang ia kenal tidak pernah benar-benar aman. Tidak pernah. Tangannya perlahan mengepal. Sella sudah mati dengan cara yang terlalu kejam untuk disebut sekadar pembunuhan. Dan lebih dari itu—mayatnya dibuang tepat di depan hotelnya. Itu bukan kebetulan—itu pesan. Raymond menyipitkan mata. “Siapa pun kau…” gumamnya pelan. “…kau sudah memilih orang yang salah.” Namun di balik kemarahan itu—ada sesuatu yang lain. Sebuah kesadaran yang tidak bisa ia abaikan. Clara dan Noah. Dunia mereka sekarang sudah terseret ke dalam dunianya. Dan dunia Raymond… tidak pernah memberi ampun. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Tidak…” Suara itu hampir seperti bisi

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mayat

    Ponsel di tangan Ken masih menempel di telinganya. Wajah pria itu berubah semakin pucat seiring ia mendengar penjelasan dari seberang sana. Raymond yang sejak tadi duduk dengan tenang perlahan meletakkan sendoknya. Tatapannya tajam. "Kenapa?" tanyanya dingin. Ken menelan ludah pelan sebelum menurunkan ponselnya. "Ada mayat perempuan di depan hotel, Tuan. Polisi dan media juga mulai berdatangan." Suasana meja makan yang semula hangat mendadak membeku. Clara refleks menggenggam tangan Noah di bawah meja. Bu Eli menatap Ken dengan kaget. "Mayat?" Ken mengangguk pelan. Raymond langsung berdiri dari kursinya tanpa banyak bicara. Aura pria itu berubah seketika. Kehangatan yang tadi sempat terlihat di meja makan lenyap begitu saja, digantikan oleh ekspresi dingin dan tajam yang selama ini selalu melekat padanya. "Siapkan mobil," ucap Raymond. "Baik, Tuan," sahut Ken cepat. Clara ikut berdiri. "Sebaiknya aku pulang saja sekarang." Raymond menoleh ke arahnya. Wajahnya masih kera

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ceo Hotel Genio

    Kalimat itu seolah menjadi pemicu bagi kepanikan yang lebih besar. Para pegawai yang sebelumnya sudah tegang kini benar-benar bergerak dengan cepat.Ada yang merapikan meja resepsionis, ada yang mengecek bunga di meja lobby, dan ada pula yang memperbaiki posisi karpet yang sedikit miring.Sella ber

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Cemoohan

    Setelah pemberitahuan itu, suasana hotel yang sebelumnya masih berjalan normal berubah seketika, seperti langit cerah yang tiba-tiba tertutup awan badai. Para pegawai yang beberapa menit lalu masih berdiri santai sambil mengobrol kini bergerak cepat ke sana kemari, langkah mereka tergesa, suara sep

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Resepsionis

    Keesokan harinya, cahaya pagi masuk melalui jendela kecil kamar Clara. Udara terasa segar, membawa semangat baru yang tidak ia rasakan sejak lama.Clara berdiri di depan cermin sambil mengenakan pakaian yang diberikan Thomas kemarin—blazer krem itu pas di tubuhnya. Kemeja putih bersih membuatnya te

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Diterima

    Beberapa detik hanya ada suara napas di seberang telepon. Jantung Clara tiba-tiba berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Lalu suara seorang wanita terdengar profesional. “Selamat malam. Apakah ini Nona Clara Amanda?”Clara langsung duduk lebih tegak di tepi tempat tidur. “Iya… benar saya.”“

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status