Partager

Membela Clara

Auteur: Miss Wang
last update Date de publication: 2026-01-26 15:50:00

Clara berdiri kaku, seolah kakinya tertanam di aspal. Tatapan Raymond jatuh tepat padanya—tajam, dingin. Udara di sekeliling mereka berubah tegang.

Hans melirik bolak-balik, bingung. ‘Siapa pria ini?’ pikirnya. Ia ingin melangkah, tapi sesuatu pada cara Raymond berdiri—tenang namun mengancam—membuatnya ragu.

Bisik-bisik mulai berdesir.

“Dia… tampan,” salah satu teman Alda berbisik, suaranya bergetar kagum.

“Diam,” sahut yang lain cepat. “Aku merinding. Tatapannya bikin takut.”

“Aku pernah liha
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CCTV

    John masih terpaku di depan dinding monitor. Pantulan cahaya kebiruan dari puluhan layar membuat wajahnya tampak semakin pucat. Rekaman CCTV itu terus diputar berulang-ulang. Detik demi detik. Frame demi frame. Namun perhatian John kini bukan lagi tertuju pada wajah kedua dokter palsu itu. Melainkan... Cara pria bertubuh tinggi tersebut berjalan. Langkahnya mantap. Tenang. Nyaris tanpa suara. Namun kaki kanannya selalu sedikit terlambat setengah langkah dibanding kaki kirinya. Bahu kirinya juga tampak lebih rendah. Sangat tipis. Hampir mustahil disadari orang lain. Tetapi... John pernah melihatnya. Berkali-kali. "Pak..." Suara teknisi membuyarkan lamunannya. "Apakah rekamannya diulang lagi?" John tidak menjawab. Tatapannya masih melekat pada layar. Di dalam kepalanya, berbagai wajah mulai bermunculan. Para mantan petinggi Antonio Group. Direktur perusahaan. Mantan pengawal. Rekan bisnis lama. Semuanya muncul silih berganti. Namun... Tak satu pun terasa be

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian Ken

    Raungan mesin SUV hitam milik Antonio Group memecah suasana siang yang semula lengang di halaman depan Rumah Sakit Pusat Sentosa. Lima kendaraan berhenti hampir bersamaan. Ban-ban tebalnya berdecit keras di atas paving block. CIIIIIITTT...! Belasan pintu langsung terbuka serempak. Para pengawal berbadan tegap turun lebih dulu. Jas hitam mereka berkibar diterpa angin, sementara alat komunikasi yang menempel di telinga masing-masing terus mengeluarkan suara laporan yang saling bersahutan. Tak lama kemudian... Sebuah SUV lain berhenti tepat di depan pintu Instalasi Gawat Darurat. Dari sanalah John turun. Wajah pria itu terlihat jauh lebih tegang dibanding biasanya. Dasi hitamnya sedikit miring akibat terburu-buru mengenakannya di perjalanan. Tatapannya langsung menyapu seluruh area rumah sakit. Beberapa petugas keamanan rumah sakit tampak kebingungan. Perawat berlalu-lalang dengan wajah pucat. Keluarga pasien yang sedang menunggu di ruang tunggu mulai berbisik-bisik karena

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pencarian

    Clara membeku di tempatnya.Jemari yang sejak tadi menggenggam lengan Raymond perlahan mengendur, seolah seluruh tenaganya menguap dalam sekejap. Wajahnya yang semula masih dipenuhi harapan perlahan kehilangan warna. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar."Apa...?"Bisikan itu begitu pelan hingga nyaris lenyap diterpa embusan angin sore yang melintasi taman belakang mansion.Beberapa langkah di belakang mereka, Bu Eli spontan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Rosario kayu berwarna cokelat tua yang hampir tak pernah lepas dari genggamannya bergetar pelan."Ya Tuhan..."Doa itu meluncur begitu saja dari bibir wanita tua tersebut.Noah, yang berdiri di samping neneknya, mendongak bergantian ke arah wajah semua orang dewasa di hadapannya. Bocah itu belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Namun dari raut wajah mereka, ia tahu sesuatu yang buruk baru saja terjadi.Sementara itu...Raymond masih mematung.Ponsel hitam di tangannya masih menemp

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Ken Menghilang

    Barulah Raymond menoleh perlahan. Pandangan mereka bertemu. Di balik ketegasan yang selama ini selalu ditunjukkannya... Clara melihat sesuatu yang sangat jarang muncul. Ketakutan. "Aku tahu..." "...Ken sangat berarti bagimu." Raymond mengembuskan napas panjang. "Dia bukan sekadar bawahanku." Suara itu terdengar berat. Serak. "Hampir separuh hidupku..." "...dia selalu berdiri di belakangku." Tatapannya perlahan menerawang. "Waktu ibuku meninggal..." "...Ken yang berdiri di sampingku." "Saat Antonio Group hampir diambil alih..." "...dia berjaga tiga hari tiga malam tanpa tidur." "Ketika aku ditembak dalam penyergapan beberapa tahun lalu..." Raymond berhenti. Rahangnya mengeras. "Dia yang mendorongku." "Kalau dia terlambat satu detik saja..." "...peluru itu menembus dadaku." Clara merasakan jemari suaminya semakin dingin. "Aku berutang terlalu banyak padanya." bisik Raymond. "Aku bahkan belum sempat membalas semuanya." Air mata perlahan memenuhi pelupuk mata C

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Melakukan Apapun

    Raymond membeku. Ponsel masih menempel erat di telinganya, sementara jemarinya mencengkeram perangkat itu begitu kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Angin sore yang berembus di taman belakang Mansion Antonio terasa begitu dingin, tetapi sama sekali tidak mampu meredakan gejolak yang memenuhi dadanya. Rahangnya mengeras. Otot-otot di wajahnya menegang. Sorot matanya berubah semakin tajam, seolah seluruh emosinya membeku menjadi sebilah pisau. "...Apa yang baru saja kau katakan?" Suara Raymond terdengar rendah. Tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat semua orang di sekitarnya ikut menahan napas. Di seberang sambungan, suara seorang staf rumah sakit terdengar tergesa-gesa. Bunyi alarm monitor pasien, langkah kaki yang berlarian, dan instruksi para tenaga medis bercampur menjadi latar yang membuat suasana terasa semakin mencekam. "T-Tuan..." "Pak Ken mengalami perdarahan intrakranial yang semakin masif." "Tekanan di dalam rongga kepalanya terus meningkat." "Dok

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah Masih Ada Harapan?

    Nada suaranya tenang. Namun ketenangan itu justru terasa lebih menekan. Elena menundukkan kepala. Ia menarik napas panjang, seolah sedang menyusun kembali ingatannya. "Aku..." "...baru pulang." "Saat melewati jalan belakang mansion..." "...aku merasa ada seseorang yang mengikutiku." Raymond tetap diam. Tidak menyela sedikit pun. Elena melanjutkan. "Aku sempat mengira itu hanya perasaanku." "Tapi ketika aku turun dari mobil..." "...orang itu tiba-tiba muncul." "Dia mengenakan jaket hitam." "Celana gelap." "Topinya ditarik sangat rendah hingga menutupi hampir seluruh wajahnya." "Aku bahkan tidak sempat melihat warna matanya." Clara menahan napas. "Lalu?" Elena memejamkan mata sejenak. "Semuanya terjadi sangat cepat." "Dia mendekat." "Aku mundur." "Lalu..." "...aku merasakan sesuatu menghantam perutku." Refleks, tangan Elena kembali menekan bagian luka. Ekspresinya berubah menahan sakit. "Aku baru sadar..." "...aku sudah ditusuk." Clara membelalak. "Ya Tuha

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status