“Damian! Ini luar biasa! Pasirnya benar-benar selembut sutra!” teriak Revana begitu mereka tiba di sana, sambil berlari kecil di pesisir pantai, membiarkan butiran putih itu menyelip di antara jemari kakinya.Di belakangnya, Damian melangkah dengan tenang, namun auranya telah berubah total.Dia telah menanggalkan kemeja linennya, menyisakan celana renang ketat yang menonjolkan batang kejantanannya yang sudah berdiri tegak dan mengeras sejak tadi.Otot-otot tubuhnya yang terpahat sempurna berkilat terkena pantulan sinar matahari, menciptakan pemandangan yang mengintimidasi sekaligus memikat.Damian menatap Revana dengan tatapan predator yang lapar, seolah-olah pulau ini adalah sangkar dan Revana adalah mangsa yang paling dia dambakan.“Aku sudah bilang padamu, aku tidak main-main dengan ucapanku di kapal tadi,” suara Damian berat, serak oleh gairah yang menuntut pelepasan.“Aku ingin menandaimu di sini, di tengah hamparan pasir ini, agar alam pun tahu kau adalah milikku.”Revana menela
Read more