Langkah kaki Damian yang berat menghantam aspal yang retak, menciptakan bunyi ritmis yang menakutkan di tengah kesunyian tebing yang berangin.Ia tidak terburu-buru. Baginya, pemandangan mobil Moretti yang bergoyang di bibir jurang adalah sebuah karya seni penderitaan yang harus dinikmati perlahan.Ia berhenti sekitar tiga meter dari bangkai kendaraan itu, menyalakan sebatang rokok, dan menghembuskan asapnya ke udara pagi yang dingin.Di dalam mobil yang miring, Moretti berusaha keras keluar melalui pintu pengemudi yang macet. Wajahnya bersimbah darah, kacamata mahalnya pecah, dan napasnya terdengar seperti suara mesin yang aus.Dengan sisa tenaga, ia berhasil merangkak keluar, tersungkur di atas aspal tepat di hadapan sepatu bot Damian yang mengkilap.“Kau tampak sangat menyedihkan untuk seseorang yang mengaku sebagai penguasa dermaga,” ucap Damian, suaranya rendah namun tajam, membelah deru angin laut.Moretti terbatuk, memuntahkan darah ke aspal. Ia mendongak, menatap Damian dengan
Read more