Tangan Ryan bergerak hampir bersamaan dengan tubuh-tubuh yang melayang di udara. Tiga arus tenaga dalam meluncur keluar dari telapak tangannya. Lembut, tidak keras, tidak tajam, hanya cukup untuk memperlambat jatuhnya ketiga pengawal itu sebelum mereka menyentuh lantai pualam. Satu per satu mereka turun ke permukaan dengan kecepatan yang sudah aman. Lutut dan telapak tangan mereka menyentuh lantai, bukan kepala atau punggung. Tidak ada yang patah. Tidak ada yang pingsan karena benturan. Shalagar sudah berlari sebelum ketiga pengawal itu sepenuhnya mendarat. Di lorong yang ia pilih, di balik kerumunan pengawal yang masih bingung dengan situasi, tangannya mencabut sesuatu dari saku jubah hitamnya. Bukan botol cairan kali ini, tapi sebuah pil berwarna coklat gelap, kecil seperti kacang. Ia lempar ke dalam mulutnya. Efeknya terasa dalam hitungan detik. Dimulai dari perutnya, seperti sesuatu yang terbakar masuk ke aliran darahnya, lalu merambat ke paha, betis, telapak kaki.
Read more