“Maaf, El. Maafkan aku.” Kepala Kiran semakin tertunduk dalam, suara tangisnya pecah tak tertahan.Elvano menegakkan punggungnya, kedua tangannya terulur memeluk tubuh Kiran, membawanya ke dalam rengkuhan hangatnya.Napas Elvano berembus pelan, tangannya dengan lembut mengusap konstan punggung Kiran.Inilah alasan, kenapa Elvano membawa Kiran ke hotel. Elvano sudah memprediksi reaksi Kiran akan seperti ini, jika dia memaksanya bicara. Dan, benar saja. Kiran menangis sampai seperti ini karena desakan dari Elvano. Tetapi jika Elvano hanya menunggu, sampai kapan pun Kiran tidak akan jujur padanya.Elvano masih memeluk, merasakan pundaknya yang basah dan hangat karena air mata Kiran yang tumpah di sana.Setelah beberapa saat terus mengusap punggung Kiran. Elvano tak lagi mendengar suara tangis Kiran yang pecah seperti tadi.Perlahan Elvano melepas pelukan. Tubuhnya sedikit ke belakang, memberi jarak agar dia bisa menatap wajah Kiran.Tampak jelas jejak-jejak air mata di wajah Kiran, waja
Read more