تسجيل الدخولOtot-otot di wajah Mei Lin menegang. Ia tengah berpikir keras mencari jalan keluar dari kebuntuan ini. Sederhananya, sihir pengikat jiwa hanya bisa dihancurkan oleh penyihir yang setara atau pelaku itu sendiri. Masalahnya, Helena sudah menumbalkan jiwanya sendiri. Dia tidak akan pernah mau membatalkannya.“Nyonya, ini sangat sulit,” suara Mei Lin bergetar. “Saya rasa mencari penyihir hingga ke pegunungan utara adalah jalan terakhir. Tak mudah menemukannya.”Isabella mendengus pelan mendengar fakta pelik itu. Ia terdiam tetapi pikirannya berdesak-desakan. “Nyonya, ritual perlindungan yang saya pasang hanya bersifat sementara. Lama-kelamaan, sihir itu akan menembus pertahanan ini saat pelaku menyempurnakan ritualnya.” Lanjut Mei Lin, suaranya mendadak semakin berat.Isabella menghela napas sesak. Otaknya bekerja cepat, mengabaikan rasa takut yang mulai merayap di dadanya. “Kalau begitu, kau tidak perlu membuang waktu mencari penyihir lain yang belum tentu ada. Sekarang, pergilah ke Ist
Paviliun Honeysuckle,Sore itu paviliun tampak hening tak biasanya. Padahal sebelumnya, paviliun itu ramai oleh berbagai kegiatan yang di inisiatif oleh Isabella dengan berkebun dan bermain game yang diikuti oleh para pelayan dan dayangnya.Semenjak Isabella hamil muda, paviliun tidak seramai dulu. Sang empunya ide lebih banyak menghabiskan waktu di dalam paviliun karena mengalami morning sickness yang parah. Beruntungnya, ada beberapa pelayan yang merawat dan menjaganya. Oleh karena itu, ia hanya menghabiskan waktu istirahat dan makan makanan yang bernutrisi. Makanan sehat yang sudah disiapkan oleh koki terbaik istana.“Nyonya, sekarang waktunya makan buah,” ucap Sarah mengingatkan Isabella seperti sebuah alarm hidup. Tangannya sibuk menaruh mangkuk berisi potongan buah-buahan segar di atas meja. Isabella menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan ketika melihat sajian itu. Semenjak hamil, dia memiliki jadwal makan yang disiplin dan diawasi oleh pelayan senior. Tidak hanya
“Aku baik-baik saja,” jawab Helena pelan, tetapi suaranya terdengar jauh lebih berat dari biasanya.Yolanda, yang sejak tadi memerhatikan sahabat sefrekuensinya itu, menyipitkan mata. Semakin lama diamati, semakin jelas Helena tampak berbeda hari itu. Ada gurat kelelahan yang tak mampu disembunyikan di wajahnya.Wajah cantiknya yang biasanya begitu segar dan bercahaya kini terlihat pucat, seolah seluruh energinya telah terkuras. Bahkan polesan riasan tipis pun gagal menutupi kesan itu. Rasanya seperti... darahnya baru saja diisap vampir semalaman.“Kau begadang melukis?” tanya Yolanda, menebak-nebak penyebab perubahan itu.Seolah mendapat alasan yang tepat, Helena spontan mengangguk. Ia tersenyum kaku. “Benar, ya, aku menghabiskan malam dengan melukis,”Padahal dalam batin ia tengah bermonolog jahat. ‘Aku sedang melukis takdir seseorang. Takdir kelam Isabella Laurent.’“Hei, kau itu cerdas dan pandai melukis tidak diragukan lagi.” Timpal salah seorang bangsawan wanita yang ikut menger
Isabella duduk dengan napas yang lebih teratur. Kejadian kemarin yang ia alami sepulang dari istana utama seperti mimpi buruk.Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi kepingan-kepingan ingatannya perlahan kembali utuh. Semula, Isabella mengira dirinya hanya mengalami demam tinggi, lalu tertidur dan kembali dihantui mimpi buruk seperti biasanya. Namun, setelah mendengar penjelasan Mei Lin tentang apa yang sebenarnya terjadi, ia sempat terkejut.Meski begitu, jauh di dalam hati, ia sudah menduga hal seperti itu memang mungkin terjadi pada zaman ini. Seseorang telah mengirimkan sihir hitam semacam santet untuk mencelakakannya.Ketika keinginan tidak dapat diwujudkan dengan cara yang wajar, sebagian orang memilih menempuh jalan gelap. Mereka rela bersekutu dengan iblis demi mencapai tujuan yang diinginkan.“Mei,” panggil Isabella pada Mei Lin yang tengah duduk dengan kepala yang terantuk-antuk. Semalaman gadis bermata sipit itu kurang tidur karena merawatnya. Isabella memang langsung mengal
“Aaaaaah!” Isabella menjerit, suaranya tertahan di tenggorokan.“Duchess, apa yang terjadi?” Mei Lin menerjang masuk ke dalam kamar Isabella setelah merasakan sesuatu dalam batinnya.Pintu kamar Isabella tertutup dari dalam. Namun, entah kenapa, ia bisa merasakan firasat buruk menimpa sang majikan. Mei Lin terpaku sesaat melihat kondisi Isabella yang terlihat aneh. Ia melihat kabut yang tak biasa–kabut yang hanya bisa dilihat oleh orang yang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap keberadaan dimensi lain. Isabella terbaring, matanya terpejam dengan tangan mencengkram perutnya yang terasa melilit. Ini bukan sakit biasa. Ini sakit misterius. Tak mungkin Isabella keracunan makanan.Mei Lin buru-buru mengeluarkan gelang jimat yang disimpannya sudah lama dan selalu dibawanya kemanapun. Gegas, ia memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Isabella. Perlahan, Isabella mulai merasa tenang. Matanya masih terpejam seolah ia sedang terjebak di dalam mimpi. Ia masih bernapas meski sesekali ia
Di saat bersamaan, di kediaman keluarga Moreau yang jauh dari istana, Helena sedang berdiri di depan cermin, mengoleskan ramuan ke tangannya sambil tertawa kecil. “Habiskan dia, saudariku. Biarkan dia bermimpi buruk hingga jiwanya tak lagi sanggup menopang raga itu.”Helena memutar botol kristal kecil di tangannya dengan jemari yang gemetar karena euforia. Matanya yang tajam menatap bayangan dirinya di cermin. Wajahnya yang pucat kini tampak lebih hidup oleh kilatan ambisi yang gelap. Setiap kali dia mengoleskan ramuan itu, ia bisa merasakan koneksi gaib yang terhubung dengan Isabella di istana.Dengan cara itu, ia melancarkan sihirnya!“Kau pikir dengan hamil kau bisa menang, Isabella?” bisiknya pada bayangan cermin. Suaranya seperti desau angin malam yang menakutkan. “Anak itu tidak akan pernah melihat dunia. Dan kau? Kau akan sangat dibenci oleh Alex karena janinmu sudah tiada. Akh, aku tak sabar melihat perubahan sikap Alex setelah melihat kondisimu. Aku yakin seratus persen, kau
Roberto terjatuh dengan keras di atas kursi kayu. Ia tersentak mendengar kabar yang mengejutkan baru saja dari utusan istana Ashmond.Dengan tangan gemetar dan wajah yang menegang, pria paruh baya itu membaca perkamen bersegel hitam. Jantungnya terasa berpindah tempat membaca baris demi baris huruf
“Sia-sia aku berjuang. Tidak bisa. Perasaanku tak bisa lagi ditahan. Kau harus membiarkanku memberitahumu betapa hebatnya aku mengagumi dan mencintaimu.” (Jane Austen; Pride & Prejudice)…Isabella tertegun sejenak, berpikir keras. Beberapa pertanyaan muncul di kepalanya. Apakah ia harus menerima ta
“Aku menikahimu karena aku berutang nyawa padamu, Helena. Tapi jangan gunakan nyawaku yang kau selamatkan dulu sebagai alat untuk membunuh jiwa Isabella. Jika kau ingin aku memaafkanmu, bicaralah jujur padaku sekali saja. Apakah kau benar-benar tidak terlibat dalam pengasingannya? Karena jika kau b
“Dansa?” suara Alex terdengar serak, hampir seperti tawa yang getir. “Istriku baru saja dibuang ke tempat terkutuk, dan Ayah ingin aku menari di pesta?”“Ini bukan permintaan, Alex, tapi perintah takhta,” balas Cecilia dingin. “Jika kau tidak muncul, kau tahu sendiri apa risikonya bagi para pelayan







