Share

bab 37

Author: Rose_roshella
last update publish date: 2026-04-17 11:57:15
"Ayah? Apa yang terjadi? Apa mereka akan membunuh kita semua?!" tanya Alina mulai panik.

Air mata trauma yang baru saja mengering kini kembali mengambang di pelupis matanya. Tubuhnya bergetar hebat di dalam dekapan Marvin.

"Tenang, Alina! Tetap dalam dekapanku!" seru Marvin, suaranya menggelegar mengalahkan lengkingan alarm mobil yang memekakkan telinga.

Marvin tidak memedulikan lagi rasa sakit di kaki kirinya yang tertembak. Ia bergerak tangkas memajukan tubuhnya ke arah sekat kaca yang mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 98

    "Aaaagh."Darah segar yang merembes dari luka tembak di lengan tidak lagi terasa perih, sebab malam ini, di bawah langit pekat yang menyimpan bom waktu, Marvin sadar bahwa satu-satunya cara untuk pulang dalam keadaan hidup adalah dengan menjadi iblis yang jauh lebih kejam daripada musuhnya.DOR!Suara tembakan kedua memecah keheningan malam di atap gedung barat. Peluru melesat, menggores pipi Pram hingga darah segar menetes ke kerah kemejanya. Pram terhuyung mundur, tangannya yang memegang remote kontrol bergetar hebat."Sialan! Leo, kau berkhianat?!" raung Pram, matanya membelalak panik menatap Leo yang berdiri kokoh di ambang pintu, dan Marvin yang kini sudah berhasil memungut pistol yang dilemparkan Leo."Aku tidak pernah berada di pihakmu, Pram! Bagaimana kau bisa berpikir aku berada di pihak mu?" desis Leo dengan suara baritonnya yang mantap. "Sejak awal, aku adalah bayangan Tuan Marvin. Dan bayangan tidak akan pernah mengkhianati tubuhnya! Kau terlalu berhalusinasi, Pram."Marv

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 97

    "Jangan khawatir, Ayah. Aku kan membawa dia di hadapan ayah. Tolong jaga Alina," ucap Marvin sebelum dia pergi."Baik, Marvin. Kau jangan khawatir dengan Alina. Aku akan menjaganya dengan baik."Arthur dan Hugo segera membawa Alina pergi dari sana."Marvin! Jangan pergi! MARVIN!!!"Teriakan histeris Alina menggema di sepanjang koridor saat Marvin berbalik dan berlari secepat kilat menembus kegelapan malam menuju gedung barat, tempat maut telah menunggunya.'Bertahanlah, Sayang. Aku akan segera kembali,' gumam Marvin dalam hati.****Sepuluh Menit Kemudian. Atap gedung barat rumah sakit jiwa. Angin malam berembus kencang, menerbangkan ujung gaun putih polos milik Lenika yang masih duduk di tepi pembatas gedung yang sangat tinggi. Di belakangnya, Pram berdiri tegak dengan sebuah pistol di tangan kiri dan remote kontrol di tangan kanannya. Ia siap menembakkan peluru ke arah Lenika.BRAKK!Pintu atap didobrak kasar. Marvin melangkah masuk dengan napas memburu, tubuhnya basah oleh keringat

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    bab 96

    "Leo! Lihat ke arah layar! Di belakang suster! Perbesar, aku ingin melihat wajahnya!" bentak Marvin, suaranya meninggi hingga membuat Alina tersentak di ranjangnya."Ada apa, Marvin?! Apa yang kau lihat?!" tanya Alina panik, tangannya meraba-raba udara dengan cemas."Pram... Keparat itu ada di sana, Alina! Dia berdiri di antara kerumunan dan dia tersenyum licik!" raung Marvin, matanya melekat lekat pada layar laptop yang dipegang Leo."Leo, hubungi tim pengamanan rumah sakit jiwa sekarang! Tangkap pria bertopi hitam di belakang suster Mia! Aku ingin tahu, bagaimana dia bisa kabur dari penjara?"Di layar video, Leo tampak panik dan langsung berteriak pada interkomnya."Sialan! Baik, Tuan! Petugas, amankan area barat gedung sekarang juga!"BZZZZ...Belum sempat Leo menyelesaikan kalimatnya, layar laptop mendadak bergaris dan bergoyang hebat. Wajah cemas suster Mia berganti dengan sorotan kamera yang sengaja didekatkan pada wajah Pram. Pria itu mendongak, menatap langsung ke arah kamera

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 95

    Marvin menatap layar ponselnya dengan tubuh yang mendadak kaku. Rahangnya mengetat, dan pancaran matanya berubah menjadi sangat tegang.Alina yang merasakan perubahan drastis dari sikap Marvin langsung mengernyitkan dahi di balik perban matanya. "Marvin? Ada apa? Siapa yang mengirim pesan? Apa ada sesuatu yang terjadi?""Bukan siapa-siapa, Sayang. Hanya... urusan pekerjaan dari kantor, kau istirahat saja. Aku harus mengurus pekerjaan kantor dulu. Aku akan segera kembali," bohong Marvin, suaranya sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikan yang mendera dadanya."Aku tahu kau bohong, Marvin. Suaramu berubah tegang. Malam-malam pergi untuk mengurus pekerjaan? Katakan padaku, ada apa? Tolong jujur saja padaku, Marvin!" desak Alina, tangannya meraba-raba ke depan, mencari lengan Marvin.Marvin menghela napas berat, menggenggam tangan Alina dengan lembut namun erat. "Suster di rumah sakit jiwa mengirim pesan. Lenika... dia kumat lagi. Dia duduk di tepi jendela lantai atas dan menganc

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 94

    Arthur langsung menyambar lembaran kertas dari tangan Marvin, membacanya dengan saksama di bawah cahaya lampu kamar rawat. Kerutan di dahi pria paruh baya itu perlahan memudar, berganti dengan anggukan tegas. Lalu menatap wajah Alina."Hasilnya positif, Alina. Sembilan puluh sembilan persen anak ini adalah darah daging mendiang Rio, bukan anak Marvin seperti yang kau pikirkan," ucap Arthur, suaranya yang berat bergema di dalam ruangan, memberikan kesaksian mutlak. "Marvin tidak berbohong kepadamu, Sayang. Ayah sudah melihat bukti tes DNA nya."Alina terpaku. Tangannya yang meraba selimut mendadak mencengkeram kain itu dengan erat. Di balik perban hitamnya, air mata kembali merembes, namun kali ini bukan hanya karena rasa sakit, melainkan karena perang batin yang berkecamuk di dalam dadanya. Iaasoh belum sepenuhnya percaya dengan apa yang barusan saja dikatakan oleh ayahnya."Lalu... lalu untuk apa kau memberikan bukti itu padaku, Marvin?!" suara Alina bergetar, memecah keheningan. "D

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 93

    "Baiklah, jika itu maumu. Aku akan keluar. Tapi tolong, jaga dirimu baik-baik, Sayang. Cintaku padamu tidak pernah berubah sedikit pun, aku akan balik lagi setelah kau tenang," bisik Marvin parau, suaranya sarat akan kepedihan yang mendalam.Arthur hanya menatap punggung menantunya itu dengan helaan napas berat, sementara Alina memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak untuk mendengarkan lebih jauh."Maafkan aku, Alina," gumam Marvin, air matanya tiba-tiba jatuh bergulir.Dengan langkah gontai, Marvin melangkah keluar dari kamar rawat VVIP tersebut. Namun, baru saja pintu kayu ek itu tertutup rapat di belakangnya, Leo berlari menghampirinya dari ujung koridor dengan napas tersengal-sengal. Wajah tangan kanan Marvin itu tampak sangat pucat, dan di tangannya terdapat sebuah map dokumen rahasia."Marvin! Gawat!" seru Leo dengan suara tertahan agar tidak terdengar sampai ke dalam kamar.Marvin menghentikan langkahnya, langsung memasang wajah dingin dan tegas. "Ada apa, Leo? Kenapa kau

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 86

    "Iya, aku sudah mengingat semuanya, Alina. Namamu, wajahmu, dan semua kejadian yang pernah kulalui saat bersamamu." Suara Marvin serak ketika berusaha meyakinkan Alina, tapi di dalam hatinya ada tumpukan penyesalan yang sulit dia ungkapkan. "Benarkah? Kau benar-benar sudah mengingat semua itu?" Al

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 85

    "Nona, tadi sepertinya Marvin memanggilmu," suara Hugo terdengar santai meski matanya tak lepas dari spion belakang. Alina seolah tak peduli dengan ucapan Hugo, ia berusaha menenangkan napas yang tercekat di dadanya. "Biarkan saja," jawabnya datar. "Aku sudah lelah untuk berbicara dengannya." Na

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 84

    "Maaf atas kekacauan ini, Tuan-tuan. Lupakan pria itu. Dia hanya seorang pengawal biasa," ujar Alina datar, memecah keheningan yang mencekam setelah Marvin diseret keluar. Ia kembali bertumpu pada meja jati panjang. "Sekarang, mari kita lanjutkan agenda kita yang tertunda. Pastikan semua selesai h

  • Dekapan Hangat Sang Bodyguard    Bab 83

    "Lenika..." Marvin menggertakkan giginya kuat-kuat, saat melihat wanita yang ada di layar tablet miliknya.Marvin mematung. Tatapannya tertuju pada layar tablet yang dipegang Hugo, merekam jelas bagaimana Lenika melangkah terburu-buru keluar melalui pintu belakang rumah sakit, lalu masuk ke dalam s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status