Masuk"Alina! Kau gila?!" bentak Marvin dengan napas memburu, kedua tangannya seketika mencengkeram bahu Alina, memaksa istrinya berbalik menghadapnya."Kau mungkin menganggapku gila. Namun, aku serius mengatakan ini, Marvin."Mata Marvin yang memerah menatap wajah pucat Alina dengan ketakutan yang teramat luar biasa."Tarik ucapanmu, Alina! Tarik ucapanmu sekarang! Aku tidak mau mendengar omong kosong ini!" teriak Marvin gemetar, suaranya pecah di tenggorokan. "Bagaimana bisa kau memintaku menikahi wanita lain?! Hah?! Aku ini suamimu!"Alina terkekeh dingin, sebuah kekehan pahit yang terdengar begitu hampa dan meremukkan hati. Air matanya menetes pelan menembus kain sprei rumah sakit."Lalu aku harus bagaimana, Marvin...? Aku tidak bisa memberikan mu keturunan," bisik Alina dengan nada teramat serak. "Anakku sudah mati... Bayi yang kupertahankan dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri sudah tidak ada! Sedangkan di luar sana... Ada wanita yang bisa memberikan mu anak dan harapan untuk mu.""D
"I-iya, Alina... Bayiku sehat," jawab Lenika terbata, air matanya luruh makin deras melihat tangan pucat Alina yang bergetar di atas perut buncitnya.Alina menarik tangannya perlahan, menggenggam jemarinya sendiri yang mendadak dingin. Senyum pahit terukir di bibirnya yang pucat, membuat siapa pun yang melihatnya merasa teriris."Baguslah... Setidaknya ada bayi yang beruntung bisa bertahan hidup, jaga baik-baik bayi mu, kesempatan menjadi seorang ibu mungkin tidak datang untuk kedua kali," gumam Alina lirih. Suaranya pecah oleh duka. Ia menolehkan wajahnya yang buta ke arah Marvin, merasakan kesedihan yang tak bisa diungkapkan."Apa dia sudah memiliki calon ayah?" tanya Alina.Lenika tertegun untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia berbicara."Ayahnya sudah meninggal. Aku akan membesarkan dia sendiri. Sementara dia akan memakai nama belakang marga orang tuaku," jawab Lenika, dengan suara lemah."Melvin... Bukankah dulu kau mengatakan bahwa akan memberikan nama belakang mu kepadanya?"
"Lenika apa yang kau lakukan di sini?" suar bariton dari ujung lorong mendadak memecah keheningan.Lenika tersentak, dengan cepat menghapus genangan air mata di sudut matanya. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap, dia adalah Tuan Handoko, ayah kandung Lenika, ia melangkah lebar-lebar mendekatinya dengan raut wajah berang."Ayah...? Aku sedang..." bisik Lenika ketakutan, refleks menyembunyikan air matanya yang sempat keluar."Kau sedang apa berdiri di depan ICU?" tanya Tuan Handoko, menoleh ke arah wajah Marvin yang saat ini berdiri dengan wajah kusut."Marvin. Lenika, kenapa kau berada di sini bersama dengan pria brengsek itu, hah?!" bentak Tuan Handoko rendah, mencengkeram lengan Lenika hingga wanita itu meringis. "Kau lupa apa yang sudah dilakukan Marvin Vance padamu? Dia menolak memberi nama belakang untuk bayimu! Dia mencampakkanmu demi wanita buta itu! Berhenti merengek meminta dia balik kepadamu.""Ayah, pelankan suaramu... Ini rumah sakit," bujuk Lenika gemetar. "Alina baru
"Tuan Vance... Tolong tenangkan dirimu," bujuk dokter berusaha memegang bahu Marvin yang gemetar hebat di atas lantai dingin."Bagaimana bisa aku tenang?! Hah? Aku baru kehilangan anakku!" bentak Marvin histeris, matanya merah padam digenangi air mata yang luruh tanpa kendali. Ia mencengkeram jas dokter itu dengan penuh keputusasaan."Saya tahu perasaan Tuan, tapi Tuan harus tenang," kata dokter mencoba untuk menenangkan."Aku baru saja berjanji padanya! Aku baru saja mengelus perutnya beberapa jam yang lalu! Kenapa harus anakku yang mengorbankan nyawanya, Dok? Kenapa dia harus pergi meninggalkan aku secepat ini?!""Benturan di tangga batu itu merusak plasenta secara permanen, Tuan... Kami harus segera mengeluarkan janinnya untuk menyelamatkan nyawa Nyonya Alina, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan janin itu," bisik dokter dengan suara penuh simpati. "Nyonya Alina saat ini sudah sadar di dalam, tapi kondisinya sangat lemah dan terguncang. Sebaiknya jangan kataka
"papa janji, Jagoan... Papa akan selalu ada untuk kalian berdua," bisik Marvin lembut, mengecup perut Alina sekali lagi sebelum bangkit berdiri dari ayunan.Ponsel di saku jasnya bergetar pelan. Marvin merogohnya dan melihat nama dokter spesialis kandungan yang menangani Alina di layar."Alina, aku harus mengambil resep dan vitamin tambahan untukmu di rumah sakit pusat, aku tidak akan lama dan akan segera kembali.""Kenapa kau tidak meminta Leo saja?" kata Marvin seraya mengelus lembut pipi Alina. "Aku hanya sebentar. Leo akan menemanimu di sini. Jangan takut, di sini aman."Alina tersenyum manis, memegang jemari Marvin. "Baiklah, Marvin. Pergilah, jangan terlalu lama. Aku dan anak kita menunggu di rumah.""Aku janji," balas Marvin seraya mendaratkan ciuman hangat di kening Alina.***Satu jam kemudian, di Rumah Sakit Pusat.Marvin melangkah tegap menyusuri lorong farmasi lantai tiga dengan raut wajah tenang. Namun, saat hendak berbelok menuju lift khusus, langkah kaki pria itu menda
"Melvin... aku tidak mau menggugurkan buah hatiku?! Aku tidak mau! Aku tidak akan pernah menggugurkannya, Melvin!" jerit Alina histeris, kedua tangannya seketika memeluk erat perut ratanya.Udara di dalam kamar mewah itu mendadak membeku. Marvin yang sempat terkejut luar biasa kini mengepalkan tangannya kencang, matanya memerah menatap Leo dengan penuh penderitaan."Leo... keluar sekarang!" perintah Marvin parau namun tajam."Tapi Tuan Vance, keputusan ini harus segera...""Aku bilang keluar, Leo!" bentak Marvin rendah, membuat Leo membungkuk dalam dan segera mundur perlahan menyisakan keheningan di antara pasangan suami istri itu.Marvin menghembuskan napas panjang, berlutut di tepi ranjang dan langsung menggenggam kedua tangan Alina yang gemetar hebat."Alina, dengarkan aku dulu, Sayang..." bujuk Marvin lembut, berusaha menenangkan napas istrinya yang memburu."Tidak, Marvin! Aku tahu apa yang ada di pikiranmu! Aku tahu apa yang ada dalam pikiran mu saat ini, Marvin," potong Alina s
Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me
Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka
Alina merasa dunianya runtuh seketika. Menikah? Di gudang kotor ini? Dengan pria yang selama ini ia anggap sebagai sipir penjara? "Tidak! Kau gila! Aku tidak mau menikah dengannya!" teriak Alina histeris, meronta hingga kursi kayunya berderit keras. "Aku hanya ingin menikah dengan Julian!" Pr







