"Anya! Kamu tidak apa-apa?" tanya Bagas panik, kedua tangannya kini memegangi bahu Anya dengan sangat erat namun penuh kehati-hatian."Maaf, Pak Bagas. Saya hanya sedikit pusing." Suara Anya terdengan dipaksakan."Jangan pikirkan kertas-kertas itu, Anya. Kesehatanmu jauh lebih berharga dari semua laporan di ruangan ini," bisik Bagas, suaranya terdengar begitu bergetar karena rasa khawatir yang nyata.Mendengar perhatian yang begitu besar dari Bagas, air mata yang sejak pagi ditahan Anya akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang tampak tirus. Anya menangis tanpa suara, meratapi nasibnya yang begitu malang."Menangislah jika itu bisa membuat beban di dadamu berkurang, Anya. Saya tidak akan bertanya kenapa, tapi saya akan selalu ada di sini untukmu," ucap Bagas dengan untaian kata yang begitu menenangkan jiwa."Terima kasih, Pak Bagas. Maaf saya sudah bersikap tidak profesional di depan Anda hari ini." Anya menerima tisu dari tangan Bagas, mencoba meredam isak tangisnya yang mulai terd
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-30 Mehr lesen