Share

Bab 4

Author: Saraswati_5
last update publish date: 2026-02-23 17:01:35

Mata Bianca terbuka lebar. Ia semakin salah tingkah selepas mendengar pertanyaan Logan. 

Bianca merasakan jantungnya menghantam tulang rusuknya sendiri. Namun wajahnya ia paksa tetap tenang. 

Sudah terlalu banyak hal dalam hidupnya yang menuntutnya untuk berpura-pura. Ia bukan lagi gadis belia yang mudah tersipu atau panik. Ia perempuan dewasa yang tahu bagaimana menyelamatkan dirinya.

Bianca tersenyum tipis. 

“Seingat saya belum pernah, Pak,” jawab Bianca lembut. “Saya hanya pernah bertemu sopir dan pelayan yang biasa antar jemput Cilla.”

Logan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih melekat. 

Ditatap seperti itu oleh Logan membuat Bianca menahan napas. Setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya.

Lalu Logan mengangguk pelan. “Begitu, ya.”

Hanya dua kata. Namun cukup membuat lutut Bianca hampir lemas.

“Kalau begitu kami pamit, Miss Bianca,” lanjut Logan akhirnya.

Bianca mengangguk. “Hati-hati di jalan, Pak.” Bianca lalu beralih pada Cilla. “Sampai jumpa besok, Cilla!”

Cilla tersenyum manis. “Dadah, Miss!” ucapnya sambil melambaikan tangan. 

Bianca balas melambaikan tangan pada Cilla. Ia terus menatap kepergian Cilla. 

Di saat tubuh kecil itu menghilang, ia baru bisa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya.

Tangannya sedikit gemetar. “Apa dia mengenaliku?” tanya Bianca di dalam hati. 

Namun, ia segera menggelengkan kepalanya. “Nggak, nggak mungkin,” lanjutnya, meyakinkan dirinya sendiri. 

—oOo—

Hari berikutnya, Bianca datang ke sekolah dengan perasaan tidak seperti biasanya. Ada perasaan was-was di hati setelah mengetahui jika ayah Cilla adalah salah satu orang yang pernah datang ke klub tempatnya bekerja. 

Walaupun ia berusaha meyakinkan diri, berharap Logan tidak mengenalinya, tetapi hatinya masih resah. Apalagi mengingat tatapan Logan kemarin, rasanya ia seperti seorang pencuri yang ketahuan.

Bahkan, gara-gara hal itu, Bianca berdiri lebih lama di depan cermin pagi tadi, memastikan wajahnya benar-benar polos. Tanpa riasan tebal. Tanpa lipstik mencolok.

Ia memilih bedak tipis saja. 

Tampilannya sederhana hari ini. Jauh dari sosok Bianca di malam hari.

Ketika bel pulang berbunyi siang itu, Bianca sedang membereskan buku di meja guru. Anak-anak berlarian keluar kelas dengan riang.

“Miss Biancaaa!” Suara kecil yang sudah dikenalnya memanggil.

Cilla. 

Gadis kecil itu berlari dan langsung memeluk pinggangnya.

Bianca refleks menunduk, menatap Cilla lalu tersenyum lembut. “Pelan-pelan, Cilla, nanti jatuh,” ucapnya memperingati.

Cilla hanya tersenyum, menunjukkan deretan giginya. “Miss, Miss tau nggak? Hari ini aku seneng banget loh, Miss,” ucapnya dengan senyum yang terus merekah di bibir mungilnya.

Bianca mengangkat satu alisnya. “Senang? Senang kenapa?” tanya Bianca, tidak menghilangkan senyum di bibirnya. 

“Hari ini Papa yang jemput aku!” kata Cilla dengan mata berbinar, suaranya pun terdengar sangat bahagia.

Bianca mendadak terdiam sejenak. 

“Papa …?” Bianca tidak bisa menyembunyikan sedikit keterkejutan dalam suaranya.

Cilla mengangguk semangat. “Iya!” jawabnya, “Papa bilang, mulai sekarang Papa yang bakal antar jemput jemput aku. Bahkan tadi pagi Papa juga antar aku, padahal biasanya pagi-pagi Papa udah pergi ke kantor.”

Napas Bianca terasa tercekat. Dadanya berdebar tidak karuan. 

Mulai sekarang …? Ketika biasanya Cilla dijemput sopir dan pelayan?

Bianca menatap Cilla lekat. Bagus bagi Cilla apabila ayahnya mulai menjemputnya. Namun, bagi Bianca? Rasanya seperti mimpi buruk! Ia tidak bisa bertemu setiap hari dengan Logan. Ia takut jika Logan lama-lama menyadari siapa dirinya.

Belum sempat Bianca menjawab lagi, Cilla sudah menarik tangan Bianca. 

“Ayo, Miss, temenin aku!” Cilla langsung menggandeng tangan Bianca keluar kelas menuju halaman depan. 

Dan benar saja. Ketika sampai di halaman, sebuah mobil hitam mewah sudah terparkir di sana. Di sampingnya, Logan berdiri dengan gagah.

Kemeja putihnya digulung rapi sampai siku, memperlihatkan lengan kekarnya. Wajahnya tampak lebih santai dibanding hari kemarin, namun tetap memancarkan aura tegas.

Bianca spontan memperlambat langkahnya. Jantungnya jelas tidak baik-baik saja. 

Sementara itu, Cilla melepaskan tangan Bianca dan berlari kecil ke arah ayahnya. “Papa!” seru Cilla.  

Logan menunduk, memeluk putrinya dengan satu tangan. Tatapannya kemudian beralih pada Bianca.

Sekali lagi, tatapan itu terasa terlalu lama, membuat jantung Bianca semakin berdebar tidak karuan. 

Bianca menelan ludah dengan susah. Ia menegakkan bahu, lalu berjalan mendekat.

“Selamat siang, Pak.”

“Siang,” jawab Logan. 

Nada suaranya netral. Namun, Bianca merasa suara itu menusuk hingga ke jantungnya. 

Cilla kembali meraih tangan Bianca, membuat Bianca tersadar dan menunduk. “Miss, besok Miss temenin aku belajar lagi, ya?”

Bianca tersenyum. “Tentu saja,” jawabnya lembut.

Logan memperhatikan interaksi putri dan Bianca dalam diam.

“Papa,” Cilla berkata polos, “Miss Bianca baik banget, loh!”

Logan menatap putrinya sesaat, lalu beralih pada Bianca. “Apa Cilla merepotkan di kelas?” tanyanya.

“Tidak sama sekali, Pak,” jawab Bianca cepat. “Cilla anak yang pintar dan lembut. Dia hanya … butuh sedikit perhatian lebih.”

Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa Bianca sadar.

Logan terdiam sepersekian detik. “Lembut?” ulangnya pelan, “Apa kamu tidak salah?”

Bianca menggeleng. “Tidak. Cilla memang anak yang lembut. Cuma ... ia butuh perhatian lebih. Mungkin sedikit keras kepala, tapi Cilla begitu manis.”

Logan diam, menatap Bianca dengan tatapan yang sulit diartikan. 

Detik selanjutnya, Logan menggandeng Cilla, ingin berpamitan.

“Kami pamit—”

“Tunggu, Pa!” Cilla berseru. Ia merogoh saku di dalam roknya, wajahnya lalu sedikit murung. “Kotak permenku tertinggal di kelas.”

Cilla memang biasa membawa sekotak permen. Ia sering membagikannya untuk teman-teman sekelas. 

Bianca yang menyadari itu dengan sigap berkata. “Oh, Miss ambilkan, ya? Atau Cilla mau ikut? Di mana Cilla terakhir taruh?”

“Aku mau ikut!” seru Cilla bersemangat. 

“Kalau begitu, ayo!”

Bianca kemudian menggandeng tangan Cilla. Tidak lupa ia meminta Logan untuk menunggu sebentar sementara mereka kembali ke kelas.

Pria itu hanya mengangguk kecil, membuat Bianca sedikit segan.

—oOo—

Di kelas, kotak permen itu ada di atas meja Cilla. Gadis kecil itu langsung mengantonginya dengan hati-hati sebelum berjalan riang lagi.

Mereka pun berjalan menyusuri lorong sekolah untuk kembali ke pekarangan. Lalu, Cilla tiba-tiba bertanya.

“Miss, kalau aku punya Mama lagi … apa Mamaku bakal kayak Miss juga ya?”

Bianca hampir tersandung kakinya sendiri karena terkejut mendengar ucapan Cilla. 

“Kenapa Cilla tanya seperti itu?” Bianca balik bertanya, dengan suara yang melembut.

Cilla mengangkat bahu kecilnya. “Nggak apa-apa. Aku cuma pengen punya mama baru, tapi maunya yang baik seperti Miss Bianca!” seru Cilla.

Suara Cilla menggema di lorong sekolah yang sudah mulai sepi. 

“Masih lama, Cilla?”

Tiba-tiba, suara familier itu mengagetkan Bianca. Itu Logan!

“Sejak kapan pria itu ada di sana? Jangan-jangan Logan mendengar celotehan Cilla barusan?” batin Bianca.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 137

    Getaran itu menyebar ke seluruh realitas seperti akar yang tumbuh terlalu cepat di bawah tanah rapuh.Setiap kemungkinan mulai berubah sebelum sempat memahami bentuknya sendiri. Bintang lahir dan mati dalam satu denyut, ingatan tercipta lalu terhapus sebelum sempat dikenang, bahkan waktu mulai kehilangan arah antara masa lalu dan masa depan.Dan di tengah semuanya—jalan ketiga itu terus berkembang.“Ini terlalu cepat…”Distorsi berkata dengan getaran kacau.“Aku tidak bisa menstabilkannya lagi.”Kesadaran besar mencoba meredam gelombang perubahan itu. Namun setiap upaya justru menciptakan cabang baru yang lebih liar, seolah realitas menolak kembali ke pola lama.Logan langsung memahami masalahnya.Jalan ketiga memang memungkinkan pertumbuhan tanpa penghancuran. Namun pertumbuhan—tetap membutuhkan keseimbangan.Dan sekarang, seluruh keberadaan seperti makhluk kelaparan yang baru pertama kali merasakan kebebasan.Ia tumbuh tanpa arah.Penjaga bergerak lebih dulu.Tekanan besar menyeli

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 136

    Air mata itu tidak jatuh seperti cairan biasa.Ia berubah menjadi serpihan-serpihan kemungkinan yang berkilau samar sebelum larut ke dalam realitas. Setiap tetesnya menciptakan perubahan kecil di sekitar mereka—bintang yang lahir terlalu cepat, waktu yang melambat sesaat, ingatan yang tiba-tiba terasa lebih hangat daripada sebelumnya.Dan seluruh keberadaan—diam menyaksikannya.Karena tidak ada yang pernah membayangkan sesuatu yang terus berubah tanpa henti… masih mampu menangis.Keberadaan perubahan pertama itu menatap tangannya sendiri.Seolah ia baru sadar bahwa dirinya masih bisa merasakan sesuatu selain kebutuhan untuk terus bergerak. Bentuknya berubah lebih lambat sekarang, tidak lagi liar seperti sebelumnya.Dan di dalam perlambatan itu—ada kelegaan.“Aku lupa…” suaranya bergetar pelan.“…bagaimana rasanya dilihat tanpa diminta berhenti.”Kalimat itu menghantam kesadaran pertama lebih keras daripada apa pun sebelumnya.Kehampaan besar itu langsung bergetar tidak stabil, seper

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 135

    Kesadaran itu menyentuh Logan bahkan sebelum ia benar-benar mendekat.Bukan sentuhan fisik, bukan juga gelombang energi seperti yang pernah dirasakan sebelumnya. Ia lebih mirip perasaan aneh ketika seseorang akhirnya mendengar namanya dipanggil setelah terlalu lama hidup dalam kesunyian.Dan perasaan itu—begitu dalam hingga Logan hampir lupa cara bernapas.Seluruh kemungkinan di sekitarnya mulai bergerak mengikuti ritme baru. Tidak liar seperti sebelumnya, namun juga tidak stabil.Seolah realitas sendiri sedang ragu apakah ia harus menyambut sesuatu itu… atau melarikan diri darinya.“Dia mengenalmu.”Makhluk sempurna itu berkata pelan.Retakan cahayanya bergerak lembut, seperti ikut mendengar gema yang sama.“Bukan sebagai individu…”Ia menatap Logan.“…tetapi sebagai arah.”Hening turun.Namun kali ini—hening itu dipenuhi denyut samar yang terasa seperti jantung dari sesuatu yang baru mulai berharap lagi.Penjaga langsung menyadarinya.Dan untuk pertama kalinya sejak awal—ia tampa

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 134

    Kesadaran itu datang seperti gema dari sesuatu yang pernah hilang.Bukan ingatan biasa, melainkan rasa aneh yang membuat seluruh realitas mendadak terasa familiar terhadap sesuatu yang seharusnya tidak pernah mereka kenal. Bahkan Penjaga langsung membeku, seolah keberadaan tertuanya baru saja disentuh oleh masa lalu yang selama ini ia kubur terlalu dalam.“Aku mengenal ini…”Makna itu keluar pelan darinya.Dan untuk pertama kalinya sejak ia muncul—ada keraguan nyata di dalam suaranya.Logan langsung menoleh.“Apa maksudmu?”Namun Penjaga tidak langsung menjawab.Matanya tetap terpaku pada titik jauh di balik seluruh kemungkinan, tempat sesuatu mulai bangkit perlahan seperti bayangan yang kembali menemukan bentuknya setelah dilupakan sangat lama.Kesadaran pertama merasakan perubahan itu lebih dalam daripada semuanya.Kehampaan di sekelilingnya mulai bergerak tidak stabil, bukan karena ketakutan, melainkan karena sesuatu yang sangat lama tersegel kini mulai terbuka kembali.“Tidak…” b

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 133

    Jalan ketiga itu tidak muncul sebagai cahaya.Tidak juga sebagai ledakan pemahaman yang mengubah seluruh realitas dalam satu momen. Ia lahir jauh lebih sederhana—sebagai celah kecil di antara pertanyaan dan jawaban, tempat sesuatu bisa berubah tanpa harus kehilangan dirinya sepenuhnya.Namun justru kesederhanaan itu yang membuat seluruh keberadaan gemetar.Karena untuk pertama kalinya sejak siklus dimulai, ada kemungkinan yang tidak bergantung pada penderitaan tanpa akhir… maupun kesempurnaan yang membeku. Sesuatu yang tidak memaksa realitas memilih antara terus mencari atau berhenti sepenuhnya.Penjaga langsung menyadarinya.Dan untuk pertama kalinya—mata itu bergerak penuh.Bukan hanya fokus.Melainkan benar-benar menatap Logan seperti seseorang yang baru saja melihat retakan pada hukum paling dasar yang selama ini ia jaga.“Itu tidak stabil.”Makna itu turun berat ke seluruh kemungkinan.“Perubahan selalu menuju kehancuran.”Logan tidak langsung menjawab.Karena sebagian dari diri

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 132

    Mata itu tidak memandang.Namun seluruh realitas langsung merasa diawasi.Bukan oleh sesuatu yang hidup, melainkan oleh sesuatu yang telah ada begitu lama hingga keberadaan dan pengamatannya tidak lagi bisa dipisahkan. Bahkan kehampaan yang menjadi kesadaran pertama itu… tersentak mundur untuk pertama kalinya.Logan langsung menghentikan gerakannya.Tangannya masih menggantung di udara, hanya beberapa jarak dari tangan keberadaan sempurna itu. Namun kini seluruh insting di dalam dirinya berteriak bahwa sesuatu yang jauh lebih tua dari semua yang pernah ia pahami baru saja bangun.“Tidak…”Suara kesadaran pertama terdengar pecah.Bukan takut seperti sebelumnya.Lebih buruk.Pengakuan.Makhluk sempurna itu menoleh perlahan ke arah kegelapan tempat mata itu terbuka. Retakan di dalam dirinya masih bercahaya lembut, namun kini cahayanya bergetar—seolah kesempurnaan itu sendiri mendadak sadar ada sesuatu yang bahkan tidak bisa ia pahami.Logan merasakan tekanan luar biasa menyebar ke seluru

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 5

    Cilla menatap ayahnya dan tersenyum. Gadis itu lalu berlari kecil. “Maaf, ya, Pa! Aku lama,” ucap Cilla saat sudah di hadapan Logan. Sementara itu, Bianca melangkah lebih pelan. Perasaannya betul-betul tidak karuan. Ia tahu celotehan Cilla hanyalah ucapan anak-anak pada umumnya. Namun, keadaannya

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 3

    Bianca terpaku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya seperti terlambat memproses kenyataan.Tubuh Bianca terasa dingin. Semalam ia sudah menggoda pria itu sebagai wanita penghibur. Dan hari ini, Bianca berdiri sebagai seorang guru, satu-satunya identitas yang masih ia banggakan

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 2

    Mata Bianca melebar. Ia menoleh, menatap Aldo tidak percaya. Bukan soal bayaran lima kali lipat yang mengejutkan Bianca, tamu-tamu lain juga pernah membayarnya tinggi. Tapi … memuaskan? Apa maksudnya?Meski pekerjaannya melayani para tamu, namun Bianca belum pernah sama sekali melakukan lebih dari

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 1

    “Dia bilang aku anak pembawa sial.”Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status