LOGINMata Bianca terbuka lebar. Ia semakin salah tingkah selepas mendengar pertanyaan Logan.
Bianca merasakan jantungnya menghantam tulang rusuknya sendiri. Namun wajahnya ia paksa tetap tenang. Sudah terlalu banyak hal dalam hidupnya yang menuntutnya untuk berpura-pura. Ia bukan lagi gadis belia yang mudah tersipu atau panik. Ia perempuan dewasa yang tahu bagaimana menyelamatkan dirinya. Bianca tersenyum tipis. “Seingat saya belum pernah, Pak,” jawab Bianca lembut. “Saya hanya pernah bertemu sopir dan pelayan yang biasa antar jemput Cilla.” Logan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih melekat. Ditatap seperti itu oleh Logan membuat Bianca menahan napas. Setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya. Lalu Logan mengangguk pelan. “Begitu, ya.” Hanya dua kata. Namun cukup membuat lutut Bianca hampir lemas. “Kalau begitu kami pamit, Miss Bianca,” lanjut Logan akhirnya. Bianca mengangguk. “Hati-hati di jalan, Pak.” Bianca lalu beralih pada Cilla. “Sampai jumpa besok, Cilla!” Cilla tersenyum manis. “Dadah, Miss!” ucapnya sambil melambaikan tangan. Bianca balas melambaikan tangan pada Cilla. Ia terus menatap kepergian Cilla. Di saat tubuh kecil itu menghilang, ia baru bisa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Tangannya sedikit gemetar. “Apa dia mengenaliku?” tanya Bianca di dalam hati. Namun, ia segera menggelengkan kepalanya. “Nggak, nggak mungkin,” lanjutnya, meyakinkan dirinya sendiri. —oOo— Hari berikutnya, Bianca datang ke sekolah dengan perasaan tidak seperti biasanya. Ada perasaan was-was di hati setelah mengetahui jika ayah Cilla adalah salah satu orang yang pernah datang ke klub tempatnya bekerja. Walaupun ia berusaha meyakinkan diri, berharap Logan tidak mengenalinya, tetapi hatinya masih resah. Apalagi mengingat tatapan Logan kemarin, rasanya ia seperti seorang pencuri yang ketahuan. Bahkan, gara-gara hal itu, Bianca berdiri lebih lama di depan cermin pagi tadi, memastikan wajahnya benar-benar polos. Tanpa riasan tebal. Tanpa lipstik mencolok. Ia memilih bedak tipis saja. Tampilannya sederhana hari ini. Jauh dari sosok Bianca di malam hari. Ketika bel pulang berbunyi siang itu, Bianca sedang membereskan buku di meja guru. Anak-anak berlarian keluar kelas dengan riang. “Miss Biancaaa!” Suara kecil yang sudah dikenalnya memanggil. Cilla. Gadis kecil itu berlari dan langsung memeluk pinggangnya. Bianca refleks menunduk, menatap Cilla lalu tersenyum lembut. “Pelan-pelan, Cilla, nanti jatuh,” ucapnya memperingati. Cilla hanya tersenyum, menunjukkan deretan giginya. “Miss, Miss tau nggak? Hari ini aku seneng banget loh, Miss,” ucapnya dengan senyum yang terus merekah di bibir mungilnya. Bianca mengangkat satu alisnya. “Senang? Senang kenapa?” tanya Bianca, tidak menghilangkan senyum di bibirnya. “Hari ini Papa yang jemput aku!” kata Cilla dengan mata berbinar, suaranya pun terdengar sangat bahagia. Bianca mendadak terdiam sejenak. “Papa …?” Bianca tidak bisa menyembunyikan sedikit keterkejutan dalam suaranya. Cilla mengangguk semangat. “Iya!” jawabnya, “Papa bilang, mulai sekarang Papa yang bakal antar jemput jemput aku. Bahkan tadi pagi Papa juga antar aku, padahal biasanya pagi-pagi Papa udah pergi ke kantor.” Napas Bianca terasa tercekat. Dadanya berdebar tidak karuan. Mulai sekarang …? Ketika biasanya Cilla dijemput sopir dan pelayan? Bianca menatap Cilla lekat. Bagus bagi Cilla apabila ayahnya mulai menjemputnya. Namun, bagi Bianca? Rasanya seperti mimpi buruk! Ia tidak bisa bertemu setiap hari dengan Logan. Ia takut jika Logan lama-lama menyadari siapa dirinya. Belum sempat Bianca menjawab lagi, Cilla sudah menarik tangan Bianca. “Ayo, Miss, temenin aku!” Cilla langsung menggandeng tangan Bianca keluar kelas menuju halaman depan. Dan benar saja. Ketika sampai di halaman, sebuah mobil hitam mewah sudah terparkir di sana. Di sampingnya, Logan berdiri dengan gagah. Kemeja putihnya digulung rapi sampai siku, memperlihatkan lengan kekarnya. Wajahnya tampak lebih santai dibanding hari kemarin, namun tetap memancarkan aura tegas. Bianca spontan memperlambat langkahnya. Jantungnya jelas tidak baik-baik saja. Sementara itu, Cilla melepaskan tangan Bianca dan berlari kecil ke arah ayahnya. “Papa!” seru Cilla. Logan menunduk, memeluk putrinya dengan satu tangan. Tatapannya kemudian beralih pada Bianca. Sekali lagi, tatapan itu terasa terlalu lama, membuat jantung Bianca semakin berdebar tidak karuan. Bianca menelan ludah dengan susah. Ia menegakkan bahu, lalu berjalan mendekat. “Selamat siang, Pak.” “Siang,” jawab Logan. Nada suaranya netral. Namun, Bianca merasa suara itu menusuk hingga ke jantungnya. Cilla kembali meraih tangan Bianca, membuat Bianca tersadar dan menunduk. “Miss, besok Miss temenin aku belajar lagi, ya?” Bianca tersenyum. “Tentu saja,” jawabnya lembut. Logan memperhatikan interaksi putri dan Bianca dalam diam. “Papa,” Cilla berkata polos, “Miss Bianca baik banget, loh!” Logan menatap putrinya sesaat, lalu beralih pada Bianca. “Apa Cilla merepotkan di kelas?” tanyanya. “Tidak sama sekali, Pak,” jawab Bianca cepat. “Cilla anak yang pintar dan lembut. Dia hanya … butuh sedikit perhatian lebih.” Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa Bianca sadar. Logan terdiam sepersekian detik. “Lembut?” ulangnya pelan, “Apa kamu tidak salah?” Bianca menggeleng. “Tidak. Cilla memang anak yang lembut. Cuma ... ia butuh perhatian lebih. Mungkin sedikit keras kepala, tapi Cilla begitu manis.” Logan diam, menatap Bianca dengan tatapan yang sulit diartikan. Detik selanjutnya, Logan menggandeng Cilla, ingin berpamitan. “Kami pamit—” “Tunggu, Pa!” Cilla berseru. Ia merogoh saku di dalam roknya, wajahnya lalu sedikit murung. “Kotak permenku tertinggal di kelas.” Cilla memang biasa membawa sekotak permen. Ia sering membagikannya untuk teman-teman sekelas. Bianca yang menyadari itu dengan sigap berkata. “Oh, Miss ambilkan, ya? Atau Cilla mau ikut? Di mana Cilla terakhir taruh?” “Aku mau ikut!” seru Cilla bersemangat. “Kalau begitu, ayo!” Bianca kemudian menggandeng tangan Cilla. Tidak lupa ia meminta Logan untuk menunggu sebentar sementara mereka kembali ke kelas. Pria itu hanya mengangguk kecil, membuat Bianca sedikit segan. —oOo— Di kelas, kotak permen itu ada di atas meja Cilla. Gadis kecil itu langsung mengantonginya dengan hati-hati sebelum berjalan riang lagi. Mereka pun berjalan menyusuri lorong sekolah untuk kembali ke pekarangan. Lalu, Cilla tiba-tiba bertanya. “Miss, kalau aku punya Mama lagi … apa Mamaku bakal kayak Miss juga ya?” Bianca hampir tersandung kakinya sendiri karena terkejut mendengar ucapan Cilla. “Kenapa Cilla tanya seperti itu?” Bianca balik bertanya, dengan suara yang melembut. Cilla mengangkat bahu kecilnya. “Nggak apa-apa. Aku cuma pengen punya mama baru, tapi maunya yang baik seperti Miss Bianca!” seru Cilla. Suara Cilla menggema di lorong sekolah yang sudah mulai sepi. “Masih lama, Cilla?” Tiba-tiba, suara familier itu mengagetkan Bianca. Itu Logan! “Sejak kapan pria itu ada di sana? Jangan-jangan Logan mendengar celotehan Cilla barusan?” batin Bianca.“Ternyata dugaan saya benar. Kita memang pernah bertemu sebelumnya.”Suara Logan rendah, nyaris tenggelam oleh dentuman musik dari luar ruangan. Namun, kalimat itu terasa jauh lebih keras daripada musik mana pun di telinga Bianca. Bianca mencoba berdiri tegak, meski jantungnya berdegup tidak karuan. “Sepertinya Anda salah orang, Tuan. Kita baru bertemu dua kali ini,” jawab Bianca mencoba menutupi jati diri, walau sepertinya sia-sia saja. Logan menarik ujung bibirnya ke atas membentuk senyum sinis. “Kamu tidak perlu berpura-pura lagi, Miss Bianca. Semuanya sudah jelas.”Jantung Bianca semakin berdebar tidak karuan. Tubuhnya terasa panas dingin, mendapati Logan yang mengenalinya. Padahal, ia kira Logan tidak mengenali dirinya tapi ternyata tidak. Perasaannya selama ini memang benar, jika laki-laki itu curiga padanya. Ia lalu menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan. Ia memberanikan diri menatap Logan. “Ya, Anda memang benar, Tuan. Tidak ada yang harus ditutup-tutupi,” ucap
Cilla menatap ayahnya dan tersenyum. Gadis itu lalu berlari kecil. “Maaf, ya, Pa! Aku lama,” ucap Cilla saat sudah di hadapan Logan. Sementara itu, Bianca melangkah lebih pelan. Perasaannya betul-betul tidak karuan. Ia tahu celotehan Cilla hanyalah ucapan anak-anak pada umumnya. Namun, keadaannya dengan Logan sekarang membuat Bianca kikuk.Logan pun tidak langsung berbicara. Ia malah menatap Bianca dengan tatapan yang masih sulit diartikan. Logan kemudian beralih pada Cilla yang ada di hadapannya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya. Setelah sampai di depan mobil kembali, pria itu membukakan pintu mobil untuk putrinya. Sebuah gestur yang nampaknya disukai oleh Cilla, sebab gadis itu tersenyum lemar. Logan juga memastikan sabuk pengamannya terpasang setelah Cilla duduk manis. Bianca pikir, Logan akan segera berpamitan. Namun, Logan malah menutup pintu mobil dan kembali berdiri menghadap Bianca.“Apa dia sering seperti itu?” tanya Logan pelan.Bianca mengerjapkan matanya beberapa kali.
Mata Bianca terbuka lebar. Ia semakin salah tingkah selepas mendengar pertanyaan Logan. Bianca merasakan jantungnya menghantam tulang rusuknya sendiri. Namun wajahnya ia paksa tetap tenang. Sudah terlalu banyak hal dalam hidupnya yang menuntutnya untuk berpura-pura. Ia bukan lagi gadis belia yang mudah tersipu atau panik. Ia perempuan dewasa yang tahu bagaimana menyelamatkan dirinya.Bianca tersenyum tipis. “Seingat saya belum pernah, Pak,” jawab Bianca lembut. “Saya hanya pernah bertemu sopir dan pelayan yang biasa antar jemput Cilla.”Logan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih melekat. Ditatap seperti itu oleh Logan membuat Bianca menahan napas. Setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya.Lalu Logan mengangguk pelan. “Begitu, ya.”Hanya dua kata. Namun cukup membuat lutut Bianca hampir lemas.“Kalau begitu kami pamit, Miss Bianca,” lanjut Logan akhirnya.Bianca mengangguk. “Hati-hati di jalan, Pak.” Bianca lalu beralih pada Cilla. “Sampai jumpa besok, Cilla!”Cilla t
Bianca terpaku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya seperti terlambat memproses kenyataan.Tubuh Bianca terasa dingin. Semalam ia sudah menggoda pria itu sebagai wanita penghibur. Dan hari ini, Bianca berdiri sebagai seorang guru, satu-satunya identitas yang masih ia banggakan. Miss Bianca, seorang guru yang sabar dan lembut. Bagaimana jika Logan mengenalinya? Lalu bagaimana jika kabar itu menyebar ke sekolah?Karirnya bisa hancur begitu saja!Kepala Bianca dipenuhi bayangan-bayangan buruk. Mulai dari kepala sekolah yang memanggilnya dengan wajah kecewa. Orang tua murid yang berbisik-bisik. Clara yang mengetahui semuanya. Neneknya .…Bianca menelan ludah.Ia hanya bisa berharap Logan tidak mengenalinya. Toh, di sekolah, Bianca hampir tak pernah memakai riasan tebal. Hanya bedak tipis dan lip balm. Rambutnya pun selalu diikat sederhana. Sangat berbeda dengan perawakannya tiap malam di klub. Mengerjap dari lamunan dan paniknya, Bianca lantas memperhatikan Logan
Mata Bianca melebar. Ia menoleh, menatap Aldo tidak percaya. Bukan soal bayaran lima kali lipat yang mengejutkan Bianca, tamu-tamu lain juga pernah membayarnya tinggi. Tapi … memuaskan? Apa maksudnya?Meski pekerjaannya melayani para tamu, namun Bianca belum pernah sama sekali melakukan lebih dari sentuhan-sentuhan nakal. Jadi, Bianca memutuskan untuk bertanya. “Apa maksud Tuan Aldo?”Aldo tertawa. “Logan itu sudah bercerai. Sudah lama nggak sama wanita,” katanya. “Aku dan teman-teman ingin taruhan, apa bisa si Logan itu dipuaskan wanita lain setelah ditinggalkan istrinya?” jelasnya lagi sambil terkekeh.Bianca ragu, sebetulnya tidak ingin melakukannya. Namun, dibayar lima kali lipat lebih banyak terdengar begitu menarik. Biaya perawatan neneknya pasti akan sangat terbantu.Bianca pun mengangguk, tersenyum sambil berjalan ke arah Logan dan menatap lurus pria itu. Sementara itu, Logan masih belum memperlihatkan ekspresi apa-apa. Wajahnya datar.Dengan cekatan dan profesional, Bianca
“Dia bilang aku anak pembawa sial.”Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang berseragam rapi. Dari desas-desus orang tua murid yang beberapa kali didengar oleh Bianca pun, keluarga Cilla sangat menyayanginya. Jadi, Bianca benar-benar kaget ketika mendengar itu. Sore ini, Bianca sedang menemani Cilla menunggu sopir pribadi menjemputnya. Tadi, Bianca sempat memisahkan Cilla ketika bertengkar dengan anak murid yang lain. Sekarang, Cilla berada di pangkuan Bianca dengan kepala tertunduk. “Siapa yang bilang gitu, Cilla?” tanya Bianca.Anak perempuan itu menunjuk seorang anak perempuan lain di kejauhan. “Asya,” katanya. Bianca menoleh ke arah sana. Asya baru saja dijemput oleh ibunya. “Asya bilang Cilla pembawa sial?”“Iya. Katanya, aku yang bikin Mama pergi ninggalin






