Share

Bab 5

Author: Saraswati_5
last update publish date: 2026-02-23 17:17:32

Cilla menatap ayahnya dan tersenyum. Gadis itu lalu berlari kecil. 

“Maaf, ya, Pa! Aku lama,” ucap Cilla saat sudah di hadapan Logan. 

Sementara itu, Bianca melangkah lebih pelan. Perasaannya betul-betul tidak karuan. Ia tahu celotehan Cilla hanyalah ucapan anak-anak pada umumnya. Namun, keadaannya dengan Logan sekarang membuat Bianca kikuk.

Logan pun tidak langsung berbicara. Ia malah menatap Bianca dengan tatapan yang masih sulit diartikan. 

Logan kemudian beralih pada Cilla yang ada di hadapannya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya. 

Setelah sampai di depan mobil kembali, pria itu membukakan pintu mobil untuk putrinya. Sebuah gestur yang nampaknya disukai oleh Cilla, sebab gadis itu tersenyum lemar. Logan juga memastikan sabuk pengamannya terpasang setelah Cilla duduk manis. 

Bianca pikir, Logan akan segera berpamitan. Namun, Logan malah menutup pintu mobil dan kembali berdiri menghadap Bianca.

“Apa dia sering seperti itu?” tanya Logan pelan.

Bianca mengerjapkan matanya beberapa kali. “Seperti apa, Pak?” tanyanya.

“Menempel sama kamu, Miss Bianca,” ucap Logan datar. 

Bianca ragu sejenak. “Cilla hanya nyaman. Saya juga hanya membangun hubungan yang baik antara guru dan murid, Pak.”

Logan menghela napas tipis. 

“Begitu, ya?” Logan mengangguk.

Bianca ikut mengangguk pelan. Ia masih merasa canggung, apalagi hanya berdua begini. Bianca masih takut kalau pria ini mengenalinya. 

Logan kembali menatapnya. Kali ini sedikit lama. 

Tatapan itu membuat Bianca sulit bernapas. Sorot mata Logan begitu tajam dan legam, membuatnya seakan tenggelam jika masuk ke dalamnya. 

“Cilla juga sering bertengkar dengan Asya?” tanya Logan lagi.

“Pertengkaran anak-anak saja …,” jawab Bianca sigap. “Tapi … sepertinya Asya mengucapkan sesuatu yang menyakiti Cilla.”

Bianca menelan ludahnya, takut berbicara terlalu jauh. Ia tidak ingin melangkahi garis batas yang ada. 

“Ah, mungkin soal kepergian mamanya,” sahut Logan. Nadanya masih datar, ia bicara itu seperti bukan hal yang besar.

Mendengarnya, Bianca tentu terkejut. Namun bagaimanapun, Logan adalah ayah Cilla. Tentu saja ia akan tahu perasaan anaknya sendiri. 

Bianca menahan diri untuk tidak ikut campur lebih jauh. Itu bukan ranahnya. Namun, sebagai guru, ia tak mungkin diam sepenuhnya. Dengan mengumpulkan keberanian, Bianca mulai berujar.

“Mungkin kepergian mama Cilla membuat Cilla kesepian, Pak. Jadi, Cilla merasa sedih apabila temannya bicara hal yang … membuatnya sakit hati,” ucap Bianca hati-hati. 

Logan menyerap kalimat itu dalam diam.

Melihat Logan yang nampak tenang, Bianca melanjutkan. “Selain itu, anak-anak yang dalam masa pertumbuhannya kehilangan salah satu sosok orang tua, suka mencari perhatian dan rasa aman dari orang-orang yang selalu bersamanya. Jadi .…”

“Selalu bersama?” potong Logan pelan, seolah kata itu terasa asing di lidahnya.

Bianca tersenyum kecil. “Bukan berarti Bapak tidak cukup. Hanya saja … waktu bersama anak kadang lebih berharga dari yang kita kira. Maka dari itu, peran guru juga penting sebagai sosok orang tua di sekolah.”

Bianca menghela napas kecil setelah bicara panjang lebar. Ia hanya berharap Logan tidak menganggapnya lancang. 

Logan menatap Bianca lagi. “Miss Bianca nampaknya mengerti banyak hal tentang anak-anak.”

Kalimat itu membuat dada Bianca mengencang.

“Bagaimana pun, saya guru, Pak,” jawabnya ringan. “Sudah tugas saya memahami anak-anak.”

Logan mengangguk tipis. Bianca bisa merasakan Logan meliriknya sesaat sebelum berpaling.

Ada hening sesaat sebelum Cilla mengetuk-ngetuk kaca mobil dan melambaikan tangan. Nampaknya sebuah isyarat agar Logan cepat masuk ke mobil untuk pulang. 

“Kalau begitu, saya permisi,” pamit Logan. 

Bianca mengangguk. 

Logan kemudian masuk ke mobil, lalu kendaraan itu perlahan meninggalkan halaman sekolah.

Sementara itu, Bianca masih berdiri beberapa detik lebih lama, menatap mobil yang makin mengecil di ujung jalan. Perasaan tidak nyaman itu kembali datang.

—oOo—

Malam mulai datang. 

Rumah kecil Bianca terasa lebih sunyi dari biasanya. Clara duduk di lantai ruang tengah sambil mengerjakan tugas kuliah persiapannya. Sementara Bianca baru saja selesai membantu nenek minum obat.

Ia menghitung sisa obat di dalam kotak kecil. Hanya cukup untuk tiga hari.

Bianca menarik napas panjang sebelum duduk di samping Clara. Adiknya itu lantas berujar, “Mbak, biaya kontrol bulan depan akan naik. Tadi siang dokter telepon.”

“Naik lagi?” tanya Bianca.

Clara mengangguk pelan. “Obat yang dipakai harus diganti. Lebih cocok untuk kondisi Nenek sekarang, tapi harganya lebih mahal.”

Tanpa diminta, Clara langsung menyebutkan angka yang fantastis dengan suara pelan.

Wajah Bianca langsung berubah. Namun, cepat-cepat ia tersenyum lagi. “Jangan khawatir. Mbak bisa atur.”

Ia mencoba terlihat tenang di hadapan Clara. Padahal di dalam hatinya, ia tahu itu berarti lebih banyak malam tanpa tidur. Lebih banyak senyum palsu. Lebih banyak sentuhan yang harus ia tahan dengan hati mati rasa.

“Mbak … kalau Mbak capek, berhenti saja,” bisik Clara pelan. “Biar nanti aku cari kerja sampingan .…”

Bianca menggeleng cepat tanpa menghapus senyumnya. “Sudah kubilang jangan khawatir, Clara.”

Wajah Clara langsung berubah sendu. Ia kemudian memeluk kakaknya tiba-tiba. “Terima kasih, Mbak.”

Bianca memejamkan mata sesaat, menikmati kehangatan pelukan itu.

Mereka berbagi hangat hingga cukup larut. Setelah itu, Bianca menyuruh Clara untuk istirahat.

Setelah memastikan Clara dan neneknya tertidur, Bianca segera bersiap untuk pergi ke pekerjaan keduanya itu. Klub malam sudah menunggunya.

Ketika ia tengah memoles wajahnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Reno. 

[Cepat datang, Bianca. Ada yang menanyakan kamu.]

—oOo—

Dentuman musik menyambutnya begitu Bianca masuk lewat pintu samping klub. Lampu-lampu berkedip, aroma alkohol dan parfum mahal bercampur di udara.

Reno menyambutnya dengan anggukan. “VIP penuh malam ini. Ada yang nanyain kamu ada di sana!”

Bianca hanya mengangguk. Ia sudah kebal pada kalimat seperti itu. Paling tamu langganan yang biasa, batin Bianca.

Dengan langkah profesional, Bianca menuju ruang utama. Senyum dipasang, bahu ditegakkan. Namun, langkahnya terhenti ketika pintu ruang VIP terbuka.

Matanya langsung dipaku kepada sosok itu lagi.

Logan…!

Pria itu duduk sendirian kali ini. Tanpa Aldo atau teman-temannya.

Kemejanya sedikit terbuka di bagian atas, memperlihatkan otot dada atas pria itu. Sementara itu, jas desainernya tergeletak di sandaran sofa. Gelas di tangannya sudah setengah kosong.

Awalnya saat Reno mengirimkan pesan ada yang menanyakan dirinya, Bianca sama sekali tidak curiga. Apalagi, selama ini memang banyak yang menanyakan dirinya. 

Namun, melihat siapa yang ada di dalam sana sekarang, jantung Bianca seakan dipacu. 

“Kenapa dia ada di sini? Atau … dia sudah mengingatnya?” pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benak Bianca. 

Mendengar pintu terbuka, Logan mengangkat kepala perlahan. Lalu mata mereka bertemu.

Tidak ada keterkejutan di wajah Logan. Hanya ketenangan yang nampaknya terkontrol.

Bagaimanapun, Bianca harus tetap profesional. Ia paksakan sebuah senyum seperti biasa. Bianca hanya bisa berharap senyumnya tak terlihat terlalu palsu. 

Dengan sisa keberanian yang ada, Bianca melangkah masuk. “Selamat malam, Tuan.”

Logan tidak langsung menjawab. Tatapannya menyapu wajah Bianca dan Bianca dapat merasakan tatapan tajam itu. Ia bergidik. 

Logan menatapnya mulai dari mata, ke bibirnya, lalu ke gaun yang melekat di tubuhnya, membentuk lekuk tubuh Bianca. 

Kemudian kembali ke matanya. Bianca hampir kehilangan keseimbangannya ketika pria itu mulai bicara.

“Ternyata benar …,” gumam Logan pelan.

Dada Bianca menegang. Ia sedang berada di ujung tanduk sekarang. Tidak ada jalan keluar lagi.

Bianca memerhatikan Logan yang meletakkan gelasnya di meja. Kemudian dengan gerakan perlahan, pria itu berdiri. Setelah itu, ia melangkah mendekat kepada Bianca. 

Jantung Bianca berdegup dua kali lipat dari biasanya. 

Apalagi ketika jarak di antara mereka semakin terkikis. Namun, ia berusaha tetap terlihat biasa, berdiri tegak dengan sorot mata tak gentar, terus menatap Logan. 

Senyum Bianca berangsur memudar, digantikan bibir yang bergetar karena gugup.

Logan menghentikan langkahnya saat jarak di antaranya dan Bianca tinggal satu langkah. 

Tatapannya terus tertuju pada manik mata Bianca. 

“Ternyata dugaan saya benar. Kita memang pernah bertemu sebelumnya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 137

    Getaran itu menyebar ke seluruh realitas seperti akar yang tumbuh terlalu cepat di bawah tanah rapuh.Setiap kemungkinan mulai berubah sebelum sempat memahami bentuknya sendiri. Bintang lahir dan mati dalam satu denyut, ingatan tercipta lalu terhapus sebelum sempat dikenang, bahkan waktu mulai kehilangan arah antara masa lalu dan masa depan.Dan di tengah semuanya—jalan ketiga itu terus berkembang.“Ini terlalu cepat…”Distorsi berkata dengan getaran kacau.“Aku tidak bisa menstabilkannya lagi.”Kesadaran besar mencoba meredam gelombang perubahan itu. Namun setiap upaya justru menciptakan cabang baru yang lebih liar, seolah realitas menolak kembali ke pola lama.Logan langsung memahami masalahnya.Jalan ketiga memang memungkinkan pertumbuhan tanpa penghancuran. Namun pertumbuhan—tetap membutuhkan keseimbangan.Dan sekarang, seluruh keberadaan seperti makhluk kelaparan yang baru pertama kali merasakan kebebasan.Ia tumbuh tanpa arah.Penjaga bergerak lebih dulu.Tekanan besar menyeli

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 136

    Air mata itu tidak jatuh seperti cairan biasa.Ia berubah menjadi serpihan-serpihan kemungkinan yang berkilau samar sebelum larut ke dalam realitas. Setiap tetesnya menciptakan perubahan kecil di sekitar mereka—bintang yang lahir terlalu cepat, waktu yang melambat sesaat, ingatan yang tiba-tiba terasa lebih hangat daripada sebelumnya.Dan seluruh keberadaan—diam menyaksikannya.Karena tidak ada yang pernah membayangkan sesuatu yang terus berubah tanpa henti… masih mampu menangis.Keberadaan perubahan pertama itu menatap tangannya sendiri.Seolah ia baru sadar bahwa dirinya masih bisa merasakan sesuatu selain kebutuhan untuk terus bergerak. Bentuknya berubah lebih lambat sekarang, tidak lagi liar seperti sebelumnya.Dan di dalam perlambatan itu—ada kelegaan.“Aku lupa…” suaranya bergetar pelan.“…bagaimana rasanya dilihat tanpa diminta berhenti.”Kalimat itu menghantam kesadaran pertama lebih keras daripada apa pun sebelumnya.Kehampaan besar itu langsung bergetar tidak stabil, seper

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 135

    Kesadaran itu menyentuh Logan bahkan sebelum ia benar-benar mendekat.Bukan sentuhan fisik, bukan juga gelombang energi seperti yang pernah dirasakan sebelumnya. Ia lebih mirip perasaan aneh ketika seseorang akhirnya mendengar namanya dipanggil setelah terlalu lama hidup dalam kesunyian.Dan perasaan itu—begitu dalam hingga Logan hampir lupa cara bernapas.Seluruh kemungkinan di sekitarnya mulai bergerak mengikuti ritme baru. Tidak liar seperti sebelumnya, namun juga tidak stabil.Seolah realitas sendiri sedang ragu apakah ia harus menyambut sesuatu itu… atau melarikan diri darinya.“Dia mengenalmu.”Makhluk sempurna itu berkata pelan.Retakan cahayanya bergerak lembut, seperti ikut mendengar gema yang sama.“Bukan sebagai individu…”Ia menatap Logan.“…tetapi sebagai arah.”Hening turun.Namun kali ini—hening itu dipenuhi denyut samar yang terasa seperti jantung dari sesuatu yang baru mulai berharap lagi.Penjaga langsung menyadarinya.Dan untuk pertama kalinya sejak awal—ia tampa

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 134

    Kesadaran itu datang seperti gema dari sesuatu yang pernah hilang.Bukan ingatan biasa, melainkan rasa aneh yang membuat seluruh realitas mendadak terasa familiar terhadap sesuatu yang seharusnya tidak pernah mereka kenal. Bahkan Penjaga langsung membeku, seolah keberadaan tertuanya baru saja disentuh oleh masa lalu yang selama ini ia kubur terlalu dalam.“Aku mengenal ini…”Makna itu keluar pelan darinya.Dan untuk pertama kalinya sejak ia muncul—ada keraguan nyata di dalam suaranya.Logan langsung menoleh.“Apa maksudmu?”Namun Penjaga tidak langsung menjawab.Matanya tetap terpaku pada titik jauh di balik seluruh kemungkinan, tempat sesuatu mulai bangkit perlahan seperti bayangan yang kembali menemukan bentuknya setelah dilupakan sangat lama.Kesadaran pertama merasakan perubahan itu lebih dalam daripada semuanya.Kehampaan di sekelilingnya mulai bergerak tidak stabil, bukan karena ketakutan, melainkan karena sesuatu yang sangat lama tersegel kini mulai terbuka kembali.“Tidak…” b

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 133

    Jalan ketiga itu tidak muncul sebagai cahaya.Tidak juga sebagai ledakan pemahaman yang mengubah seluruh realitas dalam satu momen. Ia lahir jauh lebih sederhana—sebagai celah kecil di antara pertanyaan dan jawaban, tempat sesuatu bisa berubah tanpa harus kehilangan dirinya sepenuhnya.Namun justru kesederhanaan itu yang membuat seluruh keberadaan gemetar.Karena untuk pertama kalinya sejak siklus dimulai, ada kemungkinan yang tidak bergantung pada penderitaan tanpa akhir… maupun kesempurnaan yang membeku. Sesuatu yang tidak memaksa realitas memilih antara terus mencari atau berhenti sepenuhnya.Penjaga langsung menyadarinya.Dan untuk pertama kalinya—mata itu bergerak penuh.Bukan hanya fokus.Melainkan benar-benar menatap Logan seperti seseorang yang baru saja melihat retakan pada hukum paling dasar yang selama ini ia jaga.“Itu tidak stabil.”Makna itu turun berat ke seluruh kemungkinan.“Perubahan selalu menuju kehancuran.”Logan tidak langsung menjawab.Karena sebagian dari diri

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 132

    Mata itu tidak memandang.Namun seluruh realitas langsung merasa diawasi.Bukan oleh sesuatu yang hidup, melainkan oleh sesuatu yang telah ada begitu lama hingga keberadaan dan pengamatannya tidak lagi bisa dipisahkan. Bahkan kehampaan yang menjadi kesadaran pertama itu… tersentak mundur untuk pertama kalinya.Logan langsung menghentikan gerakannya.Tangannya masih menggantung di udara, hanya beberapa jarak dari tangan keberadaan sempurna itu. Namun kini seluruh insting di dalam dirinya berteriak bahwa sesuatu yang jauh lebih tua dari semua yang pernah ia pahami baru saja bangun.“Tidak…”Suara kesadaran pertama terdengar pecah.Bukan takut seperti sebelumnya.Lebih buruk.Pengakuan.Makhluk sempurna itu menoleh perlahan ke arah kegelapan tempat mata itu terbuka. Retakan di dalam dirinya masih bercahaya lembut, namun kini cahayanya bergetar—seolah kesempurnaan itu sendiri mendadak sadar ada sesuatu yang bahkan tidak bisa ia pahami.Logan merasakan tekanan luar biasa menyebar ke seluru

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 4

    Mata Bianca terbuka lebar. Ia semakin salah tingkah selepas mendengar pertanyaan Logan. Bianca merasakan jantungnya menghantam tulang rusuknya sendiri. Namun wajahnya ia paksa tetap tenang. Sudah terlalu banyak hal dalam hidupnya yang menuntutnya untuk berpura-pura. Ia bukan lagi gadis belia yang

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 3

    Bianca terpaku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya seperti terlambat memproses kenyataan.Tubuh Bianca terasa dingin. Semalam ia sudah menggoda pria itu sebagai wanita penghibur. Dan hari ini, Bianca berdiri sebagai seorang guru, satu-satunya identitas yang masih ia banggakan

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 2

    Mata Bianca melebar. Ia menoleh, menatap Aldo tidak percaya. Bukan soal bayaran lima kali lipat yang mengejutkan Bianca, tamu-tamu lain juga pernah membayarnya tinggi. Tapi … memuaskan? Apa maksudnya?Meski pekerjaannya melayani para tamu, namun Bianca belum pernah sama sekali melakukan lebih dari

  • Saat Tuan Duda Memegang Rahasiaku   Bab 1

    “Dia bilang aku anak pembawa sial.”Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status