LOGINBianca terpaku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya seperti terlambat memproses kenyataan.
Tubuh Bianca terasa dingin. Semalam ia sudah menggoda pria itu sebagai wanita penghibur. Dan hari ini, Bianca berdiri sebagai seorang guru, satu-satunya identitas yang masih ia banggakan. Miss Bianca, seorang guru yang sabar dan lembut. Bagaimana jika Logan mengenalinya? Lalu bagaimana jika kabar itu menyebar ke sekolah? Karirnya bisa hancur begitu saja! Kepala Bianca dipenuhi bayangan-bayangan buruk. Mulai dari kepala sekolah yang memanggilnya dengan wajah kecewa. Orang tua murid yang berbisik-bisik. Clara yang mengetahui semuanya. Neneknya .… Bianca menelan ludah. Ia hanya bisa berharap Logan tidak mengenalinya. Toh, di sekolah, Bianca hampir tak pernah memakai riasan tebal. Hanya bedak tipis dan lip balm. Rambutnya pun selalu diikat sederhana. Sangat berbeda dengan perawakannya tiap malam di klub. Mengerjap dari lamunan dan paniknya, Bianca lantas memperhatikan Logan yang menunduk pada Cilla yang lantas memeluknya, lalu mengusap kepala putrinya dengan gerakan pelan. Meski lembut, ekspresi Logan masih terlihat datar, mengingatkan Bianca dengan ekspresi yang dilihatnya semalam. “Papa datang!” seru Cilla dengan mata berbinar, seolah tak percaya jika ayahnya akan datang. Logan hanya mengangguk pelan. “Apa yang kamu perbuat?” tanya Logan, suaranya terdengar dingin. Binar di wajah Cilla seketika memudar. Ia menunduk dan meremas ujung seragam sekolahnya. Bianca menatap keresahan di diri Cilla. Ia lalu memaksa dirinya tersenyum profesional dan menyapa Logan lebih dulu, meski hatinya sama sekali tidak tenang. “Selamat siang, Pak. Saya Bianca, wali kelas Cilla.” Logan menoleh padanya. Tatapan itu! Tatapan yang sama seperti semalam. Mata yang tajam dan mendominasi, seolah bisa menguliti seseorang dari luar. Ditatap seperti itu membuat Bianca sangat gugup. Bianca menelan ludahnya dengan susah. Ketakutan di hatinya semakin menjadi. “Selamat siang, Miss Bianca,” jawab Logan, suaranya rendah, tapi hal itu justru membuat suasana menjadi lebih mencekam. Dari cara Logan membalas sapaannya, sepertinya laki-laki itu tidak mengenalinya. Bagaimanapun, Bianca hanya bisa menebak-nebak selagi dadanya masih terasa sesak. Bianca beberapa kali menghindari tatapan Logan, namun ia harus tetap profesional sebagai seorang guru. “Jadi, apa yang sudah putri saya lakukan?” tanya Logan tanpa basa-basi sambil terus menatap Bianca. Meski gugup, Bianca berusaha menjawab dengan tenang. “Tenang saja, Pak, ini bukan masalah besar. Mari, saya antar menuju ruang kepala sekolah untuk berbincang,” ucap Bianca yang kemudian menunduk sopan dan berjalan mendahului Logan. Logan tidak menjawab apapun. Ia langsung mengikuti langkah Bianca dengan menggandeng tangan Cilla. Sesampainya di ruang kepala sekolah, Bianca melihat kepala sekolah dan Selvi yang sudah siap menyambut orang tua murid. Orang tua Asya juga sudah datang. Seorang wanita dengan tas mahal dan ekspresi tak sabar, seolah waktu adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dihabiskan di sekolah dasar. “Jadi, ini masalahnya apa?” tanya wanita itu tanpa basa-basi. Bianca menegakkan punggungnya. Ia harus profesional. Tidak boleh goyah, lalu menyunggingkan senyum ramah. Bianca melirik kepala sekolah yang duduk tegak di kursinya. Pria tua itu mengangguk, memberi isyarat kepada Bianca supaya ia bisa memulai percakapan. “Terima kasih sudah datang, Bu. Begini, anak-anak tadi sempat terlibat dorong-dorongan di lorong. Karena ini bukan pertama kalinya mereka berselisih, pihak sekolah merasa perlu mempertemukan kedua orang tua agar bisa mencari solusi bersama,” jelas Bianca. Wanita itu menatap Cilla yang duduk bersama Logan. Setelah itu, mendengkus pelan. “Asya tidak pernah berbuat nakal, Miss Bianca. Pasti Cilla lebih dahulu mendorongnya, apalagi dia selalu membuat masalah,” kata wanita itu, nadanya terdengar menuduh. Bianca menarik napas dan mengembuskannya pelan, setelahnya ia tersenyum tipis. “Kami tidak mencari siapa yang salah, Bu. Kami hanya ingin memastikan keduanya bisa belajar menyelesaikan konflik dengan baik.” “Tidak bisa seperti itu dong, Miss! Kalau salah ya, tetap salah. Jangan dibiarin gitu aja.” “Iya, saya paham, Bu. Tapi—” Belum sempat Bianca menyelesaikan kata-katanya, suara dingin Logan menyapu ruangan memanggil nama Cilla. “Cilla,” suara Logan tenang, tapi terdengar tegas. “Kamu dorong temanmu?” Cilla menunduk, lalu mengangguk kecil. “Tapi, Asya yang .…” “Kalau begitu, kamu minta maaf,” potong Logan tanpa menunggu penjelasan putrinya. Mendengar itu, Bianca sedikit terkejut. Bianca menatap Cilla yang telah menatapnya, seolah meminta pertolongan bicara. “Tapi, Pa ... aku—” Cilla menoleh kepada Logan lagi. “Tidak ada tapi. Cepat minta maaf.” Potong Logan, tegas. Bianca hanya bisa terdiam. Sementara itu kepala Cilla menunduk dalam. Ibu Asya lantas berdecak. “Ya memang harus minta maaf. Anak-anak sekarang kalau nggak diajarin pasti jadi kurang sopan santun.” Ucapan itu menusuk, meski tidak diarahkan langsung pada siapa pun. Bianca melihat rahang Logan mengeras. Akhirnya, dengan arahan Bianca dan Selvi yang kemudian ikut bergabung, kedua anak itu saling mengucapkan maaf. Cilla yang memulai, diikuti oleh Asya dengan suara kecil. Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Hanya beberapa kalimat formal, lalu semuanya selesai meski tegang. Ketika ibu Asya pergi lebih dulu tanpa banyak basa-basi, suasana ruang kepala sekolah terasa lebih lengang. Kepala sekolah mempersilakan semuanya keluar. —oOo— Di luar ruang, Cilla langsung berdiri di dekat ayahnya, memegang ujung kemeja Logan. “Tumben Papa yang datang?” tanya Cilla pelan. Bianca menangkap kilatan bahagia di mata Cilla. Gadis kecil itu tampak berbeda hari ini. Raut wajahnya terlihat lebih hidup, langkah kakinya juga sedikit lebih ringan. Logan menatap putrinya sejenak. “Papa punya waktu luang hari ini.” Cilla hanya menatap Logan balik sambil mengangguk dan tersenyum. Bianca memperhatikan gadis kecil itu lagi. Beberapa tahun menjadi guru, Bianca jadi paham perilaku anak-anak. Jadi, Bianca juga tahu kiranya bukan itu jawaban yang Cilla ingin dengar. Namun, Bianca tidak seharusnya mengintervensi mereka. “Kalau begitu, untuk hari ini sudah selesai, Pak,” ucap Bianca akhirnya. “Untuk kedepannya, pihak sekolah tentu berharap Cilla dan Asya bisa berteman baik.” Logan menoleh. Ia mendekat sedikit ke arah Bianca. Tingginya membuat Bianca harus sedikit mendongak. “Terima kasih sudah menangani ini … Miss Bianca,” ucap Logan. Bianca dapat merasakan tatapan tajam itu lagi. Bianca mulai gelisah lagi di tempatnya. Bianca lalu memaksakan senyum ramah. “Sa—sama-sama, Pak. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya.” Logan mengangguk pelan. “Kalau begitu, kami permisi, Miss Bianca.” Bianca mengangguk sopan. Namun, Logan tidak langsung pergi. Tatapannya terus tertuju pada Bianca. Kali ini sedikit lebih lama, membuat Bianca salah tingkah. Jantung Bianca berdegup tidak teratur. Ia meremas jari-jarinya sendiri. “Apakah dia tahu? Atau dia sedang mengingat-ingat?” batin Bianca kacau. Bianca masih berdiri dengan gugup ketika Logan bergerak maju lagi. Pria itu sedikit memiringkan kepala, seolah mengamati sesuatu. “Miss Bianca?” panggil Logan pelan. Bianca mengerjapkan matanya. “I-iya, Pak?” “Kita …,” pria itu berhenti sejenak. “.... pernah bertemu sebelumnya?”“Ternyata dugaan saya benar. Kita memang pernah bertemu sebelumnya.”Suara Logan rendah, nyaris tenggelam oleh dentuman musik dari luar ruangan. Namun, kalimat itu terasa jauh lebih keras daripada musik mana pun di telinga Bianca. Bianca mencoba berdiri tegak, meski jantungnya berdegup tidak karuan. “Sepertinya Anda salah orang, Tuan. Kita baru bertemu dua kali ini,” jawab Bianca mencoba menutupi jati diri, walau sepertinya sia-sia saja. Logan menarik ujung bibirnya ke atas membentuk senyum sinis. “Kamu tidak perlu berpura-pura lagi, Miss Bianca. Semuanya sudah jelas.”Jantung Bianca semakin berdebar tidak karuan. Tubuhnya terasa panas dingin, mendapati Logan yang mengenalinya. Padahal, ia kira Logan tidak mengenali dirinya tapi ternyata tidak. Perasaannya selama ini memang benar, jika laki-laki itu curiga padanya. Ia lalu menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan. Ia memberanikan diri menatap Logan. “Ya, Anda memang benar, Tuan. Tidak ada yang harus ditutup-tutupi,” ucap
Cilla menatap ayahnya dan tersenyum. Gadis itu lalu berlari kecil. “Maaf, ya, Pa! Aku lama,” ucap Cilla saat sudah di hadapan Logan. Sementara itu, Bianca melangkah lebih pelan. Perasaannya betul-betul tidak karuan. Ia tahu celotehan Cilla hanyalah ucapan anak-anak pada umumnya. Namun, keadaannya dengan Logan sekarang membuat Bianca kikuk.Logan pun tidak langsung berbicara. Ia malah menatap Bianca dengan tatapan yang masih sulit diartikan. Logan kemudian beralih pada Cilla yang ada di hadapannya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya. Setelah sampai di depan mobil kembali, pria itu membukakan pintu mobil untuk putrinya. Sebuah gestur yang nampaknya disukai oleh Cilla, sebab gadis itu tersenyum lemar. Logan juga memastikan sabuk pengamannya terpasang setelah Cilla duduk manis. Bianca pikir, Logan akan segera berpamitan. Namun, Logan malah menutup pintu mobil dan kembali berdiri menghadap Bianca.“Apa dia sering seperti itu?” tanya Logan pelan.Bianca mengerjapkan matanya beberapa kali.
Mata Bianca terbuka lebar. Ia semakin salah tingkah selepas mendengar pertanyaan Logan. Bianca merasakan jantungnya menghantam tulang rusuknya sendiri. Namun wajahnya ia paksa tetap tenang. Sudah terlalu banyak hal dalam hidupnya yang menuntutnya untuk berpura-pura. Ia bukan lagi gadis belia yang mudah tersipu atau panik. Ia perempuan dewasa yang tahu bagaimana menyelamatkan dirinya.Bianca tersenyum tipis. “Seingat saya belum pernah, Pak,” jawab Bianca lembut. “Saya hanya pernah bertemu sopir dan pelayan yang biasa antar jemput Cilla.”Logan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih melekat. Ditatap seperti itu oleh Logan membuat Bianca menahan napas. Setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya.Lalu Logan mengangguk pelan. “Begitu, ya.”Hanya dua kata. Namun cukup membuat lutut Bianca hampir lemas.“Kalau begitu kami pamit, Miss Bianca,” lanjut Logan akhirnya.Bianca mengangguk. “Hati-hati di jalan, Pak.” Bianca lalu beralih pada Cilla. “Sampai jumpa besok, Cilla!”Cilla t
Bianca terpaku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya seperti terlambat memproses kenyataan.Tubuh Bianca terasa dingin. Semalam ia sudah menggoda pria itu sebagai wanita penghibur. Dan hari ini, Bianca berdiri sebagai seorang guru, satu-satunya identitas yang masih ia banggakan. Miss Bianca, seorang guru yang sabar dan lembut. Bagaimana jika Logan mengenalinya? Lalu bagaimana jika kabar itu menyebar ke sekolah?Karirnya bisa hancur begitu saja!Kepala Bianca dipenuhi bayangan-bayangan buruk. Mulai dari kepala sekolah yang memanggilnya dengan wajah kecewa. Orang tua murid yang berbisik-bisik. Clara yang mengetahui semuanya. Neneknya .…Bianca menelan ludah.Ia hanya bisa berharap Logan tidak mengenalinya. Toh, di sekolah, Bianca hampir tak pernah memakai riasan tebal. Hanya bedak tipis dan lip balm. Rambutnya pun selalu diikat sederhana. Sangat berbeda dengan perawakannya tiap malam di klub. Mengerjap dari lamunan dan paniknya, Bianca lantas memperhatikan Logan
Mata Bianca melebar. Ia menoleh, menatap Aldo tidak percaya. Bukan soal bayaran lima kali lipat yang mengejutkan Bianca, tamu-tamu lain juga pernah membayarnya tinggi. Tapi … memuaskan? Apa maksudnya?Meski pekerjaannya melayani para tamu, namun Bianca belum pernah sama sekali melakukan lebih dari sentuhan-sentuhan nakal. Jadi, Bianca memutuskan untuk bertanya. “Apa maksud Tuan Aldo?”Aldo tertawa. “Logan itu sudah bercerai. Sudah lama nggak sama wanita,” katanya. “Aku dan teman-teman ingin taruhan, apa bisa si Logan itu dipuaskan wanita lain setelah ditinggalkan istrinya?” jelasnya lagi sambil terkekeh.Bianca ragu, sebetulnya tidak ingin melakukannya. Namun, dibayar lima kali lipat lebih banyak terdengar begitu menarik. Biaya perawatan neneknya pasti akan sangat terbantu.Bianca pun mengangguk, tersenyum sambil berjalan ke arah Logan dan menatap lurus pria itu. Sementara itu, Logan masih belum memperlihatkan ekspresi apa-apa. Wajahnya datar.Dengan cekatan dan profesional, Bianca
“Dia bilang aku anak pembawa sial.”Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang berseragam rapi. Dari desas-desus orang tua murid yang beberapa kali didengar oleh Bianca pun, keluarga Cilla sangat menyayanginya. Jadi, Bianca benar-benar kaget ketika mendengar itu. Sore ini, Bianca sedang menemani Cilla menunggu sopir pribadi menjemputnya. Tadi, Bianca sempat memisahkan Cilla ketika bertengkar dengan anak murid yang lain. Sekarang, Cilla berada di pangkuan Bianca dengan kepala tertunduk. “Siapa yang bilang gitu, Cilla?” tanya Bianca.Anak perempuan itu menunjuk seorang anak perempuan lain di kejauhan. “Asya,” katanya. Bianca menoleh ke arah sana. Asya baru saja dijemput oleh ibunya. “Asya bilang Cilla pembawa sial?”“Iya. Katanya, aku yang bikin Mama pergi ninggalin






