LOGIN“Ternyata dugaan saya benar. Kita memang pernah bertemu sebelumnya.”Suara Logan rendah, nyaris tenggelam oleh dentuman musik dari luar ruangan. Namun, kalimat itu terasa jauh lebih keras daripada musik mana pun di telinga Bianca. Bianca mencoba berdiri tegak, meski jantungnya berdegup tidak karuan. “Sepertinya Anda salah orang, Tuan. Kita baru bertemu dua kali ini,” jawab Bianca mencoba menutupi jati diri, walau sepertinya sia-sia saja. Logan menarik ujung bibirnya ke atas membentuk senyum sinis. “Kamu tidak perlu berpura-pura lagi, Miss Bianca. Semuanya sudah jelas.”Jantung Bianca semakin berdebar tidak karuan. Tubuhnya terasa panas dingin, mendapati Logan yang mengenalinya. Padahal, ia kira Logan tidak mengenali dirinya tapi ternyata tidak. Perasaannya selama ini memang benar, jika laki-laki itu curiga padanya. Ia lalu menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan. Ia memberanikan diri menatap Logan. “Ya, Anda memang benar, Tuan. Tidak ada yang harus ditutup-tutupi,” ucap
Cilla menatap ayahnya dan tersenyum. Gadis itu lalu berlari kecil. “Maaf, ya, Pa! Aku lama,” ucap Cilla saat sudah di hadapan Logan. Sementara itu, Bianca melangkah lebih pelan. Perasaannya betul-betul tidak karuan. Ia tahu celotehan Cilla hanyalah ucapan anak-anak pada umumnya. Namun, keadaannya dengan Logan sekarang membuat Bianca kikuk.Logan pun tidak langsung berbicara. Ia malah menatap Bianca dengan tatapan yang masih sulit diartikan. Logan kemudian beralih pada Cilla yang ada di hadapannya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya. Setelah sampai di depan mobil kembali, pria itu membukakan pintu mobil untuk putrinya. Sebuah gestur yang nampaknya disukai oleh Cilla, sebab gadis itu tersenyum lemar. Logan juga memastikan sabuk pengamannya terpasang setelah Cilla duduk manis. Bianca pikir, Logan akan segera berpamitan. Namun, Logan malah menutup pintu mobil dan kembali berdiri menghadap Bianca.“Apa dia sering seperti itu?” tanya Logan pelan.Bianca mengerjapkan matanya beberapa kali.
Mata Bianca terbuka lebar. Ia semakin salah tingkah selepas mendengar pertanyaan Logan. Bianca merasakan jantungnya menghantam tulang rusuknya sendiri. Namun wajahnya ia paksa tetap tenang. Sudah terlalu banyak hal dalam hidupnya yang menuntutnya untuk berpura-pura. Ia bukan lagi gadis belia yang mudah tersipu atau panik. Ia perempuan dewasa yang tahu bagaimana menyelamatkan dirinya.Bianca tersenyum tipis. “Seingat saya belum pernah, Pak,” jawab Bianca lembut. “Saya hanya pernah bertemu sopir dan pelayan yang biasa antar jemput Cilla.”Logan tidak langsung menjawab. Tatapannya masih melekat. Ditatap seperti itu oleh Logan membuat Bianca menahan napas. Setiap detik terasa lebih panjang dari seharusnya.Lalu Logan mengangguk pelan. “Begitu, ya.”Hanya dua kata. Namun cukup membuat lutut Bianca hampir lemas.“Kalau begitu kami pamit, Miss Bianca,” lanjut Logan akhirnya.Bianca mengangguk. “Hati-hati di jalan, Pak.” Bianca lalu beralih pada Cilla. “Sampai jumpa besok, Cilla!”Cilla t
Bianca terpaku sepersekian detik lebih lama dari yang seharusnya. Otaknya seperti terlambat memproses kenyataan.Tubuh Bianca terasa dingin. Semalam ia sudah menggoda pria itu sebagai wanita penghibur. Dan hari ini, Bianca berdiri sebagai seorang guru, satu-satunya identitas yang masih ia banggakan. Miss Bianca, seorang guru yang sabar dan lembut. Bagaimana jika Logan mengenalinya? Lalu bagaimana jika kabar itu menyebar ke sekolah?Karirnya bisa hancur begitu saja!Kepala Bianca dipenuhi bayangan-bayangan buruk. Mulai dari kepala sekolah yang memanggilnya dengan wajah kecewa. Orang tua murid yang berbisik-bisik. Clara yang mengetahui semuanya. Neneknya .…Bianca menelan ludah.Ia hanya bisa berharap Logan tidak mengenalinya. Toh, di sekolah, Bianca hampir tak pernah memakai riasan tebal. Hanya bedak tipis dan lip balm. Rambutnya pun selalu diikat sederhana. Sangat berbeda dengan perawakannya tiap malam di klub. Mengerjap dari lamunan dan paniknya, Bianca lantas memperhatikan Logan
Mata Bianca melebar. Ia menoleh, menatap Aldo tidak percaya. Bukan soal bayaran lima kali lipat yang mengejutkan Bianca, tamu-tamu lain juga pernah membayarnya tinggi. Tapi … memuaskan? Apa maksudnya?Meski pekerjaannya melayani para tamu, namun Bianca belum pernah sama sekali melakukan lebih dari sentuhan-sentuhan nakal. Jadi, Bianca memutuskan untuk bertanya. “Apa maksud Tuan Aldo?”Aldo tertawa. “Logan itu sudah bercerai. Sudah lama nggak sama wanita,” katanya. “Aku dan teman-teman ingin taruhan, apa bisa si Logan itu dipuaskan wanita lain setelah ditinggalkan istrinya?” jelasnya lagi sambil terkekeh.Bianca ragu, sebetulnya tidak ingin melakukannya. Namun, dibayar lima kali lipat lebih banyak terdengar begitu menarik. Biaya perawatan neneknya pasti akan sangat terbantu.Bianca pun mengangguk, tersenyum sambil berjalan ke arah Logan dan menatap lurus pria itu. Sementara itu, Logan masih belum memperlihatkan ekspresi apa-apa. Wajahnya datar.Dengan cekatan dan profesional, Bianca
“Dia bilang aku anak pembawa sial.”Bianca Xaviera Putri terbelalak mendengarnya. Ucapan itu terlontar dari mulut Cilla, anak muridnya yang berusia 7 tahun. Pembawa sial? Yang Bianca tahu, Cilla berasal dari keluarga kaya. Biasanya Cilla akan dijemput oleh sopir pribadi atau pelayan-pelayan yang berseragam rapi. Dari desas-desus orang tua murid yang beberapa kali didengar oleh Bianca pun, keluarga Cilla sangat menyayanginya. Jadi, Bianca benar-benar kaget ketika mendengar itu. Sore ini, Bianca sedang menemani Cilla menunggu sopir pribadi menjemputnya. Tadi, Bianca sempat memisahkan Cilla ketika bertengkar dengan anak murid yang lain. Sekarang, Cilla berada di pangkuan Bianca dengan kepala tertunduk. “Siapa yang bilang gitu, Cilla?” tanya Bianca.Anak perempuan itu menunjuk seorang anak perempuan lain di kejauhan. “Asya,” katanya. Bianca menoleh ke arah sana. Asya baru saja dijemput oleh ibunya. “Asya bilang Cilla pembawa sial?”“Iya. Katanya, aku yang bikin Mama pergi ninggalin







